
Pak Rangka berjalan dari arah toko menuju mobilnya yang terparkir manis di parkiran. Di tangannya terlihat menjinjing sebuah kantong plastik bermerek yang di luarnya terdapat gambar sepatu. Aku yakin itu sebuah sepatu yang berhasil Pak Rangka beli untukku. Terlihat dari kotak sepatu yang berada di dalamnya.
Sebelum Pak Rangka tiba, aku kembali duduk cantik seraya pura-pura melihat Hp. Terdengar suara pintu mobil dibuka. Aku segera menyambut Pak Rangka dengan wajah yang pura-pura malu.
"Pak," seruku mesem dan mengangguk hormat dan kaku.
"Ini, jenis sneaker seperti ini saya rasa kamu akan suka. Tinggi haknya juga lumayan bisa nambah tinggi badan kamu yang cuma 158 sentimeter itu. Mengenai merek jangan dipermasalahkan. Ayo dicoba dan langsung dipakai saja." Pak Rangka menyodorkan kantong plastik yang dibawanya itu ke arahku, dan aku pun terpaksa menerimanya dengan wajah yang pura-pura dibuat tidak enak.
"Kenapa Bapak repot-repot belikan ini untuk saya? Wahhh, tapi kok modelnya saya banget dan sesuai selera saya," ujarku tanpa sadar mengagumi sneaker pemberian Pak Rangka. Pak Rangka geleng-geleng kepala melihatku yang sempat malu-malu menerima pemberiannya, namun diambil juga.
"Buat pacar, kalau cuma sekedar sepatu sneaker itu bukan masalah," ucap Pak Rangka yang sukses membuat aku terperangah dengan kata-kata '**pacar**' yang diucapkannya barusan.
"Pacar, siapa pacar Bapak?" tanyaku heran. Pak Rangka menatap tajam ke arahku dengan raut wajah sedikit kecewa. Sepertinya aksi marah mirip Lee Min Jonya sedang di *show up*, aku malah semakin deg-degan takutnya Pak Rangka main nyosor kayak adegan film yang dibintangi Lee Min Jo yang tenar itu.
__ADS_1
"Pacar saya, ya, kamulah," repleksnya seraya menarik tubuhku lalu mencium tepat di bibirku begitu lekat dan dalam. Entah berapa lama ciuman itu terjadi yang jelas wangi mint di mulut dan rasa manis di bibir bekas rokoknya sempat terasa aku kecap. Deburan jantung dan nafas aku dan Pak Rangka saat itu sama-sama beradu dan tidak beraturan. Aku terkejut sekaligus menikmatinya secara spontan. Pak Rangka sepertinya sedang diliputi gairah, terbaca dari gestur tubuhnya.
Nafasku terengah, dan pada saat itu Pak Rangka melepaskan ciumannya yang dalam itu. Kami sama-sama tersentak. Tidak menduga sebelumnya akan terjadi kejadian seperti ini.
"Maafkan saya, saya kelepasan. Saya khilaf. Kamu sih salah, membuat saya gemas dan hilang kontrol," ujarnya menyesal. Sementara aku masih shock dan tidak menduga dengan ciuman yang terjadi sangat cepat itu. Walaupun tadi aku sempat menikmati wangi mint dan rasa manis itu. Namun jujur aku benar-benarnkaget dan shock, sebab itu adalah ciuman pertamaku. Perlahan aku mengatur nafas supaya tenang seperti semula.
"Ti-tidak apa-apa, Pak. Saya juga tidak menduga akan terjadi seperti ini. Padahal ini merupakan ciuman pertama saya," ungkapku jujur.
"Manis, upsss." Lagi-lagi aku keceplosan dan tanpa kuduga aku telah berkata jujur mengenai rasa dari ciuman spontan kami tadi. Pak Rangka menatapku sambil menyunggingkan sebuah senyuman simpul.
"Manis? Apakah kamu mau lagi?" tanya Pak Rangka sembari tertawa. Gila saja jika aku mengatakan iya, ciuman barusan saja masih terasa getaran rasanya.
"Ti-tidak, Pak," tolakku gugup.
"Baiklah, daripada kamu masih memikirkan ciuman tadi alangkah baiknya kamu segera memakai sepatunya. Mungpung masih di halaman parkir toko itu, jika sepatunya tidak cukup, bisa langsung saya tukar kembali," ujar Pak Rangka seraya merapikan posisi duduknya.
__ADS_1
"Wahhh, ini pas Pak. Ini sesuai dengan ukuran saya 38. Jadi Bapak tidak usah menukarnya lagi."
"Syukurlah, dan sepatu pentopel kamu ini lebih baik dibuang saja," ucap Pak Rangka seraya berniat akan melemparkan sepatu pentopelku ke tong sampah yang sudah terbuka.
"Jangannnn!" jeritku menahan aksi Pak Rangka yang baru saja ingin melemparkan pentopel rusakku. Pak Rangka menahan tangannya dan urung membuang sepatu itu.
"Kenapa tidak dibuang saja, kan sudah rusak? Pak Rangka penasaran kenapa aku tidak ingin membuang pentopelku itu.
" Tidak, Pak. Saya akan bawa pulang untuk diperlihatkan pada adik saya."
"Untuk apa?" Pak Rangka masih penasaran.
"Untuk diperlihatkan bahwa sepatu pesanannya sungguh sangat tidak bagus," jawabku.
"Ha, ha, ha, ha, lucu pacarku ini. Mana ada harga sepatu pentopel 50 ribu yang awet, kecuali untuk pajangan," ejeknya tertawa lepas.
Karena malam sudah semakin beranjak larut, Pak Rangka akhirnya mengantarkan aku pulang dengan suasana hati yang barbajagia.
__ADS_1
.