Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
NBBGYSA#Season 2#SetelahJadiIstri#Kemarahan Rangka


__ADS_3

   "Pyarrrrr."


   Gelas itu pecah di atas aspal, tumpah bersama sisa kopi rasa italiano. Sensi terhenyak dan menatap nanar ke arah pecahan gelas yang berhasil dilempar Rangka tadi. Sambil menutup mulutnya Sensi berjalan mundur dua langkah. Tangannya yang tadi kena tumpahan air kopi, masih terasa panas. Untungnya kopi itu panasnya tidak terlalu menyengat sehingga tidak membuat melepuh pada kulit, hanya menyisakan warna merah di kulit.


   Rangka menepuk-nepuk pahanya yang tadi sempat panas, bersyukur tidak menyentuh kulitnya langsung. Panas yang dia rasakan hanya dari resapan air yang tembus lewat celana kainnya. Beruntung Rangka selalu sedia kanebo dan tisu di dalam mobil sehingga tumpahan kopi itu bisa dengan segera dikeringkan walau perlu perjuangan.


   Setelah sadar, Sensi berbalik badan dan berjalan menuju warung yang tadi dia membeli kopi. Dia harus minta maaf karena gelasnya pecah.


   "Permisi, Bu. Maaf mau bayar kopi yang tadi. Tapi ... saya mau minta maaf, sebab ... gelasnya pecah, karena sehabis diminum suami saya, tidak sengaja gelasnya kebanting dan jatuh lalu pecah," ujar Sensi meminta maaf dengan alasan yang bohong, sembari menyodorkan uang seratus ribu yang tidak berharap dikembalian hitung-hitung uang ganti gelas yang pecah.


   "Wahhh, gelasnya pecah? Tapi kopinya sempat diminum? Kalau pecah dan tumpah sama airnya, biar saya bikinkan lagi. Gelas yang pecah, biarkan saja tidak usah jadi masalah," ujar ibu warung baik hati.


   "Tidak, saya tidak bikin lagi, Bu. Tadi sempat diminum dulu air kopinya. Saya mau bayar saja sekalian ganti gelas yang pecah tadi," ujar Sensi seraya menyodorkan uang seratus ribu.


   "Saya minta maaf, ya, Bu. Gelasnya pecah," mohon Sensi meminta maaf. Ibu yang punya warung tidak marah, dia justru tersenyum ramah.


    "Tidak apa-apa, Mbak kalau sudah pecah. Itu hanya sebuah benda yang pada dasarnya akan pecah pada masanya. Jadi, Mbak tidak perlu kepikiran. Sebentar, ya, saya ambil kembalian." Sensi segera pamit tidak menunggu ibu warung mengembalikan uang kembalian. Dia memang niat awalnya ingin mengganti gelas yang pecah tadi. Saat ibu warung tadi ingin mengembalikan uang kembalian, Sensi sudah tidak ada di sana. Karena sedang repot sama pembeli yang tiba-tiba datang, ibu warung itu mengurungkan niatnya mengejar Sensi untuk mengembalikan kembalian. Akhirnya tidak jadi keburu ada pembeli lain datang.


   "Tadi Mbak itu berniat mengganti gelas yang pecah dengan uang ini, padahal aku tidak masalah dengan gelas itu. Biar, aku terima saja uang ini, lagipula Mbak tadi berniat menggantinya. Semoga rezeki Mbak yang tadi semakin berlimpah," doa ibu warung seraya melayani pembeli yang baru datang.

__ADS_1


   Sensi segera menjauh dari warung ibu tadi, dia tidak mau uang yang dia kasih dikejar dan dikembalikan. Lagipula uang itu dia niatkan sekalian mengganti gelas yang pecah.


   "Semoga dengan uang tadi cukup mengganti gelas pecah ibu tadi," harap Sensi seraya perlahan menuju mobil. Namun Sensi tidak berani masuk, sebab ia sangat takut dengan kemarahan Rangka yang tadi sempat membentaknya dan melotot kepadanya. Dia ragu sehingga tubuhnya mundur kembali dari badan mobil.


   Tiba-tiba Rangka keluar dari pintu mobil dan berdiri seraya menatap ke arah Sensi lalu berteriak. "Masuklah, buat apa berdiri di situ!" titahnya keras, nasib baik keberadaan mobilnya jauh dengan orang lain, sehingga teriakan Rangka tidak mungkin terdengar orang.


   Sensi ragu, perlahan dia mendekat menuju pintu, lalu membuka pintu itu perlahan. Sensi masuk, sekilas dia melihat ke arah Rangka yang menatap tegas ke arah depan. Wajah Sensi ingin sembunyi sebab di sudut matanya ada bulir bening yang sengaja dia tahan supaya tidak jatuh.


   "Aku sudah tidak ada mood mengajarkan kamu nyetir, kamu selalu bikin aku kesal. Hari kedua saja membuat moodku rusak. Kamu itu seperti tidak serius belajar nyetir, bisanya main-main. Kamu pikir jalanan ini hotel atau tempat tertutup sehingga bisa seenaknya main nyosor mencium bibir aku ini. Semua itu ada tempatnya, di rumah atau di hotel kalau kamu mau. Jangan di jalanan begini. Kamu ini semakin hari semakin aneh saja, ngeselin," gerutu Rangka habis sudah semua unek-uneknya dia tumpahkan di sana.


   Sensi mukanya memerah panas, bulir bening itu sampai tidak tertahan lagi, lalu satu persatu tumpah ruah. Namun Sensi berusaha menahannya dengan tangan dan tisu bekas lap tumpahan kopi yang belum sempat Rangka buang. Sensi menyembunyikan wajahnya dari penglihatan Rangka ke arah jendela, sayang Rangka sudah melihatnya.


   "Brugggghhh."


   Suara pintu mobil yang ditutup kuat, membuat jantung Sensi hampir copot, dadanya seketika berdetak kencang. Sensi hanya diam, dia tidak berani berkata-kata. Dia mengakui dialah yang salah.


   Bentakan dan pelototan Rangka membuat Sensi sedih, dia paling tidak kuat mendapatkan perlakuan yang dua ini dari Rangka, dia lebih baik didiamkan, daripada dibentak.


   Sepanjang jalan pulang baik Sensi maupun Rangka, tidak ada yang berbicara. Rangka sudah kadung marah, dan Sensipun kadung sedih. Dirinya benar-benar bodoh kenapa harus melakukan adegan tadi? Padahal maksudnya adalah ingin menyeka busa yang ada di bibir Rangka yang diakibatkan kopi rasa italiano tadi. Sensi berinisiatif membersihkan busa itu dengan menggunakan mulutnya dengan mencium Rangka. Dia pikir tidak akan terjadi insiden gelas oleng dan tumpah seperti tadi. Niatnya yang utama adalah romantis sekaligus bercanda.

__ADS_1


   Sensi terus merutuki perbuatannya tadi diiringi hati yang sedih. Bagaimanapun juga dia sakit hati dibentak Rangka meskipun dia yang salah.


   Dengan kecepatan di atas rata-rata, mobil yang dikemudikan Rangka tiba di depan rumah. Pak Mamat yang melihat majikannya kembali dengan cepat sempat heran. Namun tidak berani bertanya, sebab saat pertama kali melihat wajah Rangka, Pak Mamat melihat Rangka terlihat marah dengan muka yang memerah.


   Rangka berjalan dengan cepat ke arah pintu depan, tidak menunggu Bi Narti membukakan pintu, amarahnya kembali memuncak atas kelakuan Sensi yang baginya terlalu.


   Rangka segera masuk ke kamar dan duduk di sofa dengan posisi tubuh merunduk sambil memijit kepalanya yang sakit. "Ya ampun apa yang aku lakukan?"


   Beberapa menit kemudian pintu kamar terdengar dibuka, Rangka membiarkan Sensi masuk, dia ingin tahu apa yang akan Sensi lakukan?


   Sensi menatap Rangka yang merunduk memijit kepalanya. Rasa sedih dan bersalah menggelayuti dadanya secara bersamaan, sehingga yang ada hanya sesak.


   "Aku minta maaf Mas." Dengan tiba-tiba Sensi bersujud di paha Rangka memohon maaf. "Aku minta maaf atas kecerobohan aku tadi, Mas. Aku menyesal," isaknya meminta maaf dengan lelehan air mata. Rangka bangkit sembari menepis tangan Sensi yang berada di atas pahanya.


   "Aku tadi hanya bermaksud menyeka busa bekas kopi yang menempel di bibir kamu. Tapi ... aku tidak menyangka kalau gelas itu akan tumpah isinya," ujarnya terisak. Sensi kini ditinggalkan sendiri tanpa digubrisnya, Rangka benar-benar masih menyimpan marah sehingga dia pergi begitu saja meninggalkan Sensi yang merasa bersalah.


   "Mas, Mas Rangka, maafkan aku ... hiks hiks hiks." Tangisan Sensi percuma sebab Rangka sudah tidak berada di sana.


   Sementara itu Rangka keluar menuju kantornya. Meskipun di kantor tidak ada kepentingan mendesak, Rangka yang tadi ngantuk sebelum marah pada Sensi, akan beristirahat di kantor di ruang pribadinya. Sebab dia hari ini benar-benar lelah dan butuh istirahat.

__ADS_1


__ADS_2