Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
Bab 54 Kedatangan Utusan Pak Rangka


__ADS_3

"Sensi, tadi dicari Pak Rangka. Saya itu aneh, kamu baru saja tadi dari ruangan Pak Rangka, tapi sekarang malah dicari. Sebenarnya kamu ini keluyuran ke mana saja sih?" Kak Tari tiba-tiba datang dengan serobotan pertanyaan.



"Tidak dari mana-mana, saya tadi ke toilet dulu. Mungkin Pak Rangka datang ke sininya kecepatan, " jawabku sekenanya.



"Nih, kerjakan ini!" Tidak salah lagi Kak Tari pasti memberi setumpuk map untuk aku kerjakan. Aneh saja nih orang, selalu saja aku jadi sasaran kejudesannya, anehnya aku selalu patuh. Tapi jujur saja akau tidak bisa membantah, karena dia memang Leaderku.



Aku meraih map-map yang diberikan Kak Tari dengan amarah terselubung di dalam dada. Lantas aku kerjakan tugasku secepat dan sebaik mungkin. Entah kenapa saat aku mengalami amarah yang memuncak, aku bisa mengerjakan tugasku dengan secepat mungkin.



Dua jam kemudian semua map yang diberi Kak Tari beres tanpa tersisa. Biasanya aku mampu menyelesaikan lima map ini sampai menyita waktu empat jam, tapi kini hanya dua jam.


"Alhamdulillah." Akhirnya aku bisa santai sambil pura-pura masih menyelesaikan map-mapku. Kalau aku terlihat santai, auto Kak Tari akan memberi map lain padaku.


"Mbak Sensi." Tiba-tiba OB Rando datang mengejutkan. Aku menoleh dengan muka yang kesal, sebab dia membuyarkan lamunan sedihku tentang Pak Rangka.



"Apa, Rando?"


"Ini, Pak Rangka memberi ini buat Mbak Sensi. Tadi sebenarnya Pak Rangka sudah kemari ingin memberikan ini secara langsung pada Mbak Sensi, tapi Mbak Sensinya tidak ada. Akhirnya dia nyuruh saya. Kenapa juga sih Mbak Sensi suka bikin Pak Rangka geregetan, dia tadi mukanya kusut lho saat tidak mendapati Mbak Sensi di meja," omel Rando sambil menyimpan sebongkah bungkusan kado berpita di mejaku.



"Kata Pak Rangka, di dalamnya ada secarik kertas. Itu khusus buat Mbak Sensi, dan harus dibaca katanya," ucap Rando lagi.


__ADS_1


"Kertas, kertas apaan?"


"Mana saya tahu, mungkin surat cinta, hehehhe," ucap Rando sambil tertawa lalu pergi.



Sorepun tiba, aku segera mengemasi mejaku dan menyerahkan map-mapku kepada Kak Tari. Setelah itu, demi menghindari perintah dadakan selanjut dari Kak Tari, aku segera berlalu pulang setengah berlari. Karena firasatku mengatakan bahwa Kak Tari akan menyuruhku menyerahkan map-map ini ke ruangan Pak Rangka.



"Sensi, Sensi!" Panggilan Kak Tari samar-samar terdengar saat aku tiba di tangga. Aku terus melaju sampai tiba di lantai dasar, lalu berlari kecil menuju parkiran motor.


* *


"Pakai gaun ini, berdandanlah yang cantik. Jam delapan malam kamu sudah harus siap." Secarik kertas warna dusty pink yang bertuliskan kalimat perintah telah dibaca olehku dengan dengusan sedih. Aku tidak tahu apa maksud Bosku itu. Menjadikan aku tamu undangan khusus di hari lamarannya dengan dress yang sudah ditentukan dan harus berdandan cantik.



"Apa peduli teteh? Harusnya ini bukan urusan teteh. Kalau Pak Rangka mau melamar, melamar saja tidak perlu memerintahkan teteh untuk pakai baju ini itu dengan dandanan begini begitu, toh yang dilamar bukan teteh," protesku pada Aloe yang memaksa aku untuk patuh saja dengan apa yang Pak Rangka intruksikan.




"Teteh ini tadinya terlalu berharap, jadinya seperti ini. Teteh jatuh cinta, kan, sama Bos Teteh? Kalau seperti itu alangkah baiknya kekecewaan Teteh lampiaskan dengan dandan yang cantik, biar Bos Teteh merasa menyesal telah melamar orang lain," saran Aloe yang pada akhirnya membuat hatiku luluh dan membenarkan.



"Benar, Teh. Sebaiknya ikuti arahan Bosnya Teteh. Walaupun Ibu sebenarnya kecewa sama seperti Teteh. Tapi, Ibu sependapat sama Aloe adikmu. Berdandanlah yang cantik, tunjukkan pesona Teteh. Ibu yakin Teteh akan jadi bintangnya dibanding yang lain," sambung Ibu membesarkan hatiku, walau di dalam raut wajahnya nampak gurat kesedihan yang tergambar sama seperti diriku. Karena selama ini Ibu merasa bahwa aku dan Pak Rangka terjalin ikatan cinta. Tapi nyatanya tidak. Wajar Ibu bahkan Bapak saja kecewa sebagai laki-laki. Karena Bapak juga menilai kalau Pak Rangka ada hati sama aku.



Akhirnya saat itu dengan bantuan Aloe aku dibantu berdandan secantik mungkin. Mungpung masih ada waktu satu jam setengah menunggu suruhan Pak Rangka menjemputku.

__ADS_1



"Al, dandanannya jangan menor, ya. Tahu, kan, selera teteh seperti apa?"


"Tenang saja, Teh. Aloe tahu kok. Teteh kan suka dandanan ala-ala Korea biar dandanannya tebal tapi terlihat minimalis naturalis dan dinamis harmonis, wak wak wak wak," seru Aloe santuy diakhiri tawa yang renyah. Aloe memang adikku satu-satunya yang paling bisa menghibur di saat aku sedang galau.


Ibu di balik pintu hanya tersenyum samar melihat kebersamaan aku bersama Aloe yang sedang sibuk mendandani aku ala-ala Korea.



"Finish, ready," ujar Aloe seraya mengangkat tangannya sebagai kode persembahan. Aku diarahkannya menatap kaca dengan lekat. Saat aku ikuti arahannya, aku sempat terbelalak tidak percaya dengan hasil polesan kelihaian tangan Aloe. Kalau boleh jujur aku benar-benar terlampau cantik. Kecantikan Shandy Aulia semakin terpancar, dandanan ala Koreaku nampak sempurna dipadupadankan dengan dress warna hijau sage favoritku.



"Masya Allah, Teh, cantik benar anak Ibu. Sempurna," puji Ibu berdecak kagum. Aku tersenyum mendengar pujian Ibu.



"Ibu sudah dong, jangan *ngembang duren* (melotot) seperti itu. Teteh biasa saja kok," tepisku menghentikan rasa terkesima Ibu.


"Ibu benar kok Teh, Teteh cantik bingit. Ayo, siap-siaplah setengah jam lagi mungkin utusan Bosnya Teteh akan segera sampai jemput Teteh." Aloe memberi saran supaya bersiap.


Semua aksesoris yang sudah diberikan Pak Rangka, sudah aku sematkan. Hatiku seketika berdesir sedih, mengingat aku berdandan totalitas seperti ini hanya untuk menjadi salah satu tamu undangan khususnya Pak Rangka saat acara lamarannya.



"Teteh, sudah jangan sedih begitu. Kalau Teteh sampai nangis, luntur nanti make up Teteh yang sudah sempurna itu," peringat Aloe ada benarnya. Aku menahan kecamuk rasa sedih di dalam dadaku seperti apa yang dikatakan Aloe baru saja.



"Teh, di depan sepertinya utusan Bosnya Teteh sudah tiba. Bersiap-siaplah. Tapi yang bapak heran, mereka sepertinya banyakan," ujar Bapak dari arah depan dengan sedikit heran.


__ADS_1


Aku mengkerutkan kening, ikut heran dengan apa yang Bapak ucapkan barusan. Bersamaan ucapan salam aku dibuat terkejut, sebab yang datang ke rumah menjemput bukan utusan Pak Rangka, melainkan Pak Rangka bersama Ibu dan anaknya Glassy.


__ADS_2