
"Pak, bukankah kita tukaran kamar?" tanyaku heran. Pak Rangka tersenyum dengan mangangkat bibir kanannya ke atas.
"Siapa yang bilang saya mau tukaran kamar? Saya hanya menyuruhmu tidur di kamar saya, bukan saya bilang kita tukaran kamar," kelit Pak Rangka. Iya juga sih, Pak Rangka tidak bilang bahwa dia mau tukaran kamar.
"Tapi, saya mau mandi. Sedangkan perlengkapan mandi saya masih di kamar," ucapku.
"Pakai saja sabun hotel, sabun hotel kan cair, kamu bisa pakai sabun hotel tanpa tertular penyakit kulit, lagipula kalau kamu pakai sabun batanganpun, saya tidak akan menularkan penyakit menular, saya ini sehat dari penyakit begituan," jelas Pak Rangka.
"Bukan begitu, Pak. Tapi .... "
"Sudahlah, kamu mandi duluan. Saya juga mau mandi," titahnya. Tidak menunda lagi, akupun segera ke kamar mandi dan mengguyur tubuhku dengan shower yang hangat.
Saat keluar kamar mandi, Pak Rangka sedang berada di balkon menikmati sebatang rokok dan terdengar seperti berbincang di telpon. Aku tidak peduli, yang jelas aku sekarang sudah mandi dan segar.
Namun alangkah bodohnya aku, rupanya aku lupa bawa baju dari kamarku, jeroan atas bawah sama sekali tidak dibawa. Ya ampun, lupanya aku sampai sesuatu yang paling penting tidak diingat. Aku bingung, terpaksa aku mondar mandir menunggu Pak Rangka masuk dan aku akan meminta tolong menemani aku ke kamarku.
Cukup lama aku menunggu Pak Rangka di balkon, sepuluh menit kemudian Pak Rangka baru masuk. Aku duduk di ranjang dengan tangan menahan handuk yang dikhawatirkan melorot.
"Kamu sudah, mandinya?"
"Sudah, Pak," jawabku waspada.
"Kenapa belum berpakaian, apakah kamu tidak dingin dengan ACnya?"
"Dingin, Pak. Tapi baju saya ketinggalan di kamar. Bolehkah saya .... "
"Saya sudah gerah, saya mau mandi." Belum juga selesai aku ngomong, Pak Rangka dengan cepat melesat masuk kamar mandi. Aku jadi nelangsa dengan keadaanku yang tidak berbaju, terlebih si kembar dan si lembah hitam sudah pengen segera di wadahi dan ditutupi.
Setengah jam, Pak Rangka baru keluar dari kamar mandi. Aku sampai geleng kepala, masa mandinya lelaki sampai begitu lama. Pak Rangka menoleh ke arahku dengan heran.
"Kamu masih belum pakai baju?! Jangan memancing ya!" herannya seenak jidat. Hatiku mendadak sedih dan kesal. Mau marah, dia adalah Bosku.
__ADS_1
"Maaf, Pak, saya tidak ada baju. Bisakah Bapak antar saya ke kamar saya untuk ambil baju?" ujarku akhirnya memberanikan diri.
"Apa, kamu tidak ada baju? Kamu belum ambil baju? Kamu pasti tidak berani masuk ke kamar kamu karena kamu takut hantu, ya?" ejeknya tanpa dosa.
"Kalau Bapak mau berbaik hati, tolong antar saya ke kamar, sebentar saja Pak," ucapku memohon.
"Baiklah, tapi tunggu sebentar, kamu ikuti saya dari belakang setelah keadaan aman." Pak Rangka memberi aba-aba.
Perlahan Pak Rangka membuka pintu kamarnya. Sejenak dia mengawasi sekitar, takutnya kebersamaan dia dan aku dilihat orang. Aku juga sebenarnya takut, kebersamaanku dengan Pak Rangka dalam satu kamar akan menimbulkan fitnah dan gosip.
"Ayo, aman kok," ujarnya seraya melambaikan tangan supaya aku mengikuti dari belakang. Aku segera berjalan di belakang Pak Rangka menuju kamarku.
"Ayo, cepatlah! Saya takut ada orang lain yang tahu kita masuk dalam satu kamar," ujarnya khawatir. Aku segera masuk dan, sedangkan Pak Rangka mengunci pintu. "Cepat berbaju. Saya harus kembali."
"Pak, Bapak merem dulu ya, saya mau pakai baju," suruhku.
"Tidak usah merem, saya ke balkon saja."
"Kenapa?"
"Kalau Bapak ke balkon, saya takut. Takut .... " Aku menghentikan kata-kataku, sebab bulu kudukku tiba-tiba meremang.
"Ya, sudah, cepatlah." Akhirnya Pak Rangka menyetujui permintaanku. Pak Rangka duduk di meja rias, sementara aku ngumpet di balik lemari dan memakai baju tidurku.
"Sudah, Pak," ujarku. Pak Rangka berdiri dan melihat ke arahku.
"Ya, sudah, saya saya pamit!" ujarnya sambil berjalan menuju pintu.
"Tunggu!" tahanku dengan nafas turun naik. Pak Rangka menatapku heran.
"Kenapa?"
"Bukankah saya akan tidur di kamar Pak Rangka?" tanyaku ragu. Pak Rangka diam sejenak.
"Ohhh, iya. Saya pikir kamu tidak jadi tidur di kamar saya."
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita tukaran saja, Pak? Saya di sana dan Bapak di sini?" tawarku.
"Wah, saya jadi repot kalau begini. Soalnya sebelum saya tidur saya harus mengerjakan dulu sesuatu di laptop saya," alasan Pak Rangka.
"Dan saya malas ambil laptop ke kamar kamu, saya malas harus bolak balik," lanjut Pak Rangka lagi.
"Jadi, bagaimana keputusannya, Pak?" tanyaku tanyaku memastikan.
"Ya, sudah. Kamu yang nginap lagi di kamar saya," ujarnya seraya berbalik dan menuju pintu dan membukanya. Sejenak Pak Rangka melihat sekeliling keadaan di luar kamar. Setelah merasa aman dari orang lain, Pak Rangka memberi memberi kode supaya aku mengikutinya dari belakang.
"Ayo!" Aku mengikuti Pak Rangka menuju kamarnya. Setelah berada di dalam, Pak Rangka langsung menyentuh laptopnya dan fokus mengerjakan sesuatu dalam laptopnya.
Sepuluh menit kemudian tiba-tiba pintu kamar Pak Rangka ada yang mengetuk, sontak aku terkejut dan bingung mau ngumpet di mana.
"Tenanglah, kamu ngumpet dulu ke kamar mandi, dia hanya seorang RSW," ujar Pak Rangka mencoba menenangkanku. Aku patuh dan mengikuti arahan Pak Rangka.
Tidak berapa lama, Room Servis Waitres masuk dengan mendorong sebuah troli makanan ke dalam. Setelah itu dia kembali meninggalkan troli di dalam.
Aku segera keluar setelah dikasih kode Pak Rangka. Rupanya Pak Rangka memesan minuman dan camilan yang diantar ke kamar. "Sensi, ayo, kita nikmati camilan dulu?" ajaknya. Aku diam di tempat dan hanya menatap penuh curiga pada Pak Rangka.
"Kenapa kamu masih berdiri di sana? kemarilah mendekat, kita nikmati camilan dan minuman ini selagi hangat!" ajaknya sembari menempatkan gelas minum ke arahnya juga ke arahku.
Perlahan aku menghampiri Pak Rangka dengan hati yang tiba-tiba bergemuruh.
"Minumlah!" suruhnya seraya menyodorkan salah satu gelas yang berisi susu panas.
"Tapi, Pak, saya rasanya sudah ngantuk, jadi tidak perlu minum coklat panas dulu," tolakku halus.
"Kamu kenapa sih, seperti orang ketakutan saja? Emangnya apa yang ada dalam pikiranmu?"
"Tidak ada, Pak. Saya hanya sedang tidak mau minum apa-apa, sebab saya mau tidur," jawabku sedikit gugup.
"Oh ya sudah. Terserah kamu saja. Padahal ini enak banget lho. Ada biskuit juga, kamu bisa celupkan biskuit ke dalam coklat panas ini." Aku diam, sebetulnya aku ingin minum coklat panas itu, sepertinya enak. Tapi, aku merasa takut,. sebab siapa tahu Pak Rangka menyimpan obat tidur di dalam coklat panasnya supaya aku tertidur pulas saat ...." belum selesai aku memikirkan hal buruk tentang Pak Rangka, Pak Rangka memotong bayangan burukku dengan ucapan yang sepertinya mampu menebak apa yang aku pikirkan sehingga membuat aku terhenyak.
__ADS_1
"Kamu takut saya bubuhkan obat tidur atau obat perangsang seperti apa yang kamu baca di dalam novel-novel, kan?" tebalnya mengena.