
Setelah kepergian Rangka ke kantor, setengah jam kemudian Sensi bangkit dari bangku taman belakang yang sudah menemaninya duduk berdiam diri di sana menghilangkan sedikit rasa sakit hati akibat melihat status orang lain, yakni Delana.
Sensi masuk ke kamarnya, dia bersiap akan pergi. Hari ini Sensi memantapkan hati akan pergi ke rumah orang tuanya, menenangkan diri di sana.
Sebelum keluar kamar, Sensi mengirimkan terlebih dahulu pesan WA pada Rangka meminta ijin untuk ke rumah orang tuanya.
"Assalamualaikum. Mas, aku sekarang mau ke rumah Ibu dan Bapak, ya. Nanti aku pulang siang." Pesan WA Sensi terkirim. Satu menit kemudian WA itu dibaca oleh Rangka.
Dan setelah itu tiba-tiba Hp Sensi berbunyi, panggilan dari Rangka masuk. Sensi langsung mengangkatnya.
"Assala ...."
"Kamu jangan kemana-mana tetap di rumah!" potong Rangka mencegah Sensi keluar untuk pergi ke rumah kedua orang tuanya. Sensi kesal, lalu dia menelpon balik Rangka. Namun Rangka ternyata berada dalam panggilan yang lain, entah siapa yang dia hubungi.
"Mas Rangka kenapa aku tidak boleh pergi? Aku hanya ingin menenangkan diri juga. Mas Rangka egois." Sensi mendumel kesal dengan larangan keras Rangka.
"Jangan pernah membantah. Kamu mau pergi ke rumah kedua orang tua kamu dengan kondisi sembab seperti itu? Kamu mau ngadu kepada Ibu dan Bapak bahwa kamu telah aku bikin nangis? Silahkan jika itu maumu. Tapi resiko tanggung sendiri, kamu akan tahu akibatnya," ancam Rangka lewat WA. Sensi sedih dengan pesan WA Rangka yang memberikannya ancaman. Dia sakit hati dan kecewa dengan responnya.
"Kenapa aku dilarang, Mas? Aku bukannya mau cerita kenapa mata aku sembab. Lagipula aku bukan tipe orang yang suka ngadu," balas Sensi diakhiri dengan emot menangis. Dan pada kenyataannya dia kini menangis.
"Sama saja, meskipun kamu datang kesana tidak untuk mengadu, tapi mata kamu akan menjadi pertanyaan dan dugaan jelek keluarga kamu. Aku tidak mau keluarga kamu menduga yang tidak-tidak terhadapku. Kamu paham itu, kan?" tegas Rangka dengan nada marah.
Mendapat balasan Rangka seperti itu, Sensi semakin sedih. Dia melempar Hpnya ke atas kasur dengan kecewa. Sensi meratapi kesedihannya akibat Rangka.
"Mas Rangka tega. Hanya ingin ke rumah orang tuaku saja dilarang. Memang egois." Sensi terus mendumel disertai isak tangis.
Tiba-tiba, dua puluh menit kemudian, Nyonya Catly Catyred datang dan segera menaiki tangga untuk menuju kamar Rangka. Sesuai telpon Rangka pada Nyonya Catly tadi, bahwasanya Sensi sedang sakit di rumah. Rangka meminta tolong Nyonya Catly untuk menemani Sensi.
"Assalamualaikum. Sensi, Sayang kamu sakit apa? Apanya yang sakit?" tanya Mamanya Rangka menghampiri Sensi yang sedang duduk di sofa sembari menangis. Sensi tersentak, tiba-tiba tangisnya mereda, dipaksa mereda tepatnya.
"Mama? Sakit, siapa yang sakit, Ma?" tanya Sensi heran seraya bangkit dan menyalami Mama mertuanya yang membawa dua kantong kresek di kiri dan kanan tangannya.
"Tadi Rangka menelpon Mama, katanya kamu sedang sakit. Rangka meminta tolong Mama untuk datang dan menemani kamu. Coba cerita ke Mama, apa yang kamu rasakan? Kamu sakit apa?" cecar Nyonya Catly khawatir.
__ADS_1
Sensi bingung harus jawab apa, dia berpikir ini pasti rekayasa suaminya. Lalu dia saat ini harus apa untuk memberikan alasan pada Mama mertuanya, sedangkan dia tidak sakit fisik apa-apa. Kalau sakit hati, itu memang benar adanya. Tapi, perlukah Sensi bilang ke Mama mertuanya bahwa dia memang sedang sakit hati?
"Tidak, Ma. Sensi tidak sedang sakit. Mas Rangka terlalu berlebihan menanggapi Sensi yang sakit biasa-biasa saja. Tadi hanya ... hanya sempat sakit perut, tapi sekarang tidak sakit lagi. Sekarang sudah sembuh." Sensi memberikan alasan yang dibuat-buatnya. Padahal dia tidak sakit apa-apa.
"Ya sudah tidak apa-apa, kalau kamu sudah sembuh, lebih baik kita turun ke bawah. Kebetulan Mama membawa makanan buat kamu serta buah-buahan segar buat kamu yang tadi sempat sakit," ajak Nyonya Catly setengah memaksa. Sensi tidak bisa menolak ajakan Mama mertuanya yang memang perhatian.
Sensi dan Mama mertuanya berjalan beriringan menuju tangga dan menuruninya untuk ke dapur. Dengan sangat perhatian Nyonya Catly sigap mengambil keranjang buah-buahan dan meletakkan di sana. Setelah itu, Nyonya Catly meraih pisau dan mengupas buah apel itu.
"Makanlah buahnya yang sudah Mama kupas, ini baik untuk kesehatan lambung kamu." Nyonya Catly menyodorkan buah apel yang sudah dikupasnya ke hadapan Sensi. Sensi menjadi malu terhadap Mama mertuanya, padahal dia tidak sakit sama sekali. Ini merupakan akal-akalan suaminya saja yang sengaja mengirimkan Mama mertuanya ke rumah supaya menahan Sensi tidak pergi dari rumah.
"Mas Rangka, apa yang Mas lakukan terhadap aku? Lihatlah, Mama begitu sibuk menyiapkan apa-apa untuk aku," dumel Sensi dalam hati dengan kesal.
"Sudah, Ma, tidak perlu repot-repot. Ini sudah cukup," cegah Sensi merasa tidak enak melihat Mama mertuanya masih sibuk menyiapkan apa-apa untuknya.
"Tidak apa-apa, kapan lagi dong mama melakukan ini padamu? Jarang juga Mama akan melakukan hal seperti ini selain saat ini. Eh iya ngomong-ngomong perut kamu yang tadi dibilang Rangka sakit, Mama berpikir jangan-jangan kamu sedang hamil?" duga Nyonya Catly. Namun langsung mendapat gelengan kepala Sensi. Nyonya Catly nampak kecewa setelah mendapat gelengan kepala dari Sensi. Padahal dia sudah sangat menginginkan cucu lagi dari Rangka, kali ini Nyonya Catly berharap cucu yang dipersembahkan dari Rangka dari pernikahannya yang kedua adalah anak laki-laki.
"Belum, Ma. Sensi tidak sedang hamil untuk saat ini." Jawaban Sensi membuat Mama mertuanya langsung berubah sedih seketika.
"Sensi tidak sedang menunda, Ma. Tapi sampai saat ini Allah belum memberikan Sensi kehamilan. Sensi akan sangat senang jika Sensi segera hamil," tukas Sensi dalam dengan wajah yang sedikit menunduk.
"Ya, sudah, tidak apa-apa, tidak perlu jadi pikiran. Yang penting kalian sehat saja Mama sudah bersyukur," ujar Nyonya Catly menghibur Sensi yang dilanda malu karena belum bisa hamil dan memberikan cucu buat mertuanya.
"Iya, Ma. Terimakasih. Sensi juga mau minta maaf sama Mama, sebab Sensi belum bisa membahagiakan Mama dengan memberikan cucu," ucap Sensi sendu.
"Sudah, tidak apa-apa. Jangan jadi pikiran, Mama hanya bertanya saja. Jadi, jangan dijadikan beban omongan Mama tadi, ya." Nyonya Catly membujuk Sensi supaya jangan bersedih.
Dua orang beda generasi itu akhirnya menghabiskan waktu bersama di dapur. Bercerita dan bercanda tawa.
Dan jam pun sudah hampir menuju pukul setengah dua belas siang. Dengan ngobrol ngalor ngidul waktu tidak terasa sudah berganti siang dengan cepat. Nyonya Catly sesekali matanya melihat kea arah jam dinding dan sepertinya sudah gelisah.
"Sayang, sepertinya Mama harus kembali pulang, sebab sebentar lagi sekitar jam 13.30, Mama harus jemput Glassy di sekolah. Mama berpesan sama kamu, pergilah kencan dengan Rangka berdua supaya kalian tidak sering berselisih dan suudzon terus dalam menyikapi jika dihadapkan dengan sebuah masalah yang terpaksa harus melibatkan mantan. Semoga kalian selalu bersama dan bahagia dalam rumah tangga," nasehat Nyonya Catly sebelum dia beranjak dari dapur.
"Terimakasih, Ma, atas perhatian dan nasihatnya. Untuk kedatangannya juga Sensi ucapkan terimakasih," balas Sensi seraya menyalami tangan mertuanya dengan takjim.
__ADS_1
Sensi mengantar kepulangan Mama mertuanya dengan hati yang sedikit lapang. Setelah Nyonya Catly pergi, Sensi merapikan meja makan menjadi rapi kembali, lalu dia segera beranjak menaiki tangga dan masuk kamar.
Dan tidak lama dari itu, mobil Rangka terdengar tiba di depan rumah. Sensi mengintip dari balkon dengan menyembunyikan tubuhnya supaya tidak ketahuan Rangka. Seorang lelaki tampan yang dicintainya keluar dari mobil mewahnya sembari membenarkan jas yang digunakannya, sembari sejenak wajahnya mendongak ke atas balkon berharap Sensi memperlihatkan wajahnya.
Sensi segera keluar kamar dan berlari kecil menuju ruang tengah di lantai dua. Sensi duduk di sofa sambil memainkan Hpnya yang sekarang sidah tidak bisa membuka aplikasi Facebook karena sudah diajukan penghapusan oleh Rangka.
Mengingat itu Sensi menjadi sedih. Terlebih sedih dengan sikap Rangka yang terlalu over protect dan takut terhadapnya. Takut jika dirinya mengunjungi rumah orang tuanya, Sensi akan mengadu yang tidak-tidak, padahal pada kenyataannya Sensi tidak pernah ngadu. Itu mungkin ketakutan yang dirasakan rasakan Rangka.
Rangka mulai menaiki tangga untuk mencari tahu tentang kabar Sensi. Namun, Sensi tidak ada di kamar. Lalu Rangka mencari ke ruang tengah lantai dua. Dan ternyata Sensi di sana. Rangka segera menghampiri Sensi tidak lupa mengucapkan salam.
"Assalamualaikum."
Sensi yang sedang melihat Hpnya terkejut dengan kedatangan Rangka yang tiba-tiba. Sensi mendongak lalu menjawab salam dari Rangka dengan pelan.
"Waalaikumsalam," balasnya sembari masih duduk dengan tidak menghadap Rangka.
"Sayang, tadi Mama ke rumah, kan?" tanya Rangka penasaran.
"Semua itu pasti atas rencana Mas Rangka, bukan? Kenapa Mas Rangka tega banget mencegah aku ke rumah kedua orang tuaku? Takut kenapa Mas, padahal aku bukan tipe istri yang suka banyak omong."
"Iya, itu semua rencana aku supaya kita merencanakan pergi ke rumah orang tuamu bersama-sama. Kalau hanya kamu sendiri, terus dalam keadaan mata sembab, bisa jadi mereka timbul curiga dan pastinya menduga aku melakukan tindakan kasar padamu."
Sensi berdiri dari duduknya, lalu bergegas meninggalkan Rangka sendiri di ruang tengah lalu dia memasuki kamar. Rangka segera mengejar Sensi masuk ke kamar.
"Sayang, jangan tinggalkan aku sendiri jika aku belum selesai bicara. Itu namanya tidak sopan. Giliran dengan orang lain kamu pandai beramah tamah dan murah senyum, sedangkan sama aku sedikit aku tegur saja marah, padahal itu demi kebaikan kamu." Rangka meradang melihat dirinya ditinggal sendiri di ruang tengah.
"Aku tidak seperti itu, Mas. Itu hanya perasaan kamu saja. Aku selalu ingin menghargai kamu. Tapi kamu seringnya membentak aku. Aku juga sakit hati saat aku menceritakan masalah status mantan istri Mas Rangka, tapi responnya Mas Rangka malah menyalahkan aku yang sudah melihat statusnya," ungkap Sensi sembari berkaca-kaca.
"Iya itu jelas salah kamu dong, Sayang. Kenapa kamu berani buka-buka status facebook orang lain, lantas salah aku di mana?" sergah Rangka tidak terima.
"Mas Rangka memang mau menang sendiri," ujar Sensi seraya hendak berlari keluar. Namun Rangka menahannya sehingga Sensi tidak bisa berlari dari kamar.
"Lepaskan, Mas," pinta Sensi dengan berurai air mata.
__ADS_1