Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
Bab 53 Dress Code


__ADS_3

Sejak Pak Rangka memberitahukan bahwa minggu depan dia mau melamar seorang gadis, Pak Rangka sudah jarang ke kantor, hanya sesekali pagi dan jam istirahat saja datang. Momen ini aku gunakan untuk melupakan semua rasa yang pernah ada untuk Pak Rangka. Nasib baik aku tidak kehilangan kesucian diriku selama kenal dengan Pak Rangka. Pak Rangka hanya menodai kesucian bibirku yang bagiku itu sama saja kesucian diriku ternoda. Namun untungnya Pak Rangka bukan tipe lelaki perusak kesucian seorang gadis, dan sepertinya Pak Rangka memang bukan tipe lelaki begitu walaupun dia duda.



Lima hari berlalu, tiba-tiba Pak Rangka datang tepat di jam istirahat. Dia memerintahkan aku lewat Kak Tari untuk segera menghadapnya sembari membawa mapku. Aku berdecak malas. Sebenarnya aku sudah susah payah melupakan rasaku pada Pak Rangka, tapi kenapa kini Pak Rangka malah menyuruhku ke ruangannya?



"Sensi, cepatlah! Jangan malas-malasan begitu. Bos menunggumu," sentak Kak Tari melotot. Aku sudah tidak terkejut lagi dengan sikap Kak Tari, tapi kok aneh saja tidak hentinya dia bersikap judes, padahal salah aku apa? Tahu rasa kalau aku jadi istri seorang Lee Min Ho, dia akan ku buat mencak-mencak cemburu.



Aku langsung beranjak setelah map-mapku berada dalam pelukanku tanpa pamit sama Kak Tari saking kesalnya. Lagipula aku sepertinya akan mengundurkan diri setelah acara lamaran Pak Rangka selesai. Kak Tari yang sepertinya gila hormat dariku, geleng-geleng kepala sembari berkacak pinggang saat sengaja ku toleh ke belakang. Aku tersenyum sinis, lalu kembali berjalan menjauhi Kak Tari yang stres melihatku yang menurutnya menantang.



"Sukurin," desisku.



Seperti biasa setiap mau ke ruangan Pak Rangka, aku hanya mau melewati tangga bukan lift. Saat tiba di tangga terakhir menuju lantai empat ruangan Pak Rangka, aku bertemu OB Rando. Dia menyapaku seperti biasa.



"Mbak Sensi, kok mukanya ditekuk gitu sih? Kalau sedih dan murung begini alangkah baiknya ngadem di kamar mandi tamu lantai dua, kan lumayan tuh bisa menghilangkan stress yang memenuhi kepala," ujar OB Rando bikin kesel. Dia pakai tahu segala kalau aku pernah ke kamar mandi tamu di lantai dua hanya untuk menenangkan pikiran.



"Apaan sih Rando? Awas, saya mau lewat!" dengusku kesal sembari melewati Rando yang kadang suka jail.


__ADS_1


"Hati-hati Mbak, nanti dimakan si Bos!" peringat OB Rando sembari cekikikan menuruni tangga.


"Ahhh, dasar Rando."


Tiba di depan pintu ruangan Pak Rangka, sejenak aku berdiri mematung. Ada ragu yang membara dalam jiwa, membuat aku ingin berontak dan berlari menjauhi pintu ruangan Pak Rangka. Rasanya malas harus ketemu Pak Rangka lagi.



Sebelum mengetuk pintu, aku sengaja berdoa dulu semampuku. Tumbennya Mbak Koral tidak ada di ruangannya, biasanya dia selalu usil atau menyapaku dengan banyolan khasnya, atau Pak Cakar, mereka berdua kompak menghilang saat aku butuh hiburan akan banyolannya.



"Ehhhh, Sensi. Kok malah berdiri di depan pintu, cepat masuk, Bos sudah menunggu." Mbak Koral yang tiba-tiba keluar dari ruangan Pak Rangka, sukses membuat aku kaget sampai map-mapku berhamburan.


"Ya, ampun Sensi, kamu ini sampai kaget begitu. Memangnya kamu tadi melamun apaan sih, bengong begitu?"


"Ahh, eng-enggak kok Mbak. Saya kaget saja Mbak Koral tiba-tiba buka pintu saat saya baru mau mengetuk pintu," alasanku.


"Ayolah cepat masuk, kamu sudah ditungguin tuh," dorong Mbak Koral membuat ku tersuruk ke dalam. Untung saja aku sudah memunguti map-map aku yang jatuh tadi. Mbak Koral ini memang keterlaluan, bisa-bisanya dia mempermalukan aku di depan Pak Rangka. Dengan begitu, salah-salah aku dianggap tidak tahu sopan santun masuk ke ruangan Pak Rangka.



Tidak lama kemudian Mbak Koral tiba-tiba masuk lalu duduk di sofa menyusul Pak Cakar yang telah lebih dulu duduk di sana sambil senyum-senyum tidak jelas. Benar-benar hari ini mereka bertiga termasuk Pak Rangka terlihat aneh. Sebenarnya apa yang mereka rencanakan?



Setelah aku duduk, Pak Rangka menatapku dalam dengan tatapan yang tajam. Aku tidak bisa menatapnya lama-lama lalu dengan segera aku tundukkan kepala menghindari tatapannya. Sudah sekuat hati ingin melupakan tatapan itu, tapi kini di depan mata Pak Rangka sendiri malah menatapku, mengingatkan memori di Pantai Carita dan di dalam mobil saat makan malam di kafe outdoor.



"Bos, ayo dong bicara, jangan ditatap terus," desak Pak Cakar tiba-tiba. Pak Rangka mengangkat tangannya memberi kode supaya Pak Cakar tidak memberi interupsi.

__ADS_1



"Sensi, dua hari lagi saya akan melakukan lamaran. Saya ingin minta pendapat kamu, bagusnya untuk tamu undangan khusus, dress codenya bagus warna apa, merah marun atau hijau sage?" tanya Pak Rangka sembari memperlihatkan dua dress yang warnanya disebutkan tadi, merah marun dan hijau sage, membuat jantungku seketika berdetak kencang, sebab dua warna itu dua-duanya warna favoritku.



Pak Rangka menatapku seperti tidak sabar meminta jawaban dariku. Perlahan aku mendongak, sebetulnya aku tidak mau mendongakkan wajahku karena mataku kini mulai berkaca-kaca.



"Dua-duanya bagus Pak," jawabku karena memang keduanya favoritku.



"Pilihlah salah satunya biar saya tidak bingung," ujarnya menatap wajahku kembali. Saat aku akan berusaha menjawab, tatapan mataku dan tatapan mata Pak Rangka bertemu langsung. Aku seketika berkedip dan secepat kilat bulir bening yang aku tahan sejak tadi jatuh tidak tertahan.



"Hijau sage, Pak," jawabku seraya berdiri lalu berjalan menuju pintu keluar ruangan Pak Rangka, sebab air mataku tidak kuat akan menetes terus setelahnya. "Saya permisi ke kamar mandi dulu, Pak," pamitku buru-buru.



"Sensi!" Suara Pak Rangka terdengar memanggil namun aku tidak peduli, jika aku di dalam sana terus maka dijamin air mataku akan turun dengan derasnya.



Aku berjalan terus menuruni tangga sampai ke lantai dua, kakiku berbelok ke sebelah kanan menuju kamar mandi tamu yang disebutkan OB Rando tadi saat mengusiliku di tangga tadi. Aku buru-buru masuk kamar mandi tamu itu karena takut ketahuan OB Rando yang usil. Gawat kalau ketahuan dia, bisa-bisa aku kena bully sedepartemen.



Tangisku pecah di sana, meskipun kamar mandi tamu ini cukup menyenangkan mata, namun keputusan Pak Rangka meminta aku memilihkan dress code buat tamu khususnya nanti di acara lamarannya, membuat aku terpuruk. Aroma terapi maupun bak mandi yang elegan yang pernah aku tiduri dulu, kini sama sekali tidak bisa menenangkanku dari semua perlakuan Pak Rangka yang seakan mempermainkan perasaanku.

__ADS_1



"Pak Rangkaaaaa, aku benci Pak Rangka," jeritku menumpahkan semua kesedihanku.


__ADS_2