Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
Bab 37 Jebakan Pak Rangka


__ADS_3

"Stop, Pak, stop!" seruku menahan setir yang dikemudikan Pak Rangka. Pak Rangka sontak terkejut dan menghentikan mobilnya di badan jalan.



"Ada apa sih Sensi, kamu itu bikin asma dan jantungan saya kumat," tegur Pak Rangka terlihat kesal.


"Tidak apa-apa, tapi saya sebenarnya ada janji. Jadi, saya lebih baik berhenti di sini saja," sahutku.


"Janji? Janji dengan siapa?" Pak Rangka heran, wajah tampan yang tidak kalah dari Lee Min Jo ini berkerut membuat aku semakin meleleh. Tapi kali ini aku tidak boleh lemah di hadapannya. Harus kuat mental menahan pesonanya yang membuat fokusku amburadul. Pak Rangka kan sudah punya pacar yang tadi dibilangnya rela bolos kerja demi mengkhianatinya.



"Saya mau turun, Pak," ucapku terdengar memohon.


"Kok turun, katanya mau melihat film 'menunggu ditembak Bos' di bioskop?" Pak Rangka keheranan melihat aku yang berubah pikiran.


"Tidak jadi, saya akan lebih sakit hati jika melihat film itu. Lagipula saya tidak mau ketahuan pacar Bapak dan dianggap sebagai pecarong, nanti harga diri saya bisa hancur," ujarku seraya berniat membuka pintu mobil. Namun ternyata pintunya dikunci oleh Pak Rangka.


"Pacar, siapa bilang saya punya pacar? Dan ***pecarong*** yang tadi kamu bilang, itu apa, kok saya baru dengar?" heran Pak Rangka sembari menanti jawaban dariku tidak sabar.



"***Pecarong*** adalah perebut pacar orang. Dan saya tidak mau dibilang pecarong hanya gara-gara terlihat jalan bersama Pak Rangka," jelasku seraya melihat ke luar jendela.


"Ohhhhh, itu ya artinya pecarong, saya pikir pecarong adalah kucing garong," balas Pak Rangka santai membuatku semakin kesal saja. Kesal karena Pak Rangka tidak pernah peka dengan hatiku yang suka padanya. Tadi kan dia bilang tidak punya pacar. Kalau tidak punya, harusnya berani nembak aku yang sudah semaksimal mungkin mencuri perhatiannya.


"Baiklah kalau kamu tidak mau saya ajak nonton, saya akan ajak kamu ke suatu tempat. Saya tidak peduli pacar saya akan marah atau tidak jika melihat saya jalan dengan kamu. Tenang saja, nanti saya traktir deh," ujar Pak Rangka santai. Aku membelalakkan mata atas keputusan Pak Rangka yang sewenang-wenang.



"Lagipula saya ada suatu hal yang ingin saya bicarakan dan tanyakan sama kamu, jadi tolong jangan menolak sesibuk apapun kamu," tekan Pak Rangka tidak bisa dibantah.



"Pembicaraan apa yang mau Bapak katakan? Saya tidak banyak waktu," ujarku gemas dan kesal. Aneh saja, dikasih kode supaya nembak atau ngajak ke pelaminan saja susah minta ampun. Aku kan naksir berat sama Pak Rangka yang wangi dan tampan. Terlebih bibir tipis mirip Lee Min Jo punya Pak Rangka selalu terbayang-bayang. Tiap malam sebelum tidur selalu terbayang-bayang. Ingin rasanya aku, uppsss ... takut dosa kalau dilanjut.


__ADS_1


"Ayo ikut dulu, saya ada hal penting yang mau dibicarakan. *By the way*, kamu mau makan di mana? Restoran mewah atau *fast food on the* *street*?" tanyanya sok Inggris. Tapi memang sih Pak Rangka fasih bahasa Inggris, Korea, Jerman, bahkan bahasa Arab saja pandai.



"Up to youlah, Pak, saya mah dimana wae ge jadi, asal halal wa toyyib," jawabku dengan tiga bahasa entah benar atau tidak tuh.



"Kamu itu ya, pandai juga mencampur bahasa. Inggrisnya ada, Sunda dan Arab juga ada. Kamu memang pandai, saya jadi *abdi bogoh ka anjeun* deh," ujar Pak Rangka membuat mataku terbelalak hampir saja keluar dengan isinya.



"Kenapa kamu melotot, apakah kamu tidak percaya kalau saya pintar ngomong Sunda?" Pak Rangka balik bertanya dengan dahi mengkerut bikin gemas.



"Bukan tidak percaya, Pak. Tapi apa yang Bapak bicarakan tadi, serius? Memangnya Bapak tahu artinya atau tidak?" tanyaku serius.




"Kalau Bapak tahu artinya, kenapa harus saya yang mengartikan?" Aku bertanya balik.


"Saya, kan perintahkan kamu, jadi tolong dipatuhi saja. Kamu ucapkan dengan jelas dan penuh penjiwaan, soalnya saya belum paham betul," ujarnya sedikit menyentak. Uhhh sangat menyebalkan, mode judesnya muncul lagi.


Aku ambil ancang-ancang dan tarik nafas yang dalam sebelum mengatakan arti bahasa Sunda yang Pak Rangka katakan tadi. Dengang penuh penghayatan dan sok cantik akhirnya aku mulai tugas yang diperintahkan Pak Rangka itu.



"Siap, ya, Pak. Jadi, artinya ***abdi bogoh ka*** ***anjeun*** adalah aku ... cinta ... kamu," ucapku jelas dan penuh penjiwaan.



"Sudah ya? Terimakasih, jadi selama ini kamu mencintai saya?" ujar Pak Rangka sambil menyimpan kembali Hpnya yang tadi sempat dipegang dengan tangan kirinya. Aku terbelalak malu, seperti seseorang yang telah ketahuan melakukan kejahatan.


__ADS_1


"*Kok, Pak Rangka tahu bahwa aku* *mencintainya? Duhh Gustiii tulungan abdi (duhhh* *Gusti, tolong aku*)," bisikku dalam hati resah gelisah.



"Sen, Sensi, kamu sedang memikirkan apa? Jadi benar bahwa selama ini kamu mencintai saya?" tanya Pak Rangka mengagetkan.


"I-iya, Pak. Benar, itu benar sekali, aku cinta padamu," balasku spontan.


"Ahahahahahaha, saya sudah bisa menduga bahwa kamu sejak pertama kali melihat saya, kamu sudah menyukai saya," ujar Pak Rangka yakin, diawali tawa yang renyah. Nampaknya Pak Rangka bahagia. Aku malah jadi bingung, padahal tadi aku hanya disuruh mengartikan bahasa Sunda yang Pak Rangka ucapkan karena dia bilang dia tidak ngerti. Pak Rangka sepertinya sedang salah paham.



"Bukan, Pak, bukan begitu. Tapi saya hanya mengartikan ucapan bahasa Sunda yang Bapak ucapkan tadi ke dalam bahasa Indonesia, bukankah Bapak bilang bahwa Bapak tidak paham?" sangkalku sembari menahan malu sebab aku merasa kalau perasaanku yang sebenarnya ketahuan Pak Rangka.



"Sudah jangan menyangkal, ngaku saja. Saya. Sudah dengar kok ungkapan cinta kamu pada saya, malah sudah saya abadikan dalam rekaman suara di Hp saya ini," tegasnya membuat aku seakan beku darah.



"Apaaa? Bapak, yang benar saja, bukan begitu maksud saya."


"Iya bukan begitu, tapi begini," tukas Pak Rangka seraya memperdengarkan kembali rekaman suara milikku tadi.


"Abdi bogoh ka anjeun, aku ... cinta ... padamu." Suara rekaman milikku itu menggema keras dari Hp milik Pak Rangka. Aku menjadi menyesal kenapa tadi aku malah mengikuti kemauan Pak Rangka. Kalau begini, artinya Pak Rangka sudah menjebak aku dengan perintahnya. Pak Rangka memang keterlaluan.


"Bagaimana, apakah masih belum jelas? Berhubung kamu sudah mengungkapkan isi hati kamu yang sebenarnya, sekarang untuk merayakannya, saya akan mengajak kamu makan sepuasnya. Kamu pilih makan di mana, terserah kamu," ujar Pak Rangka tanpa membiarkan aku memberi interupsi. Aduhhhh malah jadi aku yang dituduh telah mengungkapkan cinta duluan deh kalau begini. Ya sudah kepalang basah, akhirnya aku manut apa yang dikatakan Pak Rangka.



"Baiklah Pak kalau begitu, saya mau makan di fast food on the street, sepuasnya," celetukku dengan muka yang memerah. Yang jelas aku merasa kesal dan terpojok oleh jebakan Pak Rangka.



"Baiklah, pacarku. Akan saya persembahkan fast food paling kumplit di kota ini," ujarnya seraya melajukan Pajiranya menuju warung tenda pinggir jalan yang kumplit.


Abdi bogoh ka anjeun \= aku cinta padamu

__ADS_1


__ADS_2