
"Sensi," panggil Rangka setelah melihat Sensi menyudahi mengurusi Glassy. Glassy yang tahu Papanya sudah pulang, langsung menyerobot ke arah Rangka, memamerkan bau harum di tubuhnya karena sudah mandi. Tidak biasanya Glassy segera mandi setelah pulang sekolah. Dan ini membuat Rangka menjadi heran.
"Papaaaa," jeritnya seraya melompat ke pangkuan Rangka. Rangka dengan cepat menangkap tubuh Glassy.
"Uhhhh, wanginya anak Papa. Tumben sudah mandi, biasanya Glassy makan siang dulu baru mandi atau langsung tidur siang?" herannya sambil mengendus kepala dan sekujur tubuh Glassy yang benar-benar wangi akibat sabun dan sampo.
"Iya, dong, Pa. Habisnya aku tadi di sekolah olah raga dulu. Jadinya tubuh aku lelah dan berkeringat." Glassy memberi alasan.
"Sekarang turunlah, ke meja makan duluan dan bilang Bi Narti siapkan makanan Glassy," titah Rangka menyuruh Glassy duluan ke meja makan, sebab dia ingin berbicara dulu dengan Sensi.
"Sensi, aku ingin bicara." Sensi yang disapa Rangka, memutar tubuhnya dan menatap Rangka sejenak. "Mendekatlah." Rangka meraih lengan Sensi dan menariknya sehingga Sensi kini berada tepat di sampingnya.
"Aku sejak pagi menghubungi kamu, tapi Hp kamu kadang aktif kadang tidak. Kenapa saat aku butuhkan kamu, kamu susah dihubungi?" tanya Rangka masih dingin karena terbawa sikap Sensi yang dingin.
"Hp aku rusak, Mas. Kan Mas tahu sendiri, Hp aku dibanting Mas Rangka saat di mobil. Mas Rangka marah, sebab Glassy berhasil dibawa kabur oleh Mamanya," terang Sensi sembari memperlihatkan Hpnya yang retak dengan kesing belakangnya yang sudah tidak bisa dipasang lagi.
Rangka terhenyak, dia baru sadar akibat kemarahannya saat itu di mobil, sampai membuat Hp Sensi rusak seperti itu. Rangka terbayang saat dia melempar Hp itu dengan keras dan mengenai dasar mobil.
"Ohhh, ya ampun. Aku baru menyadarinya. Aku minta maaf, rupanya Hp kamu rusak dan aku penyebabnya." Rangka menyadarinya lalu segera meraih Hp yang berada dalam genggaman tangan Sensi. Namun Sensi segera menepisnya cepat. Sensi menjauh dan berdiri di depan jendela yang menuju arah balkon. Tiba-tiba Sensi menangis, betapa sikap Rangka saat itu berlebihan. Marah padanya akibat Glassy diambil Ibunya tanpa ijin.
__ADS_1
Rangka menghampiri Sensi dan berusaha membujuknya. Rangka menangkap pinggang Sensi dengan tepat lalu melabuhkan ciuman di pipi perempuan muda yang sedang merajuk itu.
"Sayangg, aku minta maaf, aku sungguh-sungguh minta maaf. Saat itu aku emosi dan tidak sadar telah membanting Hp kamu. Kamu mau memaafkan aku, kan?" mohon Rangka lagi mencium pipi Sensi. Sensi menghindar ciuman Rangka karena ia merasa kegelian.
"Ayolah, jangan seperti ini. Aku saat itu sungguh-sungguh tidak sadar saking emosinya. Nanti Hpnya aku ganti dengan yang lebih bagus dan canggih." Rangka terus membujuk Sensi yang masih terlihat merajuk.
Sensi berdiri lalu melepaskan pelukan Rangka, dia masih kecewa dengan Rangka meskipun Rangka barusan sudah minta maaf. Namun, itu bagi Sensi tidak cukup. Dia malah semakin ingat akan perlakuan galak Rangka di mobil.
Rangka menarik nafasnya dalam, dia berpikir kini betapa sulitnya meraih hati Sensi. Apakah sakit hati Sensi begitu dalam?
"Sayang, aku minta maaf atas salahku padamu waktu itu," rayu Rangka lagi seraya melirik jam di tangannya yang begitu terasa cepat berputar. Rangka ingat map yang akan dia serahkan pada Sensi untuk dikerjakannya.
Terpaksa Rangka harus kembali merayu Sensi dengan gigih, sebab ini sudah terlanjur dan waktunya akan segera habis. Rangka menjadi sangat kalut dan bingung, sedangkan laporan ini harus sudah keluar besok.
"Sayang, tolong kerjakan laporan di map ini. Aku membawa ini sengaja ke rumah, sebab hanya kamu yang mampu kerjakan, yang lain tidak ada yang mau sebab mereka masing-masing sibuk dengan pekerjaannya masing-masing," rayunya lagi yang masih belum mendapat balasan dari Sensi.
Meskipun Sensi diam dan tidak menyahut. Namun hati dan otaknya diam-diam menyimak apa yang dibutuhkan Rangka. Sensi paham dan perlahan meriah map-map itu ke pangkuannya. Lalu Sensi berdiri dan keluar dari kamar itu. Rangka memperhatikan gerak-gerik Sensi, dengan sekejap terukir senyum di sudut bibir Rangka.
"Kamu pasti tidak akan membiarkan aku kesusahan,Sayang. Meskipun hati kamu sedang galau dan masih marah padaku," bisik hati Rangka senang.
__ADS_1
Sensi bergegas menuju sebuah ruangan, dia menuju balkon ruang tengah lantai empat rumah itu. Dan dengan sungguh-sungguh dia kerjakan laporan itu.
"Kenapa Mas Rangka sampai sebegitu riweuhnya map-map ini dibawa ke rumah lalu meminta aku mengerjakan secepatnya?" Sensi bertanya-tanya dalam hatinya heran. Walaupun demikian Sensi segera mengerjakan laporan di map yang Rangka kerjakan.
Sementara itu Rangka yang kini masih di kamarnya, terpaku atas kepergian Sensi yang membawa mapnya keluar dari kamar dan membawanya entah ke ruangan mana. Namun rasa bahagia tak ayal terbit dari bibirnya. Dia merasa senang sebab Sensi masih mau melakukan perintahnya.
Rangka mengedarkan matanya dan mencari keberadaan Hp Sensi yang sudah dalam keadaan retak dengan kesing belakang tidak mau menutup rapat.
Rangka meraih Hp itu yang berada di balik bantal Sensi. Rangka tersentak dan merasa bersalah seketika. Pantas saja Sensi merasa sedih dan mendiamkannya, rupanya Hp miliknya kini sudah error dan layarnya nyala mati.
"Pantas tadi saat aku hubungi, Hp Sensi kadang berdering dan kadang tidak bisa dihubungi karena di luar jangkauan. Rupanya penyebabnya ini, rusak gara-gara aku yang marah saat di mobil itu," guman Rangka menyadari sepenuhnya kesalahan dia saat di mobil yang melempar keras Hp Sensi ke alas mobil hingga terburai.
Rangka masih mengamati Hp rusak Sensi, dia bertekad akan menggantinya dengan Hp yang baru besok. "Tenanglah, Sayang. Tahu-tahu besok sudah ada Hp baru sebagai gantinya, lalu Hp ini dibuang saja," guman Raka lagi berbicara sendiri.
Rangka bermaksud meletakkan Hp itu kembali di bawah bantal. Namun tiba-tiba sebuah pesan WA masuk di Hp itu. Layar yang masih hidup berhasil memperlihatkan tangkapan layar, dan Rangka sempat membaca pesan WA tersebut.
"Sensi, apa kabar? Kamu semakin hari semakin cantik." Begitu pesan WA yang berhasil Rangka baca. Tiba-tiba rasa cemburu yang selalu datang itu, muncul kembali memenuhi dalam otaknya Rangka. Bersamaan dengan itu Hp Sensi kembali mati, layarnya blank.
"Ya ampun padahal aku ingin melihat pesan WA itu," rutuknya kesal sebab tidak bisa melihat isi dari pesan WA tersebut karena Hpnya keburu mati. Namun Rangka tidak kehilangan ide, untuk mengetahui isi WA Sensi, maka dia berencana membuka kartu SIM milik Sensi dan dipasang sejenak di Hp milik Rangka yang lain.
__ADS_1