
"Hiks, hiks, hiks ... Mas Rangka, kenapa kamu pergi, kenapa kamu begitu tega mendiamkan aku begini? Aku sungguh-sungguh menyesal, Mas. Aku tidak akan mengulang lagi membalas SMS laki-laki manapun jika itu membuatmu marah. Aku janji, Mas." Sensi berbicara sendiri di dalam kamarnya yang kini hanya dirasakannya sepi sambil menangis.
Ditatapnya seisi kamar yang kini salah satu penghuninya pergi merajuk gara-gara sikap Sensi yang dianggap sudah beramah tamah dengan lelaki lain. Rangka pergi dan Glassy tidak ada kabar berita.
"Apa bocah kecil itu tidak kangen aku, kenapa Mas Rangka mengungsikannya di rumah Mama? Apakah aku sejahat itu sehingga Glassy dijauhkan dariku?" Sensi masih meratapi sikap Rangka yang sengaja menjauhkan Glassy dengannya.
"Glassy, bunda kangen, Sayang. Apakah Glassy tidak kangen bunda juga?" tanya Sensi pada Glassy yang tidak berada di sana. Rasa rindu dalam dada Sensi begitu membuncah, dia sudah rindu ingin memeluk Glassy saat itu juga. Yang bisa Sensi lakukan saat ini hanya menangis dan meratap.
"Ya Allah kenapa Mas Rangka begitu keras hatinya? Lembutkanlah kembali hatinya supaya bisa memaafkan aku," doa Sensi sungguh-sungguh.
"Non Sensi, makan malam sudah siap." Tiba-tiba Bi Narti datang dan memberi tahu Sensi yang sedang melamun sedih.
Sensi sejenak tersentak, alam lamunannya buyar ketika Bi Narti datang, buru-buru Sensi menyeka air mata yang mulai berembun di sudut matanya. Dia sejak tadi hanya melamun memikirkan sikap Rangka dan kerinduannya terhadap Glassy.
"I~iyam Bi. Sebentar lagi saya turun." Bi Narti sejenak tertegun, sedikitnya dia merasa berempati pada majikannya itu, sebab tadi saat pertengkaran itu, Bi Narti sempat mendengar. Bi Narti iba tapi tidak bisa membantu.
"Bibi tidak bisa berbuat apa-apa pada Non Sensi, Bibi hanya bisa menjaga Nona supaya tidak sakit dan mengawasi Nona sesuai yang diamanahkan Den Rangka," guman Bi Narti dalam hati. Bi Narti segera berlalu dari depan kamar Sensi dan kembali ke dapur.
Sensi menuruni tangga menuju dapur, dia sejenak melihat ke sekitar meja makan. Terbayang kembali saat makan bersama Rangka dan Glassy. Terngiang celotehan Glassy yang ingin dibuangkan cucuk ikan dan tulang ayam. Juga terbayang saat Rangka meminta diambilkan nasi dan lauknya kembali.
"Hahhhh." Sensi menarik nafasnya dalam sampai matanya kembali berembun.
"Nona, silahkan Non. Non Sensi sejak siang tadi tidak makan. Sekarang sebelum Nona istirahat, Nona harus makan malam dulu," bujuk Bi Narti iba.
"Terimakasih, Bi," ucap Sensi seraya mulai memasukkan nasi dan sayur lodeh ke dalam piringnya. Tidak ada lauk lain lagi yang dia ambil, hanya sayur lodeh to. Bi Narti menjadi heran dan rasanya ingin menaruhkan lauk lain ke dalam piring Nonanya.
"Bi Narti, makanlah sama saya di meja ini. Saya sepi sendirian," ajak Sensi serius.
"Tidak, Non. Silahkan Nona makan yang banyak, Bibi tidak mau melihat Non Sensi sakit karena tidak makan," ujar Bi Narti seraya melengos ke belakang membiarkan Nonanya makan dengan tenang.
__ADS_1
"Mas Rangka, Glassy, makan malam bersama bunda," bisik Sensi sebelum dirinya mulai menyuap mengajak Rangka dan Glassy makan meskipun dua orang yang disebut itu tidak ada di hadapannya.
"Bi Narti, boleh tidak saya pinjam Hpnya? Saya mau menghubungi Glassy, saya rindu banget sama Glassy," pinta Sensi membuat Bi Narti tidak tega dan sedih.
"Boleh, Non." Bi Narti menyodorkan Hpnya ke tangan Sensi.
"Terimakasih, ya, Bi. Nanti saya kembalikan setelah saya berhasil bicara dengan Glassy," ujar Sensi seraya beranjak dari ruang tamu.
Sementara itu di kediamannya Mamanya Rangka, Bi Dorawati salah satu ART Nyonya Catly Catyred tengah menidurkan Glassy yang tadi sempat rewel.
"Bagaimana Wati, apakah Non Glassy sudah bisa tidur?" tanya Bi Dorothi, asisten rumah tangga satunya lagi yang kebetulan mereka berdua adalah asisten kembar yang bekerja di kediaman Nyonya Catly.
"Alhamdulillah Rothi, baru saja Non Glassy bisa tertidur. Tadi aku hampir menyerah karena Non Glassy ingat terus pada ibu sambungnya, Non Sensi."
"Kasihan Non Glassy, gara-gara pertengkaran kedua orang tuanya dia malah jadi korban, padahal Non Glassy ingat terus dan ingin selalu ditemani Non Sensi, tapi kita nggak bisa ngapa-ngapain selama ditugaskan seperti itu," ujar Bi Dorawati merasa iba.
"Lalu Nyonya sekarang apakah sudah masuk kamarnya?"
"Dorothi, Dorawati, apakah cucu tersayang aku sudah tidur?" tanya Nyonya Catly tiba-tiba mendatangi kamar Glassy.
"Baru saja tidur, Nya. Nyonya mau tidur di sini atau biar saya saja yang temani?" tanya Bi Dorawati memberi tahu.
"Sebentar, saya terima dulu telepon." Nyonya Catly belum menjawab pertanyaan Bi Dorawati karena segera dihubungi Rangka.
"Assalamualaikum, Rangka. Kenapa? Ok, Ok. Tapi barusan Glassy rewel dan ingin ditemani Sensi. Tapi sekarang Glassy sudah tenang dan tidur." Nyonya Catly terdengar menjawab seputar Glassy yang tadi sempat rewel karena ingin dikelon Sensi.
Akhirnya setelah beberapa menit dihubungi Rangka, sambungan telpon dari Rangka selesai. Namun lima menit kemudian sebuah nomer tidak asing menghubunginya . Sejenak Nyonya Catly mengerutkan kening, dia bertanya-tanya ada apa ART di rumah Rangka menghubunginya?
"Halo ada apa Narti?" (Nyonya Catly)
__ADS_1
"Ini saya, Ma, Sensi." (Sensi)
Sejenak Nyonya Catly termenung memikirkan amanah yang diberikan Rangka tadi supaya tidak menerima atau membiarkan Glassy berbicara dengan Sensi.
"Rangka minta tolong, jangan biarkan Glassy berbicara apapun dengan Sensi. Biarkan dia merenungi apa yang salah dalam dirinya, biar dia koreksi." (Rangka)
"Mama minta maaf, Sayang. Glassy sudah tidur dan tidak bisa dibangunkan lagi. Maaf, ya." (Nyonya Catly)
Terdengar helaan nafas berat yang dihembuskan Sensi sesaat setelah mendengar ucapan dari Mama mertuanya seperti itu. Sensi kecewa tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Nyonya Catly yang berhasil dihubungi Sensi sejenak tertegun, sebenarnya hatinya tidak tahan telah memisahkan Sensi dengan Glassy yang begitu lengket dengan Sensi.
**'
Sementara itu di kediaman Rangka, Sensi nampak frustasi saat baru saja menghubungi Mama mertuanya. Sensi sedih sebab dia tidak bisa berbicara dengan Glassy karena Galssy sudah tidur.
Akhirnya Sensi menyudahi telfonnya dan memberikan kembali Hp itu kepada Bi Narti.
"Sudah, Non?" tanya Bi Narti penasaran.
"Sudah, Bi. Terimakasih Hp nya. Saya kembali ke kamar, ya." Setelah berterimakasih, Sensi berpamitan untuk ke kamarnya.
Di dalam kamar, Sensi sangat begitu sedih. Akhirnya dia hanya bisa menangis karena tidak bisa berbicara dengan Glassy.
Malampun semakin larut, Sensi yang sejak menyudahi sambungan telponnya dengan Mama mertuanya, hanya duduk melamun menatap keluar dari balik pintu balkon. Dia benar-benar sedih.
Air matanya kini kembali harus tumpah mengingat nasib rumah tangganya dan kedua orang yang disayanginya, yakni Rangka dan Glassy.
Dalam heningnya malam yang sesekali ditemani suara Jangkrik dan hewan malam lainnya, kesedihan Sensi seakan berkali-kali lipat. Mereka semua jangkrik dan hewan malam lainnya seolah ikut menertawakan kesedihannya.
__ADS_1
Namun, karena lelah dan sudah ngantuk, Sensi beranjak dari pintu balkon dan menutupnya. Sensi menaiki ranjang dan segera berbaring. Lamat-lamat Sensi mulai memejamkan mata yang pada akhirnya benar-benar terlelap di balik buaian sang malam yang tadi hampir tidak bersahabat dengan dirinya.