
"Sensi, map-map ini kamu selesaikan hari ini!" sodor Pak Rangka ke arahku. Sudah kuduga firasatku benar adanya. Map-map yang diberikan Mbak Koral pada Pak Rangka tadi pasti dilimpahkan padaku. Seketika hatiku kesal dan sedih menjadi satu, padahal aku ingin segera pulang seperti yang lain. Walaupun aku harus berada satu ruangan dengan Pak Rangka yang ganteng dan wangi itu, akan tetapi aku masih merasa canggung, terlebih jika Pak Rangka sudah memperlihatkan sikap tegasnya, kesan killer itu benar-benar keluar auranya.
Sejenak aku termenung memikirkan map-map yang numpuk itu. Harusnya itu pekerjaan Mbak Koral sebagai Sekretarisnya Pak Rangka, tapi kenapa dilimpahkan kepadaku yang kata Kak Tari pekerjaanku lelet? Ingin protes akan tetapi tidak berani, alangkah baiknya aku tanyakan langsung pada Mbak Koral, biar jelas. Sebelum Mbak Koral beranjak dari ruangan Pak Rangka, aku buru-buru meminta ijin ke toilet dengan alasan mau melaksanakan sholat Asar.
"Sholat Asarnya bisa di ruangan saya," sela Pak Rangka.
"Baik, Pak. Tapi, ijinkan saya keluar sebentar," ujarku berharap Pak Rangka tidak menolak. Pak Rangka menatap wajahku yang saat itu kebetulan aku juga sedang menatapnya, dengan secepat petir wajahku yang terlanjur malu langsung aku alihkan, rasanya tidak tahan menatap lama wajah tampan Bosku itu.
"Tapi, jangan lama!" peringatnya.
Aku segera menyusul Mbak Koral yang sedang berkemas di mejanya. "Mbak Koral!" tahanku seraya menahan tangan Mbak Koral yang sibuk memasukkan satu persatu alat make up yang sepertinya habis dia pakai.
"Iya, kenapa Sen?" tanya Mbak Koral heran.
"Mbak, saya mohon maaf sebelumnya, perihal map-map tadi," ucapku.
"Memangnya kenapa?" Mbak Koral mengkerutkan keningnya tidak paham.
"Maaf, perihal map-map tadi, bukankah itu punya Mbak, dan harusnya Mbak yang kerjakan. Kalau saya yang kerjakan takutnya salah. Saya kan tidak paham, Mbak," ucapku protes.
Mbak Koral mendongak lalu sebelum bicara dia tersenyum padaku. "Map-map itu tadinya mau saya kerjakan besok, tapi berhubung Bos memerintahkan saya untuk menyerahkan map ini sama kamu, saya tidak bisa membantah dan saya harus patuh, Sen," jelas Mbak Koral membuat hatiku jadi kelabu. Rupanya itu atas perintah Pak Rangka, pantas saja Mbak Koral tidak berani membantahnya.
__ADS_1
"Tenang saja, Pak Rangka pasti membimbing kamu kok. Kamu jangan tegang gitu." Sambil berjalan mengitari mejanya dan membereskan semua peralatan kantornya, Mbak Koral masih berusaha memberikan aku semangat.
"Tapi, gimana nih Mbak. Divisi lain tidak ada yang lembur. Kenapa saya harus lembur, sendirian lagi?" protesku tidak terima.
"Kamu tidak sendiri, Sen. Kan ada Pak Rangka yang menemani kamu," ujar Mbak Koral lagi santai.
"Tapi Mbak, kalau begitu artinya kami cuma berdua dong di dalam satu ruangan, saya jadi merasa takut," ujarku tiba-tiba merasa was-was, padahal tadi siang dekat-dekatan sama Pak Rangka alangkah senangnya, apalagi Pak Rangka tampan dan wangi. Tapi sekarang kenapa malah takut?
"Takut kenapa sih Sen? Pak Rangka tidak akan melakukan pelecehan terhadap karyawannya. Apalagi Pak Rangka lelaki yang beragama, ibadahnya rajin, sayang anak, juga sayang kedua orang tua. Mana mungkin Pak Rangka melakukan hal diluar akal sehat," ujar Mbak Koral meyakinkan dan berusaha menguatkan aku.
"Bukan itu Mbak, tapi saya takut ketahuan yang lain jika berduaan di ruangan Pak Rangka. Saya takut ada gosip miring, Mbak," ucapku memberi tahu kecemasanku, lagipula aku memang benar-benar takut jika berduaan dengan laki-laki, walaupun aku menyukai Pak Rangka. Takutnya terjadi pelecehan seperti apa yang dikatakan Mbak Koral tadi.
"Tenang saja Sen, itu tidak mungkin terjadi sebab para pegawai sudah pada pulang dan tidak ada yang lembur, kecuali kamu dan Pak Rangka. Lagipula tidak masalah jika kamu dan Pak Rangka digosipkan begitu, toh kalian masih sama-sama single, kan?" ujar Mbak Koral menenangkanku.
"Tapi, saya risih Mbak," ujarku lagi.
"Sudah, tidak usah merasa risih, kamu santai saja. Sudah saya katakan jika ada gosip tentang kalian, kamu santai saja. Kamu jangan dengarkan mereka, justru kalau bisa kamu bisa gaet hati Pak Rangka. Kalau saya lihat kalian sepertinya cocok deh."
"Sudah, ya, saya pamit dulu. Kebetulan saya ada janji dengan kekasih saya. Jagain tuh Pak Rangkanya, jangan sampai sakit asmanya kumat!" ucap Mbak Koral berpamitan diakhiri kalimat peringatan. Mbak Koral mengusap pundakku lalu tersenyum enteng seraya melenggang meninggalkanku. Ya ampun ... bagaimana nih? Aku tiba-tiba menjadi gusar.
__ADS_1
Ketika aku merasa gusar dan serba salah, tiba-tiba aku melihat Pak Cakar lewat. Dengan cepat aku segera menyapanya. "Maaf, Pak!" sapaku mencegah langkah Pak Cakar. Pak Cakar menoleh ke arahku dengan raut heran.
"Iya, ada apa, ya?" heran Pak Cakar seraya melihat ke arahku. "Eh, kamu! Kenapa, Sen?" ulang Pak Cakar heran.
"Begini Pak, saya hari ini harus lembur di ruangan Pak Rangka, apakah Pak Cakar lembur juga?" tanyaku dan berharap dijawab iya oleh Pak Cakar yang sama-sama ganteng sebelas dua belas dengan Pak Rangka.
"Kebetulan saya tidak ada lembur," jawabnya pendek membuat aku sedikit kecewa. "Memangnya kenapa, Sen, kok kamu murung begitu?" sambung Pak Cakar penasaran.
"Anu, saya hari ini lembur di ruangan Pak Rangka, berdua lagi. Mbak Koral tidak lembur dan Pak Cakar juga tidak, hanya kami berdua. Emm, saya takut ...."
"Lho kok, takut? Takut kenapa? Takut Pak Rangka berbuat zolim?" potong Pak Cakar cepat, menjawab ketakutanku. Sebetulnya memang itu salah satu ketakutanku. Dan yang kedua takut ada gosip yang tidak-tidak antara aku dan Pak Rangka. Tahu sendiri tembok di perusahaan ini seperti punya kuping untuk mendengar berita-berita hoax dan mulut yang sekali berucap kata-katanya sering terdengar julid.
Contoh kecil, Rima saja teman satu ruanganku bisa tahu gosip tentang Pak Rangka yang sering patah hati karena ditinggalkan pacarnya saat kencan, karena tiba-tiba sakit asma Pak Rangka kumat. Apalagi yang lain, bisa jadi yang lain lebih parah dan jika melihat aku berduaan dengan Pak Rangka gosip murahan itu akan muncul.
"Jangan takut digosipkan, kalau kalian digosipkan baguslah itu. Kamu single dan Pak Rangka juga sudah tidak punya pasangan, jadi kenapa mesti takut?" ucap Pak Cakar santai malah lebih santai dari Mbak Koral tadi. Keduanya sebelas dua belas seakan-akan menyetujui jika aku dan Pak Rangka tidak masalah apabila digosipkan. Ada apa dengan mereka? Aku jadi merasa heran. Melihat aku diam, Pak Cakar kembali mencoba meyakinkanku.
__ADS_1
"Sudahlah Sen, jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik kamu segera masuk ruangan Pak Rangka. Pak Rangka pasti sudah menunggu kamu," perintah Pak Cakar seraya berlalu. Aku sejenak berdiri masih memikirkan ucapan Pak Cakar barusan.