Oh, MY WIFE

Oh, MY WIFE
KEPERGIAN CHAN


__ADS_3

Si Alva sedang sibuk dengan hatinya, begitupula dengan si Chan.


Chan yang sudah masuk ke dalam kamarnya, dia cuma bisa berdiri didekat jendela, memasukkan ke dua tangannya di saku celananya, dengan mata yang terus menatap ke depan.


Entah apa yang dipandang oleh Chan, tapi dia sepertinya sedang melamunkan sesuatu.


" Aku laki-laki bodoh!! ",, kata batin Chan.


" Aku seperti sudah menjual Alva demi uang!! ",, kata Chan lagi.


" Andai aku bisa melawan dan memilih memperjuangkan Alva, dan menghadapi Tuan L bersama-sama dengan Alva, pasti semua ini tidak akan terjadi ",, kata Chan lagi.


" Sekarang aku menyesal ",, kata Chan masih di dalam hatinya.


" Untuk apa uang yang banyak, jika hati ini tidak bahagia ",, masih berkata di dalam hati.


" Semuanya sekarang sudah terlambat, Alva sudah menjadi milik laki-laki lain, dan aku cuma bisa meratapi kesedihanku ",, kata Chan.


Chan benar-benar merasa bersedih dan menyesal sekali, rasa penyesalannya teramat besar di dalam hatinya kepada Alva, dan Chan rasanya sangat malu menunjukkan wajahnya lagi di depan Alva.


Tidak sepenuhnya salah Chan jika dia lebih mementingkan perusahaannya, karena jika dia masih memilih Alva, yang akan terluka karena kekuasaan L Damara bukanlah dirinya saja, melainkan semua Keluarganya.


Sungguh posisi yang sangat sulit sekali bagi Chan dan Alva, tapi sekarang mereka sudah memilih jalannya masing-masing, yang harus mereka lakukan sekarang memperbaiki keadaan dan menata hati supaya tidak semakin terpuruk lagi.


" Sepertinya aku harus pergi menjauh untuk sesaat, karena jika aku berada di sini terus, rasanya hatiku semakin sesak ",, kata Chan berbicara sendiri.


Chan lalu mulai mengemas semua barang-barangnya, entah ke mana Chan akan pergi, intinya dia tidak mau berada di Moldova untuk sementara waktu.


Setelah mengemas semua barang-barangnya, Chan mulai memesan tiket penerbangan pada malam itu juga.


Di saat Chan sedang sibuk dengan ponselnya, tiba-tiba dia mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya.


" Iya ",, jawab Chan.


Chan sambil memainkan ponselnya, dia berjalan ke arah pintu kamarnya yang ternyata ada Ansel.


" Ada apa Ansel?? ",, tanya Chan kepada sang adik.


Ansel dapat melihat sendiri ada kesedihan yang mendalam di mata sang Kakak.


" Kakak dipanggil Mama sama Papa untuk makan malam bersama ",, kata Ansel.


" Iya baiklah, kamu duluan saja, nanti Kakak menyusul ",, jawab Chan.


" Baiklah ",, jawab Ansel.


Ansel langsung berlalu menuju ke ruang makan lagi untuk bergabung dengan yang lainnya.


" Kakak kamu mana Ansel,?? apa dia tidak mau makan malam bersama kita?? ",, tanya Mama Linn.


" Nanti katanya mau menyusul Ma ",, jawab Ansel.


Tidak lama, Chan pun datang juga dan langsung duduk di kursi yang biasa dia duduki.


" Ma, Pa, nanti malam jam sebelas, Chan ingin pergi ke luar Negeri ",, kata Chan dengan tiba-tiba kepada semua Keluarganya.


Sejenak pergerakan dari semua orang langsung terhenti, ketika mendengar perkataan dari Chan.

__ADS_1


" Kamu mau pergi ke mana Chan?? ",, tanya Papa Agler.


" Ke suatu tempat ",, jawab Chan kepada sang Papa.


" Chan ingin menenangkan diri terlebih dahulu Pa, sampai hati ini merasa lega untuk menerima semuanya ",, kata Chan lagi.


Mau tidak mau, semua Keluarga terpaksa menyetujui keinginan dari Chan, sebab mereka sangat tahu sekali bagaimana perasaan Chan sekarang.


" Jika itu jalan yang terbaik, pergilah Nak, raihlah kebahagiaan kamu, dan Nenek harap jika kamu kembali ke sini lagi, sudah tidak ada beban lagi di dalam hatimu ",, kata Mama Hanna kepada Chan.


" Iya Nek, terimakasih Nenek sudah mengerti Chan ",, jawab Chan.


" Apakah kamu akan pergi lama Chan dari kehidupan kami?? ",, tanya Mama Linn.


" Tidak tau Ma, maafkan Chan ",, jawab Chan.


Air mata Mama Linn tidak bisa dibendung lagi, dan meneteslah membasahi wajahnya yang sudah mulai tua.


Mama Linn yang tidak tahan, dia memilih berlalu pergi dari ruang makan menuju ke dalam kamarnya.


Keadaan menjadi sedikit tegang ketika Mama Linn pergi dari ruang makan dalam keadaan sedang menangis.


" Biar Chan saja Papa, yang menenangkan Mama, Papa makanlah bersama yang lain ",, kata Chan ketika sang Papa ingin menyusul Mama Linn.


Papa Agler hanya mengangguk saja dan membiarkan Chan yang menyusul sang istri.


Chan langsung berlalu menuju ke dalam kamar sang Mama, untuk berbicara kepada wanita yang sudah melahirkannya itu.


" Ma, Chan masuk ya?? ",, kata Chan sambil membuka pintu kamar.


Perlahan Chan berjalan mendekati sang Mama, dan dia langsung bersimpu di kaki Mama Linn.


" Maafkan Chan, Ma, maafkan Chan ",, kata Chan sambil menangis.


" Bukan maksud Chan ingin meninggalkan Mama, dan yang lainnya, hanya saja hati ini sangat sakit sekali jika masih ada di Negara ini ",, kata Chan lagi.


Tanpa sadar Chan menangis terisak di pangkuan sang Mama, dan Mama Linn yang melihat sang putra sulung sedang sangat terpukul seperti itu, dia hanya bisa mengusap lembut rambut kepala Chan.


" Hati Chan sakit Ma, rasanya Chan menyesal sudah menyuruh Alva menikah dengan laki-laki lain ",, kata Chan sambil terisak.


" Ingin rasanya Chan memutar waktu dan melawan Tuan L Damara, tapi semuanya sudah tidak mungkin ",, kata Chan lagi.


" Alva sudah menjadi milik laki-laki lain, dan sekarang sudah tidak ada kesempatan lagi bagi Chan ",, kata Chan, dan suara tangisannya terdengar semakin menyayat hati.


" Ternyata selama ini Chan sangat mencintai Alva, akan tetapi rasa cinta itu tertutup dengan persahabatan yang selama ini kita jalani ",, kata Chan lagi.


" Maafkan Chan, Ma ",, kata Chan kepada sang Mama.


" Maafkan Mama Nak ",, jawab Mama Linn.


" Mama yang egois kepadamu ",, kata Mama Linn sambil menangis juga.


" Pergilah Nak, Mama mengijinkanmu ",, kata Mama Linn lagi.


" Raihlah kebahagiaanmu dan Mama berdoa semoga di luar sana kamu bisa menemukan pengganti Alva yang bisa menyembuhkan luka di hati kamu ",, kata Mama Linn kepada Chan.


" Terimakasih Ma ",, jawab Chan.

__ADS_1


" Jangan menangis lagi ya setelah ini, berjanjilah kepada Mama ",, kata Mama Linn.


" Iya Ma, Chan berjanji ",, jawab Chan sambil mencoba tersenyum.


" Kalau begitu, ayo kita ke luar dan ikut makan malam bersama mereka ",, ajak Mama Linn kepada Chan.


Chan hanya menangguk dan tersenyum saja, namun ketika mereka ingin berjalan ke arah pintu, tiba-tiba pandangan mereka berdua dikejutkan oleh kedatangan dari Papa Agler.


Papa Agler sebenarnya sudah berada di depan kamar dan mendengar semua yang Chan katakan kepada Mama Linn.


Bahkan Papa Agler juga sampai meneteskan air matanya melihat sang putra sulung menangis terisak, karena tidak bisa mendapatkan wanita yang sangat dicintainya.


" Papa ",, kata Chan dan Mama Linn secara bersama-sama.


Papa Agler tanpa banyak berbicara, dia langsung memeluk Chan dengan sangat erat sekali.


" Pergilah Nak, Papa juga tidak akan melarang kamu pergi jika di luar sana ada kebahagiaan kamu, pasti akan Papa ijinkan, asal kamu bahagia ",, kata Papa Agler lagi.


" Sekarang katakan kepada Papa, kamu ingin pergi ke mana Chan, apa kamu juga tidak mau memberitahukannya kepada Mama dan Papa?? ",, tanya Papa Agler.


" Chan ingin berlibur ke Indonesia Pa, sampai hati ini merasa tenang ",, jawab Chan.


" Nanti kami akan mengantar kamu ke Bandara ",, kata Papa Agler.


" Pa, Ma, berjanjilah kepada Chan, jangan memberitahukan kepergian Chan kepada siapapun, terutama kepada Alva, karena Chan ingin memulai hidup yang baru tanpa ada bayang-bayang Alva lagi ",, kata Chan kepada ke dua orang tuanya.


" Baiklah, kami berjanji Nak ",, jawab Mama Linn sambil tersenyum.


Mereka lalu berpelukan satu kali lagi sebagai Keluarga yang bahagia, walau saat ini ada beban yang menumpuk di dalam dada.


Akhirnya, tibalah saatnya Chan pergi juga, saat ini semua Keluarga Hartigan sedang mengantarkan Chan di Bandara.


Dan ketika suara pemberitahuan oleh petugas Bandara, jika pesawat tujuan Indonesia akan lepas landas, mereka semua memeluk Chan secara bergantian.


" Kak, jangan lupakan Ansel, Ansel pasti akan sangat rindu dengan Kakak ",, kata Ansel kepada Chan.


Ansel yang petakilan sekarang tidak ada, yang ada Ansel yang sedang bersedih.


" Kakak tidak akan pernah melupakan kamu Ansel, kamu adik Kakak satu-satunya, dan maukah kamu berjanji Ansel kepada Kakak?? ",, kata Chan kepada Ansel.


" Iya Kak, janji apa?? ",, tanya Ansel.


" Sekarang bantulah Papa dan Kakek mengurus Perusahaan, hanya kamu sekarang harapan mereka, karena Kakak tidak tahu kapan akan kembali ke sini lagi, jika bukan kamu yang membantu mereka, siapa lagi Ansel?? ",, kata Chan.


" Jadilah laki-laki yang dewasa, jangan seperti anak kecil terus, jika kamu mencintai Aluisa, buktikan jika kamu pantas mendapatkannya, buktikan jika kamu bisa membuat dia bahagia jika Aluisa hidup bersamamu, berjanjilah untuk merubah hidup kamu menjadi lebih baik lagi, karena ketika Kakak pulang nanti, Kakak ingin melihat Ansel yang sukses dan berjaya ",, kata Chan lagi.


" Kakak benar, Ansel berjanji kepada Kakak, dan Ansel akan membuktikan jika Ansel bisa seperti yang Kakak inginkan ",, jawab Ansel dengan mantap.


Akhirnya, berpisahlah mereka semua dengan Chan untuk waktu yang belum bisa ditentukan.


Dan dari kisah sang Kakak, Ansel bisa mengambil banyak pelajaran, karena sang Kakak yang sudah sukses, mapan serta dewasa saja bisa ditinggal menikah oleh Alva, apalagi dirinya yang masih petakilan.


Ansel bertekad ingin menjadi laki-laki yang hebat, supaya jika suatu saat ada masalah yang menimpa dirinya sama seperti masalah sang Kakak, setidaknya Ansel sudah mempunyai bekal untuk menghadapinya sekuat tenaga.


...⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️...


...***TBC***...

__ADS_1


__ADS_2