
POV 3 (Author)
Kantor Kertassindo Gemilang
Sudah hampir pukul delapan pagi lebih, namun Sensi belum ada di mejanya. Hal Ini membuat Tari, sang Leader jengkel. Dalam hatinya bersukur, kali ini ada alasan untuk dia memarahi Sensi anak buah yang dia tidak suka. Kenapa Tari begitu tidak suka? Entahlah, yang jelas wajah Sensi katanya mirip dengan Pecarong, alias perebut pacar orang. Dulu dua tahun yang lalu pacar Tari pernah direbut seseorang, sahabatnya sendiri yang telah merebutnya. Jadi itulah alasan Tari selalu kesal pada Sensi, wajah Sensi mengingatkan pada pengkhianatan sahabatnya.
"Ada saja yang bisa membuat gue marah, kali ini benar-benar gue gibeng tuh anak. Sudah telat masuk, tidak kasih kabar pula. Biarin biar tahu rasa, gue tambahin mapnya, biar banyak kerjaannya," dengusnya menyeringai.
"Kak Tari, hari ini Sensi tidak masuk karena sakit. Dia tadi sudah kasih kabar ke bagian HRD," lapor Rima. Tari yang sudah senang bakal ada alasan untuk memarahi Sensi, kini ciut kembali dan merasa kesal karena Sensi tidak masuk.
"Ohh, sakit apa dia, tumben?" heran Tari.
"Kurang tahu, Kak." Rima ngeloyor setelah memberi laporan. Tari nampak kesal, terpaksa map-map itu harus dia bagikan ke yang lain untuk dikerjakan.
Sementara itu Rangka Baja, lelaki tampan yang kata Sensi tidak kalah tampannya dari Lee Min Jo, berdiri kecewa menatap keluar dari kaca jendela ruangannya, setelah Sensi yang semalam dia hubungi namun Hpnya sampai kini tidak aktif.
"Kemana Sensi? Tumben Hpnya tidak aktif. Di ruangannya juga tidak ada, tadi kata temannya dia memang tidak masuk karena sakit. Apakah karena kemarin sempat aku marahi karena kesal gara-gara si Krisna nelpon terus, dan sekarang Sensi sakit?" Rangka berguman kecil memikirkan Sensi yang saat ini tidak masuk kerja juga Hpnya yang tidak aktif.
Rangka memeriksa Hpnya. Tadi dia sempat mengirimkan WA pada Sensi tapi belum terkirim, pesannya masih centang abu satu. Rangka makin was-was saat dia membuka WAnya. Namun Rangka sedikit lega, sebab pesan WAnya sudah terkirim pada Sensi dan dibacanya namun belum ada balasan. Harap-harap cemas, lalu Rangka mencoba menghubungi kembali Hp Sensi. Namun sayang kali ini Hp Sensi tidak bisa dihubungi.
Rangka menjadi uring-uringan dan kesal. Entah kenapa gadis itu selalu mencuri hatinya yang sudah dua tahun kosong. Sejak Sensi menolongnya di jalan ketika dia kehabisan inhaler untuk sesak nafasnya, hari-hari Rangka selalu diliputi kebahagiaan. Dia selalu ceria dan tanpa sengaja bersiul di setiap kesempatan. Namun kini sehari saja tidak melihat atau mendengar celotehan konyolnya, Rangka merasa hampa. Terlebih gadis itu jelas menyukainya dari sikap dan gestur tubuhnya menyiratkan perasaan suka.
__ADS_1
Akan tetapi setelah salah satu rekan bisnisnya sesama pengusaha kayu di Kalimantan kedapatan menghubungi Sensi dengan nama yang tertera 'Krisna Love', hati Rangka terbakar cemburu. Padahal dia bukan pacar atau kekasih Sensi, hanya atasan yang merasa memiliki Sensi sebagai bawahannya. Namun entah kenapa perasaan cemburu menjalar begitu saja, seolah Sensi adalah miliknya.
Ini semua gara-gara Dian salah satu pegawai di bagian keuangan, sekaligus adik sepupunya. Dian yang mengajak Sensi berkenalan dengan laki-laki rekan bisnisnya saat di Banjarmasin. Tidak banyak yang tahu bahwa Dian dan Rangka adalah saudara sepupu. Dian juga tidak pernah membuka identitasnya sebagai adik sepupu Rangka Baja, selama di perusahaan Kertassindo Gemilang.
Dian termasuk pribadi yang cuek. Akan tetapi Dian dan Rangka memang kadang suka cek-cok, tapi itu cek-cok biasa dan usil biasa dari seorang adik pada Kakaknya, sebab di luar kantor rupanya Dian dan Rangka sangat dekat.
"Koral, masuk ke ruangan saya!" perintah Rangka pada Koral, Sekretarisnya. Tidak lama dari itu Koral masuk disusul Cakar sang Asisten juga masuk. Mereka secara bersamaan diperintah Rangka masuk ke dalam ruangannya.
"Duduklah!" Koral dan Cakar duduk bersebelahan dengan muka yang berkerut heran.
"Ohhhh, jadi ini penyebab Bos kita uring-uringan? Rupanya kekasih rahasia yang belum mau ditembaknya itu tidak masuk kerja. Imbasnya ke kita deh. Kita berdua kena omel karena Sensi tidak masuk kerja, iya kan Kak Cakar?" ujar Koral beralih pada Cakar di sebelahnya.
"Sudah aku duga, Pak Bos uring-uringan karena Sensi tidak masuk kerja. Cari tahu dulu dong Bos jangan cemburu digedein tapi jadian saja belum," goda Cakar ikut usil dengan keadaan Rangka yang sejak mengetahui Sensi tidak masuk kerja uring-uringan.
"Kalian jangan bicara sembarangan, saya bukan pengagum rahasia Sensi atau Sensi kekasih rahasia saya, jangan bikin gosip yang tidak-tidak," sangkal Rangka kesal.
"Ehhh, ngomong-ngomong tentang gosip nih Bos. Kebetulan banget Pak Bos mengingatkan, di luaran sana di lingkungan karyawan terutama di divisi keuangan dan divisi administrasi santer gosip beredar, bahwa Pak Bos dan Sensi telah bulan madu di Banjarmasin. Gosip ini beredar, karena seseorang telah memergoki Sensi yang keluar dari kamar Pak Bos dengan rambut yang sama-sama basah," ujar Cakar serius. Rangka seketika terbelalak.
__ADS_1
"Apa, gosip murahan apa ini? Sialan, hancur deh reputasi saya dan Sensi." Rangka merasa kesal dan tidak percaya dengan gosip yang baru saja dia dengar dari Cakar Asistennya.
"Pak Bos ini bagaimana, belum sah sudah di DP, apakah Bos sudah tidak sesabar itu dua tahun dua kali menjadi duda? Tahan-tahan dong Bos, masa anak gadis orang Bos rusak, kan kasihan," cibir Cakar membuat Rangka sangat kesal sebab tudingan Cakar sama sekali tidak benar.
"Jaga ucapanmu, Cak. Itu semua tidak benar. Saya mana berani merusak anak gadis orang. Apalagi Sensi juga bukan tipe cewek gampangan yang dengan mudah bisa diajak tidur ngangkang demi satu kepuasan. Semua itu ada alasannya kenapa kami bisa keluar dalam kamar yang sama." Rangka mencoba menepis semua gosip yang terlanjur beredar.
"Ini semua pasti ulah Dian," desis Rangka sambil mengepalkan tangannya di atas meja.
"Dian si gadis tengil itu, tidak aneh lagi, dia selalu begitu," timpal Koral geleng-geleng kepala.
"Tapi ada lagi lho gosip yang beredar lebih parah dari ini," ujar Koral tiba-tiba.
"Apa?" seru Rangka dan Cakar koor.
"Di divisi administrasi justru beredar gosip bahwa Sensi hamil oleh Pak Bos. Dan gosip ini Tari bilang justru keluar dari mulut Sensi sendiri. Wahhh, ada apa ini Pak Bos. Dian menggosipkan kalian bulan madu, setelah bulan madu, Sensi sendiri bikin gosip bahwa dia hamil oleh Pak Bos. Jadi ini semua gosip atau bukan sih, Bos?" tanya Koral penasaran. Cakar juga sama herannya. Rangka yang menjadi bahan gosip sama heran juga.
"Sepertinya Sensi pengen segera dihamili Bos, ehhh maksud saya dinikahi Bos. Makanya jangan tunda lama Bos, nanti Sensi keburu digebet orang." Cakar memberikan saran dengan muka penuh senyum usil.
"Kalian ini senang mendengar saya digosipkan tidak benar. Cakar, aku perintahkan hentikan semua gosip yang beredar. Bagi yang sudah mendengar, ancam supaya tidak kembali disebarkan. Cepat laksanakan!" perintah Rangka geram. Cakar dan Koral segera keluar ruangan Rangka setelah melihat Rangka marah.
"Sensi, rupanya kamu menyebarkan gosip tidak benar tentang aku dan kamu. Ini semua berakibat fatal bagi reputasi kita. Huhhh, dasar Sensi Veraaa," dengus Rangka kesal tapi lubuk hatinya entah kenapa merasa senang.
__ADS_1