Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
Bab 19 Sekamar Lagi


__ADS_3

POV Rangka Sejenak


Sensi, si gadis ceplas ceplos itu, tiba-tiba malam tadi ketakutan, sebab di kamarnya dia mengalami gangguan horor dari makhluk tak kasat mata. Aku mencoba membuktikan dengan melihat ke dalam kamar hotel yang dia tempati. Sensi bilang lampu kamarnya hidup mati, namun saat aku masuk lampunya normal tidak hidup mati. Lalu aku cari tahu ke kamar mandi yang dia bilang ada orang yang sedang mandi. Namun saat aku lihat tidak ada bekas orang baru mandi. Kamar mandinya hanya lembab bekas mandi Sensi beberapa jam yang lalu sepertinya.


Setelah aku tinggal beberapa jam, tiba-tiba pintu kamarku ada yang mengetuk, dan rupanya Sensi si gadis yang lumayan cantik itu mengetuk pintu dengan raut muka ketakutan. Benar saja dia ketakutan, katanya gangguan horor di kamarnya ada lagi. Terpaksa dia tidur di kamarku setelah tidak berhasil menghubungi Dian si Kebo \*\*\*\*\*, alias tidurnya kaya Kebo kalau nempel bantal langsung molor susah dibangunkan.



Akhirnya aku ijinkan Sensi tidur di kamar hotelku, ya meski dia sebelumnya mewanti-wanti padaku supaya jangan macam-macam curi kesempatan dalam kesempitan. Rupanya Sensi takut aku apa-apain. Kesal juga sih dibilang begitu, emangnya aku ini penjahat kelamin? Meskipun sudah menduda 2 tahun dua kali, tapi aku masih waras untuk tidak melakukan pelecehan pada seorang gadis, terlebih ini kepada Sensi.



Saat dia tidur rupanya gadis ceplas ceplos itu cara tidurnya sangat susah diam, kesana kemari dan menghabiskan tempat. Tidak jarang aku melihat rok yang dia pakai tersingkap, dengan perasaan was-was aku tutupi bagian yang tersingkap dengan selimut.



Dan yang paling menarik, rupanya Sensi sempat mengigau yang pada saat itu igauannya berhasil aku rekam dalam Hpku. Igauannya cukup mencengangkan, sepertinya dia sedang bermimpi tengah menyatakan cinta padaku, sebab dalam igauannya dia bilang, 'i love you, Pak Rangka. Aku sempat terkejut tapi senang juga, ternyata dia mencintai aku. Ini bisa jadi *referensiku* untuk jodohku ke depan nih.


POV Rangka End....


***


Back to Sensi


Jam 8 pagi aku sudah bersiap-siap untuk sarapan, setelah itu sambung pertemuan dengan para Pengusaha kertas dan kayu se Kalimantan. Aneh juga pagi ini aku tidak mengalami gangguan horor seperti tadi malam. Namun, tetap saja untuk ke kamar mandi aku merasa trauma dan malah kebayang-bayang orang yang sedang mandi di dalam kamar mandi.


Pintuku diketuk, Mbak Dian sudah di depan pintu dengan setelan formal dan dandanan yang sedikit wah. Lipstik warna marun, cushion metalik dan glowing dengan gaya rambut yang di curly, memperlihatkan dia semakin menarik dan enerjik


saja.


"Ayo, Sen! Lama banget sih, sudah dari tadi mandi tapi baru siap," gerutu Mbak Dian kesal. "Aku tahu, kamu dandan habis-habisan supaya bisa gaet salah satu Pengusaha muda di sini, kan?" tuding Mbak Dian salah. Aku tidak menanggapi, aku segera menutup pintu kamar dan menguncinya.


__ADS_1


Tidak berapa lama Pak Rangka dan Rudi sudah siap juga, mereka menghampiri kami berdua. "Ayo, kita ke resto dulu, isi perut sebelum pertemuan dengan para Pengusaha," ujar Pak Rangka. Aku dan Mbak Dian manut dan mengikuti Pak Rangka dan Rudi dari belakang.



"Wahhh, aku mau buat terpesona tuh Pengusaha-pengusaha muda itu, malam ini harus ada yang bisa aku gaet, biar pulang ke Jakarta nanti bisa berubah status, hehehhe," ujar Mbak Dian sambil tertawa. Aku tersenyum menanggapi Mbak Dian. Sementara Pak Rangka tiba-tiba berhenti dan membalikkan badan.



"Kalian kalau mau cari perhatian para Pengusaha itu, lebih baik tidak usah ikut pertemuan ini," putus Pak Rangka seperti kesal. Aku mendadak tidak enak dengan perkataan Pak Rangka barusan, aku pikir omongan Mbak Dian barusan tidak akan menimbulkan masalah bagi Pak Rangka.



"Nggak kok Pak, kami tetap profesional. Kalau masalah gaet menggaet itu bisa kami lakukan saat acara sudah selesai, iya, kan, Sen?" ujar Mbak Dian melempar pertanyaan padaku, dan anehnya kali ini Pak Rangka tidak marah. Dia melanjutkan perjalanan kembali menuju resto untuk sarapan.



Jam sembilan malam rangkaian acara baru selesai. Betul-betul pertemuan hari ini sangat padat sehingga kami cuma ada jeda saat istirahat saja, itupun buru-buru. Namun pertemuan tadi sungguh pertemuan yang membahagiakan bagi Pak Rangka, sebab Pak Rangka dengan beberapa Pengusaha di Kalimantan berhasil menjalin kesepakatan kerjasama. Dan ini bisa menguntungkan bagi perusahaan Pak Rangka.



"Iya, Sen. Ada apa?"


"Bisa tidak, malam ini saya tidurnya nginap di kamar Mbak Dian, soalnya kamar saya horor?" tanyaku ragu.


"Horor, horor gimana, Sen?"


"Horor, ada setannya. Seperti semalam saya digangguin oleh suara-suara aneh."


"Lho, gitu ya? Aduhhh tapi maaf Sen, kayaknya kamu tidak bisa nginap di kamarku, sebab aku mau jalan sama temanku. Kebetulan temanku akan mengenalkan aku pada salah seorang Pengusaha kaya di sini. Mungpung lagi ada, Sen. Siapa tahu setelah pulang dari sini aku berubah status, hehehhe," tutur Mbak Dian gembira dan masih teguh pendirian masalah pulang dari Kalimantan berubah status.



Mendengar penuturan Mbak Dian begitu, aku langsung lemas dan kecewa. Lantas bagaimana aku harus mandi, sementara di kamar mandiku kemarin terdengar suara orang mandi?

__ADS_1



"Sensi, kenapa kamu belum masuk kamar kamu, bukankah ini sudah malam?" Tiba-tiba suara bass Pak Rangka mengagetkanku yang sedang termenung berdiri di depan pintu kamarku.



"I-iya, Pak, saya mau masuk kok," ujarku.


"Kenapa masih di sana, bukan masuk saja?"


"Saya masih mencari kuncinya, Pak," alasanku bohong.


"Atau kamu masih takut diganggu setan semalam?" tebaknya.


"Pak Rangka, bisakah kita tukaran saja kamarnya?" tanyaku memberanikan diri.


"Kenapa, apakah kamu masih takut dengan gangguan yang kemarin?" Aku menunduk tanda mengiyakan.


Pada saat aku dan Pak Rangka masih berbincang, Mbak Dian lewat dengan dandanan yang sudah modis. Sepertinya Mbak Dian akan pergi malam ini seperti tadi yang sempat dia katakan padaku.



"Dian, kamu mau ke mana? Malam ini Sensi ajak tidur di kamar kamu," todong Pak Rangka menahan langkah Mbak Dian.


"Aduh, maaf Pak Rangka, saya kebetulan mau keluar dan malam ini saya tidak nginap di sini, melainkan di teman saya." Mbak Dian memberikan jawaban. Aku semakin dilanda bingung mendengar Mbak Dian bicara seperti itu.


"Ya sudah, Pergilah!" ujar Pak Rangka membiarkan Mbak Dian pergi. Kini tinggal aku dan Pak Rangka di depan pintu kamar.


"Sensi, kamu tidur di kamar saya!" titah Pak Rangka seraya menunjuk pintu kamarnya. Mendengar itu aku menjadi senang. Sebab Pak Rangka mau tukaran kamar.


Tanpa menunggu lama, aku mengikuti Pak Rangka ke kamarnya. Akhirnya Pak Rangka mau tukaran kamar. Tapi, rupanya dugaanku salah, Pak Rangka malah tidak mau ke kamarku. Aku harus waspada, sebab sekarang yang aku hadapi bukannya makhluk gaib, melainkan Pak Rangka.


referensi \= petunjuk

__ADS_1


__ADS_2