
Grab yang ditumpangi Sensi kini telah tiba di Taman Bahagia. Sensi segera turun dan memberikan ongkosnya. Lalu dia segera menaiki tangga untuk menuju Taman Bahagia. Taman itu sudah dikunjungi beberapa orang. Ada beberapa pasang anak muda-mudi ada juga pasangan keluarga yang sengaja datang ke taman itu untuk sekedar makan-makan nasi timbel bersama keluarga.
Sensi memilih tempat yang agak jauh dari keramaian orang-orang. Sensi tidak tahu saja bahwa hari-hari biasa pengunjung memang tidak terlalu banyak seperti hari-hari libur atau tanggal merah.
Sensi duduk di bangku taman yang di depannya terhampar tanaman bunga yang sedang bermekaran. Hati yang sedih sedikit terhibur dengan melihat bunga-bunga yang bermekaran tersebut.
Sejenak Sensi termenung kembali mengingat potongan kejadian tadi saat latihan nyetir sampai dia dimarahi Rangka. Tidak dimarahi sebetulnya, Sensi hanya diberi peringatan oleh Rangka supaya lebih fokus dan survive saat nyetir mobil di jalanan. Namun, kejadian tadi seakan membuat hati Sensi lagi-lagi kecewa. Karena sekali dibentak Rangka, Sensi merasa sakitnya sampai ulu hati.
"Mas Rangka, kenapa Mas Rangka gampang banget memarahi aku? Padahal aku butuh dukungan bukan kemarahan." Sensi mendumel kecil seraya melempar rerumputan yang berhasil dia cabut kemudian dilempar jauh-jauh.
Untuk melepas bosan, Sensi membuka Hpnya kemudian menjelajah media sosialnya, facebook menjadi pilihannya yang pertama. Baru saja dibuka, beberapa notif sudah memenuhi berandanya. Juga permintaan pertemanan sudah antri meminta dikonfirmasi. Namun, Sensi tidak mudah memberikan konfirmasi pertemanan, dilhat saja jarang.
Tapi kali ini Sensi sangat penasaran, dia ingin melihat satu per satu orang yang meminta pertemanan padanya. Sudah hampir satu tahun yang lalu Sensi tidak pernah menggubris permintaan itu.
"Klik."
"Sensi mulai menjelajah siapa-siapa saja yang meminta pertemanan padanya. Semua kebanyakan pria, dan pria itu kebanyakan orang luar negara, lebih tepatnya negara India. Sensi sangat tidak minat menerima permintaan dari orang yang terkenal dengan sebutan Prindavan itu.
Seperti yang pernah sering dia dengar dari teman-temannya, kebanyakan laki-laki Prindavan yang meminta pertemanan ujung-ujungnya memperlihatkan 'senjatanya' ketika dia tiba-tiba menghubungi via vidio call. Oleh karena itu Sensi sama sekali tidak tertarik untuk menerima pertemanan lelaki Prindavan, meskipun pada realnya tidak semua seperti itu, sebab sejatinya Sensi akan ketakutan jika tanpa sengaja harus melihat senjata lelaki lain.
__ADS_1
Satu per satu permintaan pertemanan dari orang-orang itu dilihat dan sekiranya lelaki, tidak segan dia hapus. Scroll lagi ke bawah, masih yang mendominasi adalah permintaan dari orang-orang luar. Sensi tidak paham kenapa orang-orang itu meminta pertemanan pada orang-orang di luar negaranya.
Sebagian permintaan pertemanan itu sudah dirampingkan terutama dari kaum pria. Sensi sedikit lega. Lalu kini menscroll dari bawah ke atas melihat siapa-siapa lagi yang meminta pertemanan. Sensi tidak menghiraukan, dia justru sangat malas menerima banyak pertemanan, sehingga dia banyak melewatkan permintaan pertemanan meskipun itu diminta dari seorang perempuan.
"Sreetttt." Niat hati ingin menyudahi. Namun mata Sensi kembali diperlihatkan sebah nama yang kini tidak asing lagi di telinganya.
"Delana? Ada apa Mbak Delana ingin banget meminta pertemanan kepadaku?" Hati Sensi dilanda tanya yang membuatnya sangat penasaran. Lalu dengan rasa penasaran itu mengantarkan Sensi pada rasa ingin tahu, Sensi membuka profil Delana.
Di dindingnya baru saja bikin status yang isinya bikin geleng kepala.
"Yang penting duit banyak, cinta? Hanya dia yang masih saja ada di hatiku si "penyakitan". Tapi sayang dia sudah punya Satpam."
"Benakah Mbak Delana masih mencintai Mas Rangka, lalu ucapan dia yang menghina Mas Rangka saat itu apa maksudnya, sangat berbeda dengan status yang dibikinnya di dinding facebook." Hati Sensi menjadi sangat kalut setelah membaca status Delana tersebut.
Lalu dia segera menutup facebooknya dan keluar dari sana. Jantung Sensi tiba-tiba sangat cepat detakannya, dia tiba-tiba sangat takut kehilangan Rangka. Dia takut Rangka direbut kembali oleh Delana dengan alasan Glassy.
"Glassy, Bunda mohon jangan pernah berpaling dari Bunda jika suatu saat Glassy sudah memaafkan Mama Glassy. Bunda tidak akan sanggup hidup tanpa Glassy dan Papa Glassy," mohon Sensi dalam hati penuh kesungguhan.
Tiba-tiba air mata Sensi jatuh begitu deras, kesedihannya kali ini adalah ketakutan dia kehilangan Rangka, walaupun akhir-akhir ini Rangka sering marah dan emosi gara-gara dirinya yang tidak fokus dalam belajar nyetir mobil. Namun rasa cinta Sensi pada Papanya Glassy itu tidak pernah berkurang, meskipun sebagian orang lain mencibir bahwa cintanya pada Rangka hanya sebatas harta, dan semua itu Sensi patahkan. Dia benar-benar mencintai Rangka tulus.
__ADS_1
Sensi berdiri dari duduknya lalu melihat ke sekelilingnya. Masih saja ada pengunjung taman itu. Dan saat matanya menatap pada seseorang yang kebetulan melihat padanya, Sensi sejenak terpaku dan terkejut.
"Delana!" gumannya tidak percaya. Sensi ingin menghindar, akan tetapi Delana justru menghampiri Sensi.
"Heyyy, mau kemana kamu Ibu tiri anakku?" tegurnya mencegah langkah Sensi yang tadinya akan melangkah dari sana, dan teguran Delana barusan sungguh tidak enak didengarnya, begitu menusuk dan tidak patut untuk diucapkan oleh seorang ibu kandung kepada ibu sambung anaknya yang kini mengasuhnya dengan sepenuh hati.
Sensi terpaksa dian di tempatnya tadi, dia ingin tahu apa yang akan dilakukan mantan istri dari suaminya ini.
"Heyyyy, mau pergi kemana elu? Elu takut berhadapan sama gue?" tanyanya berani setelah jaraknya sudah dekat dengan Sensi.
"Tidak, saya tidak takut. Saya, hanya mau pergi saja dari tempat ini karena sudah terlalu lama di sini," sahut Sensi beralasan.
"Ha ha ha, bohong banget sih. Bilang saja tidak berani bertemu mantannya suami kamu yang sebetulnya kami masih saling cinta," gombal Delana percaya diri membuat Sensi tersulut emosi.
"Maaf, Mbak, jangan sampai terlalu percaya diri berlebihan, nanti lepas kendali dan Mbak bisa malu sendiri," tepis Sensi melawan. Delana terbelalak tidak percaya mendapatkan jawaban telak dari Sensi seperti itu.
"Gue bukan percaya diri, tapi gue berkata apa yang sebenarnya terjadi atara gue dan Papanya Glassy. Elu tidak perlu komen yang tidak-tidak, elu hanya sampah yang dipungut oleh Rangka dari perusahaanya. Padahal gue tahu elu sama saja, elu butuh duitnya Rangka saja, bukan?" tudingnya percaya diri.
"Tudingan Mbak salah besar, mbak salah dan saya menikah dengan suami saya atas dasar cinta. Dan saya menerima keadaan suami saya sepaket dengan penyakit dan Glassy. Jadi, please. Kalau Mbak tidak tahu, jangan sekali-kali berstatement berlebihan seperti itu. Mbak sudah bukan siapa-siapa Mas Rangka," ujar Sensi tidak gentar.
__ADS_1