Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
NBBGYSA#Season 2#SetelahJadiIstri#Mendamprat Krisna


__ADS_3

   Rangka membawa Krisna ke sebuah lorong yang sepi. Dia akan membuat perhitungan dengan Krisna tentang pesan WA yang dikirimkan Krisna pada Sensi.


   "Kenapa Anda bawa saya kesini, Pak Rangka terhormat?" tanya Krisna dengan senyum sinis yang merekah, sebab dia sudah curiga dengan gelagat Rangka.


   "Jangan sok formal Krisna, aku tahu niat busukmu. Di belakang aku, kamu sembunyi-sembunyi selalu menghubungi istri aku. Mengirimkan pesan WA dan mengikuti semua media sosialnya. Kamu itu seperti tidak ada kerjaan. Bukankah kamu tahu bahwa Sensi sudah menikah dan memiliki suami? Beda cerita jika Sensi belum menikah, kamu kirim pesan WA berapa kali pun tidak ada yang marah. Mulai sekarang aku tegaskan, jangan sekali-kali menghubungi istriku, terlebih memberi pengaruh buruk padanya tentangku. Kalau jadi laki-laki, punya mulut dijaga dan jangan lemes," peringat Rangka marah. Dia tidak suka Krisna banyak basa-basi dan menghubungi terus Sensi.


   Krisna tersenyum remeh, dia seperti tidak peduli dengan peringatan Rangka. "Ya, ampun Rangka, apa salahnya aku mengirimkan pesan WA pada istrimu, toh isi dari pesannya tidak ada kata-kata yang tidak senonoh apalagi vulgar? Coba, nanti lihat kembali di Hp istrimu apakah ada kata rayuan dariku pada istrimu? Kami hanya saling berbalas WA dan kata-katanya tidak mengandung birahi. Jadi kamu jangan baperan, karena Sensi saja tidak keberatan," jawab Krisna tidak merasa bersalah.


   Rangka mendongak, hatinya semakin menggebu mendengar pengakuan Krisna. Bukannya minta maaf malah membenarkan dan dianggap biasa.


   "Aku yang keberatan, Bung. Aku suaminya dan aku imamnya. Tiap kata-kata dari mulut aku, maka dia wajib mematuhinya selama itu benar. Dan salah satu yang aku perintahkan nanti jika aku kembali ke Bandung, maka perintah pertama padanya adalah menghentikan dia membalas WA apapun darimu. Menanyakan kabar atau apapun tidak terkecuali. Yang kedua adalah menghapus nomer kamu dan memblokirnya. Jadi, aku pastikan pulang dari sini, Sensi sudah tidak bisa lagi berhubungan denganmu." Rangka menepuk bahu Krisna kuat dan menekan dadanya.


   "Kamu jangan terlalu baperan Rangka. Justru sikap posesif kamu itu akan membuat Sensi jengah dan bosan mendampingi kamu. Kamu lihat saja nanti," balas Krisna masih meremehkan sambil tersenyum mengejek.


   "Justru aku harus posesif, demi keutuhan rumah tanggaku yang kedua. Aku peringatkan sekali lagi, jangan coba-coba ganggu Sensi atau mengirimkan pesan WA lagi padanya, sebab jika tidak, maka aku patahkan lehermu. Nah, carilah pasangan di sana. Di sana banyak perawan dan janda muda, pastinya akan tergila-gila padamu. Jika seleramu istri orang, maka betapa tidak ada harganya dirimu," ketus Rangka lagi seraya menepuk-nepuk pundak Krisna, lalu dengan cepat dia berlalu dari sana.


   "Huhhh, Rangka, kalau kamu tidak menikung aku duluan, maka pada saat tunangan Dian sepupumu, akan menjadi hari istimewa bagiku dan Sensi, sebab hari itu aku memang merencanakan lamaran untuknya. Jadi, wajar aku masih mengejarnya," ucap Krisna sedikit berteriak.


   "Carilah yang baru Krisna, jangan tergoda istri orang!" peringat Rangka sembari meninggalkan Krisna yang kecewa. Sejenak Krisna berpikir, dari mana Rangka tahu dirinya selalu mengirimkan pesan WA pada Sensi.


   "Halahhh, ketahuan deh. Kalau tidak ketahuan, aku yakin Sensi juga bakal tergoda dengan pesonaku," dengus Krisna kecewa.


   Akhirnya besok pun tiba, cuma tinggal sehari Rangka berada di Samarinda. Hari ini kesempatan dia untuk membeli oleh-oleh untuk orang rumah terutama Glassy. Sebetulnya Rangka sudah muak berada di sini dengan harus melihat wajah Krisna yang menyebalkan. Tapi mau bagaimana lagi, semua ini terpaksa dia bertahan sebab malam nanti merupakan malam puncak pertemuan antara para petinggi perusahaan. Dan ini kesempatan emas bagi semua perusahaan untuk menawarkan kerja sama satu sama lain.


   Sebelum Rangka mencari oleh-oleh khas kota Samarinda, tiba-tiba seseorang memanggilnya. Seorang perempuan dewasa sekitar 31 tahun menghampiri Rangka dengan gaya sosialita.


   "Pak Rangka, sedang apa di sini? Bapak datang ke sini dalam rangka reuni akbar para pengusaha kayu, bukan?" sapa perempuan yang berpakaian seksi bernama Wati itu seraya meraih lengan Rangka. Rangka segera menepis perlahan sebab dia bukan Rangka yang biasa gandengan dengan para perempuan terlebih dengan seorang perempuan yang berpakaian kurang bahan.


   "Ya ampun, Wati, ini bukan di pantai," bisik Rangka protes dalam hati.


   "Ya ampun, Pak Rangka, sombong ya sekarang. Cuma dipegang sedikit saja langsung menepis. Apakah Anda tidak kesepian sudah tiga tahun menduda?" ujar Wati merajuk, seraya mempermainkan tas sandingnya dengan merek ternama yang digandrungi para artis papan atas.


   Wati begitu glamour, tasnya sangat mahal. Gayanya sosialita, dandanannya menor dan pakaiannya pantai. Memang sejak dulu Wati memang punya gaya yang selangit, cita-citanya juga menikah dengan CEO. Mungkin saja sekarang Wati sudah memiliki suami seorang CEO. Rangka juga termasuk CEO yang jadi incara Wati. Namun Rangka bukan CEO yang mudah jatuh dalam perangkap wanita-wanita. Dia saja selalu menjaga jarak dengan wanita-wanita sejak dikhianati Delana.


   "Apa kabar Wati? Maaf saya sudah menikah, jadi kamu salah kalau bilang saya sombong," tepis Rangka.


   "Oh ya, Anda sudah menikah? Perempuan mana yang berhasil menikah denganmu?" tanya Wati heran dengan gaya genitnya.


   "Dia orang biasa dan kebetulan karyawan saya dulu," ujar Rangka jujur.


   "Oh ya, benarkah? Alangkah beruntungnya gadis itu. Selamat, ya, Pak Rangka," ucap Wati sambil tersenyum.

__ADS_1


   "Darling, come on!" ajak seseorang yang berbicara bahasa Inggris seraya meraih lengan Wati. Rangka tersentak, refleks kakinya mundur satu langkah menghindari Wati.


   "Just a minute, darling. I'll talk to my friend first," tepis Wati seraya meraih tangan pacar bulenya.


   "Oh iya, kenalkan Pak Rangka, ini calon suami aku, Tuan Grasamburg. Kami dua bulan lagi akan menikah," ujar Wati memperkenalkan pacar bulenya yang ternyata dikenali Rangka. Siapa yang tidak kenal Tuan Grasamburg, seorang pemilik showroom terbesar di kota Samarinda?


   "Halo, I'm Rangka." Rangka memperkenalkan dirinya singkat.


   "Helo too, I'm Grasamburg," balas Tuan Grasamburg seraya memberi kode supaya Wati segera pergi dengannya.


   "Ok, Pak Rangka. Aku pamit dulu, ya. Sampai jumpa lagi di hari pernikahan aku. Nanti undangannya menyusul," ujar Wati seraya melangkah bersamaan dengan pacar bulenya. Rangka menganggukkan badannya seraya melambaikan tangannya ke arah Wati.


   Rangka segera melangkahkan kaki dari tempat itu, tujuannya kini mencari oleh-oleh khas Samarinda. Akhirnya Rangka mencari toko yang menjual oleh-oleh khas Samarinda. Sebetulnya Rangka bingung harus membeli apa untuk oleh-oleh. Kalau sekedar makanan khas, dia tidak perlu bingung. Namun, selain makanan Glassy sang anak pernah meminta dibawakan oleh-oleh berbentuk barang dari Samarinda.


   "Ahhh, lebih baik gelang-gelang kesehatan khas Samarinda itu kali, ya." pikir Rangka. Rangka tidak tahu apakah gelang-gelang mirip giok dan batu alam lainnya itu memang khas Samarinda atau kota lain, sebab saat Rangka ke Pontianak dulu, gelang-gelang giok dan gelang batu alam seperti ini sempat dia temui di sana.


   Rangka berhasil mendapatkan beberapa oleh-oleh untuk Glassy. Dia segera melangkah menuju kamar hotel. Sepertinya tubuhnya sangat lelah, dia berencana akan istirahat dulu sebelum malam puncak reuni nanti malam digelar.


   Tiba di kamar, Rangka benar-benar tumbang. Lelah dan ngantuk seketika menguasai dirinya sehingga Rangka tidak menunda lagi segera berbaring dan langsung ngorok, padahal hari terbilang masih pagi.


   Malam menjelang, puncak reuni akbar akan segera dilaksanakan. Rangka tidak berminat menyaksikan atau ikut serta dalam puncak acara ini. Dia benar-benar tidak mood gara-gara memikirkan Sensi yang saling balas pesan WA. Bahkan beberapa kali panggilan Sensi dia abaikan.


   Samar-samar terdengar seorang pembawa acara menyebutkan namanya. Namun Rangka tidak peduli, dia malah menelusupkan tubuhnya di balik selimut. Rangka lebih baik tertidur daripada menyaksikan acara reuni akbar yang hanya mengundang kegundahannya. Gundah karena ulah Krisna dan Sensi.


#Rangka Marah Besar


   Pagi menjelang, kumandang azan Subuh telah diperdengarkan. Rangka segera bangkit dan bangun, melaksanakan kewajibannya sebagai umat Muslim. Hari ini dia bersemangat sebab akan kembali ke kota tempat tinggalnya tercinta. Menemui anak istri tercinta. Meski terselip amarah, Rangka tetap saja merindukan Sensi yang akhir-akhir ini selalu mengundang marah.


   "Selamat jalan Rangka, semoga kamu selamat supaya Sensi masih bisa bercengkrama lagi bersamamu. Aku di Samarinda akan memantau pesawat yang membawamu terbang. Jika ada apa-apa, misalkan yang mengakibatkan Sensi jadi janda tiba-tiba, aku akan bersiap mendatanginya." Bisa-bisanya Krisna mengejek Rangka sebelum Rangka benar-benar meninggalkan hotel mereka menginap.


   Tangan Rangka mengepal dengan gigi gemeratuk. Dia sangat kesal dengan Krisna yang semakin berani meleluconnya.


   "Saking kamu tidak lakunya, kamu bela-belain mengorbankan mulut kami berkata-kata tidak pada tempatnya. Aku malu memiliki teman sepertimu." Rangka membalas leluconnya Krisna dengan cukup manis dan elegan. Dia berbalik dengan segera seraya menyeret kopernya.


   Krisna tersenyum kecut mengantar kepergian Rangka dari hadapannya. Dia kecewa dengan pernikahan Rangka dan Sensi yang terbilang sangat cepat. Padahal dia beberapa bulan ke belakang memang merencanakan untuk melamar Sensi. Namun, saat menghadiri pertunangan Dian, kala itu Krisna tiba-tiba bertemu Sensi dan disitulah Krisna mendengar kabar bahwa Sensi telah menikah dengan Rangka Baja teman sesama pengusaha. Krisna kecewa sehingga kekecewaannya kini seakan sedang dilimpahkan pada Rangka.


   Rangka kini sedang berada di dalam pesawat penerbangan Samarinda- Bandung. Cuaca sangat cerah sehingga perjalanan udara kali ini lancar tanpa ada hambatan yang berarti.


   Tiba di Bandung, tidak disangka-sangka cuaca mendadak kurang bersahabat. Baru saja turun dari pesawat dan memasuki gedung bandara, hujan mengguyur kota Bandung lumayan lebat. Terpaksa Rangka mengurungkan niatnya untuk memesan taksi. Dia juga tidak berniat menghubungi Pak Mamat sang supir.


   Dan setengah jam kemudian, hujan mulai reda. Rangka segera memesan grab menuju alamat rumahnya. Satu jam kemudian grab tiba di depan halaman rumahnya. Kedatangan Rangka disambut Pak Mamat dan Bi Narti dengan gembira. Rangka segera berlari kecil menuju emper rumahnya membiarkan kopernya dibawakan Pak Mamat ke dalam, sebab hujan kembali gerimis.

__ADS_1


   Suasana di dalam rumah nampak epi, Rangka menduga Sensi ataupun Glassy sedang berada di dalam kamarnya.


   Rangka masuk pelan setelah pintu rumah itu terbuka lebar, tiba-tiba sebuah tangan menimpanya lalu memeluknya erat betapa rindu dia rasakan.


   "Sensi," pekiknya seraya melepaskan tangan Sensi dari tubuhnya. Sensi belum menyadari bahwa Rangka tengah marah, dia mengikuti Rangka ke atas tangga dan memasuki kamarnya.


   "Mas Rangka, aku kangen Mas." Sekali lagi Sensi memeluk erat tubuh Rangka penuh kerinduan, sembari mengucapkan kata-kata rindu yang sejak dua hari yang lalu dia tahan. Lagi-lagi Rangka menepis tubuh Sensi dan terpental mengenai tepi ranjang.


 Sensi tersentak dan menatap Rangka heran. Dengan meringis dia bangkit dan berdiri di hadapan Rangka dengan muka yang mulai memerah ingin menangis.


   "Mas," ucap Sensi tertahan dengan wajah yang sudah berurai air mata sebab Rangka sama sekali tidak melihatnya. "Mas Rangka, kenapa Mas, apakah ada yang salah dengan aku?" tanya Sensi memberanikan diri.


   Rangka mendekat dan meraih Hp Sensi yang berada di atas meja riasnya. "Coba kamu jelaskan bukti chatingan kamu dengan lelaki yang selama ini kamu anggap, Krisna Love." Jelegerrr, suara petir tiba-tiba menyambar kuat di luar sana sehingga membuat Sensi dan Rangka tersentak. Namun suara petir tidak menyurutkan rasa marah pada Sensi yang kini diluapkan.


   Sensi meraih Hpnya kemudian membuka aplikasi WAnya. Sensi membuka WAnya sesuai dengan apa yang dimau Rangka. Sensi belum sadar bahwa kemarahan Rangka adalah karena chatan dirinya dengan Krisna. Sensi menganggap justru hal itu biasa.


   "Buka bukti chatan kamu dengan si Krisna. Apakah kamu sekarang mulai menyukainya sehingga apa saja yang duda karatan itu tulis lalu dengan cepat kamu balas. Kamu ternyata sama saja dengan perempuan lainnya yang bisanya berkhianat," tegas Rangka menancap ulu hati Sensi, dia masih belum paham dengan tudingan keras Rangka. Sementara Sensi menganggap chatingan dengan Krisna merupakan hal yang sangat biasa dan tidak ada unsur pornoaksi.


   "Jelaskan!" titah Rangka melotot. Sensi ciut dan mulai membuka dan menscroll chatan dirinya dengan Krisna.


   "Semua ini tidak ada yang ganjil Mas, kami hanya berbalas chat biasa. Aku hanya menganggap Mas Krisna teman biasa tidak lebih."


   "Siapa yang mengijinkan kamu berbalas chat dengan lelaki lain? Kamu berpikir atau tidak bahwa kamu itu perempuan bersuami yang mana sudah tidak boleh lagi berbalas chat dengan pria manapun meskipun isinya tidak ada yang vulgar? Dan aku mulai sekarang melarangnya. Ganti semua nomer Hpmu. Buang nomer Hp yang ini dan hancur leburkan!" titahnya keras.


   Sensi tersentak dan tidak kuasa menahan tangisnya saat Rangka begitu keras bicara padanya. Sensi menangis di hadapan Rangka memegangi Hpnya.


   "Kamu itu perempuan bersuami tapi dengan ramah tamahnya berbalas chat dengan lelaki yang bukan muhrim. Jika kamu belum menikah, maka silahkan saja sepuasnya chatan sama si Krisna itu. Apakah menurutmu bagus seorang perempuan bersuami berbalas chatan dengan lelaki lain dan beramah tamah di chatan, terlebih lelaki itu sebetulnya ada mau sama kamu dengan menjelek-jelekkan suami kamu sendiri? Dengan berusaha memancing dan menyeret opini bahwa pria yang sudah beristri jika bepergian sendiri maka di luaran tidak dijamin setia dan pasti lirik-lirik perempuan lain, begitu?" tandasnya keras semakin membuat Sensi menangis.


   "Maafkan aku, Mas. Hiks ...hiks ... aku tidak ada niat lain selain berteman. Dan aku dari awal pada Mas Krisna hanya menganggap teman. Maafkan aku, hiks, hiks, hiks ...." lirih Sensi diiringi isak tangis seraya bersimpuh di kaki Rangka.


   "Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah ini? Kamu sudah terindikasi berselingkuh jika saja chatan kamu tidak aku ketahui. Aku tidak sudi lagi berhubungan dengan perempuan yang mencoba mengkhianati aku. Lebih baik ...."


   "Jangan Mas, jangan ucapkan kata cerai Mas, aku tidak ingin bercerai dari kamu. Sumpah demi apapun aku tidak ingin berpisah dari kamu. Aku mohon," potong Sensi seraya memeluk tubuh Rangka. Isak tangisnya kian pecah.


   "Aku akan buang nomer aku ini Mas, dan aku, hiks, hiks, akan mengganti nomer hpnya dengan yang baru. Aku tidak mau kita berpisah, aku lebih kehilangan teman daripada kehilangan kamu." Sensi berkata tulus dan masih diiringi isak tangis.


   Perlahan Rangka melepaskan pelukan Sensi. Tubuhnya yang bergetar terasa bagai guncangan sebuah penyesalan. Dia juga lama-lama tidak tega membuat Sensi menangis seperti ini. Tapi kemarahannya barusan, adalah bentuk dari rasa cintanya pada Sensi dan tidak mau Sensi terjerumus ke dalam lembah kehinaan yaitu perselingkuhan.


   Rangka keluar kamar dan membiarkan Sensi menangis di sana, menumpahkan rasa sesaknya di dada dan merenungi apa yang sudah sebenarnya terjadi. Kenapa Rangka marah dan kenapa Rangka melarang Sensi membalas chatan dengan lelaki lain.


   "Aku minta maaf jika kata-kataku terlalu kasar, aku tidak mau kamu terlanjur nyaman dengan lelaki itu, terlebih dia memang menyukai kamu. Maafkan aku. Dan aku bersikap demikian, itu karena aku tidak ingin berpisah darimu. Aku juga sangat mencintaimu, gadis ceplas-ceplosku yang nakal." Rangka menjauh dengan maksud memberikan ruang untuk Sensi supaya tenang.

__ADS_1


__ADS_2