Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
Bab 46 Kedekatan Bak Ibu dan Anak


__ADS_3

Kedekatanku dengan **Glassy** anaknya Pak Rangka, semakin hari semakin akrab. Glassy tidak segan-segan menganggap aku ibunya. Di sekolah Glassy, teman-temannya sudah menganggap aku ibunya Glassy. Setiap aku datang ke sekolahnya, Glassy selalu memperkenalkan aku pada semua teman-teman maupun kepada orang tua murid juga Ibu Guru.



"**Wilda**, ini loh mama baru aku," seru Glassy kepada Wilda salah satu temannya.


"Mama baru? Wah Mama baru kamu, ya?" seru Wilda sambil menatap Glassy.


"Iya, ini mama baru aku," ucap Glassy bahagia dengan logat bocahnya.


Celotehan Glassy kepada teman-temannya membuat aku heran seketika. Bocah masih enam tahun kurang itu, begitu lancarnya memperkenalkan aku pada teman-temannya sebagai mama barunya. Aku jelas terkejut, bagaimana reaksi Pak Rangka jika mendengar pernyataan Glassy seperti itu? Aku merasa malu seandainya semua ini diketahui Pak Rangka.



"Ayo, kita langsung pulang ya," ajakku membawa Glassy ke dalam mobil yang disupiri **Pak Domar**.



Tiba di depan rumah Pak Rangka, aku langsung berpamitan pada Glassy. Namun Glassy mencegahku dan menarik lenganku ke dalam. Aku kaget dengan sikap Glassy seperti itu.



"Aduhhh, ada apa sayang? Kakak kan harus kembali ke kantor," sergahku.


"Bukan Kakak, tapi Tante!" koreksinya membuat aku kaget dan keki setengah mati. Padahal aku belum tua banget, kenapa dibilang tante?


"Ehhhh Sensi, kemana, kok buru-buru? Sudah, mari masuk dulu, cucu saya masih ingin ditemani kamu. Sebentar lagi Glassy harus tidur siang, tapi dia harus makan siang dulu. Bagaimana kalau kamu hari ini menemani dia makan siang dan tidur siang?" tahan Bu Catly memaksa, yang membuat aku serba salah.



"Tapi, Bu, saya harus kembali ke kantor. Soalnya Pak Rangka memberi tugas yang banyak hari ini," sergahku menolak halus kemauan Bu Catly.



"Tenang saja, kamu tidak usah ke kantor anak saya lagi, menjaga cucu saya juga kan termasuk tugas dari Rangka juga. Jadi kamu tidak perlu takut Rangka marah jika kamu tidak ke sana lagi," cegah Bu Catly seraya meraih lenganku, kemudian ditariknya ke dalam rumah besar bernuansa modern. Saat aku masuk ke dalam rumah besar itu pertama kalinya, seketika tercium pengharum ruangan yang wanginya mengalahkan parfum Pak Rangka. Wangi yang sangat menenangkan. Seketika bayangan saat makan malam bersama Pak Rangka dan tragedi ciuman itu hadir dalam pelupuk mataku.


__ADS_1


"Ayo," seru Bu Catly mengejutkan aku yang sedang terpesona oleh pengharum ruangan yang sangat menyegarkan.


"Eh, iya, Bu," ujarku gelagapan dan bingung akan diajak kemana aku.


"Tapi, Bu. Ijinkan saya konfirmasi dulu ke Pak Rangka mengenai kehadiran saya di sini. Saya takut nanti Pak Rangka ngiranya saya kelayapan," ijinku memohon.



"Ohh, boleh. Silahkan. Rupanya kamu termasuk pegawai yang disiplin ya," puji Bu Catly dengan senyum yang mengembang.


"Sembari menunggu makanan siap disajikan dan menunggu cucu saya yang berganti pakaian sama Mboknya, kita baiknya ngobrol dulu biar tambah akrab," ajaknya dengan senyuman hangat. Di sini aku merasakan perlakuan Bu Catly bukan ditujukan kepada seorang pegawai anaknya , melainkan perlakuan yang persis seorang Ibu pada anaknya, apalagi tatapan mata Bu Catly begitu teduh juga senyumannya yang ramah.


"Kamu cantik ya, masih muda dan sangat multitalenta?" pujinya yang tidak banget bagiku. Aku tertawa dalam hati, Kak Tari saja sering komplen kerjaan aku, masa iya Bu Catly menilai aku sebagai orang yang multitalenan?



"Kenapa kamu senyum-senyum?" Bu Catly tiba-tiba menyela aku yang sedang membayangkan aku yang katanya multitalenta.




"Kamu itu lucu, masa multitalenta jadi multitalenan?" ucapnya sembari tersenyum. Aku membalas ucapan Bu Catly dengan senyuman lagi.



"Kamu memang multitalenta, anak saya sering cerita. Dan yang membuat Rangka bisa kembali tertawa ceria setelah dua tahun lamanya suram, rupanya kamu. Sejak bertemu kamu, Rangka berubah dan semakin giat ke kantor, menegur saya dengan ciuman di pipi. Biasanya paling salim tangan dan mengucap salam tapi dengan wajah yang datar, dingin dan menusuk. Sungguh perubahan drastis yang membuat saya kaget plus senang," cerita Bu Catly sedikit panjang.



"Emmm, kenapa saya, Bu?" Aku sungguh tidak paham, kenapa harus aku yang dituding orang yang multitalenta itu yang berhasil merubah sikap Pak Rangka menjadi ceria dan tidak suram lagi?



"Itulah keajaiban dan jalan dari Yang Maha Kuasa. Mungkin kamu sudah jodohnya dengan Rangka."


__ADS_1


"Uhuk, uhuk, uhuk." Aku tiba-tiba terbatuk tiga kali, kerongkonganku seakan tercekat kering dan rasanya seperti gatal.



"Mbok, Mbok Dorothy ambilkan minuman buat tamu saya!" teriak Bu Catly memanggil Asistennya. Beberapa menit kemudian datang seorang Asisten membawakan air bening yang disuguhkan padaku.



"Terimakasih Mbok Dorothy," ucapku sopan.


"Bukan, ini bukan Mbok Dorothy, tapi Mbok Dorawati," sela Bu Catly meralat ucapanku yang sukses membuat keningku mengkerut. Rasa gatal di tenggorokan tiba-tiba terganti dengan rasa geli dan lucu mendengar nama para Asisten di rumah besar milik Bu Catly, sebab namanya keren-keren dan kebarat-baratan.


"Ohhh, Dorawati ya? Terimakasih Mbok Dorawati," ulangku sambil menahan tawa. Bukan mentertawakan namanya yang keren-keren, tapi geli saja dengan namanya yang kebarat-baratan, padahal mereka bukan keturunan orang barat.



"Iya, Tante. Mereka itu kembar. Mbok Doro sama Mbok Dora," timpal Glassy dengan suara yang imut, tiba-tiba muncul.



"Ohhh, ini toh Nyah perempuan cantik yang merubah Aden menjadi berbinar-binar glowing seperti Lee Min Jo," puji Mbok Dorawati membuatku melambung ke dalam jurang. Dan anehnya lagi Mbok Dorawati sepemikiran sama aku bahwa Pak Rangka diibaratkan Lee Min Jo, malah kalau mau kasih poin, Pak Rangka menang 10 poin. Lee Min Jo asli 100, kalau Pak Rangka 110. Aku senyum-senyum mendengar Mbok Dora mengatakan kalau Pak Rangka ibarat Lee Min Jo, artinya walaupun Mbok Dora sudah tua, ternyata dia up to date juga dengan aktor Korea yang satu itu.



"Non! Non kenapa? Tidak sedang kesambet, kan?" tegur Mbok Dora mengagetkanku.


"I, iya, Mbok, ada apa?"


"Ahhh, Nona, rupanya Nona ini sedang melamun."


"Ti-tidak ko Mbok," sangkalku.


"Nyah, apakah ini yang selalu Den Rangka ceritakan itu? Itu artinya Non Sensi pacarnya Aden, ya?" tuding Mbok Dora yang membuat aku terkejut seketika.


"Eh, kok, pacar? Bukan Mbok, saya bukan pacarnya Pak Rangka. Saya adalah karyawannya Pak Rangka," sangkalku terkejut.


"Nene, Tante, ayo, kita makan dulu. Aku sudah lapar nih," protes Glassy membuyarkan obrolan kami yang sedang membahas pacarnya Pak Rangka.

__ADS_1


__ADS_2