Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
Bab 18 Pak Rangka, I Love You


__ADS_3

Malam semakin larut, jam di dinding hampir menunjukkan pukul 23.30 malam. Aku mulai merasakan ngantuk, sementara Pak Rangka masih menikmati kopi lattenya seraya melihat laptop. Beberapa jenak sengaja kutatap siluet Pak Rangka di dinding. Jangankan aslinya, siluetnya juga alangkah tampannya. Aku menatap sambil membayangkan Pak Rangka sedang memeluk ku tadi. Namun baru lima menit kutatap siluet itu, kini sudah menghilang lagi entah kemana.



"Sensi, Sen, Sensiiii! Kamu tidak sedang kemasukan setan di kamar kamu itu, kan?" ujar Pak Rangka sedikit berteriak seraya baca doa, dikiranya aku kemasukan setan kali.


"Astaghfirullah, ada apa Pak?" Aku terkaget dengan wajah yang hampir bertabrakan dengan wajah tampan milik Pak Rangka. Untung saja saat itu aku sudah gosok gigi dan pakai penyemprot pewangi mulut, jadi kalau bicara berdekatanpun tidak akan timbul bau.


"Ya, ampun makin kenapa sih kamu ini? Bukannya tidur malah berhalusinasi?" sentak Pak Rangka lagi. Aku malah senyum-senyum tidak jelas sebab yang ada hanya bayangan kebahagiaan bersama Pak Rangka.



"Astaghfirullah, jangan-jangan kamu ini kesambet ya? Saya jadi ngeri deh kalau begini." Pak Rangka masih protes dengan sikapku yang entah kenapa kembali ke semula, ke aku yang settingan awal, ceplas-ceplos, bahagia dan tidak mudah sensitif.



"Ti-tidak, Pak, bukan kesambet, tapi kesamber," sangkalku sembari mulai menaiki ranjang.


"Cepat kamu tidur, besok acaranya memerlukan konsentrasi," peringatnya dengan nada yang sedikit naik satu oktaf.


"I-iya, Pak, saya segera tidur," ucapku seraya berbaring dengan guling yang jadi penghalang antara aku dan Pak Rangka.


"Ini batas kita ya, Pak. Sebab baru kali ini saya satu kamar dengan laki-laki. Apalagi Bapak adalah Bos saya yang pernah .... "


"Pernah apa?" potongnya penasaran dengan lanjutan ucapanku.


"I-itu, Pak. Saya mau bilang bahwa Bapak pernah gagal dalam rumah tangga, jadi .... "


"Jadi kamu takut saya perkosa, gitu, kan? Sembarangan, memangnya saya ini terlihat seperti penjahat kelamin? Ayo, cepat tidur, kamu ini seperti anak kecil saja, tidur pakai diingatin segala!" dumelnya seraya mematikan lampu. Dan ruanganpun menjadi temaran diganti dengan lampu meja.


"Saya tidur ya, Pak. Tapi awas, ya, Bapak jangan sekali-kali memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan," peringatku sembari berbaring dan berdoa dulu.



"Apa kamu bilang, kesempatan dalam kesempitan? Sudah saya katakan saya bukan tipe penjahat kelamin, sembarangan saja kalau ngomong," sergah Pak Rangka tidak senang sembari duduk di ranjang.


__ADS_1


Akhirnya setelah berdebat dahulu dengan Pak Rangka, aku mulai membenamkan tubuhku di bawah selimut.



"Jangan lupa berdoa dulu sebelum tidur," ujarnya mengingatkan. Benar juga aku hampir saja lupa berdoa sebelum tidur, kalau tidak diingatkan Pak Rangka.


"Selamat tidur juga, Pak," ucapku seraya benar-benar menenggelamkan tubuhku dalam selimut. Lamat-lamat aku mulai tidak sadarkan diri karena tertidur.


Subuh menjelang, suara azan telah diperdengarkan. Meskipun hotel yang kami tempati berada di wilayah kota Banjarmasin, akan tetapi suara azan masih terdengar dimana-mana.



Aku terbangun setelah tangan Pak Rangka menggoyang tubuhku. "Sensi, bangun. Sholat subuh dulu!" ajaknya sembari berlalu ke kamar mandi duluan. Aku menunggu giliran setelah Pak Rangka.



Setelah Pak Rangka selesai, aku segera masuk kamar mandi. Aku langsung mandi saat itu bukan wudhu lagi, soalnya jam 9 pagi ada acara pertemuan dengan pengusaha kertas lainnya se Kalimantan.



Setelah selesai mandi, aku bingung karena aku tidak bawa handuk, tapi untungnya di dalam kamar mandi hotel, sudah tersedia handuk hotel, terpaksa aku meminjam yang ada di dalam kamar mandi Pak Rangka.




"Boleh, mau sampai kapanpun juga boleh," ujar Pak Rangka sambil tersenyum. "Kamu, mandi dan keramas ya?"


"Iya, Pak," jawabku dengan heran.


"Baguslah itu, mandi besar setelah mimpi kamu semalam," ujar Pak Rangka sambil mesem, dan gelagat ini membuat aku penasaran.


Tidak membuang waktu lama aku segera mendirikan sholat Subuh, sebab Pak Rangka sudah sholat Subuh duluan. Setelah sholat aku harus mendapat jawaban dari Pak Rangka atas ucapannya tentang mandi besar dan hubungan dengan mimpi aku semalam.



"Pak, memangnya saya semalam mimpi apaan, ya?" tanyaku heran setelah menyudahi sholat. Pak. Rangka tidak langsung menjawab dia hanya mesem-mesem tidak jelas.

__ADS_1



"Terus, Bapak tidak macam-macam, kan, terhadap diri saya?" Pak Rangka malah ketawa begitu keras sehingga membuat aku khawatir keberadaan kita dalam satu kamar mengundang kecurigaan pihak lain.



"Kamu ini selalu menuding saya tidak jelas, kalau kamu mau tahu, tidur kamu itu yang meresahkan sampai rok kamu itu tersingkap memperlihatkan dalaman kamu," tandas Pak Rangka membuat aku terbelalak seketika.



"Apaaa, benarkah apa yang Bapak katakan?"


"Kenapa saya harus bohong, memang itu kenyataannya kok. Kalau saya tipe laki-laki mesum, mungkin saja saat melihat kamu memperlihatkan dalaman kamu saya lansung nyosor," ujar Pak Rangka meyakinkan.


"Kamu tidak sadar juga gitu kalau tidurmu itu sering mengigau."


"Apa, Pak, mengigau?" Pak Rangka mengangguk. Aku jadi penasaran kata-kata apa yang aku igaukan tadi malam? Pak Rangka diam, dia tidak menjawab. Namun tidak berapa lama aku disodorinya Hp yang sedang memutar sebuah vidio rekaman.


"Pak Rangka I love you, I love you forever, muah, muah." Seketika aku tersentak kaget melihat isi vidio rekaman yang diperlihatkan Pak Rangka. Rasa malu dan seperti hilang muka seketika menghantam dada. Ditambah lagi posisi tidurku yang **mijah** membuatku semakin tengsin saja.



"Bagaimana, apakah cukup jelas?" Pak Rangka meminta Hpnya kembali seraya tersenyum-senyum membuatku semakin dilanda malu yang kian tiada menentu.



Untuk menutupi rasa maluku. Aku segera berlari menuju pintu keluar lalu membukanya, saat situasi situasi terlihat aman, aku segera berjalan perlahan menuju kamar hotelku. Jantungku serasa copot saat Mbak Dian memergoki aku berjalan mengendap menuju kamarku. Aku harap Mbak Dian tidak curiga kalau aku sudah dari rumah Pak Rangka.



"Sensi, kamu pagi-pagi buta habis dari mana?" Mbak Dian bertanya seakan menyelidik.


"Tidak dari mana-mana Mbak, saya tadi hanya keluar sebentar setelah mandi besar."


"Apa, mandi besar? Memangnya kamu mandi besar habis ngapain?" Mbak Dian semakin penasaran dengan jawabanku.


"Ehh, i-itu Mbak, saya mandiw besar setelah haid. Itu maksud saya," jelasku bohong. Duhkha, aku jadi heran kenapa aku malah keceplosan ngomong yang tidak-tidak di depan Mbak Dian. Mbak Dian kan salah satu pegawai yang rada usil mulutnya suka ember. Duhhh, aku menjadi sangat was-was. Langsung saja aku tinggalkan Mbak Dian yang masih berdiri terpaku penasaran melihatku bingung.

__ADS_1


mijah \= tidurnya tidak bisa diam.


__ADS_2