Oh, MY WIFE

Oh, MY WIFE
ANCAMAN SI L


__ADS_3

Setelah saling pandang cukup lama, akhirnya Chan pun membuka suaranya, sebab setelah dia amati terus wajah L, Chan seperti mengenal L akan tetapi dia lupa siapa.


" Maaf Tuan, jika boleh tahu anda siapa ya,? dan ada keperluan apa anda datang ke sini?? ",, tanya Chan akhirnya kepada L.


L belum mau menjawab, dia tersenyum miring, sambil menyilangkan salah satu kakinya ke kaki yang satunya.


" Perkenalkan Tuan, nama saya Luis Damara, atau biasa dikenal dengan L Damara, Chan Hartigan ",, jawab L kepada Chan.


Mata Chan cukup terbelalak ketika mendengar laki-laki yang sedang duduk di depannya ternyata orang yang sangat berpengaruh di dunia bisnis.


" Anda L Damara Tuan,?? itu artinya anda anak dari Tuan Alex Damara?? ",, tanya Chan.


" Benar sekali, dan sepertinya anda sudah cukup mengenal Papa saya ",, jawab L sambil menurunkan kakinya.


" Kami tidak mengenal, hanya saja saya sering melihat foto Tuan Alex diberbagai media bisnis ",, jawab Chan.


" Lalu untuk apa anda datang ke sini Tuan L?? ",, tanya Chan kepada L.


" Saya ingin anda meninggalkan Alva sekarang juga!! ",, kata L to the point.


Wajah Chan kali ini benar-benar sangat terkejut sekali, sebab Chan tidak menyangka jika L bisa mengenal Alva, wanita yang sebentar lagi akan dia jadikan istri.


" Karena anda sudah merebut dia dari saya!! ",, kata L lagi.


Sebagai laki-laki yang tidak mau jika harga dirinya di rendahkan, Chan pun tentu saja tidak terima ketika L berkata seperti itu kepadanya.


" Apa maksud dari perkataan anda Tuan ",, jawab Chan, dan wajah Chan terlihat tidak seramah tadi.


" Kami saling mencintai, dan saya pun juga tidak bakal melepaskan Alva untuk anda, memangnya anda siapanya Alva!! ",, kata Chan lagi.


" Anda tidak perlu tahu siapa saya bagi Alva, karena yang saya inginkan cuma anda melepaskan dia sekarang juga!! ",, kata L lagi.


" Atau........ ",, kata L sengaja menjedanya.


" Atau apa,?? apa anda akan menghancurkan Perusahaan saya!! ",, jawab Chan dengan sangat berani sekali.


L pun menyeringai mendengar Chan seperti tidak takut sama sekali dengannya.


" Sepertinya anda sudah tahu apa yang ada di dalam pikiran saya Tuan Chan Hartigan ",, kata L dengan santai sekali.


" Saya tidak akan melepaskan Alva sama sekali, karena saya begitu sangat mencintainya!! ",, jawab kekeh dari Chan kepada L.


" Bagaimana anda bisa menghidupi Alva, jika anda sendiri tidak mempunyai uang Tuan Chan?? ",, tanya L kepada Chan.


" Sampai kapan pun saya tidak akan melepaskannya, dan silahkan anda pergi dari sini sekarang juga!! ",, marah Chan kepada L.


" Pikirkanlah Tuan Chan, sebelum saya benar-benar melakukan apa yang tadi saya katakan ",, jawab L sambil berdiri dari duduknya.


Sebelum berlalu ke luar dari dalam apartemen milik Chan, L pun mengatakan sekali lagi kepada Chan.


" Saya beri anda waktu tiga hari dari sekarang, jika anda tidak melakukan apa yang saya minta, kita lihat saja ke depannya, tidak cuma anda saja yang hancur, tapi semua Keluarga anda, ingat itu!! ",, kata L kepada Chan.


Setelah itu, L langsung berlalu pergi dari hadapan Chan tanpa mau mendengarkan apa yang akan Chan katakan dulu kepadanya.


L langsung saja menuju ke dalam mobilnya, dan ketika dia sudah masuk ke dalam mobil, L menyuruh Saddam untuk mengantarkannya ke hotel tempatnya menginap.


Apapun yang L lakukan, Papa Alex mengetahui semuanya, karena dia selalu mempunyai mata-mata yang akan terus mengawasi semua kegiatan anak-anaknya, terutama si L yang saat ini masih belum baikan dengannya maupun Mama Ana.


Sedangkan Chan setelah kepergian dari L, dia langsung duduk kembali di sofa ruang tamunya, sambil memikirkan sesuatu.


Sedang asik berpikir, tiba-tiba lamunannya buyar ketika ponsel miliknya bergetar dan juga berdering.


Melihat nama Alva, antara ingin mengangkat atau tidak, namun akhirnya Chan pun mengangkat juga sambungan telepon dari Alva.


" Halo Chan, lama sekali kamu mengangkat teleponnya?? ",, kata Alva di seberang sana.


" Maaf Alva, tadi aku sedang berada di dalam kamar mandi ",, jawab Chan berbohong.


" Oh, emm kita jadi menonton ke bioskop tidak Chan?? ",, tanya Alva kepada Chan.


" Tentu saja jadi sayang, akan aku jemput setengah jam lagi, tunggu aku ya ",, jawab Chan.


" Ok, hati-hati ya di jalan Chan ",, kata Alva.


" Iya ",, jawab singkat dari Chan, dan lalu sambungan telepon mereka terputus.


Chan yang sudah mematikan sambungan telepon dari Alva, dia lalu beranjak menuju ke dalam kamarnya untuk berganti baju.


Pikiran Chan menjadi tidak konsen sama sekali karena kedatangan L tadi ke apartemennya.


Apa yang Chan lakukan, selalu membuatnya teringat dengan ancaman yang L berikan kepadanya.


Hingga tanpa Chan sadari, dia tahu-tahu sudah sampai di rumah Ayah Ivar.

__ADS_1


Alva sendiri sudah menunggu Chan di teras depan rumahnya, jadi ketika Chan sudah sampai Alva langsung saja masuk ke dalam mobil si Chan.


Selama perjalanan menuju ke bioskop, Chan yang masih sering melamun, dia terkadang sampai tidak merespon atau nyambung ketika diajak berbicara oleh Alva.


" Chan,!! apa kamu mendengarkanku daritadi?? ",, kata Alva kepada Chan.


" Eh, iya Alva, ada apa?? ",, jawab Chan.


Alva hanya menghela nafasnya melihat Chan ternyata tidak mendengarkannya berbicara.


" Apakah kamu sedang banyak pekerjaan,?? karena sepertinya kamu sedang banyak yang dipikirkan ",, kata Alva kepada Chan.


" Iya, aku memang lagi memikirkan banyak hal sayang, jadi maafkan aku jika daritadi tidak meresponmu ",, jawab Chan berbohong, dan Chan tidak mau jujur kepada Alva.


" Iya baiklah, apa kita pulang saja Chan, atau pekerjaan apa yang bisa aku bantu, siapa tahu aku bisa membantumu ",, jawab Alva.


" Tidak perlu, mungkin dengan ini, aku bisa sedikit rileks ",, jawab Chan sambil tersenyum.


" Terserah kamu saja ",, jawab Alva.


Chan hanya tersenyum sambil mengusap lembut rambut kepala Alva, dan tidak lama mobil yang mereka naiki sampai juga di salah satu bioskop yang terkenal yang ada di kota mereka.


Mobil yang sudah terparkir dengan sempurna, membuat Alva dan Chan langsung saja ke luar dari dalam mobil.


Chan dan Alva berjalan bergandengan tangan dengan mesra untuk masuk ke dalam bioskop, dan apa yang Chan serta Alva lakukan, L bisa mengetahuinya semua.


" Kalian terus awasi mereka, jangan sampai kecolongan, mengerti,!! karena saya tidak mau mendengar kata gagal!! ",, perintah L kepada anak buahnya.


" Baik Tuan L ",, jawab dari sang anak buah.


Chan dan Alva lalu memilih film yang akan mereka tonton, dan ketika sudah masuk ke dalam bioskopnya pun, mata Chan memang terlihat memandang ke layar yang ada di depannya, namun pikirannya tidak tertuju ke film tersebut.


Sungguh benar-benar, Keluarga Damara sangat pandai sekali membuat mood seseorang menjadi kacau.


Setelah pulang dari bioskop, sikap Chan masih belum ada perubahan, dia masih terus memikirkan perkataan dari L kemarin.


Bekerja pun tidak bisa menjadi maksimal, bahkan tidurpun menjadi tidak bisa nyenyak, hingga tidak terasa tiga hari telah berlalu dari waktu yang sudah L tentukan.


Hari ke empat, ketika Chan sedang bekerja, tiba-tiba ada yang mengetuk pintunya, dan ketika dia sudah menyuruh masuk, ternyata yang masuk adalah sekretarisnya untuk mengantarkan seseorang yang sudah mengacaukan hidupnya beberapa hari belakangan ini, siapa lagi jika bukan L Damara.


Mata Chan langsung melotot dengan sangat lebar sekali, melihat kedatangan tamu yang tidak terduga dan tidak dia inginkan.


" Untuk apa anda datang ke Perusahaan saya!! ",, bukan sambutan yang ramah dari Chan untuk L.


" Cukup bagus Perusahaannya, bisalah saya ambil alih dalam waktu dekat ini ",, kata L langsung duduk di sofa yang ada di situ.


" Anda jangan sembarangan berbicara Tuan L!! ",, kata Chan tidak terima.


" Saya tidak pernah main-main dengan semua apa yang sudah saya ucapkan!! ",, jawab tenang dari L, namun terdengar penuh dengan tekanan dan juga ancaman.


" Anda sudah saya beri waktu selama tiga hari, akan tetapi anda tidak melaksanakannya untuk meninggalkan Alva, malah kalian terlihat semakin dekat, jadi ....... ",, kata L mendeja perkataannya sambil berdiri dari duduknya.


" Anda harus menerima konsekuensinya, camkan itu baik-baik!! ",, kata L lagi.


" Ayo Saddam, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan ",, kata L kepada Saddam.


" Tahu Tuan L, segera akan saya kerjakan ",, jawab Saddam.


Dan Saddam bersama L langsung berlalu pergi dari hadapan Chan, setelah berhasil mengancam lagi untuk ke dua kalinya.


" Aaaaaarrrgghhhh!! ",, marah Chan karena dia tidak bisa melawan L.


Pikiran Chan semakin kalut saja, dan dia bingung harus meminta tolong kepada siapa.


Sedangkan kita bergeser sejenak kepada Alva.


Alva sendiri sudah merasa was-was dengan tanggal datang bulannya.


Hati dia tidak bisa merasa tenang sama sekali, karena Alva takut jika dia akan telat datang bulan.


Ketika tanggal yang harusnya dia datang bulan, belum ke luar juga tamu bulannya, semakin kepikiran saja si Alva, hingga sudah terlewat lima hari lamanya.


" Apakah aku hamil,?? kenapa aku belum datang bulan juga sampai sekarang?? ",, kata Alva berbicara sendiri.


Alva pun juga sudah mencoba mengetesnya menggunakan testpack, namun hasilnya negatif.


Walau hasilnya negatif, akan tetapi Alva masih belum merasa tenang, karena itu bisa berubah sewaktu-waktu.


Namun, ketika Alva mencoba beristirahat siang, dan di saat dia ingin bangun dan mandi sore, dia merasa aneh di perutnya, dan saat di cek oleh Alva, ternyata dia mendapatkan tamu bulannya.


Sungguh Alva benar-benar merasa sangat senang sekali, dan wajahnya tidak terlihat sepucat tadi.


Alva yang mendapatkan tamu bulanannya, dia langsung saja menceritakan hal tersebut kepada sang Mama, dan sang Mama langsung bercerita kepada sang Ayah, yaitu Ayah Ivar.

__ADS_1


Ayah Ivar dan Mama Agnes merasa sangat lega juga, karena itu artinya Alva bisa melangsungkan pernikahannya dengan Chan.


Namun Alva tidak tahu saja, jika L benar-benar membuktikan semua ucapannya, dan saat ini Chan sedang dibuat pusing olehnya.


" Apa aku harus meninggalkan Alva demi menyelamatkan Perusahaan yang sudah dibesarkan oleh Kakek dan Papa?? ",, kata Chan berbicara sendiri.


" Di satu sisi, aku sangat mencintai Alva, di sisi lain aku tidak bisa membuat perusahaan ini hancur ",, kata Chan sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Chan yang pusing, Chan yang kalut, dia lalu memutuskan untuk menenangkan pikirannya sejenak dengan pergi ke Cafe untuk meminum kopi kesukaannya.


Tidak sulit bagi Keluarga Damara untuk menghancurkan saingan bisnisnya, atau orang yang tidak mereka sukai.


Jadi dalam hitungan tiga jam saja, saham Perusahaan Keluarga Hartigan langsung anjlok sebanyak lima belas persen.


Chan yang mendapatkan telepon dari sekretarisnya, dia langsung saja bergegas kembali ke kantornya.


Chan yang sudah sampai di Perusahaannya, dia langsung saja diikuti oleh sekretarisnya.


" Bawa sini laporan yang sudah kamu input Mario ",, kata Chan kepada Mario.


" Ini Tuan Chan ", jawab Mario sambil menyerahkan sebuah berkas.


Chan mempelajari berkas tersebut, dan membacanya dengan seksama.


" Bagaimana ini bisa terjadi Mario, bukannya saham yang ini stabil dan tidak bermasalah?? ",, tanya Chan kepada Mario.


" Saya juga berpikir begitu Tuan Chan, namun tiba-tiba mereka membatalkan kerja sama kita, lalu menarik semua saham yang mereka tanamkan ke Perusahaan ini Tuan ",, jawab Mario.


Chan lalu melanjutkan membaca lagi, dan ketika dia sedang serius membaca, tiba-tiba ponsel milik Mario berdering lagi.


Mario langsung saja mengangkatnya, dan itu ternyata dari salah satu kolega bisnisnya Chan.


" Baik Tuan, terimakasih, akan saya sampaikan kepada Tuan Chan sekarang ",, jawab Mario yang didengar jelas oleh Chan.


Setelahnya, sambungan telepon Mario terputus juga.


Chan yang melihat dan juga mendengar, dia langsung saja bertanya kepada Mario, siapa yang baru saja menelponnya.


" Emm, tadi yang menelpon dari Perusahaan kain itu Tuan Chan, dan mereka menarik semua saham mereka sebanyak dua puluh lima persen dari Perusahaan anda ",, jawab Mario dengan takut.


" Aaarrrghhh 514l,!! belum ada sehari aku sudah rugi sebanyak empat puluh persen!! ",, marah Chan sambil menggebrak meja kerjanya.


Mario yang ada di situ, hanya bisa menunduk dan mendengarkan saja sang Bos yang sedang marah-marah sendiri.


Saat sedang marah-marah, tiba-tiba gantian ponsel milik si Chan yang berdering, dan yang menelponnya adalah orang yang sudah membuat harinya hancur, yaitu L Damara.


" Halo ",, kata Chan.


" Bagaimana Tuan Chan, apa anda menyukai kejutan dari saya?? ",, kata L dengan sangat santai sekali.


Chan langsung menjauhkan ponselnya untuk melihat nomor yang sedang menelponnya.


" Saya bisa memberikan kejutan yang lebih lagi untuk anda, jika anda tidak mau menuruti apa yang sudah saya ketakan!! ",, kata L lagi.


" Sampai kapanpun saya tidak akan meninggalkan Alva!! ",, marah Chan, dan dia langsung saja mematikan sambungan teleponnya itu.


Seperti ada uap air yang mendidih yang ke luar dari dalam kepala Chan, ketika baru saja mendengar perkataan dari L, dan sekarang Chan tahu, siapa dalang dibalik ini semua.


Lagi-lagi ponsel Chan berdering, dan kali ini dari sang Papa.


" Halo Papa ",, kata Chan.


" Chan, bagaimana Perusahaan kita bisa mengalami kerugian sebanyak itu dalam waktu yang singkat, apa yang sudah kamu perbuat Chan, jika sampai kerugian mencapai lima puluh persen, Perusahaan kita akan di ambang kebangkrutan Chan ",, kata sang Papa kepada Chan.


" Ini segera akan Chan atasi Papa, Papa tenang saja ",, jawab Chan berusaha tenang.


" Cepat atasi masalah ini Chan, akan Papa bantu juga untuk menelpon semua kenalannya Papa, untuk mau menanamkan sahamnya ke Perusahaan kita ",, kata Papa Agler.


" Iya Pa, kalau begitu udah dulu ya Pa ",, jawab Chan.


Dan Chan langsung saja mematikan sambungan teleponnya, ketika dia sudah mendengar jawaban dari sang Papa.


Chan semakin pusing saja dengan masalah yang ada, lagi dan lagi ponsel Mario berdering.


Pandangan Chan langsung teralihkan ke arah Mario, dan dia mendengarkan apa yang sedang Mario katakan kepada si penelpon.


Ketika Mario sudah selesai menerima telepon, dia langsung mengatakan sesuatu kepada Chan, yang mana hal tersebut membuat Chan semakin ingin bunuh diri saja, sebab investor terbesar yang ada di Perusahaannya menarik semua saham yang sudah mereka tanamkan di Perusahaannya.


Jadi total kerugian yang Chan alami ada sekitar delapan puluh persen, kali ini bukan diambang kebangkrutan lagi, Chan bisa dikatakan benar-benar bangkrut sekarang, karena dia tidak mendengarkan apa kata L Damara kepadanya.


...πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹...


Sungguh kejam dunia bisnisπŸ™„.

__ADS_1


...⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️...


...***TBC***...


__ADS_2