Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
NBBGYSA#Season 2#SetelahJadiIstri#Menyadap Nomer Hp Sensi


__ADS_3

   Rangka membuka kartu SIM milik Sensi lalu dipindahkan ke Hp miliknya yang lain, di ingin tahu isi keseluruhan WA dalam Hp Sensi itu dari siapa saja. Jiwa kepo dan rasa cemburunya kini seakan sedang menjadi-jadi.


   Setelah kartu SIM milik Sensi sudah terpasang di Hpnya. Rangka menyalakan kartu itu, beberapa saat Rangka menunggu saat kartu itu terkoneksi dengan baik dengan kuota data. Dan akhirnya Rangka bisa berselancar di nomer Hp Sensi.


   Rangka mulai membuka aplikasi WA yang tadi sempat muncul pesan WA dari seseorang yang entah daei siapa, yang terbaca oleh Rangka hanyalah sebagian isi WA sehingga mengantarkan Rangka pada rasa penasaran.


   Rangka membuka pesan WA yang dikirimkan orang ke WA Sensi, terutama dari orang tadi yang pesannya sempat terbaca. Satu per satu dilihat lalu discroll kebawah tapi belum menemukan pesan WA dari orang yang tadi memuji Sensi.


   "Sialan, yang mana, ya?" Rangka masih mencari dan hampir kesal. "Ini dia," gumannya menghentikan pencariannya saat matanya tertuju pada sebuah nama yang tidak asing. "Krisna Love."


   "Krisna rupanya, sialan! Dia tidak henti-hentinya masih saja mengganggu Sensi, padahal Sensi sudah menjadi milik orang lain. Kurang ajar. Lebih baik aku kerjain saja kali, ya?" ujar Rangka sembari memikirkan sebuah cara untuk mengerjai Krisna.


"Terimakasih, Mas," Rangka membalas WA dari Krisna seolah-olah dia sedang berperan sebagai Sensi. Tidak lama dari itu muncul balasan dari Krisna.


"Kamu bahagia menikah dengan Rangka Baja? Bukannya dia itu killer kata orang-orang. Dan juga setahu aku dia memang galak dan jutek apakah kamu masih mau bertahan?" (Krisna)


"Selama suamiku tidak kasar dan main perempuan lain, aku akan tetap bertahan." (Rangka)


"Sungguh? Setahuku Rangka memang lelaki setia, tapi dia punya penyakit asma dan posesif serta galak, kamu masih mau bertahan?" (Krisna).


"Saya akan terus bertahan selama Mas Rangka tidak melakukan KDRT." (Rangka).

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu. Tapi jika kamu sudah menyerah, datanglah padaku, maka aku akan membahagiakan kamu." (Krisna)


"Aku akan menunggumu, sebab aku mencintaimu." (Krisna).


   Rangka ingin muntah saat Krisna mengirimkan pesan WA terakhir, dia geleng-geleng kepala dengan Krisna yang sampai saat ini masih ingin mengejar Sensi istrinya. Padahal Krisna sudah tahu Sensi sudah menikah tapi masih saja digodain.


   "Krisna, Krisna, mana mungkin gue melepaskan Sensi begitu saja. Sensi sangat mencintai gue, dan gue juga mencintai Sensi. Jadi jangan coba-coba ingin merebut Sensi dari tangan gue," dumel Rangka kesal dengan kelakuan Krisna yang masih menghubungi Sensi yang jelas-jelas sudah bersuami.


   Kekesalan Rangka berlanjut, sebab ternyata Sensi masih menyimpan kontak Krisna tanpa membuang atau menghapusnya. Rangka pikir setelah kejadian bertemu Krisna di pesta pertunangan Dian itu, Sensi menghapus kontaknya Krisna. Namun tidak dan kontak Krisna masih ada dengan nan Krisna Love.


   "Sensi ini apakah tidak peka dengan sikap aku yang terbawa api cemburu gara-gara Krisna dan kelakuan teman-temanku yang mengaguminya, harusnya dia segera menghapus nomer Krisna biar si Krisna kelabakan tidak bisa lagi mengirimkan pesan Wa," dumel Rangka semakin kesal pada Sensi.


   "Baiklah kalau begitu, Sayang. Aku akan lebih pintar dari kamu. Aku akan sadap nomer telponmu supaya aku tahu dengan siapa saja kamu berkomunikasi dan siapa saja yang menghubungimu."


   Nomer Hp Sensi berbunyi, dan muncullah sebuah nama yang cukup romantis untuk sebuah nama, yakni "Suamiku Tercinta". Rangka sedikit menyunggingkan senyum, ternyata Sensi menamainya seromantis itu.


   Misi pertama selesai, akhirnya Rangka buru-buru membuka kembali kartu SIM nilik Sensi kemudian dia pasang kembali di Hp Sensi yang rusak.


   Sejenak Rangka menghela nafasnya dalam, dia dilanda api cemburu akibat Sensi yang masih belum membuang atau menghapus kontak Krisna. Rangka juga merasakan semakin hari semakin dibikin panas dengan kenyataan bahwa ternyata Sensi banyak yang mengagumi, dan yang membuat Rangka semakin kesal adalah, ternyata laki-laki yang mengagumi Sensi kebanyakan merupakan teman-temannya Rangka.


   "Baru beberapa bulan saja pernikahan ini, tapi di mana-mana sudah ada ujiannya. Aku tidak habis pikir, Sensi yang dulu tidak pernah terlihat menggandeng pria atau bahkan dilirik pria, tapi sekarang setelah menjadi istriku banyak pengagumnya. Aku akan terus bertahan sampai di mana pernikahan ini. Aku tidak pernah membayangkan jika Sensi akan seperti Delana, mantan istriku. Amit-amit." Pikiran-pikiran negatif tentang Sensi tiba-tiba menyergap Rangka, bayangan Sensi akan seperti Delana kini seakan di pelupuk mata.

__ADS_1


   "Arrrrghhhh." Rangka memukul ranjang dengan tinjunya, dia frustasi dengan semua pikiran negatifnya. Rangka menggelengkan kepalanya, lalu berdiri dan keluar dari kamar.


   Dicarinya Sensi yang tadi menuju keluar sambil membawa map. Tapi entah di mana dia. Rangka terus berjalan mencari Sensi di setiap ruangan di lantai atas. "Itu dia," serunya dalam hati girang. Rangka berjalan mengendap menuju Sensi yang kini sedang berada di balkon ruangan tengah lantai dua.


   Rangka menghentikan langkahnya, dia sengaja mengintip Sensi yang masih berkutat dengan map-map yang tadi dia berikan untuk dikerjakannya.


   "Serius juga rupanya wanita manjaku ini. Aku jadi sangat merindukan Sensi yang suka ceplas-ceplos kaya dulu. Ohhhh, Sayangggg, aku merindukan semua kepolosan dan ceplas-ceplosmu." Mata Rangka menerawang jauh membayangkan Sensi saat masih menjadi bawahannya di kantor.


   Rangka terus mengamati Sensi yang masih fokus dengan semua laporan di map itu, kadang dia bangkit untuk meluruskan badannya dan meregangkan tangannya untuk sekedar melepas kaku di tangan dan badannya. Rangka iba, dia harus menghampiri Sensi dan memberikan sesuatu yang bisa membuat pikirannya rileks kembali.


   Rangka menghubungi Bi Narti untuk membawakan camilan dan jus melon kesukaan Sensi.


   "Segera, ya, Bi. Saya tunggu di dekat ruangan tengah lantai dua. Tapi Bi Narti datangnya jangan sampai berisik," titah Rangka diakhiri sebuah peringatan.


   Sepuluh menit kemudian, Bi Narti yang dihubungi Rangka tadi, kini derap langkahnya mulai terdengar. Rangka langsung menyambut Bi Narti di bibir tangga. Dia akan memberikan jus dan camilan itu langsung pada Sensi supaya menjadi kejutan.


   Baki itu pindah tangan dari Bi Narti ke tangan Rangka. Rangka segera berjalan mengendap menuju balkon. Dia tidak ingin kehadirannya diketahui Sensi. Setelah tubuh Rangka sudah benar-benar berada di belakang Sensi, dengan cepat Rangka segera beralih menuju ke depan Sensi.


   "Sayang," sapa Rangka. Serta merta Sensi yang tadi fokus kini beralih menuju datangnya suara. Sensi mendongak, rupanya suami yang sangat dia cintai sudah berdiri gagah dengan baki di tangannya. Hati Sensi tersentuh dan rasa rindu yang sejak beberapa hari bergelayut di dada rasanya ingin dia tumpahkan saat itu juga. Tapi ketika ingat lagi akan Hpnya yang rusak gara-gara Rangka, rindu yang membuncah itu terpaksa ditahan kembali. Sensi merencanakan cara untuk sok jual mahal dan bersikap dingin sampai Rangka benar-benar bisa meluluhkannya.


   "Sayanggg, supaya tubuh dan otak kamu rileks, aku bawakan jus melon dan camilan buah serta manisan. Setelah kamu mencicipi dan meminum jus melon ini, dijamin ketegangan dan lelah kamu akan sedikit berkurang," ucap Rangka sembari mempersembahkan jus melon dan camilan buah serta manisan.

__ADS_1


   "Camilan buah dan manisan? Kenapa camilannya mirip untuk orang hamil, bukankah aku belum hamil? Ya ampun, apa-apaan Mas Rangka ini. Lucu, deh." Sensi tergelitik dengan cara suaminya memberikan kejutan kecil untuk membeli hatinya.


   "Membeli hati? Huhhhh! Aku akan ambil minumannya, tapi aku akan berpura-pura masih kesal padanya," bisik hati ensi tersenyum licik.


__ADS_2