
Dua hari setelah perjalanan dinas kami ke Banjarmasin, hari ini aku mulai masuk kerja. Akan tetapi belum sampai aku hidupkan mesin motor, tiba-tiba Hpku bunyi. Rupanya ada panggilan di WAku. Nama yang tertera sangat jelas '**Bos** Besar'.
Aku merasa heran ada apa Pak Rangka menghubungiku sepagi ini?
"Halo Pak, Assalamualaikum!" ujarku menyambut Pak Rangka diujung telpon.
"Sensi, hari ini kamu tidak perlu bekerja ke kantor, melainkan bekerja di luar kantor. Kamu nanti akan saya jemput langsung ke rumah," ujarnya memberi tahu.
"Di luar kantor, di mana, Pak?"
"Nanti, kamu persiapkan diri kamu saja jam empat sore, dengan pakaian biasa," titahnya dan langsung menutup panggilan. Aku sedikit kecewa sebab aku belum sampai menanyakan tujuan Pak Rangka kemana.
Y"Teh, kok motornya nggak jadi dihidupkan, apakah motornya mogok tidak ada bensin?" heran adikku **Aloe Vera** menatap ke arahku.
"Tidak jadi kerja pagi, De. Teteh disuruhnya nanti sore jam empat. Tapi Bos teteh nyuruh teteh pake baju biasa bukan baju formal untuk ke kantor," sahutku seraya menepikan motor matic cantikku di samping rumah.
"Lho, kok pakaian yang harus dipakai pakaian santai?" Aloe masih kepo dan heran.
"Teteh tidak tahu, Dek. Yang jelas teteh jadi bingung harus pakai baju apa untuk sore nanti."
"Beli online saja Teh, di aplikasi yang sudah trending itu Tok-tok atau Warung online. Di sana banyak banget baju-baju bagus tapi murah meriah. Sepatunya juga banyak yang keren dengan harga yang setengah harga daripada beli lansung ke toko," usul Aloe lancar jaya jika sudah menyangkut belanja online, sebab dia paling sering belanja online.
"Mau dipakainya saja nanti, De. Masa teteh harus belanja online dulu ke warung online, nyampenya kapan?" keluhku.
"Yaaa, nggak jadi dong. Ya, sudah, pakai lagi saja pakaian yang sebulan lalu pernah teteh beli di Lazaro, itu masih bagus lho. Rok setelan yang bagus dan sangat feminin cocok sama Teteh yang kulitnya bersih kuning langsat, cantik dan langsing. Pasti deh Bos Teteh kesengsem sama Teteh," celetuknya lagi menggoda.
"Aishhhh, kamu ini, De. Emangnya Teteh mau kencan dengan Bos, Teteh?"
"Kali aja dia sebenarnya mau ajak Teteh kencan, kan?" ujar Aloe lagi sembari sikunya usil menyikut lenganku.
__ADS_1
"Suttttt, jangan keras-keras, nanti kedengaran Bapak dan Ibu. Mereka pikir Teteh mau pergi kencan beneran, nanti tidak diijinkan," peringatku. Aloe adikku yang satu ini emang sedikit ember bicaranya. Jadi aku sedikit takut jika dia bicara yang nggak-nggak sama Bapak dan Ibu.
"Ya, sudah aku pergi kuliah dulu ya, Teh." Aloe pamit sambil nyengir kuda dan menghidupkan motor matic yang baru bulan kemarin beres cicilannya. "Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumsalam, hati-hati, De!" peringatku sambil berlalu ke dalam rumah.
"Lho, Teh, kok belum pergi? Tadi sudah siap manasin motor, kenapa balik lagi?" Ibu keheranan melihat aku kembali masuk.
"Iya, Bu. Sensi tidak jadi masuk pagi. Bos Sensi nyuruh Sensi masuk sore jam empat," jelasku.
"Ohhh, Bos kamu yang ngantar kamu sampai rumah waktu itu?" tebak Ibu benar sekali.
"Iya, Bu," jawabku pendek.
"Oala ... tampan betul ya, Bos kamu itu, Teh. Ramah dan baik sepertinya," puji Ibu, roman-romannya Ibu juga mulai kesengsem dengan pesona Pak Rangka nih. Aduhhh, saingan aku malah nambah nih, Ibu sendiri yang jadi saingannya.
"Ibu naksir Pak Rangka juga ya? Ihhhhh, nanti Sensi bilangin Bapak deh."
"Iya, betul, Teh. Ibu naksir Bos kamu, tapi untuk dijadikan mantu," kilah Ibu membuat aku tengsin karena sudah menduga Ibu yang tidak-tidak.
Jam sudah menunjukkan ke angka 15.30 sore. Sebentar lagi menuju jam empat sore. Aku masih mematut diri di depan cermin, melihat pantulan wajahku. Kadang berdiri melihat apakah riasan dan bajuku sudah senada.
Saat ini aku mengenakan rok selutut dengan atasan kaos lengan panjang. Semua outfit yang aku pakai ini dapat beli dari toko online. Sepertinya aku sudah merasa sempurna dengan dandananku. Dan saat pukul 15.50 mobil Pak Rangka tiba, ciri khas deru mesinnya sudah bisa aku tebak, dan benar saja Pajira mewahnya yang baru sekali aku tumpangi saat itu kini sudah terparkir tampan di depan halaman rumah orang tuaku.
Aloe, adikku berlari kecil ke kamarku memberi tahu. "Teh, Bos ganteng sudah datang. Cepatlah, pakai mobil mewah lagi." Adikku yang kadang ember itu terlihat antusias dengan muka yang bahagia, entah apa yang dia rasakan bisa seantusias itu?
__ADS_1
Aku perlahan keluar kamar dengan jantung yang berdebar. Sambil sesekali melirik adikku memberi kode untuk menilai penampilanku. "Very good," ucapnya seraya mengacungkan jempolnya. Aku berani meminta penilaian darinya sebab dia pandai berdandan dan *memix and match* outfit.
"Teh, pakai sepatu sneaker saja yang kemarin beli di Lazaro. Bagus itu, simpel. Tingginya juga sedang lima senti. Tubuh Teteh bisa lumayan nambah lima senti tuh," saran adikku. Aku juga tadi sebelum pergi memang sreknya dengan sepatu sneaker daripada pakai sendal berhak tinggi 8 sentimeter.
"Ok, Teteh juga tadi sudah sreknya pakai sneaker, De," sahutku.
"Assalamualaikum!" Tidak lama dari itu terdengar suara Pak Rangka mengucap salam. Kami bertiga membalas salamnya kompak.
"Wa'alaikumsalam." Aku langsung menyambut Pak Rangka dengan senyuman paling manis sedunia.
"Ibu dan Bapak kamu ada?" tanya Pak Rangka langsung menanyakan Bapak dan Ibu. Aku langsung degdegan, takutnya Pak Rangka langsung melamarku. Ibu yang tadi sempat ke ruang tamu dan kembali ke dapur, kini kembali ke ruang tamu ikut menyambut Pak Rangka.
"Ehhh, Nak Rangka," sambut Ibu yang langsung dihampiri Pak Rangka kemudian disalaminya tangan Ibu dengan takzim. Ibu semakin terpesona melihat sikap Pak Rangka yang baik. Ibu senyum-senyum sumringah sambil menyuruh Pak Rangka duduk. Pak Rangka duduk lalu tidak. lama dari itu dia berbicara maksud kedatangan dia ke rumah.
"Maksud kedatangan saya kemari tidak lain ingin meminta ijin Ibu dan Bapak untuk membawa Sensi bekerja sore ini. Pekerjaannya sedikit, dan setelah itu ada pertemuan dengan rekan bisnis. Mungkin pulangnya sedikit malam, sekitar jam 9. Apakah Ibu tidak keberatan?" jelas Pak Rangka.
Mendengar itu aku sedikit tersentak, sebab rupanya Pak Rangka ada pertemuan dengan rekan bisnisnya.
"Kami tidak keberatan, silahkan saja kalau ini menyangkut pekerjaan atau hal baik lainnya. Kami hanya bisa mendoakan semoga urusannya lancar dan sukses," ucap Ibu memberi ijin dengan mata berbinar bahagia. Entah apa yang Ibu bahagiakan.
__ADS_1
Pak Rangka membalas Ibu dengan ucapan terimakasih. Tidak lama. dari itu Pak Rangka pamit dan mengajakku segera pergi. Dan kami berdua akhirnya pamit.
"Salam buat Bapak, ya, Bu," ujar Pak Rangka sebelum pergi dan menjalankan mobil Pajiranya meninggalkan halaman rumah Ibu.