Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
NBBGYSA#Season 2#SetelahJadiIstri#Pelampiasan Orang Kesal dan Sedih


__ADS_3

   "Sudah tidak usah berontak, kamu ini sedang cemburu, hati kamu tidak tenang dengan status Delana seperti itu. Kamu berpikir statusnya itu ditujukan untuk aku karena aku 'penyakitan', dan kata 'satpam' kamu menduga ditujukan sama kamu. Jangan terlalu diambil hati, aku saja tidak peduli. Dia melakukan itu hanya ingin cari perhatian orang-orang sekitar dan cari dukungan. Makanya aku marah sama kamu dan menyalahkan kamu yang seolah kepo dengan statusnya. Itu hanya akan membuat kamu sakit hati dan cemburu yang tidak jelas, sebab aku yang dicemburuin selalu berada dekat kamu dan mencintai kamu." Rangka berusaha membujuk Sensi supaya lebih tenang.


   Sensi semakin menjadi dan menangis di sana di dalam pangkuan Rangka yang sengaja memeluknya erat.


   "Aku ingin sendiri, lepaskan aku Mas," pinta Sensi seraya melepaskan tangan Rangka. Memang saat ini Sensi harus sendiri menenangkan diri. Dia begitu sensitif dan rasanya ingin marah. Rangka melepaskan pelukannya dan membiarkan Sensi keluar dari kamarnya.


   Sensi berlari menuju dapur dan kembali ke taman belakang rumah. Dia menangis di sana. Dia tumpahkan segala kesal pada Rangka di sana.


   Setengah jam Sensi menangis di taman belakang. Namun tiba-tiba perutnya sangat lapar. Dia ingin makan tapi bukan nasi atau makanan berat lainnya. Sepertinya Sensi menginginkan makanan yang segar-segar. Terbayang di pelupuk matanya es krim yang banyak berbagai rasa serta makanan favoritnya seperti bakso, seblak dan pempek.


   "Aku akan makan yang banyak dan puas, biar stressku hilang. Akan aku lampiaskan dengan makanan," ujarnya seraya beranjak dari taman belakang dan masuk ke dapur. Lalu Sensi segera keluar mencari sosok Pak Mamat, dia akan menyuruh Pak Mamat membeli seblak, bakso, dan berbagai rasa es krim.


   "Pak Mamat, bisa minta tolong tidak?" panggil Sensi pada Pak Mamat yang tengah duduk sambil ngopi. Pak Mamat menoleh sambil mengangguk sopan.


   "Iya Non, tentu saja Non. Tolong apa, ya, kalau boleh tahu?" Pak Mamat berdiri.


   "Saya mau minta tolong sama Pak Mamat untuk membelikan saya bakso Mas Dewa satu bungkus, seblak Kang Damar satu bungkus, pempek Bang Pahlevi satu bungkus. Semua pakai pedas tapi dipisah. Terus es campurnya dua bungkus yang di jalan Janda Bolong, soalnya itu yang terenak," perintah Sensi sembari menyodorkan uang merah dua lembar.


   "Oh iya Pak, es krim duriannya yang pakai wadah ukuran kecil satu, ya. Kalau semua pesanan saya sudah dapat, Pak Mamat langsung kasih Bi Narti. Uang kembaliannya semua ambil buat Pak Mamat beli jamu kuat alami," ujar Sensi seraya berlalu.

__ADS_1


   Pak Mamat sejenak melongo, dia tersenyum merasa lucu dengan ucapan majikan yang satunya itu. "Non Sensi, Non Sensi, cantik, baik hati dan lucu, ujung-ujungnya kasih saran obat kuat. Hahahhhh," oceh Pak Mamat seraya menyalakan motornya menuju warung terdekat.


   Sensi segera masuk rumah dan berpesan pada Bi Narti untuk membawakan pesanannya ke lantai atas ruangan tengah, dia sengaja akan makan di sana, dia pengen tahu bagaimana reaksi Rangka saat melihat Sensi makan banyak.


   "Bi Narti, nanti kalau Pak Mamat sudah datang, tolong bawa semua ke atas ke balkon ruangan tengah."


   "Baik Non, siap Nan," ujar Bi Narti.


   Setengah jam kemudian, semua pesanan yang Sensi titip ke Pak Mamat segera datang. Bi Narti membawakan semua pesanan itu ke atas lantai dua, tepatnya balkon ruang tengah.


   "Di sini saja, Bi. Di balkon," teriak Sensi pada Bi Narti yang sudah menenteng dua kresek plastik jajanan milik Sensi. Bi Narti segera menuju balkon dan meletakkan jajanan itu di meja yang ada di balkon, lengkap dengan piring dan sendoknya.


   "Terima kasih, Bi Narti," ucap Sensi gembira.


   Sensi segera menyiapkan jajanannya di wadahnya masing-masing. Bakso, seblak, dua-duanya sudah masuk ke mangkuk. Kemudian es campur. Semua diberi wadah. Sampai berjejer beberapa wadah di atas meja. Akhirnya setelah masing-masing diwadahi, Sensi melahap baksonya terlebih dahulu. Saat memakannya, Sensi terlihat sangat lahap dan lapar, terlebih bakso Mas Dewa terkenal paling top.


   Rangka yang berada di dalam kamar, penasaran dengan keadaan Sensi yang masih di taman, sudah hampir satu jam Sensi di sana. Kemudian Rangka merasa mencium aroma enak dari kuah bakso dan kuah seblak sampai tercium ke dalam kamarnya membuat dia menjadi sangat lapar.


   Rangka keluar kamar dan menyusuri wangi kuah bakso dan kuah seblak yang jaraknya seperti dekat dari kamarnya.

__ADS_1


   "Ya ampun, wangi banget. Aku jadi sangat lapar." ungkapnya tidak sabar sembari terus mencari dari mana sumber bau enak itu. Ketika Rangka sudah menemukan di mana sumber yang enak itu, dia tiba-tiba harus melongo dihadapkan dengan penampakan yang menurutnya tidak biasa.


   Di balkon ruang tengah, Rangka melihat Sensi tengah menikmati bakso sangat lahap, kemudian di mejanya ada seblak dan pempek. Dan sekarang Sensi mulai makan pempek.


   Rangka perlahan mendekati Sensi. Dari arah belakang pintu, Rangka sengaja mengawasi Sensi yang sedang lahap menikmati pempek.


   "Ya ampun, Sayang. Sebanyak itu kamu makan." Rangka geleng-geleng kepala tidak percaya. Tapi setelah diawasi terus sepertinya Sensi makan karena sedang meredam emosi yang sejak pagi menggelayut di dadanya.


   Rangka membiarkan Sensi makan sebanyak itu, dia bergegas kembali ke kamarnya dengan perasaan bersalah. Dia tidak mampu meredam amarah di dalam dada Sensi, dia hanya akan menambah sedih hati Sensi, sebab seperti kasusnya yang tadi saja, Rangka hanya bisa menyalakan 'salah kamu juga kenapa kamu kepo dengan status facebok orang lain' .


   Bakso dan pempek kini sudah berpindah tempat, Sensi beralih sejenak menetralisir keadaan mulut dan lambungnya dengan melanjutkan makan es campur.


   "Srupuuuuut, sruputtttt." Bunyi saat meminum airnya sampai terdengar keluar ruangan, yang tanpa Sensi ketahui Rangka sudah berada kembali di ruang tengah mengawasi Sensi yang sedang makan dengan lahapnya. Rangka geleng-geleng kepala.


   "Ya ampun, Sayang. Kamu makan sebanyak itu." Dan yang lebih kagetnya lagi, setelah Sensi menghabiskan satu mangkuk es campur, tiba-tiba Sensi mengeluarkan Hpnya lalu memotret makanan yang masih tersisa seblak dan satu lagi es campur dan juga es krim.


    "Ya ampun, apakah foto tadi akan diposting di media sosial oleh Sensi?" Rangka terkaget-kaget dibuatnya.


   Setengah jam kemudian, seblak dan es campur serta es krim juga telah berpindah tempat ke perut Sensi. Setelah itu Sensi merasa kekenyangan dan segala kekesalan dan sedihnya terpuaskan dengan makan.

__ADS_1


   "Hoammm." Sensi menguap. Setelah makan sebanyak itu, matanya sangat ngantuk dan perutnya terasa sangat penuh.


   "Hoamm, hoammm." Nguap lagi, nguap lagi akhirnya Sensi terkapar di kursi balkon dan tertidur di sana.


__ADS_2