
Sesampainya di rumah sakit, para Dokter langsung membantu L yang sedang meminta tolong kepada mereka.
Melihat jika istri dari putra sulung Keluarga Damara akan segera melahirkan, para tim medis langsung membawa Alva masuk ke dalam ruang bersalin yang ada di rumah sakit tersebut.
Mama Ana dan L terus mengikuti langkah kaki para tim medis yang sedang membawa Alva masuk ke dalam ruang persalinan.
" Ayo Tuan L, anda boleh masuk ke dalam ",, kata sang Dokter kepada L.
L langsung saja masuk dan meninggalkan Mama Ana sendirian di situ dalam keadaan cemas sekali.
Walau cemas, Mama Ana masih bisa menelpon sang besan dan mengabarkan kepada mereka, jika Alva akan segera melahirkan saat ini.
Kebetulan Ayah Ivar sedang berada di rumah, dan saat ini Ayah Ivar sedang membaca surat kabar di ruang tamu, sedangkan Mama Agnes sedang berada di dapur untuk membuat camilan.
Mendengar telepon berbunyi, Mama Agnes berteriak kepada Ayah Ivar untuk mengangkatnya sebentar.
" Ayah,!! tolong angkat dulu teleponnya, tangan Mama sedang kotor ",, teriak Mama Agnes dari dalam dapur.
Ayah Ivar langsung menaruh surat kabar yang dibacanya, untuk berjalan ke arah ruang Keluarga.
Sesampainya di ruang Keluarga, Ayah Ivar langsung mengangkat telepon rumah yang sedang berdering.
" Halo, dengan kediaman Ivar Roderick di sini, dengan siapa saya berbicara?? ",, kata Ayah Ivar.
" Halo Tuan Ivar, saya Mama Ana, Mamanya si L, mertuanya Alva ",, jawab Mama Ana dengan sangat lengkap sekali.
" Oh Nyonya Ana, ada apa ya,? apa ada yang bisa saya bantu?? ",, tanya Ayah Ivar.
" Alva saat ini sudah mau melahirkan Tuan, bahkan saat ini saya sedang menunggunya di depan ruang bersalin ",, jawab Mama Ana.
" Apaaa!! ",, teriak Ayah Ivar terkejut.
" Buset dah, pecah tidak nih gendang telingaku?? ",, kata Mama Ana sambil mengorek telinganya.
Ternyata ucapan Mama Ana didengar jelas oleh Ayah Ivar, hingga membuat Ayah Ivar merasa malu kepadanya.
" Eh, maaf Nyonya, saya refleks karena terkejut ",, kata Ayah Ivar.
" Iya tidak apa-apa ",, jawab Mama Ana.
" Kami akan segera datang ke sana Nyonya, tolong jaga Alva untuk kami ",, kata Ayah Ivar.
" Iya pasti itu ",, jawab Mama Ana lagi, dan setelahnya, sambungan telepon mereka terputus juga.
" Tanpa anda suruh, pasti saya akan menjaga Alva!! ",, gerutu Mama Ana.
Sedangkan Ayah Ivar langsung bergegas berlari menuju ke arah dapur.
" Mama ",, teriak Ayah Ivar.
" Ada apa sih Ayah teriak-teriak daritadi?? ",, tanya Mama Agnes.
" Alva, Ma, Alva ",, jawab Ayah Ivar.
Mendengar nama sang anak, Mama Agnes langsung merasa sangat khawatir sekali.
__ADS_1
" Alva kenapa Ayah,? cepat katakan!! ",, kata Mama Agnes merasa khawatir.
" Alva sudah mau melahirkan saat ini Ma, ayo kita segera pergi ke London, dan masakan Mama, biar diteruskan sama Bibi ",, jawab Ayah Ivar.
" Apa,!! mau melahirkan?? ",, kata Mama Agnes, dan Ayah Ivar langsung mengangguk.
" Ayah segera hubungi Pietro, bilang kita mau pinjam pesawatnya, Mama mau bersiap-siap dulu ",, kata Mama Agnes lagi.
Mama Agnes lalu mencuci tangan, dan setelahnya, langsung berlalu menuju ke dalam kamarnya. Sedangkan Ayah Ivar langsung menghubungi Ayah Ito, untuk meminjam pesawat jetnya, untuk dia pakai pergi ke London.
Sedangkan beralih ke London lagi, lebih tepatnya di ruang persalinan.
Semua peralatan untuk menunjang persalinan Alva, sudah disiapkan semua oleh para tim medis.
Dua Dokter Kandungan yang berjaga, juga sudah siap akan membantu Alva untuk segera melahirkan.
" Nyonya Alva, anda cuma cukup mengikuti instruksi dari saya, karena ketuban anda sudah pecah, kami harus segera mengeluarkan baby anda ",, kata seorang Dokter.
Alva hanya mengangguk saja tanpa mau menjawab sama sekali ucapan sang Dokter.
Sebelum membantu melakukan persalinan, sang Dokter berdoa terlebih dahulu, karena jika kenapa-kenapa dengan Alva, dia bisa diteror sama Keluarga Damara.
Sang Dokter, akhirnya mulai melakukan aba-aba dan pengarahan kepada Alva, supaya bisa melahirkan baby pertamanya dengan lancar.
" Ayo Nyonya, tarik nafas dan dorong lebih kuat lagi ",, ucap sang Dokter.
Alva langsung mendorong sang baby lebih kuat lagi, sesuai arahan dari Dokter.
" Ayo Nyonya, terus, sudah mulai terlihat kepalanya ",, kata Dokter itu lagi.
Sekuat tenaga dan seluruh tenaga yang Alva punya, sudah dia kerahkan semua, hingga akhirnya, terdengarlah suara tangisan seorang bayi laki-laki yang menggema di dalam ruang bersalin.
Mama Ana yang ada di luar, langsung menangis terharu mendengar suara tangisan seorang baby, karena itu artinya, cucunya sudah lahir ke dunia dengan selamat.
" Laki-laki, Tuan, baby boy ",, kata sang Dokter kepada L.
Ada rasa bangga, L bisa mempunyai anak pertama seorang laki-laki, seperti harapannya dan harapan sang Papa. Walau yang lahir anak perempuan, juga tidak masalah bagi mereka.
" Anakku ",, kata L sambil tersenyum terharu.
Baby boy tadi langsung dibersihkan dan ditangani oleh para asisten Dokter yang bertugas.
Sedangkan sang Dokter sendiri, langsung memberikan penangan pertama kepada Alva pasca persalinan.
" Mami, aku bahagia, aku bahagiaaaa ",, kata L.
L langsung mencium kening Alva dengan sangat mesra sekali, dan tidak mempedulikan para tim medis yang sedang memperhatikannya.
Air mata L mengalir, ketika dia sudah diperlihatkan dengan jelas dan disuruh mencoba menggendong langsung baby boynya tersebut.
" My boy ",, kata L.
Untuk pertama kalinya, dan sangat takut dengan tulangnya yang masih lentur, akhirnya L berani menggendong putra pertamanya untuk skin to skin dengan kulit dadanya.
L tertawa geli, ketika sang baby seperti sedang mencari put1n9 dadanya.
__ADS_1
" Sepertinya kamu haus ya boy ",, kata L.
Sedang asik menikmati waktu berduanya dengan sang baby, tiba-tiba L di dekati lagi oleh salah seorang suster.
" Permisi Tuan L, si boy, saya ambil dulu ya, mau kami pindahkan ke ruang perawatan biasa ",, kata sang suster.
" Oh silahkan suster ",, jawab L.
Suster tadi lalu mengambil baby boy tersebut untuk dia pindahkan ke dalam box baby. Setelah itu, ranjang pasien Alva dan si baby boy di pindahkan ke ruang perawatan terbaik yang ada di rumah sakit tersebut.
Mama Ana yang melihat pintu ruang bersalin sudah terbuka dari dalam, dia langsung sangat excited sekali, dan melihat Alva masih lemas, karena baru saja melahirkan.
" Alva ",, kata Mama Ana.
Alva hanya tersenyum saja ketika disapa oleh sang Mama mertua.
" L, bagaimana?? ",, tanya Mama Ana beralih kepada L.
" Puji Tuhan, semuanya berjalan lancar Ma, dan cucu Mama laki-laki ",, jawab L sambil tersenyum senang.
" Aaaaa, laki-laki, pasti Papa senang sekali ",, kata Mama Ana merasa sangat bahagia.
" Iya ",, jawab L. Hingga tanpa mereka sadari, langkah kaki mereka sudah menuntunnya ke ruang perawatan super mewah yang L minta.
Sepeninggal dari para tim medis, Mama Ana langsung mencoba menggendong cucu boy nya itu.
" Gemasnya, lucu sekali, siapa namanya ini?? ",, kata Mama Ana sambil menimang sang cucu.
" Marcello Bence Thrishaan Damara, yang berarti seorang pemimpin yang kuat yang bisa selalu menaklukkan semuanya ",, jawab L.
" Nama panggilannya saja, Mama sudah tidak bisa menghafalkan nama sepanjang itu ",, kata Mama Ana dan membuat L langsung tertawa.
" Marcello atau Thrishaan, Mama mau manggil yang mana?? ",, jawab L.
" Thrishaan saja, karena dia kan cucu ke tiganya Mama dan Papa ",, jawab Mama Ana.
" Baiklah, berarti nama panggilannya Thrishaan ",, kata L
" Nah begitu, jelas, padat dan merayap ",, kata Mama Ana sambil menahan rasa gemasnya untuk sang cucu.
" Memang, Mama kira kita sedang berada di kemacetan ",, kata L dan Mama Ana langsung tertawa.
Alva yang melihat Mama Ana sangat senang dengan Thrishaan, dia pun ikut tertawa pelan juga.
Alva tidak menyangka, apa yang tidak dia harapkan di hidupnya, malah menjadi cinta sejatinya saat ini. Dan apa yang diharapkannya, malah pergi entah ke mana.
Itulah kehidupan, yang tidak ada seorang pun bisa menebaknya, karena apa yang terbaik untuk kita, belum tentu menurut Tuhan itu yang cocok untuk kehidupan kita.
Lengkap sudah kebahagiaan L dan Alva saat ini dengan kelahiran baby Thrishaan di tengah-tengah mereka.
...TAMAT...
...⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️...
Apakah mau bonchap??🤭
__ADS_1
Komen dong di bawah 😁