Oh, MY WIFE

Oh, MY WIFE
NASIHAT MAMA AGNES


__ADS_3

Selama satu minggu lamanya juga, L terus mencari keberadaannya Alva, sambil terus bekerja di Perusahaan yang menjadi tanggung jawabnya.


L yang sudah dingin sifatnya, sekarang menjadi tambah dingin dan acuh kepada semua orang, bahkan L sekarang menjadi mudah marah kepada semua orang, walau orang itu cuma melakukan kesalahan sekecil apapun.


L selama satu minggu ini, dia tinggal di apartemennya sendiri, dan dia masih terus mengerahkan semua anak buahnya untuk terus mencari keberadaanya Alva.


Ketika L sedang serius menatap layar komputer yang ada di depannya, pendengarannya sedikit teralihkan dengan suara ketukan pintu ruang kerjanya.


Setelah dia mengatakan masuk kepada orang tersebut, ternyata yang masuk ke dalam ruang kerjanya adalah si Saddam.


" Ada apa Saddam?? ",, tanya L.


" Tuan L, saya ada kabar bagus untuk anda ",, kata Saddam.


" Kabar bagus apa?? ",, tanya L.


" Saya sudah bisa masuk ke dalam program komputer Perusahaan Nona Erica Tuan, dan entah kenapa sistemnya sekarang ko terlihat mudah sekali untuk kita tembus ",, jawab Saddam.


" Sepertinya, ada seseorang yang sengaja membuat kita bisa masuk ke dalam program komputer itu Tuan ",, kata Saddam lagi.


" Berita yang sangat bagus ",, kata L.


" Apapun itu, saya sangat senang mendengarnya ",, kata L lagi.


" Segera lakukan seperti biasanya, buat dia hancur, karena dia, saya harus berpisah dengan istri saya dan sampai sekarang tidak ditemukan di mana keberadaannya ",, perintah L kepada Saddam.


" Siap Tuan L ",, jawab Saddam.


" Secepatnya anda akan mendengar kabar baik dari saya ",, kata Saddam lagi.


" Kalau begitu, saya permisi dulu ",, pamit Saddam sambil sedikit menundukkan badannya.


L hanya mengangguk saja kepada Saddam, dan dia lalu melanjutkan lagi pekerjaannya yang tertunda tadi.


" Kak L semenjak Nona Alva pergi, dia terlihat menyeramkan ",, gerutu Saddam sambil duduk di kursi kerjanya kembali.


" Bahkan, membuatku tidak berani bercanda lagi dengannya ",, kata Saddam lagi.


" Sungguh dahsyat pengaruh Nona Alva untuk diri Kak L ",, kata Saddam sambil menatap lekat ke arah komputernya.


Setelah puas menggerutu sendiri, Saddam lalu dengan serius mengerjakan pekerjaan yang sudah biasa dia lakukan, yaitu menghancurkan Perusahaan yang menjadi musuh dari Keluarga majikannya.


Sedangkan untuk Alva sendiri, dia malah hidup tenang-tenang saja di dalam rumah Ayah Ito yang ada di tengah hutan.


Walau ada sedikit terbesit rasa rindu di dalam dada untuk si L, namun rasa marah masih mendominasi diri Alva.


Untuk mengalihkan rasa rindunya kepada L, Alva memilih ikut beraktifitas bersama para anak buah yang ada di situ.


Walau Alva perempuan sendiri di dalam rumah tersebut, dia justru malah seperti ratu bagi mereka semua, karena semua anak buah sangat menghormati serta memanjakan Alva sekali.


" Baiklah, kita istirahat dulu yuk, rasanya capek sekali badan saya ini ",, kata Alva kepada para anak buah.


" Sepertinya skil memanah Nona, sudah semakin membaik ",, kata salah satu anak buah.

__ADS_1


" Iya, sepertinya begitu, dan ini berkat bantuanmu ",, jawab Alva.


" Terimakasih ",, kata Alva lagi.


" Iya Nona sama-sama ",, jawab sang anak buah.


Sedang asiknya duduk beralaskan tanah dan rumput, sambil menikmati pemandangan pohon yang rindang dan teduh, serta angin yang menerpa sepoi-sepoi, tiba-tiba pandangan Alva teralihkan kepada salah satu anak buah yang memanggil namanya.


" Ada apa?? ",, tanya Alva.


" Ini Tuan Ivar, Ayah anda menelpon Nona, katanya dia sudah menelpon anda daritadi tapi tidak diangkat juga oleh anda, Nona ",, jawab anak buah tersebut.


Alva langsung mengambil ponsel milik anak buah tadi dan langsung juga berbicara kepada sang Ayah.


" Halo Ayah ",, kata Alva.


" Alva kamu ke mana saja, membuat Ayah khawatir sekali ",, kata Ayah Ivar.


" Maaf Ayah, tadi Alva sedang latihan memanah, dan ponsel Alva, sengaja Alva tinggal di dalam kamar ",, jawab Alva.


" Ada apa memangnya Ayah menelpon Alva?? ",, tanya Alva kepada sang Ayah.


" Ayah cuma mau mengabarkan kepadamu, jika siang ini Mama akan berkunjung menjengukmu ",, kata Ayah Ivar.


" Mama?? ",, kata Alva.


" Iya, maafkan Ayah yang akhirnya mengatakan jujur kepada Mama di mana keberadaanmu sekarang, karena Mama dari kemarin jatuh sakit, sebab memikirkanmu Alva ",, jawab Ayah Ivar.


" Iya Tuhan, Mama ",, kata Alva terdengar bersedih, karena mendengar sang Mama sedang sakit.


" Iya, kamu tunggu saja kedatangan kami, dan kamu jangan capek-capek di sana ",, kata Ayah Ivar.


" Ayah juga mendapatkan laporan dari anak buah, jika kamu melakukan ini itu, bahkan ikut berkebun, memanah, apa lagi besok, berburu di dalam hutan,? seperti Paman kamu dulu, begitu?? ",, kata Ayah Ivar.


" Waaah, boleh jika Ayah mengijinkan ",, jawab Alva.


" Alva, jangan melunjak deh, kamu ini perempuan ",, kata Ayah Ivar, dan Alva langsung saja tertawa.


" Baiklah-baiklah, Alva hanya bercanda saja ko Ayah ",, kata Alva.


" Baiklah, kalau begitu Ayah tutup dulu teleponnya ",, jawab Ayah Ivar.


" Daaaa Ayah ",, kata Alva.


" Daaaa ",, jawab Ayah Ivar, dan Ayah Ivar langsung mematikan sambungan teleponnya.


Seperti perkataan dari Ayah Ivar tadi, jika siangnya, sekitar jam dua siang, Ayah Ivar bersama Mama Agnes sudah sampai di rumah Ayah Ito yang ada di tengah hutan.


Alva langsung memeluk sang Mama dengan begitu erat sekali, untuk menyalurkan perasaan rindunya itu.


" Alva, kamu terlihat semakin kurus tinggal di sini ",, kata Mama Agnes.


" Aaah Mama, jangan begitu dong ",, kata Alva.

__ADS_1


" Justru Alva di sini makannya banyak, karena terkadang para anak buah membawakan buah-buahan dari dalam hutan untuk Alva makan ",, kata Alva lagi.


" Tidak apalah yang penting sehat ",, kata Mama Agnes.


" Tapi jangan terlalu kurus begini, nanti jika suami kamu melihat dia bisa pangling ",, kata Mama Agnes lagi.


" Sudahlah Ma, jangan membahas dia dulu ",, kata Alva.


" Ayo kita duduk dulu di dalam, ayo Ayah ",, kata Alva kepada ke dua orang tuanya.


Mereka bertiga lalu duduk di ruang tamu rumah Ayah Ivar, dan langsung mengobrol banyak, tentang apa saja, serta Alva juga berpesan kepada sang Mama untuk jangan bercerita kepada siapapun tentang keberadaannya di situ.


Sebab semakin sedikit orang yang mengetahui keberadaannya, pasti akan semakin susah bagi L untuk bisa menemukan keberadaannya.


" Iya, Mama janji, tapi kamu juga janji kepada Mama ",, jawab Mama Agnes.


" Janji apa Mama?? ",, tanya ALva.


" Janji harus selalu jaga kesehatan, dan istirahat yang cukup ",, jawab Mama Agnes.


" Siap Mama ",, kata Alva.


" Apakah kamu tidak mau menyudahi persembunyianmu ini Nak, apa kamu tidak merasa kasihan dengan suami kamu?? ",, tanya Mama Agnes.


" Untuk apa merasa kasihan, dengan laki-laki kasar seperti dia Ma ",, jawab Alva.


" Alva mengenal laki-laki kasar di dunia ini cuma satu, yaitu Paman Pietro, tapi selama ini, Alva tidak pernah melihat Paman Pietro berbuat kasar kepada Aunty Molly, justru Paman Pietro terlihat selalu mengalah, bahkan selalu memanjakan apa pun yang Aunty Molly minta ",, kata Alva lagi.


" Jadi jangan paksa Alva untuk mengalah kali ini Mama, karena sudah cukup dulu Alva mengalah untuk mau menjadi istrinya ",, kata Alva kepada sang Mama.


Sebelum menjawab perkataan dari Alva, Mama Agnes mencoba menarik nafasnya dengan sangat panjang sekali.


Ayah Ivar yang ada di situ, cuma diam saja sambil mendengarkan sang anak dan sang istri sedang saling berbincang.


" Apapun keputusanmu kami sebagai orang tua, akan selalu mendukungnya Nak, jika itu memang jalan yang terbaik dan bisa membuatmu bahagia ",, kata Mama Agnes.


" Namun, jika alangkah baiknya suatu hubungan bisa diperbaiki dengan kepala dingin, lakukanlah, jangan mementingkan ego masing-masing ",, kata Mama Agnes lagi.


" Ingat Nak, rasa penyesalan yang membekas di dalam dada, itu akan lebih menyakitkan, daripada amarah sesaat yang sedang kita rasakan sekarang ",, nasihat dari sang Mama kepada Alva.


" Pikirkanlah Nak ",, kata Mama Agnes lagi.


" Kami sejujurnya tidak mau jika kamu sama Nak L bercerai ",, kata Mama Agnes.


" Tapi, jika memang perceraian sudah menjadi takdir kalian berdua, apalah daya kami yang cuma sebagai manusia biasa yang tidak bisa melawan kehendak Tuhan ",, kata Mama Agnes lagi dan lagi.


Alva sendiri juga masih diam saja sambil terus mendengarkan sang Mama yang sedang menasihatinya.


Semua yang Mama Agnes katakan, Alva pun juga membenarkan, tapi apa boleh dikata, jika dirinya masih tidak ingin melihat wajah si L.


Alva masih ingin menikmati hidupnya sementara waktu, tanpa adanya bayangan dari si L, yang dia takutkan akan semakin membuat dirinya marah kepadanya.


Jadi seberusaha keras Mama Agnes, atau yang lainnya membujuk Alva untuk menyudahi persembunyiannya, Alva tetap masih kekeh dengan pendiriannya, sebelum dirinya sendiri yang berubah pikiran.

__ADS_1


...⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️...


...***TBC***...


__ADS_2