
Rangka mengikuti Sensi menuju taman belakang, dia sudah tahu setiap Sensi sedih pasti akan ke taman untuk menumpahkan segala gundahnya di sana. Rangka perlahan membuka pintu belakang. Dilihatnya Sensi tengah menangis sedih, terlihat dari guncangan tubuhnya yang bergoyang. Rangka melihat sebegitu sakit hatinya kah Sensi sampai menangis seperti itu?
Rangka merasa bersalah, perempuan polos dan sering ceplas-ceplos itu selagi masih jadi bawahannya di kantor Kertassindo Gemilang, memang di setiap kesempatan selalu memperlihatkan sikap yang ceria dan kalau ngomong kadang sering keceplosan.
Tapi saat masih single dan selama kerja di kantornya, Rangka tidak pernah melihat Sensi punya pacar atau gebetan. Yang naksir sama dia saja hampir tidak ada. Tapi kini setelah menikah, entah kenapa Rangka melihat begitu banyak yang menyukai Sensi, bahkan Krisna saja terang-terangan mengungkapkan niatnya saat di pertunangan Dian, sepupu Rangka. Membuat Rangka dilanda cemburu.
Dan kini perempuan polos yang suka ceplas-ceplos itu telah jadi istrinya dan sangat mencintai Rangka. Sebab selama mengenalnya, Sensi selalu memperlihatkan sikap suka dan bahkan pada suatu hari saat kejadian di kamar hotel Samarinda, Sensi pernah mengigau bahwa dia mencintai Rangka, dan Rangka percaya bahwa Sensi memang mencintainya. Dan sekarang terbukti dia memang benar-benar mencintai Rangka lengkap satu paket dengan Glassy dan sakit asma yang dideritanya.
Rangka perlahan berjalan mendekati Sensi lalu dengan cepat memeluknya. Sungguh Raka sangat menyesal telah melukai hati Sensi, padahal sejauh ini Sensi tidak pernah melakukan kesalahan yang membuat hati Rangka kecewa. Rangka saat ini hanya cemburu atas sikap teman-temannya yang kadang mencuri pandang ke arah Sensi sehingga Rangka tidak suka.
"Sayang, aku minta maaf. Sekali lagi aku minta maaf. Kemarahan aku padamu saat itu hanya spontanitas." Rangka tidak henti membujuk Sensi yang kini masih menangis menumpahkan segalanya.
Sensi masih belum bergeming. Tangisnya justru semakin pecah dan keras. Rangka tidak patah menyerah membujuk, dia semakin kuat memeluk Sensi.
Sehari sejak itu, Sensi kini berubah menjadi pendiam. Saat ditanya Rangka saja Sensi hanya menjawab seperlunya, setelah itu dia tidak lagi berkata banyak atau ceplas-ceplos seperti biasanya.
"Sayang, aku pergi dulu, ya," pamit Rangka seraya menyodorkan tangannya untuk dicium Sensi. Sensi meraih dan menciumnya. Namun, tidak ada kata-kata ajaib dari mulut Sensi biasanya keluar bersamaan dicium tangannya.
Raka sekilas melihat ke arah Sensi, nampak wajah Sensi sendu dan tidak pernah lagi menatap lama wajah Rangka. Rangka hanya bisa berguman dalam hatinya, bahwa dia memang merasa bersalah atas sikapnya kemarin yang sedikit kasar gara-gara cemburu melihat kawan-kawannya yang mengagumi Sensi. Ditambah lagi kehadiran Delana yang tiba-tiba datang via WA meminta dipertemukan dengan Glassy. Sementara rasa kecewa Rangka yang sejak ditinggalkan Delana masih belum sembuh. Jangankan kata maaf, ucapan menyesal saja tidak pernah keluar dari mulut Delana. Sehingga membuat Rangka sakit hati dan berpikir bahwa Delana tidak akan menampakkan batang hidungnya lagi, sera mendatangi Glassy dengan dalih kangen.
Hal itulah yang mengakibatkan Rangka akhir-akhir ini begitu mudah tersulut emosi, selain melihat Sensi yang dikagumi teman-teman kantornya, kehadiran Delana lebih memantik api marah dalam diri Rangka, dan parahnya kemarahan itu salah sasaran, Rangka secara spontan melampiaskan marah pada Sensi.
Sensi segera melangkahkan kakinya menuju tangga. Namun, Rangka tiba-tiba memanggil namanya.
__ADS_1
"Sensi, pakai apa kamu antar Glassy sekolah?" tanya Rangka menghentikan langkah Sensi.
"Pakai motor, Mas," jawab Sensi lemah. Rangka terlihat menarik nafasnya dalam seolah mengkhawatirkan sesuatu.
"Cepatlah bersiap-siap, aku yang antar Glassy ke sekolah," putus Rangka tiba-tiba. Sejenak sensi tertegun, bukannya tadi suaminya tidak bisa mengantar Glassy ke sekolah?
Sensi tidak membiarkan Rangka menunggu lama, dia segera menaiki tangga menuju kamar Glassy dan segera mengajak bocah cantik itu turun ke bawah.
"Glassy Sayang, ayo, kita segera turun. Papa sudah menunggu di bawah. Hari ini Bunda tidak jadi antar pakai moto, sebab Papa yang akan antar." Sensi menarik lengan Glassy dan menuruni tangga.
Glassy langsung murung saat mendengar ucapan Sensi barusan, padahal dia tadi sudah senang banget akan diantar Sensi pakai motor.
"Kenapa Bunda tidak jadi antar aku pakai motor? Aku bosan diantar Papa naik mobil, kalau diantar pakai mobil, Bunda harus ikut juga ngantar aku," rengek Glassy manyun.
"Tidak. Hari ini Bunda tidak antar Glassy ke sekolah. Glassy sama Papa, ya." Sensi tidak henti membujuk Glassy untuk pergi sekolah diantar Papanya. Glassy tidak menyahut, dia sedih karena tidak diantar Sensi ke sekolah. Karena sejak kedatangan Delana ke sekolah membuat Glassy sedikit banyak menjadi takut.
"Glassy, ayo cepat. Hari mulai siang, nanti keburu lonceng berbunyi. Glassy tidak mau kesiangan, bukan?" Rangka sudah menantikan Glassy di pintu mobilnya. Secepat kilat Glassy diraihnya dan dipangku lalu segera dimasukkan ke dalam mobil.
"Papa, aku mau diantar sama Bunda. Aku bosan naik mobil sama Papa terus. Aku mau ada Bunda," rengek Glassy sambil menghentak-hentak kakinya.
"Sayang, patuh sama Papa, ya. Besok Glassy boleh diantar Bunda. Tapi Bunda tidak pandai mengemudi mobil, kalau diantar motor, Papa takut kenapa-kenapa sama keselamatan Glassy." Rangka tidak berhenti merayu Glassy yang kini sangat begitu lengket pada Sensi.
"Besok, Glassy diantar Bunda sama motor, ya. Sebab besok Papa ada meeting di luar kota. Glassy boleh minta Bunda antar pakai motor, tapi hari ini Glassy harus diantar sama Papa, ok."
__ADS_1
Setelah Glassy dibujuk oleh Rangka, akhirnya dia mau berangkat sekolah asal besok yang ngantar sekolah adalah Sensi pakai motor. Rangka terpaksa menyetujuinya, sebab dia tidak mau membuat glassy sedih. Padahal sesungguhnya Rangka khawatir jika Glassy diantar Sensi sekolah dengan naik motor, menurutnya keamanannya kurang menjamin.
Tiba di sekolah, Glassy langsung diantar Rangka menemui Guru kelasnya, Bu Dewi. Di sana Rangka berbincang sejenak dengan Bu Dewi.
"Bu, saya titip anak saya. Jika ada seseorang yang mau menjemput Glassy baik perempuan ataupun lelaki, saya mohon Bu Dewi tidak mengijinkan anak saya dibawa orang itu. Kecuali saya, istri saya dan Pak Mamat supir saya," tekan Rangka mewanti-wanti Bu Dewi.
"Baik, Pak. Akan saya ingat pesan Pak Rangka. Mengenai yang kemarin, saya mohon maaf," ujar Bu Dewi penuh penyesalan.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi, ya. Assalamualaikum," pamit Rangka seraya melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah. Kini Rangka kembali melajukan mobilnya dengan tujuan perusahaan Kertassindo Gemilang.
__ADS_1