
" Aduh bagaimana ini L, Mama sama Papa kamu datang ke sini?? ",,
Begitulah pertanyaan yang Alva berikan kepada L.
L yang sedang bingung, tidak bisa menjawab apapun kepada Alva, karena dia sedang berpikir untuk menemukan jalan ke luarnya.
" Emm, begini saja ",, jawab L.
" Bagaimana?? ",, tanya Alva lagi.
" Kita berakting semesra mungkin, dan kita harus tunjukkan kepada mereka, jika hubungan kita baik-baik saja ",, jawab L.
" Karena akan sangat bahaya sekali, jika Papa sampai mengetahui kalau hubungan kita tidak seperti yang mereka harapkan ",, kata L lagi.
" Bagaimana?? ",, tanya L.
" Ok deal, aku setuju, ayo sekarang kita temui mereka ",, jawab Alva.
L hanya mengangguk saja kepada Alva, dan mereka berdua lalu berjalan ke luar dari dalam kamar dengan beriringan, bahkan L merangkul pinggang Alva dengan mesra sekali.
" Mama, Papa ," sapa L kepada ke dua orang tuanya.
" Hei Alva, menantu Mamam, makin cantik saja kamu Nak ",, kata Mama Ana kepada Alva.
Alva dan Mama Ana langsung bercipika cipiki seperti wanita pada umumnya ketika sedang bertemu.
" Mamam, sama Papa sudah lama menunggunya, maaf tadi L sedang mandi dulu ",, kata Alva berbohong.
" Oh tidak apa-apa, lagi pula Mamam sama Papa, baru saja sampai ",, jawab Mama Ana.
Alva hanya tersenyum saja menanggapi Mama Ana, dan Alva sangat totalitas sekali berakting di depan ke dua mertuanya, begitupun dengan si L.
" Oh ya Nak, restoran kamu sudah hampir selesai pembangunannya, mungkin bulan depan sudah bisa diresmikan dan dibuka untuk umum ",, kata Papa Alex kepada Alva.
" Iya Pa, Alva sudah tahu, L juga sudah bercerita kepada Alva untuk soal itu ",, jawab Alva berbohong lagi.
" Iya kan sayang ",, kata Alva kepada L sengaja memanggil kata sayang.
L malah salfok ketika dipanggil sayang oleh Alva untuk pertama kalinya.
Walau itu cuma berakting saja, tapi debaran di dalam dada L, nyata rasanya.
" Eh, iya, benar sayang, dan kami juga sedang merundingkan siapa saja yang akan kami rekrut untuk bekerja di restoran itu Pa ",, jawab L.
" Baguslah, jika kalian belum mempunyai kandidat Chef atau koki untuk restoran kalian, Papa mempunyai banyak kenalan ",, kata Papa Alex kepada L dan Alva.
" Iya, nanti akan kami pikirkan lagi Pa ",, jawab L.
" Oh ya Nak, kata L, masakan kamu sangat enak sekali, L jika berkunjung ke mansion, selalu memuji masakan kamu terus, bahkan dia sekarang Mamam lihat sedikit lebih berisi badannya, sepertinya kamu sangat pintar sekali Nak memanjakan lidah anak Mama ",, kata Mama Ana kepada Alva.
Sungguh perkataan Mama Ana membuat hati Alva ada rasa yang tidak bisa dijelaskan, sedangkan L merasa malu sendiri kepada Alva.
Alva menatap L dengan tatapan tidak biasa, dan tatapan Alva itu, semakin membuat L merasa malu kepadanya.
Alva mencoba memberanikan diri bertanya kepada Mama Ana.
" L tidak berbicara buruk kepada Mamam kan tentang Alva?? ",, tanya Alva kepada Mama Ana.
" Emm, maksudnya begini ",, kata Alva meralat perkataannya.
" L di rumah selalu mengerjai Alva, Mam, dia suka menggoda, jadinya terkadang membuat Alva marah dan ...... ",, perkataan Alva terputus.
" Oh tidak Nak, justru L selalu memuji kamu, dan jika dia bercerita tentang kamu kepada Mamam, terlihat sekali jika dia sangat mencintai kamu ",, jawab Mama Ana.
L berdoa di dalam hatinya, supaya sang Mama tidak melanjutkan lagi perkataannya, sebab dia benar-benar sangat malu sekali kepada Alva.
" L selalu mengatakan, jika kamu kalau tidur selalu minta diusap-usap kepalanya, dan dipeluk mesra, aaaah, kalian sangat manis sekali, mengingatkan masa muda Mamam dan Papa ",, kata Mama Ana lagi.
Alva reflek langsung menoleh ke arah L, dan L langsung tersenyum garing kepada Alva.
Hati Alva sungguh merasa berdebar sekali, mendengar cerita dari sang mertua tentang si L yang selalu menceritakan tentang dirinya.
" Alva jadi malu Mam ",, kata Alva dan pipinya terlihat memerah.
" Lho kenapa malu sayang, kamu masih mending cuma minta diusap-usap, dulu Papa kamu ini ketika masih muda, dia malah lebih parah lagi ketika sedang tidur bersama Mamam ",, jawab Mama Ana.
" Papa kamu ini selalu minta n3n3n kepada Mamam, dan diusap-usap terus tuh burung peliharaannya, kalau tidak dia akan ngambek ",, cerita Mama Ana kepada Alva dan L sambil tertawa.
Gluk.!!
Alva dan L langsung menelan air liur mereka, karena mendengar cerita dari Mama Ana kepadanya, dan mereka berdua merasa malu serta salah tingkah sendiri dihadapan Mama Ana dan Papa Alex.
Sedangkan Papa Alex, bukannya merasa malu, malah langsung tertawa dengan sangat keras sekali.
__ADS_1
" Oh ya Ma ",, kata L mengalihkan pembicaraan.
Karena jika tidak begitu, bisa gawat, sebab sang Mama pasti akan bercerita kemana-mana, dan hal itu bisa membuat bulu kuduknya menjadi merinding disko.
" Mama mau dimasakin apa sama Alva, biar kami beli dulu bahan-bahan masakannya, sekalian berbelanja bulanan ",, kata L kepada Mama Ana.
" Biar Mama sama istri kamu saja yang pergi berbelanja, kamu di rumah saja sama Papa ",, jawab Mama Ana.
" Baiklah ",, jawab L kepada Mama Ana.
L lalu mengeluarkan salah satu black card nya untuk dia berikan kepada Alva, dan bodohnya L, dia malah memberikannya kepada Alva dihadapan Mama Ana dan Papa Alex, tentu saja itu menimbulkan sedikit kecurigaan dari mereka berdua.
" Lho ko kamu baru memberi black card mu, kepada Alva, L?? ",, tanya Papa Alex.
Nah lho, L dan Alva jadi gelagapan sendiri kan mendengar pertanyaan dari Papa Alex.
" Eh, emm, kemarin Alva belanja Pa, terus setelah belanja, dia menaruh kartu ini di sembarang tempat, jadinya Alva kelupaan, dan tadi baru L temuin ketika sedang mau mencuci mobil, karena kartu kredit ini ada di dalam mobil ",, jawab L berbohong.
" Iya Pa, maafkan Alva, karena teledor dan tidak bisa menjaga pemberian L dengan baik ",, kata Alva kepada Papa Alex.
" Oh, tidak masalah Nak, itu sudah hal biasa ",, jawab Papa Alex.
" Dulu Mama kamu ini malah lebih parah, Alva ",, mulai cerita deh Papa Alex.
" Satu dompet dia lempar ke kolam ikan, padahal di dalam dompet itu isinya penuh, dan kamu tahu Alva, apa jawaban dari Mama kamu ini, kalau dia salah lempar, katanya mau melempar batu malah keliru dompetnya, menyebalkan sekali bukan ",, cerita dari Papa Alex.
Mama Ana langsung tertawa cekikikan mendengar sang suami merasa gemas jika diingatkan dengan yang dulu.
Sedangkan Alva dan L sendiri, langsung tersenyum garing, supaya tidak terlihat mencurigakan.
Akhirnya, setelah berbincang dengan penuh kepalsuan, Alva dan Mama Ana pergi menuju ke supermarket terdekat untuk membeli bahan-bahan masakan.
Seperti biasanya, Mama Ana dan Alva pergi dengan dikawal banyak bodyguard seperti saat ini.
Alva yang tidak terbiasa, dia menjadi risih sendiri, dengan banyaknya pengawal yang mengikutinya dari belakang.
" Mam, bolehkah Alva bertanya?? ",, tanya Alva kepada Mama Ana.
" Tentu saja boleh dong sayang, mau tanya apa sama Mamam?? ",, jawab Mama Ana.
" Memangnya harus ya Mam, jika pergi harus dikawal banyak bodyguard seperti ini?? ",, tanya Alva.
Mama Ana tersenyum mendengar pertanyaan dari Alva, dan Mama Ana mengerti bagaimana perasaan Alva sekarang.
" Kita itu dari Keluarga terkaya di dunia Nak, musuh kita ada di mana-mana, ada yang terlihat teman, ternyata dia musuh dalam selimut ",, jawab Mama Ana.
" Nanti suatu saat kamu akan mengerti Nak, apa gunanya semua bodyguard ini, karena dulu Mamam juga begitu sama sepertimu ",, kata Mama Ana lagi.
Alva hanya bisa mengangguk saja menanggapi perkataan dari Mama Ana.
Mereka lalu melanjutkan lagi memilih dan memilah sayur dan bahan-bahan yang akan mereka beli.
" Nak, masak ini ya, ini sayur dan daging, makanan kesukaannya L ",, kata Mama Ana.
Alva sedikit terkejut, karena dia memang tidak tahu apa masakan kesukaan L.
" Baik Mam ",, jawab Alva.
" Kalau Mamam sama Papa, ini saja sudah cukup bagi kami '',, kata Mama Ana lagi.
" Ok Mamam ",, jawab Alva lagi.
Alva lalu mengambil sebuah sayur serta bahan masakan yang biasa dia masak di rumah dan langsung memasukkannya ke dalam keranjang yang mereka bawa.
Mama Ana yang melihat Alva memasukkan sayur serta bahan masakan tadi ke dalam troli, dia langsung bertanya.
" Ko kamu mengambil bahan masakan itu Alva?? ",, tanya Mama Ana.
" Iya untuk di masak Mam, memangnya kenapa?? ",, jawab Alva.
" Bukankah L tidak suka dengan sayur dan makanan itu Alva, kalau tidak bisa mengolahnya, terkadang alergi L akan kambuh, bisa gatal-gatal dia ",, jawab Mama Ana.
Deg.!!
Jantung Alva seperti berhenti berdetak mendengar jawaban dari Mama Ana, sebab Alva hampir setiap saat memasak masakan itu, dan L selalu memakannya dengan lahap serta tidak pernah mengeluh sama sekali kepadanya.
Alva langsung teringat, jika L pernah merasakan gatal-gatal di sekujur tubuhnya, dan ketika Alva tanya pada waktu itu, L menjawab cuma alergi debu.
Alva pada saat itu cuma membantu L mengolesi salep saja ke tubuhnya L, tanpa mau repot membelikan obat atau membantunya untuk berobat ke rumah sakit.
Hati kecil Alva mengatakan jika dia sudah merasa bersalah dan berdosa kepada L, dan entah kenapa Alva merasa jika dia bukan istri yang baik untuk L.
Sekuat tenaga Alva menahan air matanya supaya tidak ke luar, karena pada saat ini dia sedang bersama sang Mama mertua.
__ADS_1
Akan menjadi cerita lain lagi, jika Mama Ana sampai melihat air matanya Alva.
Mode melamun Alva teralihkan, ketika Mama Ana memanggilnya, kalau semua bahan masakan dan sayur yang mereka butuhkan sudah selesai mereka ambil.
Setelah membayar semua belanjaan mereka, Alva dan Mama Ana sekarang sedang perjalanan pulang ke rumah Ayah Ito.
Sepanjang perjalanan pulang, Alva terus melamun, karena hatinya entah kenapa merasa gundah yang tidak ada sebab, dan Alva rasanya ingin segera bertemu dengan L.
Sesampainya di rumah, Alva langsung saja masuk ke dalam rumah, begitupun dengan Mama Ana, dan belanjaan mereka tadi sudah ada yang membawa masuk sendiri ke dalam rumah.
" Hai, kamu sudah pulang sayang ",, sapa L kepada Alva.
L sendiri ketika ditinggal oleh Mama Ana dan Alva tadi, dia cuma mengobrol dan membicarakan pekerjaan bersama Papa Alex.
" Iya ",, jawab Alva.
" Alva permisi sebentar, mau ganti baju, gerah ",, pamit Alva.
Papa Alex hanya mengangguk saja, sedangkan L mencoba mengikuti Alva masuk ke dalam kamar, karena L melihat ada hal yang berbeda di wajah Alva.
Alva tahu jika L sedang mengikutinya, karena memang itu yang dia inginkan, dan sesampainya di dalam kamar, Alva langsung memukul dada L menggunakan ke dua tangannya.
" Kamu kenapa Alva?? ",, tanya L merasa kebingungan.
" Apa sudah terjadi sesuatu denganmu ketika berbelanja tadi bersama Mama?? ",, tanya L lagi.
Semakin kebingungan saja ketika L melihat Alva menangis pilu.
" Apakah Mama sudah menyakitimu Alva?? ",, tanya L untuk kesekian kalinya.
" Kenapa kamu berbohong kepadaku L, kenapa??!! ",, tanya Alva sambil menangis.
" Berbohong soal apa?? ",, tanya L kebingungan.
" Soal masakan yang biasa aku masak, dan kamu juga punya alergi soal itu!! ",, jawab Alva.
" Dan satu hal lagi, kamu kemarin alergi dengan makanan itu, tapi ketika aku tanya, kenapa kamu menjawab jika sedang alergi debu!! ",, kata Alva sambil berteriak.
Jika kamu tidak peduli dengan L, kenapa kamu marah Alva, tidak sadarkah kamu, jika kamu sudah mulai tertarik dengan L, suami kamu sendiri.
Melihat Alva histeris sendiri, L langsung menangkup wajah Alva menggunakan ke dua tangannya dan menatap mata Alva sangat lekat sekali.
" Ssuuusstt look at me Alva ",, kata L.
Sambil mengusap air mata Alva, L melanjutkan lagi perkataannya.
" Aku bukannya mau berbohong kepadamu, karena kamu tidak bertanya kepadaku, apa makanan kesukaanku atau makanan yang tidak aku suka atau juga yang membuatku alergi ",, kata L.
" Aku mau memakan itu, karena itu masakan istriku tercinta yang sangat aku cintai, yang sudah rela capek-capek memasaknya untukku ",, kata L lagi.
" Sudah pernah aku katakan kepadamu, aku akan tetap memakannya, walau kamu memberikan racun didalamnya ",, kata L.
" Aku tidak mau membuat kamu kecewa atau bersedih karena aku, sudah cukup aku memberikan penderitaan kepadamu untuk saat ini Alva ",, kata L dengan sangat tulus sekali.
" Aku tidak mau, jika aku berkata jujur, kamu akan mengira aku cuma mencari perhatian atau sensasi saja kepadamu, aku tidak mau itu Alva ",, kata L lagi.
" Yang aku mau, kamu menerima aku apa adanya dan perhatian kamu itu mengalir seperti air, tanpa aku kasih tahu panjang lebar kepadamu ",, kata L.
" Setidaknya dalam waktu dua minggu ini, aku sudah berusaha menjadi suami yang baik untukmu, walau kamu masih tidak mau menganggap ku sebagai suami kamu, Alva ",, kata L.
" Kalau dua minggu yang akan datang, masih belum ada tempat untukku di hatimu, aku tidak akan menyesal Alva, setidaknya selama ini aku sudah memenuhi semua yang kamu inginkan, menuruti semua yang kamu mau, dan mencoba menjadi suami yang baik untukmu, apa kamu mengerti?? ",, kata L.
Hati Alva memanas, bukannya berhenti, air mata Alva malah semakin deras saja mengalir dari kelopak matanya.
Dan tanpa L duga, tiba-tiba Alva langsung memeluk tubuhnya dengan sangat erat sekali untuk pertama kalinya.
Tubuh L langsung kaku ketika dipeluk oleh Alva dengan tiba-tiba, namun L tetap membalas pelukan Alva tidak kalah eratnya.
Mereka berpelukan seperti menyalurkan rasa yang tertahan selama dua minggu ini.
" Maafkan aku ",, kata Alva kepada L.
" Kamu tidak bersalah, di sini aku yang bersalah Alva, karena sudah memaksa kamu menikah denganku ",, jawab L sambil tersenyum.
" Jangan menangis lagi ya, karena wanita secantik dan seistimewa kamu tidak pantas untuk mengeluarkan air mata kesedihan ",, kata L.
" Tersenyumlah, walau senyum itu tidak kamu tujukan kepadaku, tapi aku tetap bahagia dan ikut senang melihatnya ",, kata L lagi.
Lagi dan lagi, Alva memeluk L sambil mengeluarkan air matanya.
Hati seorang wanita itu rapuh dan lembut, jika di kasar sedikit dia akan memberontak dan pecah berserakan.
Tapi ika disayang pasti akan mudah luluh, contohnya Alva, karena tanpa dia sadari, Alva sudah masuk ke dalam pesona sang suami, yaitu L Damara.
__ADS_1
...⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️...
...***TBC***...