Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma
NBBGYSA#Season 2#SetelahJadiIstri#Candaan di Ruang Pribadi Rangka


__ADS_3

   "Mbak Koral, sepertinya suami saya harus istirahat dulu sejenak, kalau ada apa-apa biar Kak Cakar dulu yang handle. Saya akan menemani Mas Rangka istirahat." Sensi membuat laporan pada koral bahwa Rangka akan istirahat sejenak di ruang pribadinya.


   "Baiklah, Bu Sensi. Sebaiknya Pak Bos memang harus istirahat dulu," Koral paham, dia pun tadi melihat saat Bosnya mengalami sesak nafas, dan Sensi berhasil mengambilkan inhaler dengan cepat ke arah Rangka, sehingga Raka masih bisa bernafas lega sampai saat ini.


   Sensi segera menutup kembali pintu ruangan Rangka, lalu dia segera bergegas kembali ke ruangan pribadi suaminya. Sensi duduk di samping Rangka yang tengah memejamkan matanya. Namun mata itu tiba-tiba terbuka dan tangan Rangka meraih tangan Sensi sehingga Sensi terjerembab di atas tubuh Rangka.


   "Mas Rangka, kenapa Mas? Bukankah Mas rangka mau istirahat?" heran Sensi seraya menatap kedua mata Rangka. Tatapan keduanya bertemu, dan mereka saling bertatap lama.


   "Aku mau istirahatnya dengan kamu," ujarnya seraya meraih pinggang Sensi, kemudian dibaringkan di sampingnya.


   "Permintaan tadi masih berlaku, kan, Sayang?" tanya Rangka genit. Sensi paham akan apa yang Rangka maksudkan. Dengan genit Sensi mengangguk, lau menjatuhkan dirinya di atas dada Rangka.


  "Mas, apakah asmanya tidak akan kumat lagi saat kita akan melanglang buana menikmati surga?' tanya Sensi penasaran dan khawatir.


  "Tidak, Sayang. Dan jikapun kambuh lagi, kan ada inhaler di meja. Kamu takut aku kenapa-napa atau takut kita tidak jadi main kuda goyangnya?" Diberi pertanyaan seperti itu Sensi justru tertawa, sebab dia baru tahu bahwa untuk mengarungi surga ada istilah lain yaitu kuda goyang.


  "Ha, ha, ha, Mas Raka, memang ada kuda goyang, ya?" tanyanya sambil sekilas mempermain bibir bervolume suaminya, diusap lalu dicium, sepertinya Sensi greget banget dengan bibir Rangka yan mirip Lee Min Jo.


  "Cupp, cup, cup." Tidak bosan-bosan rasanya Sensi mengecup bibir suaminya yang kadang rasanya manis karena habis merokok. Sensi sejak pertaman kali naksir Rangka, dia memang terpesona dengan bibir dan ketampanan Rangka yang sebelas dua belas dengan aktor Lee Min Jo, aktor Korea kegemarannya.


   Melihat dan mendapatkan perlakuan manis dari sang istri, Rangka senyum-senyum terharu dan bahagia, sebab dirasanya wanita yang pernah dikenalnya ceplas-ceplos dan sedikit ceroboh ini terasa sangat tulus mencintainya, dia tidak malu mendapatkan suami yang kata Delana penyakitan.


   Rangka memeluk erat tubuh Sensi tidak ingin lepas, harum wangi wanita itu sungguh sangat nagih disesapnya.


   "Geli Mas,' protes Sensi sembari memukul-mukul manja lengan suaminya. Sensi mendongak, lalu dikecupnya lagi bibir itu. Dia sungguh-sungguh bersyukur memiliki jiwa dan raga Rangka yang dulu sempat jadi idamannya.


   "Bersyukur banget aku mendapatkan Mas Rangka yang tampan, romantis, penuh kasih sayang, perhatian. Meskipun kadang galak karena cemburu buta, tapi aku tetap mencintainya. Semoga Allah tetap menjaga sucinya cintaku padanya. Ijinkan hamba ya Allah, bisa mendampinginya sampai maut memisahkan. Hamba ingin Mas Rangka menjadi suamiku di dunia maupun di akhirat," harapnya sungguh-sungguh di dalam hati dengan mata berkaca-kaca lalu menenggelamkan kepalanya di dada bidang Rangka.


   Rangka heran, padahal tadi rencananya akan main kuda goyang, tapi kini malah berubah jadi curhat-curhatan, dan kini Sensi terlihat menangis karena matanya berca-kaca.


   Rangka mengusap-usap kepala Sensi dengan penuh kasih sayang, lalu diciumnya.


   "Kamu kenapa, tiba-tiba murung begitu? Katanya kita akan mengarungi surga dunia, tapi kamu menjadi sedih begini? Kenapa humm?"


   "Aku hanya terharu dan bersyukur memliki kamu, Mas. Aku beruntung memiliki kamu yang tampan dan menggemaskan, sebab cita-citaku kesampaian memiliki suami yang seperti kamu, yang sifat dan wataknya kumplit sudah ada semua. Walaupun kadang kamu sering marah karena suatu hal, tapi semua itu membuat aku semakin cinta sama kamu." Sensi mengungkapkan semua isi hatinya pada Rangka, bahwa dia sungguh-sungguh mencintai Rangka sepaket dengan segala kekurangan dan Glassy tentunya.


   "Benarkah Sayang apa yang kamu katakan?"


   "Huum, aku mencintai kamu dengan segala yang ada pada dirimu, terlebih kamu mirip ...." Sensi tidak melanjutkan ucapannya takut Rangka marah.


   "Mirip siapa, hayoh? Kamu punya kenangan dengan lelaki lain yang mirip sama aku?" Rangka penasaran, lalu dicubitnya hidung Sensi sedikit sehingga membuat Sensi berontak kecil.


   "Tidak, bukan mirip orang manapun yang pernah aku kenal. Tapi Mas Rangka mirip kharismanya Oppa Lee Min Jo yang tampan itu, tapi Mas Rangka lebih tampan dari dia," jawabnya seraya mencium pipinya Rangka yang lembut dan kencang. Ditatapnya pipi Rangka yang masih segar itu, meskipun umurnya sudah akan 36 tahun, tapi dia masih kencang mirip aktor-aktor yang sering perawatan ketampanan.

__ADS_1


   "Kamu ini, ya, genit! Masa iya aku disama-samakan dengan Lee Min Jo, aku jelas lebih tampan dong, Sayang. Buktinya kamu ini kesengsem sama aku yang berpenyakitan," sergah Rangka.


   "Aku hanya genit sama kamu, Mas." Marisa bangkit dan berpindah tempat menjadi di atas perut Rangka sembari menggelitik perutnya yang kekar.


   "Sayang, kamu berapa kilo sih? Badan kamu berat banget?" tanya Rangka sembari membalikkan tubuh Sensi menjadi di bawahnya.


   Dengan seringai yang licik Rangka balik menggelitik Sensi.


   "Mas, Mas, berhenti, jangan gelitik lagi. Aduh ... aduh, geli, sakit, ha, ha, ha ...." Sensi menjerit-jerit kegelian karena digelitik Rangka.


   "Ini akibat kamu sangat nakal, masa iya aku dibandingin sama Lee Min Jo. Aku lebih tampan tahu." Rangka protes sembari masih belum berpindah tubuh dari tubuh Sensi.


   "Mas Rangka turun, aku berat," protes Sensi menggelinjang. Raka tidak peduli, dia malah asik menggelitik perut Sensi.


   "Jangan protes, bukankah selama ini kamu yang selalu kuat jika aku berada di atas," sergahnya seraya mencubit hidung Sensi yang bangir.


   "Ini beda, Massss. Aduhhhh, pinggang aku rasanya mau patah. Mas Rangka, menyingkirlah," protesnya lagi seraya sekuat tenaga menyingkirkan tubuh rangka di atasnya.


   Rangka dengan berat hati menyingkir, lalu dia terbaring di sisi Sensi dan menyembunyikan kepalanya di leher Sensi.


   Agenda yang tadi mereka dengungkan sepertinya telah mereka lupakan sendiri, sebab keduanya justru asik becanda dan saling usil.


   Mendapati Rangka diam, Sensi angkat bicara, sepertinya ini saatnya dia mengatakan sesuatu hal yang berkaitan dengan Glassy.


   "Mas, tadi Glassy sepanjang jalan merengek, dia ingin selalu diantar aku saja jika Mas Rangka benar-benar sibuk tidak bisa mengantar. Jalan satu-satunya hanyalah aku antar dengan motor. Kamu harus ijinkan, ya Mas. Lagipula naik motor juga sangat menyenangkan," ujar Sensi mengungkap keinginan Glassy tadi.


   "Mas Rangka itu selalu saja dikaitkan dengan lelaki, lelaki. Aku mana pernah melayani lelaki. Aku sudah tidak punya teman lelaki dalam media sosial manapun. Yang aku punya hanya kamu," rajuk Sensi seraya memanyunkan bibirnya.


   "Aku hanya jaga-jaga saja jika dirimu suatu waktu lari sama pria lain. Aku melarangmu supaya kamu tidak mengikuti jejak mantan istriku," seloroh Rangka membuat Sensi bangkit dan tidak suka dirinya ditakuti hanya karena takut seperti apa yang dilakukan mantan istri Rangka.


   "Mas Rangka ini menyebalkan, jahat. Kenapa aku selalu disamakan dengan mantan istri Mas Rangka. Aku tidak akan seperti itu, kok, Mas. Jangan bilang bahwa aku takut melakukan hal yang seperti Mbak Delana lakukan ke Mas Rangka , itu tidak ada dalam kamus hidupku, aku tipe istri dan pasangan yang setia."


   Perdebatan mereka berakhir dengan beranjaknya Sensi keluar dari kamar pribadi Rangka, dia kesal Rangka selalu merasa takut jika dirinya melakukan hal yang menyakitkan seperti apa yang dilakukan Delana padanya.


   Rangka menyadari perubahan yang ditunjukkan Sensi, lau ia menyusul Sensi ke meja kerja.


#Belajar Nyetir Mobil


   Rangka menyusul Sensi yang merajuk menuju meja kerja Rangka. Dilihatnya Sensi tengah duduk di sofa sambil melihat-lihat majalah khusus perusahaan Kertassindo Gemilang. Sensi merasa sangat suntuk dan kesal terhadap Rangka. Selalu saja dia curiga dan cemburu yang buta jika dirinya ingin mengantar Glassy diantar naik motor. Sensi akan biarkan Rangka merasa tidak enak.


   Tiba-tiba Rangka menghampiri dan duduk di samping Sensi. "Sayang, kamu jangan merajuk begitu, dong. Aku hanya takut, sebab bayang-bayang itu sepertinya menjadi trauma dalam benakku. Ketika membayang lagi dalam ingatanku, aku selalu sangat ketakutan, lalu aku sadar nggak sadar selalu mengatakan itu. Aku minta maaf, ya," ujar Rangka membujuk Sensi lalu mengecup pipi Sensi gemas.


   Sensi hanya bisa menghela nafasnya dalam seraya berdiri dan berjalan menuju jendela. Dia melihat hamparan kendaraan yang terparkir di bawahnya serta lalu lalang kendaraan lainnya yang wara-wiri di jalanan kota Bandung yang semakin siang semakin ramai.

__ADS_1


   Rangka menghampiri Sensi dan menangkap tubuh Sensi tepat dari belakang dengan jemari yang dijalinkan dengan jemari Sensi.


   "Sayanggg, kamu marah? Aku minta maaf," mohonnya seraya mencium pipi Sensi yang lembut dan wangi skin care. Sensi diam saja, bahkan dia biarkan Rangka melakukan apa saja terhadap dirinya tanpa bantahan. Dia memang benar-benar marah saat ini.


  "Baiklah, Glassy boleh kamu antar tiap hari atau kapanpun, tapi ada syaratnya. Kamu hanya boleh mengantar dengan mobil saja. Dan nanti jika aku sudah santai dari pekerjaan, aku yang akan mengajarkan kamu menyetir." Akhirnya Raka memutuskan dan Sensi hanya diam saja. Ketentuan apapun Rangka walau dia tolak, tetap saja harus dijalankan.


   Jam 13.30 tiba. Rangka menyudahi pekerjaannya. Sepertinya dia memang harus menyudahi sebab jam bubaran kelas Glassy sebentar lagi tiba. Kali ini dia tidak boleh telat menjemput Glassy putri kesayangannya.


   "Sayang, ayo kita pulang. Kita jemput Glassy. Sebentar lagi Glassy bubaran dari kelas," ajak Rangka meraih tangan Sensi yang sejak tadi sibuk membaca novel online kegemarannya, Author @Deyulia menjadi favoritnya, sebab isi karya novelnya beda dari yang lain, tidak ada tokoh suami yang berselingkuh atau tidur dengan perempuan lain. Itu sebabnya Sensi suka banget membaca karya penulis satu itu.


   "Nanti aku kasih komen penulis Deyulia ini supaya membuat karya mafia atau persilatan tapi tetap dibumbui romantisme," batin Sensi sembari tersenyum.


   Melihat Sensi senyum-senyum sendiri, Rangka menjadi heran, dia menduga Sensi kembali ke setelan awal. Setahunya Sensi memang sering seperti itu saat masih perawan dulu. Sering senyum-senyum sendiri.


   "Sayang, ayo! Kamu sangat fokus membaca novel online karya Author Deyulia. Bacanya nanti lagi, kita nanti kesiangan jika tidak berangkat sekarang."


   "Hah, apa? Kesiangan kemana, Mas? Ya, sudah, ayo." Sensi berdiri seraya merapikan Hpnya ke dalam tas. Mereka berjalan beriringan dari ruangan Rangka. Rangka dan Sensi menyempatkan diri berpamitan pada Koral serta Cakar Besi sang Asisten.


   "Kak Cakar, jangan terlalu serius lho, nanti jomblonya makin akut," ejek Sensi membuat Cakar malu-malu. Dia memang jomblo, selama ini dia belum menemukan pasangan yang klop. Terakhir dia sempat akan serius dengan janda satu anak, tapi harus kandas, karena ternyata janda itu hanya mencintai pemberian Cakar saja.


   "Bu Bos dan Pak Bos," sapa Cakar seraya tersenyum malu-malu.


   "Cakar, aku pergi dulu. Handle semua urusan kantor siang ini. Besok pagi aku pastikan datang kemari. Kami pergi," pamit Rangka pada Asisten kepercayaannya sembari tersenyum. Cakar mengangguk dan berdiri memberi penghormatan pada kedua atasannya itu.


Cakar Besi menatap kepergian kedua Bosnya yang nampak bahagia, meskipun kerap kali dirinya melihat dua Bosnya itu perang dingin, tapi antara keduanya sudah sangat terikat satu sama lain. Mereka sama-sama saling cinta, terlebih Sensi yang kini otomatis jadi Bosnya juga, begitu sangat mencintai Rangka.


"Bahagia banget Bos Rangka setelah mendapatkan Non Sensi. Terlebih Non Sensi lebih muda dan cantik dan sangat mencintai Bos Rangka. Tidak kusangka perempuan muda yang kadang bikin jengkel Bos Rangka dan Leader Tari ini menjadi Bosku. Padahal dia itu terkenal ceplas-ceplos, tapi Non Sensi memang orangnya tulus, wajar saja Allah berikan jodoh yang baik seperti Bos Rangka. Menang banyak dirimu Bos, duda beranak satu, terus kata orang penyakitan, tapi dapat jodohnya perawan yang tulus, baik, dan cantik," guman Cakar mengagumi hubungan kedua Bosnya yang saling mencintai satu sama lain.


"Kak Cakar, tumben melamun, kenapa? Sudah bosan jadi jomblo, ya? Kepengen melihat mereka selalu berdua penuh cinta? Carilah lagi pengganti, jangan memikirkan janda beranak satu yang sudah lari dengan lelaki lain pilihannya. Atau jangan-jangan Kak Cakar pernah merasakan ehem-ehem bersama janda satu anak itu, secara dia janda dan sedikit terlihat agresif. Atau jangan-jangan Kak Cakar merasa kehilangan dia karena sudah hilang perjaka?" ejek Koral penasaran dengan jawaban Cakar.


"Apaan sih Koral, memangnya saya itu lelaki yang mau enaknya saja, belum juga saya dapatkan dia sudah dapat duluan, ATM saya satu, cin-cin emas 20 gram, tas mewah, dan uang penjualan apartemen, semua dia gondol dengan dalih mahar. Tapi, alih-alih mahar, dia malah kabur duluan. Sial banget nasib saya. Sekarang tidak ada lagi perempuan yang mau terhadap saya, maunya hanya harta saya saja," ungkap Cakar terdengar putus asa.


"Ya ampun Kak Cakar, aku minta maaf telah membuat Kakak sedih dan terngiang lagi pada masa lalu yang pahit. Aku doakan semoga Kak Cakar cepat diberikan jodoh yang baik oleh Allah. Lain kali carilah perawan yang tulus dan mau menerima Kak Cakar apa adanya."


"Perawan tipis harapan Ral, semua di kota ini sudah saya yakin perawannya matre-matre," simpul Cakar semakin putus asa.


"Jangan menilai begitu sempit Kak, aku juga perawan, saat aku bertemu dengan tunangan aku Mas Dewa, dia bukan apa-apa. Tapi sekarang dia semakin maju dan berhasil menjadi CEO, sebab aku dan Mas Dewa sama-sama saling support. Dan akhirnya hubungan kami sampai selama ini. Dan insya Allah dua bulan lagi aku disunting Mas Dewa. Ahhhhh, senangnya," tutur Koral senang.


"Iya, memang tidak semua, sih, Ral. Hanya kebanyakan di jaman sekarang para gadis perawan justru mencari yang hartanya di mana-mana."


"Ya sudahlah, Kak. Sebaiknya jangan bahas lagi perawan yang gila harta. Sekarang justru aku sedang bingung nih. Pak Rangka meminta aku mencarikan seorang Sekretaris yang sudah menikah dan tidak genit. Tapi aku harus nyarinya kemana. Aku bingung di mana akan aku dapatkan. Apakah Kak Cakar punya solusi untuk mencarikan aku seorang pengganti dari aku?"


"Lho. Jadi, kamu benaran akan resign jadi Sekretaris di perusahaan Bos Rangka?"

__ADS_1


"Iya, terpaksa sih Kak. Aku harus patuh sama permintaan calon suamiku kelak. Mas Dewa meminta aku jika aku sudah menikah dia ingin aku jadi Sekretaris pribadinya. Yaa, termasuk Sekretaris dalam bidang apapun tidak terkecuali," jawan Koral sembari menerawang. Koral merasa sedih jika harus pergi dari perusahaan ini.


"Tidak apa-apa. Kamu justru harus patuh sama apa yang dikatakan suamimu kelak, Ral. Terlebih nanti kalian akan terus bersama-sama. Saya harap rumah tangga kalian kelak akan kekal selamanya sampai maut memisahkan," harap Cakar dengan mata yang menerawang.


__ADS_2