
Malam ini merupakan malam terakhir kami di Banjarmasin. Dan malam pertemuan terakhir juga bagi Pak Rangka dengan para Pengusaha se Kalimantan. Pertemuan ini lebih santai, sebab hanya pertemuan biasa, sekedar ngobrol dan makan-makan.
Mbak Dian sangat antusias, entah dapat rejeki dari mana, dia terlihat sangat gembira. Saat memasuki kamarnya tidak hentinya senyum-senyum. Mungkin saja Mbak Dian sudah mendapat gaetan yang bisa membuat statusnya berubah.
Setelah melihat Mbak Dian benar-benar masuk kamarnya, aku segera berlari kecil menuju pintu kamar Pak Rangka, dan Pak Rangka sudah nongol di mulut pintu lalu melambai ke arahku memberi kode supaya aku cepat menghampirinya.
"Cepatlah masuk!" titahnya setengah berbisik. Aku segera masuk dan buru-buru menuju kamar mandi. "Sensi!" panggilnya menghentikan langkahku.
"Ya, Pak?"
"Ini gaun kamu untuk malam ini, pakailah. Malam ini tidak menggunakan pakaian formal seperti biasa," ujar Pak Rangka seraya menyodorkan buddy bag ke arahku. Aku langsung meraih dan melihat isinya.
"Bukalah!"
Perlahan aku buka buddy bag bertulis sebuah butik terkenal di kota Jakarta. Aku heran kenapa Pak Rangka bisa beli gaun ini dari Jakarta.
"Kenapa, kamu tidak suka?" Pak Rangka heran melihatku terbengong-bengong.
"Bukan Pak, selain gaun ini sangat indah dan bagus, butiknya ini kan di Jakarta, terus kapan Bapak beli gaun ini di butik ini?" tanyaku penasaran. Pak Rangka tersenyum seraya menatapku.
__ADS_1
"Ini butik sudah punya nama, bahkan di dalam maupun di luar negeri. Jika butik ini kamu temui buddy bagnya di sini di Banjarmasin, itu artinya butik tersebut ada juga di sini dan sudah punya nama," terang Pak Rangka serius.
"Cepatlah mandi, saya juga harus segera mandi dan bersiap-siap!" titahnya lagi sambil menuju ranjang, sepertinya Pak Rangka mau membaringkan tubuhnya sejenak.
Tanpa menunda lagi aku segera ke dalam kamar mandi. Membilas tubuh dengan shower yang hangat, duhh rasanya aku seperti hidup di lingkungan putri kerajaan yang mandinya saja di shower dikelilingi lilin aroma terapi yang menenangkan.
Selesai mandi, aku segera keluar dengan handuk yang melilit dan baju bekas tadi yang terpaksa aku pakai guna menutup tubuhku dari tatapan tajam Pak Rangka. Saat aku keluar, Pak Rangka rupanya tengah berbaring dengan tubuh yang sepertinya lelah.
"Eheemmmm," deheman keras itu tiba-tiba menyentakku. Sungguh aku terkejut bukan main melihat Pak Rangka sudah bangkit dan menatapku. Aku sontak menjauh, dan merasa sangat malu. Pak Rangka bangkit seraya menatapku tajam.
"Adakah yang lebih penting selain menatap wajah saya yang sudah tampan sejak lahir ini?" tanyanya sedikit sinis.
" Eh, iya Pak, saya lupa mau berdandan," ujarku seraya meraih buddy. Aku tengsin banget saat Pak Rangka benar-benar lelap menatap ke arahku. Setelah puas membuncahkan rasa tengsin di dadaku.
__ADS_1
Aku segera mamakai gaun pemberian Pak Rangka, gaun bahan sifon warna hijau sage kesukaanku. Aneh, Pak Rangka bisa tahu warna kesukaanku sehingga gaun ini saja dia pilihkan warna sage. Ahhhh Pak Rangka ini memang luar biasa. Sungguh calon suami idaman. Aku kembali berhalusinasi.
Meja rias kini jadi fokusku, aku berdandan natural mirip riasan artis-artis Korea yang tidak diragukan lagi kecantikannya. Akhirnya dandananku selesai, aku berdiri di depan cermin mematut diri. Sekilas jelmaan Shandi Aulia tengah berdiri di depan cermin dengan anggun. Aku tersenyum puas.
"Cepatlah, kamu sudah selesai, bukan?" Pak Rangka menatap ke arahku kesal.
"Sudah, Pak," ujarku. Pak Rangka menatapku sekilas lalu segera memburu pintu.
Akhirnya kami berhasil keluar dari pintu dengan mata bergulir kesana kemari takutnya keberadaan kami diketahui orang lain dan jadi bahan gosip.
Saat kami berhasil keluar kamar, bersamaan dengan itu Mbak Dian keluar dari kamarnya dengan dandanan yang sedikit wah.
"Sensi, Pak Rangka? kalian kok keluar dari kamar yang sama?" kejutnya.
"Memangnya kenapa? Apakah kami tidak boleh keluar dari kamar yang sama?" ucap Pak Rangka balik bertanya.
"Ya, tidak apa-apa sih, Pak. Hanya aneh saja."
__ADS_1
"Tidak usah aneh, Sensi tadi saya suruh ke kamar saya. Jangan berpikiran yang tidak-tidak atau bikin gosip murahan. Ahhhh, sudahlah tidak perlu membahas hal yang tidak penting lagi. Ayo, kita harus segera pergi!" ajak Pak Rangka. Mbak Dian sejenak terdiam seakan ada hal yang dipikirkannya.