Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
Bab 32 Bulan Madu


__ADS_3

Aku berlari ke kamar mandi menumpahkan segala sedih atas tuduhan Kak Tari mengenai gosip itu. Rasanya sakit hati digosipkan tidak benar seperti itu. Memang kami pernah satu kamar, itu karena terpaksa . Saat itu aku mengalami gangguan dari makhluk tidak kasat mata.



"Ini semua pasti Mbak Dian yang menyebarkan berita tidak benar, karena hanya dia yang pernah memergoki kami berdua keluar dari kamar Pak Rangka." Aku mengepalkan tangan tanda kesal pada Mbak Dian. Hanya Mbak Dianlah orang yang patut dicurigai, dan aku yakin itu.



Keluar dari kamar mandi aku berniat ke lantai dua menuju ruangan Mbak Dian, namun aku urung sebab ini masih jam kerja, biarlah nanti saat jam istirahat aku samperin Mbak Dian di mejanya.



Saat kembali ke meja, aku sudah mendapati Kak Tari berdiri seakan menungguku. Tatapannya menyiratkan kebencian. Hatiku langsung berdesir seperti menyimpan rasa marah yang biasanya tidak pernah aku rasakan. Lantas aku duduk kembali dengan melewati Kak Tari.



"Ngapain kamu ke kamar mandi, menangis ya?" ejek Kak Tari menyebalkan. Aku diam dan tidak membalas. Otak dan hatiku masih dikuasai emosi yang menyala-nyala, aku merasa diriku tidak biasanya, sikap ceplas-ceplos yang menjadi ciri khasku tiba-tiba sirna, padahal saat ini aku membutuhkan si ceplas-ceplos itu biar rasa sakit di hatiku ini hilang dan tidak sesak.



Berulang kali aku beristighfar menahan rasa sesak dalam dada yang kian menekan keluar dan mendesakku untuk menumpahkannya.


"Astaghfirullah," ucapku berulang sambil mengatur nafasku yang seakan sesak.


Tiba-tiba aku ingat Mas Krisna dan berniat saat istirahat nanti akan menghubunginya, sebab dia merupakan salah satu orang yang bisa membuatku tertawa. Namun saat ku rogoh saku samping rokku, rupanya Hpku tidak ada.



"Aduhh kemana nih?" bingungku sambil mengusap-ngusap jidat jenong mirip Shandy Aulia.



"Sen, kamu ngapain, kayak bengek begitu?"


"Bukan bengek Rim, tapi bingung. Hp aku hilang," ujarku sambil mencari-cari Hp.


"Lha, tadi kamu simpan di mana?"

__ADS_1


"Tadi aku simpan di saku rok."


"Kamu itu emang ceroboh, Sen."


"Aduhhh, bagaimana ini Rim, kok nggak ada, kamu lihat tidak, Rim?"


"Kamu kok nanya sama aku. Aku mana tahu. Coba cari di kolong meja kamu, Sen," usul Rima.


"Tidak ada, Rim."


"Ketinggalan kali di rumah, atau kamu tadi ke kamar mandi, siapa tahu di kamar mandi. Eh, ngomong-ngomong, benar nggak sih kamu dengan Pak Rangka anu, emmm, katanya sih bulan madu," tanya Rima mengungkit gosip itu lagi yang sempat membuat aku menangis tadi di kamar mandi.


"Apaan sih Rima, gosip murahan. Mana ada aku bulan madu, nikah saja belum. Siapa sih yang menyebar gosip nggak benar kayak gitu?" sungutku berusaha kembali menjadi Sensi yang biasanya.



"Itu, Mbak Dian. Kalian bahkan kata Mbak Dian sebentar lagi mau nikah," ungkap Rima. Tidak salah lagi ini ulah Mbak Dian. Mbak Dian yang telah menyebar gosip tidak benar ini. Benar-benar keterlaluan. Padahal Mbak Dian, tidak tahu apa yang terjadi di dalam kamar itu, tapi seenak udelnya menyebar gosip yang salah.



"Ya, itu, kalian satu kamar. Pada saat Mbak Dian melihat kalian keluar dari kamar yang sama, rambut kalian sama basahnya."


"Ya ampun, Mbak Dian itu benar-benar keterlaluan, tega. Aku memang ke kamar Pak Rangka, tapi bukan bulan madu seperti apa yang digosipkan. Dasar Mbak Dian, kok bisa-bisanya dia bikin gosip yang ecek-ecek sih?"



"Kok, ecek-ecek sih, Sen?"


"Iya, ecek-ecek, harusnya Mbak Dian gosipinnya aku hamil sama Pak Rangka atau apalah biar tambah heboh. Biar Pak Rangka sekalian dengar, dan yang bikin gosip itu ditangkap," ucapku sekalian saja ngomong asal, saking kesalnya dengan gosip yang udah menyebar gara-gara Mbak Dian.


"Sensi, Rima, kalian bergosip saja, ini bukan waktunya istirahat. Kembali ke meja kamu, dan kerjakan tugas kamu. Dan kamu Sensi, seperti biasa kamu setelah istirahat langsung ke ruangan Pak Rangka," sentak Kak Tari seperti biasa.



"Ohhhh, jadi kamu sudah di DP ya, Sensi, sama si Bos?" Kak Tari tiba-tiba bicara lagi saat aku baru saja duduk di kursi kerjaku. Aku sama sekali tidak paham atau peduli sama Leader galak dan bawel seperti dia. Kali-kali ingin rasanya aku lawan.


__ADS_1


"DP, apa, Kak? Dewi Persik? Ohhh itu sih artis papan seluncur Kak, udah terkenal kemana-mana. Goyangan gergajinya juga mantap. Nih, seperti ini kalau Kakak tidak tahu," ujarku sembari mutar-mutar meniru gaya dangdut Mbak Dewi Persik. Kak Tari melongo melihatku yang memutar memperagakan goyangan DP.



Setelah bergoyang di depan Kak Tari, yang berhasil membuat Kak Tari melongo aneh melihat tinggkahku. Sepertinya aku kembali ke aku yang seperti biasa, ceplas- ceplos tapi kini bertambah berani dan PD. Aneh, benar-benar aneh. Sejak mendapat gangguan gaib di kamar hotel di Banjarmasin itu, sikapku mudah berubah-ubah. Kadang sedih lalu kembali ke sifat asal. Benar-benar aneh.



Setelah Kak Tari merasa aneh dengan sikapku, diapun akhirnya kembali ke ruangannya dengan muka bertanya-tanya. Dalam hati aku tertawa, melihat Kak Tari merasa aneh melihat perubahan sikapku.



Jam istirahat tiba, aku segera menuju taman samping mushola untuk membuka bekalku yang sudah dingin. Aku segera melahap bekalku, walau sudah dingin, akan tetapi rasa nikmatnya terasa. Mungkin karena saking laparnya.



Setelah makan dan sholat di mushola, aku segera menuju ruangan Pak Rangka, tidak lupa membawa map-map yang tadi telah aku kerjakan.



"Sensi, masuk saja Sen. Pak Bos sudah nunggu kok," suruh Mbak Koral menatap padaku.


"Iya, Mbak." Aku langsung masuk mengikuti arahan Mbak Koral, tidak lupa permisi.


"Boleh saya masuk, Pak?"


"Masuklah," ujar Pak Rangka.


"Duduklah," lanjut Pak Rangka. Aku duduk sembari menyimpan map di depan Pak Rangka. Sejenak Pak Rangka menatap ke arahku. Sudut bibirnya terbit sebuah senyuman.


"Kamu cantik banget," pujinya seraya melihat map lalu melirik ke arahku. Aku tersipu, benar-benar malu. Pak Rangka yang kata Rima killer, ehhh rupanya sekarang keler kue yang ada isi manisan agar-agar, yang apabila dilihat pengen saja mengambil dan menyantapnya. Benar-benar deh Pak Rangka tingkahnya manis. Digosipin bulan madu saja kini aku pasrah dan tidak masalah, bahkan aku sedang membayangkan sedang bulan madu dengan Pak Rangka.



"Sen, Sensi, kamu tidak sedang kesambet, kan?"


"Eh, i-iya, Pak. Kesambet Pak, kesambet sedang membayangkan bulan madu sama Bapak," ujarku diakhiri senyuman bahagia.

__ADS_1


__ADS_2