
"Sayang, kenapa kamu berada di sini? Aku pikir kamu tidak jadi datang?" kaget Rangka seraya menatap lembut wajah Sensi. Kemarahan tadi terhadap Delana, kini terlupakan akibat kehadiran Sensi yang tiba-tiba muncul.
"Aku sudah sejak tadi berada di kantor kamu, Mas. Tapi aku menemui dulu Mbak Mira, Rima, dan tentu saja Kak Tari yang bawel itu," ujar Sensi menjelaskan. Rangka manggut-manggut seraya meraih lengan Sensi penuh kerinduan. Memang kehadiran Sensi, membuat Rangka tiba-tiba melupakan Delana yang sejak tadi menjad teman berdebatnya.
Delana yang merasa disisihkan nampak kesal, dia tiba-tiba menggebrak meja Rangka.
"Sialan, kalian sengaja memanas-manasi aku?" dengusnya disusul suara gebrakan meja yang kencang.
"Brakkkkk."
Rangka dan Sensi terkejut, lalu keduanya saling pandang dan secara bersamaan menoleh ke arah Delana yang menggebrak meja. Rangka terbelalak tidak percaya, meja dan ruangannya digebrak orang tiba-tiba. Orang yang tidak sama sekali ada kepentingan dengan perusahaannya. Yaitu Delana.
Dia datang ke kantor Rangka untuk meminta haknya sebagai Ibu yag telah melahirkan Glassy. Alih-alih meminta hak, kedatangan Delana justru makin memperkeruh keadaan. Rangka semakin tidak peduli dan kesal. Buat apa dia baru datang sekarang, tidak sejak dulu saja saat Glassy merengek-rengek memintanya pulang.
"Kurang ajar, kamu tidak ada hak menggebrak meja kerja aku, kamu bukan siapa-siapa di sini. Silahkan pergi, aku tidak butuh dirimu di sini. Aku juga tidak ingin lagi mendengar rengekanmu yang mengatakan bahwa kamu punya hak atas Glassy. Saat Glassy merengek-rengek meminta kamu untuk kembali apakah kamu kembali dan menginsyafi pengkhianatan kamu bersama laki-laki bajingan itu?" tandas Rangka marah besar, dia tidak suka lagi menatap muka Delana yang baginya sangat memuakkan.
"Rangka, jangan sampai kau membenci aku, sebab aku sudah bisa melahirkan anak untukmu. Glassy terlahir dari rahimku, kalau tidak ada aku, tidak mugnkin ada Glassy," tandas Delana balik menyerang.
"Silahkan pergi dari ruanganku, sesaat lagi aku harus menjumpai klien. Klienku lebih penting dari pada kamu," usir Rangka seraya melambai-lambai punggung tangannya ke arah Delana.
__ADS_1
Delana mendengus kesal, dia berani menatap tajam ke arah Sensi kemudian ke arah Rangka yang tiba-tiba terserang asma. Asma Rangka kambuh kembali.
Sensi segera bertindak, dengan sigap dia mendekati meja suaminya dan mencari inhaler di dalam laci itu. Beruntung Sensi dengan tidak susah payah langsung menemukan inhaler tersebut.
Rangka segera meraih inhaler di tangan Sensi dan kini mulai mengisapnya. Delana yang sejak tadi mengurungkan niatnya untuk melangkah, kini tersenyum puas melihat Rangka asmanya kumat di depan mukanya.
"Huhhhh, kamu lihat sendiri dia itu penyakitan. Bagaimana tidak malu memiliki suami sakit kaya gitu? Aku yakin suatu saat kamu pasti lambat laun akan meninggalkannya. Dan kamu Rangka, tunggu saja masanya di mana kamu akan mengalami terluka dua kali ditinggalkan istri, itu akibat ulahmu sendiri yang tidak mau membiarkan Glassy jalan denganku," cerocos Delana membuat hati Rangka memanas, begitu juga Sensi. Sebab dia tidak berniat sama sekali untuk meninggalkan Rangka terlebih dalam keadaan sakit.
Rangka mendongak dan mendekat ke arah Delana yang memancing terus emosinya. Namun dengan cepat Sensi sudah menghalau gerakan Rangka, Sensi takut Rangka memainkan tangannya untuk memberi pelajaran pada Delana yang sengaja ingin memantik api amarah di dalam diri Rangka.
"Pergi! Sebaiknya Mbak pergi dari ruangan suami saya. Camkan, ya Mbak, saya tidak pernah punya niat untuk meninggalkan suami saya kini ataupun nanti, sebab saya menerima Mas Rangka dari sejak awal sepaket dengan sakit dan anaknya. Jadi, jangan berikan pengaruh jahat terhadap suami saya bahwa saya suatu saat akan meninggalkannya. Mbak jahat! Beruntung, Mas Raka lepas dari Anda, sebab kalau tidak, maka seumur hidup Mas Rangka hanya akan dibuat makan hati oleh Anda," sungut Sensi geram, dia tidak terima atas tudingan jahat Delana.
"Sebelum Mbak pergi dari ruangan suami saya, saya harap camkan baik-baik kata-kta saya. Saya tidak akan pernah meninggalkan Mas Rangka dalam keadaan apapun, sebab saya sangat mencintainya. Jadi, jangan pernah mengharapkan lagi kehancuran rumah tangga suamiku, sebab aku sendirilah yang akan menjaga keutuhan rumah tangga ini," tegas Sensi membuat Rangka ternganga tidak percaya dengan keberanian Sensi berbicara lantang di depan Delana hanya demi membelanya.
Perlahan senyuman itu timbul di wajah Rangka seiring perginya Delana yang dengan kasar meninggalkan ruangan Rangka.
"Hati-hati Mbak pulangnya, tahu jalan, bukan?" teriak Sensi dengan nada mengejek.
Sementara itu, Delana yang mendengar teriakan Sensi, dia begitu marah dan sakit hati, lalu dengan emosinya keranjang sampah yang berada dekat pintu ditendangnya dengan kasar sehingga berhamburan ke mana-mana sampah di dalamnya.
__ADS_1
"Bu Delana, apa yang Anda lakukan?" Koral yang melihat sangat heran dengan kelakuan Delana yang mengotori ruangan itu dengan sampah yang ada di dalam keranjang.
"Pak Satpam, tolong ada orang nyasar masuk kantor Bos kita, usir dia!" lapor Koral melalui saluran telepon yang ditujukan ke pos satpam.
"Heh, Koral apa-apaan? Apa yang kamu lakukan, apakah kamu tidak kenal aku? Sialan," umpatnya seraya bergegas dengan mata yang menatap tajam ke arah Koral penuh amarah.
Tidak berapa lama, satpam yang dipanggil Koral datang dan mencari orang nyasar yang dilaporkan Koral tadi.
"Di mana orang nyasarnya, Bu Koral?" tanya Pak Saga salah satu Satpam tersangar di perusahaan Kertassindo Gemilang.
"Nah itu dia, Pak. Usir saja, jangan sampai dia bikin ulah di parkiran. Awasi dia, saya takut dia mencelakai mobil atau motor karyawan sini terutama mobil milik Bos kita," lapor Koral seraya jarinya menunjuk ke arah Delana pergi.
Pak Saga sebagai Satpam tersangar di perusahaan Kertassindo Gemilang, segera bertindak cepat dan mengamankan lingkungan parkiran dan sekitarnya oleh ulah jail Delana yang ditakutkan akan terjadi akibat pengusiran yang dilakukan Koral.
Seperginya Delana dari ruangannya, Rangka diajak duduk di atas sofa. Kemudian Sensi membuka air mineral untuk Rangka setelah Rangka terlihat tenang setelah tadi asmanya kumat lagi.
"Mas, minumlah dulu air putihnya." Sensi berusaha menjadi istri yang sangat perhatian dan sayang dengan Rangka. Nyatanya dia memang sayang dan cinta sama Rangka apa adanya dan sebesar yang tidak terhingga sehingga suit dijabarkan.
"Mas Rangka, alangkah lebih baiknya Mas Rangka masuk ruangan pribadi Mas Rangka saja. Mas harus istirahatkkan dulu pikiran Mas Rangka yang tegang barusan," usul Sensi seraya memegangi lengan Rangka bermaksud memapahnya. Rangka akhirnya setuju, dia mengangguk dan mau beristirahat dulu di kamar pribadinya untuk menenangkan ketegangannya tadi akibat ulah Delana.
__ADS_1