
Rasa kesal dan marah berhasil membuat Rangka pergi dari rumah. Dia berniat ke kantor untuk beristirahat di dalam ruangan pribadinya saja. Saat ini hati dan pikirannya sangat kacau. Rasa bersalah pada Sensi karena telah membentaknya tadi, kini berakhir penyesalan.
Mobil Rangka terus melaju menuju kantornya. Tidak berapa lama sampai juga mobil yang dia jalankan persis orang kesetanan itu di depan PT Kertassindo Gemilang, tidak jarang mengundang umpatan para pengemudi yang lain karena Rangka sering kali menyalip dan menyerobot mobil lain.
Di depan Resepsionis, Torne sudah siap menyambut Rangka dengan sapaan hormat. Rangka manggut dan berlalu menuju lift dan menunggu sejenak di depan lift karena lift sedang ada yang memakai. Saat lift terbuka, tanpa buang waktu Rangka memasukinya dan menekan lantai lima.
Tiba di lantai lima, Cakar dan Koral menyapanya ramah sekaligus heran, sebab setahu mereka Bosnya itu tidak akan ke kantor jika tidak ada yang urgent.
"Bos Rangka," kejut Koral yang tanpa balasan dari Rangka. Rangka langsung masuk ke dalam ruangannya, tidak lupa dia mengunci pintu. Kemudian Rangka langsung menuju ruangan pribadinya untuk beristirahat.
"Hahhhhghh." Rangka menghembuskan nafasnya kasar sebelum membaringkan badan. Dia benar-benar lelah dan ngantuk, tapi rasa bersalah pada Sensi juga begitu menggelayutinya.
"Harusnya aku tadi memaafkan permohonan maafnya. mungkin saja dia tadi memang niatnya bercanda dan romantis. Tapi mengapa harus mencium pada saat aku memegang gelas yang masih ada air kopinya yang panas? Ya ampun, Sensi. Kamu membuat aku marah dan kesal sekaligus menyesal. Kamu ini ada-ada saja," gerutunya sembari menjambak rambut. Rangka benar-benar menyesal.
Namun karena rasa kantuk yang tidak tertahankan, akhirnya Rangka membaringkan tubuhnya di atas kasur lalu lamat-lamat dia terpejam dan tertidur di sana.
Sementara itu di rumahnya Rangka, Sensi yang sangat sedih akibat kemarahan Rangka, kini hanya bisa termenung, dia tidak tahu harus berbuat apa. Mau curhat entah kepada siapa. Kepada orang tuanya, tidak mungkin dia curhat hal seperti itu. Lalu curhat pada ibu mertuanya yang dianggapnya lebih pantas. Namun Sensi tidak berani, dia akan malu sendiri jika menceritakan kejadian tadi di jalan pada mama mertuanya. Paling tidak, jadi bahan tertawaan dan ejekan, sebab kejadian itu termasuk ranah pribadi.
Akhirnya Sensi saking bosannya hanya mengutak-atik Hpnya tanpa tujuan yang jelas. Namun tiba-tiba, terbersit di dalam benaknya untuk menghubungi adik semata wayangnya Aloe Vera. Bagaimanapun selama dia belum nikah, Aloelah orang pertama yang selalu direcokin olehnya dengan curhatan jika Sensi ada masalah. Dan kini, setelah sekian lama, Sensi rasanya ingin curhat kembali dengan adiknya itu. Aloe memang seorang adik yang sering memberikan solusi jika dia punya masalah, kadang Sensi berpikir Aloe adalah adik rasa kakak.
"Assalamualaikum, Al. Kamu sibuk tidak? Kalau tidak, kamu Teteh tunggu di rumah. Cepatan ya!' titahnya di telpon kepada Aloe Vera sang adik.
Dua puluh menit kemudian, Aloe yang tadi ditelpon sampai di rumah Sensi. Dia disambut Pak Mama yang kebetulan jaga di depan.
"Non Aloe, ya? Silahkan, Non. Sudah ditunggu sama Non Sensi di dalam, langsung masuk saja," ujar Pak Mamat hormat. Pak Mamat sudah kenal dan tahu dengan adiknya Sensi, bahkan namanya juga masih Pak Mamat ingat.
"Iya Pak Mamat, terima kasih," ucap Aloe sambil tersenyum, lalu segera memasukkan motornya dan memarkirkannya di garasi. Aloe segera menuju pintu depan dan mengucapkan salam.
"Assalamualaikum ..." salamnya lantang. Sensi yang sudah di ruang tamu hanya tersenyum dan sengaja membiarkan adiknya memindai seluruh ruang tamu.
"Teteh ... Ih ya ampun orang mengucap salam kenapa tidak dijawab, dosa lho," protes Aloe sembari menghampiri kakaknya yang duduk tersenyum di sofa.
__ADS_1
"Teteh udah balas salam kamu, kok, Al. Kamunya saja tidak dengar sebab teteh ngucapinnya pelan."
"Nggak boleh lho , Teh jawab salam tanpa suara jika orang yang ngasih salamnya ada di depan mata, nanti baik teteh maupun aku akan kehilangan makna doanya, sebab setiap salam yang kita ucapkan, mengandung doa baik bagi yang ngucapin sama yang balas salam," jelas Aloe serasa mendadak jadi Ustadzah, atmosfirnya berbeda. Aloe berubah bak seorang Ustadzah yang sedang memberi tausyiah.
"Iya deh teteh paham. Wassalamu'alaikum. Masuk adikku tercinta dan terkasih," ujarnya mengajak Aloe ke dalam dan duduk di sofa.
"Eh tapi alangkah baiknya kita di atas saja yuk, kita ngobrolnya di balkon ruang tengah," ajak Sensi melambai supaya Aloe mengikutinya ke atas.
"Bi Narti, minta tolong dibuatkan minuman sama makanan kecil ke ruangan tengah yang di atas, ya," teriak Sensi pada Bi Narti yang sedang menikmati kopi Luwak hitam kesukaannya.
"Baik Non," jawab Bi Narti seraya menuju dapur dan menyiapkan teh pahit bersama camilannya.
"Oh iya Bi Narti, saya pesan kopi hitam, ya. Mereknya sama kayak yang Bi Narti sering minum juga boleh," teriak Sensi meminta kopi hitam yang sama seperti kopi yang selalu dia buat.
"Baik Non siap." Bi Narti segera mengeksekusi apa yang diperintahkan Sensi tadi.
Tidak berapa lama, Bi Narti datang dan menghampiri meja di ruang tengah lantai atas, menyuguhkan teh pahit satu gelas dan kopi hitam satu gelas beserta camilannya.
''Silahkan Non Sensi dan Non Cantik."
"Ah si Enon ini, tidak apa-apa atuh Non, kan saya memang senang memanggil Non Aloe dengan sebutan Non Cantik."
"Ya sudah, tidak apa-apa, Bi. Terserah Bi Narti saja," ucap Aloe menyerah dengan sebutan yang disematkan Bi Narti. Setelah itu Bi Narti ijin pamit kembali ke dapur untuk melanjutkan kegiatannya lagi.
"Tumben Teh Sensi minum kopi hitam, apakah Teteh punya masalah?" selidik Aloe merasa curiga.
"Tidak ada masalah, teteh hanya lagi pengen saja minum kopi hitam, memangnya nggak boleh gitu minum kopi?" Sensi langsung menyangkal kecurigaan Aloe.
"Bukan nggak boleh, biasanya Teteh, kan tidak pernah minum kopi. Aku hanya heran saja," tukas Aloe membela diri.
Sensi tidak menjawab, dia sibuk menyeruput kopi hitamnya yang dipesan dari Bi Narti tadi. Sensi merasa Aloe adiknya bisa menebak kegundahan hati yang kini dirasakannya. Sepertinya Sensi tidak akan jadi menceritakan masalah sebenarnya pada Aloe, takut Aloe kepikiran, lantas nanti diceritakan pada Bapak dan Ibunya.
__ADS_1
"Lalu Teteh sebenarnya ada apa nyuruh aku ke sini, apakah ada hal yang ingin disampaikan?"
"Iya, ada. Teteh mau menanyakan sama kamu, apakah jika suatu saat Mas Rangka meminta kamu jadi Sekretarisnya, kamu mau nggak?"
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Aloe heran dan tidak percaya. Aloe berpikir seandainya ia menerima tawaran pekerjaan itu, sepertinya tidak buruk, malah bagus buat pengalaman, dan uang gajihannya lumayan.
"Kalau menurut teteh sih ambil saja sambil kuliah nyambi Sekretaris, kan lumayan uang gajihannya buat nambah-nambah biaya sidang ataupun wisuda kelak. Sebentar lagi kamu, kan sidang, lalu wisuda. Dua hal itu butuh biaya." Tanpa menunggu Aloe menjawab atau menginterupsinya, Sensi langsung mengungkapkan pendapatnya untuk Aloe.
"Tadi aku sudah berpikir seperti itu, Teh. Tapi, apakah nanti tidak akan ganggu skripsi aku? Enam bulan lagi aku sidang lalu wisuda. Jika aku terima tawaran itu, apakah nanti Kak Rangka akan mengijinkan aku jika aku mendadak ada tugas dari kampus?" tanya Aloe ragu.
"Tenang saja, semua itu sudah dipikirkan suami teteh, dia juga tahu kamu sebentar lagi akan wisuda, kemungkinan besar Mas Rangka sudah memikirkan hal itu. Jadi kamu terima saja tawaran itu. Kamu persiapkan diri saja dari sekarang, masih dua bulan lagi kok. Daripada peluang ini diisi orang lain, kan sayang."
"Iya, deh Teh. Insya Allah aku ambil. Sepertinya aku minat, apalagi bisa bekerja di perusahaan Kak Rangka, siapa tahu karir aku bisa dimulai dari sana." Aloe berbinar, dia sangat bahagia membayangkan dirinya menjadi Sekretaris Kakak iparnya yang dia kagumi karena kebaikannya itu.
"Lalu apakah di kantor Kak Rangka banyak cowok gantengnya nggak sih, Teh?" tanya Aloe sambil tersenyum.
"Ada. Banyak malah. Memangnya kenapa, kamu sekalian mau cari jodoh?"
"Tidak juga Teh. Kalau ada yang ganteng, biasanya kerja juga semangat." Aloe berkelit lalu tersenyum bahagia.
"Huhhhh, awas, ya. Kalau nanti kerja di kantornya Mas Rangka, kamu jangan sibuk pacaran dulu. Mas Rangka orangnya sangat disiplin dan tidak suka pegawainya pacaran di lingkungan kantor," peringat Sensi serius.
"Kalau masalah itu, Teteh jangan khawatir. Aku juga profesional kok dalam lingkungan apapun. Jadi, tidak mungkin aku campur adukkan masalah pekerjaan dengan masalah pribadi," elak Aloe sungguh-sungguh.
"Lalu, pacar kamu si Arbi itu bagaimana?"
"Aku tidak pacaran sama dia Teh, aku hanya dekat saja, tidak lebih. Lagipula Arbi disukai sama banyak cewek, aku kalah saing sama cewek-cewek itu." Aloe menyeruput teh pahitnya menyembunyikan perasaan yang sebenar dalam hatinya.
"Ah, sudahlah Teh, jangan bahas tentang cowok lagi. Lalu, apa lagi yang mau Teteh obrolkan selain tawaran jadi Sekretaris di kantornya Kak Rangka itu? Tadi aku lihat Teteh seperti sedih dan murung. Hayohh cerita. Sepetinya Teteh memang sedang ada masalah, ya?" tebak Aloe mengena. Tapi kekeuh Sensi tidak mau menceritakan hal yang sebenarnya pada Aloe, dia takut masalahnya sampai pada kedua orang tuanya.
"Tidak, teteh tidak sedang sedih. Teteh hanya lelah saja, sebab sudah dua hari belajar nyetir sama Mas Rangka, tapi belum ada hasil. Mas Rangka sedikit kesal," ucapnya murung. Akhirnya Sensi menyebutkan sedikit clue yang membuat dia sedih dan murung.
__ADS_1
"Ohhhh, jadi ini penyebab Teteh menjadi murung? Ha ha ha ha, Teteh ini jangan terbawa perasaan atau baper. Biasanya menurut yang aku lihat di yutub, para suami yang ngajarin istrinya nyetir, biasanya bawaannya emosian. Itu hal yang wajar sebab menurut di yutub juga para lelaki tidak suka jika istrinya lama memahami apa yang dia ajarkan." Aloe tertawa melihat kakaknya murung akibat latihan nyetir yang belum ada hasilnya.
"Sabar, ya, Teh. Nanti juga bisa, he he he," hibur Aloe diakhiri kekehan.