Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
Bab 23 Pak Rangka Marah


__ADS_3

Rangkaian acara setelah makan malam sudah berlalu. Pak Rangka menyuruhku kembali duluan ke kamar. "Kamu duluan saja, saya ngobrol sebentar dengan sahabat lama," ujar Pak Rangka sembari memberikan kunci kamar hotel berupa sebuah kartu.



Aku tidak membantah lagipula aku memang sudah lelah dan ngantuk. Aku raih kunci di tangan Pak Rangka, sejenak Pak Rangka meremas jemariku entah apa maksudnya. "Ya, sudah saya duluan, ya, Pak," pamitku lalu beranjak menjauhi Pak Rangka.



Di pertengahan jalan menuju kamar, aku berpapasan dengan Mbak Dian ditemani seseorang. Sepertinya seorang Pengusaha sama seperti Pak Rangka. Usianya terlihat masih muda dua tahun dari Pak Rangka, tampan dan rapi serta murah senyum.



"Sensi, kamu mau masuk kamar?"


"Eh, Mbak Dian, Iya Mbak, saya sudah lelah dan ngantuk."


"Kamu ini, ngapain jam segi masuk kamar. Sayang banget besok kita pulang Jakarta, nikmati sisa waktu di Banjarmasin ini dengan senang-senang. Kapan lagi? Sekalian kamu cari cowok biar sekali-sekali punya gandengan," ujarnya memanas-manasiku.


"Tapi saya diperintahkan Pak Rangka untuk masuk kamar duluan," balasku.


"Kamu satu kamar dengan Pak Rangka?" tanya Mbak Dian penasaran. Aku langsung menggeleng.


"Ya sudah, lebih baik sekarang kamu ikut aku. Tidak lama kok, yang penting kamu dapat gebetan, kenalan, dapat nomer telpon," rayu Mbak Dian.


Akhirnya dengan rayuan mautnya Mbak Dian berhasil mengajak aku ikut dengannya. Dan aku mengikuti ke mana Mbak Dian pergi.



"Nah, di sini Sen. Coba lihat di sana, cowok-cowok ganteng itu pengusaha muda lho," tunjuk Mbak Dian pada salah satu pria bertubuh tinggi dengan tubuh membelakangi kami. Kemudian Mbak Dian menghampiri laki-laki itu sembari menarik tanganku.



"Mas Krisna, ini lho cewek yang mau aku kenalkan itu, dia sudah ada di belakang," Mbak Dian memberitahu. Sontak laki-laki yang disebut Krisna itu menoleh.

__ADS_1



"Dian!" seru lelaki yang disebut Krisna itu menoleh malu-malu.


"Jangan malu-malu bukankah kemarin Mas Krisna bilang pengen kenalan sama cewek, kebetulan dia jomblo dan juga suka tipe-tipe cowok dewasa yang kayak Mas Krisna," seloroh Mbak Dian rekomen.


"Wahhh, kamu itu ya gerak cepat Di, mentang-mentang Masmu ini duda akut," sambutnya tersenyum. Aku senyum sembunyi-sembunyi mendengar Mas Krisna menyebutkan dirinya duda akut, merasa lucu dan geli, dan Mas Krisna menyadarinya.



"Kamu senyum-senyum, nama kamu siapa?" tanya Mas Krisna tiba-tiba. Sontak saja aku terkejut sebab aku tidak sedang fokus.


"Sensi, kamu itu sedang ditanya Mas Krisna." Mbak Dian memperingatkanku. Aku sontak tersadar.


"Ehhh, ada apa sih Mbak?" Aku malah balik bertanya dengan kikuk.


"Kamu ini pikirannya sedang di mana sih?" tegur Mbak Dian.


"Maaf Mbak, saya barusan sedang melamun," alasanku.


"Mbak Dian!" panggilku, tapi rupanya Mbak Dian tidak mau menyahut dia malah menghampiri cowok tadi yang bersamanya. Aku langsung kikuk saat ditinggal Mbak Dian.


"Sensi, ayo kita duduk di meja sana. Kita tidak minum dulu," ajak Mas Krisna menunjuk pada salah satu meja di dalam bar hotel itu. Aku terpaksa mengikutinya dengan perasaan ragu. Kami duduk setelah sampai meja, dan Mas Krisna memesan minuman bersoda untuk dia dan aku. Tadinya aku mau nolak akan tetapi merasa tidak enak.



Obrolanpun terjadi dan Mas Krisna yang memulai. Awalnya aku merasa kikuk dan tidak nyaman, tapi Mas Krisna membawa obrolan kami menjadi makin akrab dan penuh banyolan ringan sehingga aku terbawa suasana. Kami tertawa bersama, rupanya Mas Krisna selain murah senyum, dia juga humoris. Setiap bicara ada saja yang bisa bikin ketawa. Beda saat bersama Pak Rangka, Pak Rangka galak dan kadang bikin aku tengsin.



Keakraban antara aku dan Mas Krisna akhirnya membuat aku lupa diri. Sampai jam 12 malam kami masih asik ngobrol ngalor ngidul ngulon ngetan kumplit. Sampai. Mas Krisna berhasil meminjam Hpku saja aku tidak sadar.


__ADS_1


Tiba-tiba Hpku berdering, lagu dangdut yang dipopulerkan **Bunda Corla** Tiktoker yang lagi booming itu bertajuk 'No Comments' milik Tante Tuti Wibowo nyaring. Suara hampir ngebass itu memenuhi meja kami. Segera aku angkat panggilan itu yang ternyata dari "Bos Besar", sejenak aku terkejut, dan seketika kegembiraan yang aku rasakan bersama Mas Krisna meleyot entah kemana.



"Sensi, lagi ngapain kamu, asik-asikan minum-minum di bar sampai lupa waktu. Kamu bilang mau istirahat tapi malah mojok dengan laki-laki," sentaknya membuat kupingku sedikit pekak. Suara Pak Rangka dengan gemuruh musik saling berlomba. Aku segera menutup Hpku lalu berkemas dan bangkit dari meja, tidak. lupa pamit pada Mas Krisna.



"Aduuh, maaf Mas. Kayaknya saya harus pergi. Saya sudah lelah dan ngantuk, saya pamit, ya!" ujarku buru-buru seraya beranjak tidak peduli lagi dengan Mas Krisna yang memanggil namaku.


"Sensi, besok saya telpon, ya." Bahkan Bahkan teriakan Mas Krisna saja sudah tidak aku gubris.


Aku berlari kecil menuju kamar hotel yang ditempati Pak Rangka, rasanya lorong hotel menuju kamar Pak Rangka terasa jauh dan panjang. Nafasku tersengal ngos-ngosan. Mendengar Pak Rangka marah di telpon tadi, aku yakin saat sampai nanti kemarahannya berlanjut.



Akhirnya tiba di depan kamar Pak Rangka, aku segera membuka pintu dengan kunci yang digesek mirip ATM. Namun tidak berfungsi, bahkan beberapa kali aku gesek bunyi klik tidak terdengar juga, haduhhh aku hampir putus asa dan kesal. Saat seperti itu, tiba-tiba pintu kamar Pak Rangka Rangka terbuka, dan rupanya Pak Rangka yang membuka dan sudah ada di dalam kamar.



"Pak Rangka, bukankah kuncinya ada pada saya?" ujarku kaget. Tatapan Pak Rangka sangat menusuk membuatku menunduk seketika.


"Kamu pikir saya itu bodoh dan mau jadi patung nungguin kamu di luar sampai pulang?" tanyanya seperti seorang Interogator yang bertanya masalah kriminal.


"Maaf, saya tadi keasikan Pak. Boleh saya masuk?" ucapku sembari masih menunduk.


"Masuklah dan ambil peralatan kamu, lalu kamu ke kamar kamu dan istirahatlah, besok kita pulang jam sembilan pagi. Persiapkan diri kamu untuk besok!" titah Pak Rangka terdengar begitu kejam bagiku.


Aku terhenyak, gara-gara aku terlambat pulang karena keasikan ngobrol sama Mas Krisna, kok jadinya begini? Aku masih diam berdiri terpaku mendengar omongan Pak Rangka barusan. Sebuah usiran yang membuatku sangat terhenyak.



"Kenapa masih mematung di situ? Kamu takut dengan suara-suara aneh di kamar kamu? Kamu kan beragama, kenapa masih takut dengan makhluk gaib yang bahkan wujudnya tidak kelihatan? Cukup kamu bacakan doa dan lawan balik suara-suara aneh itu dengan keberanian dan ceplas-ceplos kamu, beres, dia akan pergi karena terlanjur takut dengan kamu dan suara kamu."

__ADS_1



Akhirnya seolah diusir, aku keluar dari kamar Pak Rangka dengan hati yang sakit dan kesal. Sepanjang berjalan menuju kamarku aku nangis karena ulah Pak Rangka. Aku merasa sesakit ini diusir Pak Rangka. Ini semua gara-gara Mbak. Dian yang maksa aku ikut dengannya. Jadinya begini, aku harus tidur di kamar berhantu.


__ADS_2