Oh, MY WIFE

Oh, MY WIFE
KESERIUSAN CHAN


__ADS_3

Waktu itu Chan yang sudah ke luar dari dalam kamar Alva, dia langsung berlalu menuju ke dalam kamar yang akan dia tempati bersama Ansel.


Chan ingin berganti baju, karena dia ingin pergi bersama Alva, selesai berganti baju, Chan pun berlalu ke luar dan ingin bergabung bersama Keluarga yang lainnya di ruang Keluarga.


Namun, alangkah terkejutnya Chan, ketika hampir saja sampai di ruang Keluarga, dia tidak sengaja mendengar perbincangan yang cukup serius dari Ayah Ivar dan Mama Agnes yang berada di dalam kamar mereka.


Ayah Ivar pada waktu itu lupa menutup rapat pintu kamarnya, sehingga membuat Chan bisa mendengar perbincangan mereka berdua dengan sangat jelas sekali.


" Ayah, ada Chan di sini, bagaimana dengan Alva, Ayah?? ",, tanya Mama Agnes kepada Ayah Ivar.


" Alva begitu senang jika bersama dengan Chan, Mama cuma takut jika Chan akan pergi menjauh jika dia tahu, kalau Alva sudah tidak p3r4w4n lagi dan baru saja di p3rk054 oleh seseorang ",, kata Mama Agnes kepada Ayah Ivar.


" Mama tenanglah dulu, selagi tidak ada yang mengungkapnya, Chan pasti tidak akan tahu ",, jawab Ayah Ivar.


" Jujur, Ayah lebih suka Alva menikah dengan Chan daripada dengan anak dari Keluarga Damara itu Mama, karena kita semua sudah tahu bagaimana sifat dan karakter Chan selama ini ",, kata Ayah Ivar lagi.


" Semoga saja Alva tidak hamil, dan jika mereka benar-benar menjadi sepasang kekasih, Mama ingin segera menikahkan mereka berdua ",, kata Mama Agnes.


" Kita lihat bulan depan Ma, sudah ayo kita bergabung lagi di ruang Keluarga bersama yang lain ",, jawab Ayah Ivar.


Chan yang mendengar, jika Ayah Ivar dan Mama Agnes akan segera ke luar dari dalam kamar, dia langsung segera bersembunyi.


Chan lalu ke luar dari tempat persembunyiannya, ketika mereka semua sedang berbincang lagi seperti sedia kala, sambil bercanda bersama Ansel, serta Aluisa dan Chasel yang baru saja pulang.


Begitulah ceritanya bagaimana Chan bisa tahu masalah yang terjadi dengan Alva sekarang.


Alva yang mendengar cerita dari Chan, dia reflek langsung memeluk Chan lagi, dan Chan juga langsung membalas pelukannya Alva.


" Chan aku ingin bertanya sekali lagi kepadamu ",, kata Alva sambil melepaskan pelukannya.


" Apa Alva, tanyakanlah saja?? ",, jawab Chan.


" Apa kamu memang benar-benar mencintaiku, atau ada hal lain yang mendasari kamu menjadikanku kekasihmu?? ",, tanya Alva.


" Kenapa kamu masih tidak percaya kepadaku Alva, kamu sudah tahu siapa aku, apa perlu aku buktikan rasaku ini padamu, Alva?? ",, jawab Chan kepada Alva.


" Entahlah, aku hanya takut jika di sakiti ke dua kalinya oleh laki-laki ",, kata Alva sambil memalingkan pandangannya.


" Kalau begitu, ayo ikut denganku ",, kata Chan sambil menarik tangan Alva.


" Mau ke mana?? ",, tanya Alva.


" Nanti kamu juga akan tahu sendiri ",, jawab Chan kepada Alva.


Alva dan Chan yang sudah masuk ke dalam mobil, Chan langsung segera tancap gas untuk meninggalkan pantai itu.


Chan mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup lumayan tinggi, dan karena berhubung waktu sudah mulai malam, jadi tidak terlalu banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalan.


Alva mencoba bertanya kepada Chan lagi, akan dia bawa pergi ke mana, namun Alva tidak mendapatkan jawaban yang pasti, akhirnya, Alva pun memilih untuk diam saja sambil bertanda tanya sendiri di dalam hatinya.


Tidak berapa lama, akhirnya mobil yang Chan kendarai sampai juga di rumah Ayah Ito, yaps ternyata Chan membawa pulang Alva ke rumah Ayah Ito.


Kebetulan juga di rumah itu, semua orang tua belum pada tidur, kecuali yang anak-anak, mereka semua sudah masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.


Para orang tua belum pada tidur, karena sengaja membahas permasalahannya Alva dengan L, dan kedekatannya Alva dengan Chan.


Baru saja mereka bicarakan, orang yang menjadi bahan topik pembicaraan mereka sudah pulang ke rumah.


" Eh kalian sudah pulang ",, kata Mama Agnes kepada Chan dan Alva.


Chan mengkode Alva untuk duduk, dan dia langsung duduk di sebelah Mama Molly, sedangkan Chan langsung duduk di sebelah Papi Gilbert.


" Emm, semuanya ",, kata Chan kepada semua orang tua.


Alva yang mengerti apa maksud dari Chan, dia mengkode Chan untuk jangan mengatakannya kepada mereka semua, akan tetapi Chan tidak mempedulikannya.


" Ada apa Nak, katakanlah, jangan ragu, kami akan mendengarkanmu ",, kata Mama Agnes lagi kepada Chan.


" Iya Chan, bila perlu kamu sambil teriak-teriak, pasti seru ",, kata Mama Molly.

__ADS_1


Chan langsung tersenyum mendengar candaan dari Mama Molly, di saat ingin serius, Mama Molly bisa saja merubah alur suasananya.


" Begini Paman, Aunty, semuanya, kalau Chan ingin segera menikahi Alva, apakah Paman Ivar menerima lamaran dari Chan untuk Alva?? ",, kata Chan dengan langsung to the point.


Alva langsung menundukkan kepalanya merasa malu dan bingung, dia pikir Chan akan mengungkapkan perihal hubungan mereka, tidak tahunya langsung ke jenjang pernikahan.


Semua orang tentu saja merasa sangat terkejut sekali mendengar pengakuan dan lamaran dari Chan yang sangat tiba-tiba untuk Alva.


" Apa kamu serius Nak?? ",, tanya Ayah Ivar.


" Tentu saja serius Kakak, jika tidak serius masa dia mau main-main mengatakan hal itu kepada kita ",, bukan Chan yang menjawab, melainkan Mama Molly.


" Molly, Kakak sedang bertanya kepada Chan, bukan kepadamu ",, kata Kak Ivar.


Mama Molly langsung menunjukkan dua jarinya berbentuk V kepada Kak Ivar, dan Ayah Ito yang melihat kelakuan dari sang istri, dia hanya menggelengkan kepalanya saja.


Mau bagaimanapun memang begitulah sifat istrinya, tidak bisa ditebak walau sudah cukup tua seperti sekarang.


" Serius Paman, apakah Paman dan Aunty Agnes menerima lamaran dari Chan?? ",, jawab Chan dengan sangat mantap sekali.


" Alva, apa kamu mau menikah dengan Chan?? ",, bukannya menjawab, Ayah Ivar langsung bertanya kepada yang bersangkutan, yaitu Alva.


Alva hanya mengangguk saja tanpa mengeluarkan suaranya.


" Tapi bagaimana dengan masalah kamu yang itu Alva, kamu tidak bisa tiba-tiba menikah dengan Chan, jika bulan depan kamu ...........?? ",, Ayah Ivar tidak bisa melanjutkan perkataannya.


" Chan sudah tahu semuanya Ayah, Alva sudah memberitahukannya ",, jawab Alva sambil menunduk.


Semakin terkejutlah mereka semua, dan hal itu langsung membuat semua orang reflek menatap lagi ke arah Chan.


" Apa benar itu Chan,?? jika kamu sudah tahu masalah yang menimpa Alva saat ini?? ",, tanya Ayah Ivar.


" Chan tahu Paman, Chan tahu semuanya, maka dari itu, Chan mau membuktikan kepada Alva, jika Chan menerima Alva apa adanya, tulus dari hati ",, jawab mantap dari Chan kepada Ayah Ivar.


" Baiklah, kamu saya terima untuk menjadi anggota Keluarga Roderick, pernikahan kalian berdua akan segera kita laksanakan bulan depan, sekarang beristirahatlah, karena hari sudah malam ",, bukan Ayah Ivar yang menjawab, melainkan Mama Molly.


Perkataan dari Mama Molly langsung membuat semua orang menatap ke arah Mama Molly, dan Ayah Ito langsung menepuk dahinya dengan sangat keras sekali.


" Kak Ivar kelamaan menjawabnya, terlalu mendramapasir, jadi kasihan Chan seperti tercekik lehernya ",, jawab Mama Molly.


" Mendramapasir?? ",, kata semua orang.


" Itu lho yang kebanyakan drama ",, kata Mama Molly.


" Mendramatisir Kak, bukan pasir, aku lempar pakai sandal baru tahu ",, jawab Papi Gilbert sambil menahan rasa gemasnya.


" Gilbert!! ",, nah suara ngebas sudah terdengar menegur Gilbert.


" Habisnya, istri Kakak sangat keterhaluan, di tukar tambah kenapa sih, dari dulu oon ko tidak berkurang-kurang, malah tambah satu oktaf setiap harinya ",, jawab Papi Gilbert kepada Ayah Ito.


" Ko keterhaluan Gilbert, bukannya yang benar keterlaluan ya?? ",, kata Mama Molly.


" Suka-suka akulah, mulut-mulut aku ko ",, jawab Papi Gilbert dengan judes kepada Mama Molly.


" Sudah-sudah, kalian berdua apa tidak malu dilihat sama Chan ",, kata Ayah Ivar menegur Mama Molly dan Papi Gilbert.


Papi Gilbert sama Mama Molly langsung saja diam, ketika sang tetua sudah mengeluarkan fatwanya.


" Jika kamu sanggup hidup bersama orang-orang gila ini, Paman menerima lamaran darimu Chan, kamu segera beritahukan perihal ini kepada ke dua orang tua kamu, dan besok pagi kita kembali pulang ke Moldova untuk menyiapkan acara pertunangan kalian berdua ",, kata Ayah Ivar kepada Chan.


" Baik Paman, Chan mengerti, terimakasih Paman, Aunty, atas kepercayaannya untuk menjadikan Alva sebagai istri Chan ",, jawab Chan sambil tersenyum dan dia juga mengedipkan mata kepada Alva.


Alva yang melihat, langsung tersipu malu dengan tingkah Chan kepadanya.


Akhirnya, malam itu sudah mencapai keputusan, jika lamaran Chan diterima oleh Keluarga Roderick, dan mereka keesokan harinya rencananya akan kembali pulang ke Negara asal, yaitu Moldova.


Sedangkan beralih ke sisi lain, anak buah yang di suruh untuk mengawasi Chan dan Alva, saat ini sedang melaporkan kepada Saddam, di mana sebenarnya Chan dan Alva tinggal.


" Ada apa?? ",, tanya Saddam kepada anak buahnya.

__ADS_1


" Tuan, kami sudah tahu di mana Nona dan Tuan itu tinggal, Tuan?? ",, jawab anak buah itu kepada Saddam.


" Di mana?? ",, tanya Saddam lagi.


" Mereka berdua tinggal di daerah ..... ",, jawab sang anak buah menyebutkan nama jalan rumah Ayah Ito.


" Apakah kamu melihat laki-laki itu ke luar dari rumah tersebut?? ",, tanya Saddam.


" Tidak Tuan Saddam, mereka berdua tinggal bersama di rumah itu, bahkan saat ini kami melihat seluruh lampu yang tadinya menyala, sekarang sudah di matikan ",, jawab sang anak buah.


" Jadi mereka sudah tinggal bersama begitu?? ",, kata Saddam sangat terkejut sekali.


" Benar Tuan ",, jawab sang anak buah lagi.


" Baiklah, terus awasi rumah itu, dan selalu beri kabar kepada saya tentang situasinya '',, kata Saddam.


Baik Tuan Saddam ", jawab anak buah kepada Saddam.


Dan akhirnya, sambungan telepon mereka terputus juga.


Saddam yang sudah mendapatkan laporan dari anak buahnya, dia langsung bergegas ke luar dari dalam kamar hotelnya menuju ke dalam kamar hotel si L.


L daritadi masih uring-uringan sendiri, dia tidak bisa tidur sama sekali, memikirkan Alva dan si Chan.


Ketika sedang gegana, alias gelisah, galau, merana, tiba-tiba dia mendengar pintu kamar hotelnya di ketuk dari luar.


Dengan malas L langsung beranjak turun dari atas ranjang mewahnya untuk membukakan pintunya.


" Siapa sih yang sudah tidak sopan mengetuk pintu kamarku dengan tidak sabaran seperti itu, awas saja jika tidak penting, akan aku tendang kepalanya ",, gerutu si L.


Di saat pintu sudah terbuka, Saddam langsung menyelonong masuk saja tanpa dipersilahkan terlebih dahulu oleh si L.


" Saddam kamu tidak sopan sama sekali, main nyelonong masuk saja, jika tidak penting, aku tendang kamu dari jendela kamar ini ",, kata L kepada Saddam.


" Ini penting Kak, penting sekali ",, jawab Saddam kepada L.


" Apa,!! cepat katakan!! ",, kata L.


Saddam langsung mengatakan apa yang tadi sudah di laporkan oleh anak buah kepadanya, dan L yang mendengar, semakin ingin meledak saja isi kepalanya.


" S14lan, jadi mereka sudah tinggal serumah, apa laki-laki itu asli orang sini, dan Alva menginap di rumahnya ",, kata L berbicara sendiri.


" Bisa jadi Kak L ",, jawab Saddam.


" Kamu pantau terus mereka, besok pagi-pagi kita harus ke sana, untuk memastikannya sendiri ",, kata L kepada Saddam.


" No debat ",, kata L lagi ketika melihat Saddam ingin membantah.


" Sudah sana ke luar aku mau tidur ",, kata L mengusir dan mendorong Saddam untuk ke luar dari dalam kamarnya.


L langsung menutup pintunya dengan cukup keras sekali, tepat dihadapan Saddam, dan Saddam yang gemas, dia mengayunkan tinjunya seperti ingin meninju si L.


" Mending aku tidur sajalah, capek sekali badanku, untuk urusan Nona Alva, aku urus besok saja, jika mereka berjodoh seberat apapun rintangan yang mereka hadapi, pasti akan bersatu juga ",, kata Saddam sambil berjalan ke arah kamar hotelnya.


" Tumben aku bijak sekali, kekasih saja belum punya, sok-sokan berbicara bijak ",, kata Saddam masih berbicara sendiri.


Ayahnya saja gila, gen keturunannya tentu saja juga hampir mirip sama gilanya, yaitu Arga dan Saddam.


Sedangkan L, seperti ingin cepat memutar waktu saja, karena dia sudah tidak sabar ingin segera ke rumah Ayah Ito untuk membuktikannya sendiri.


Ujian cinta si L sangat berat sekali, selain dia sudah tidak mendapatkan kepercayaan dari Alva, dirinya juga tidak di sukai oleh Keluarga Roderick, padahal dia berasal dari Keluarga terkaya dan juga terpandang.


Jadi, usaha L untuk mendapatkan Alva harus lebih ekstra lagi, terlebih lagi sekarang Keluarga Roderick dan Keluarga Hartigan akan segera merencanakan pertunangan Chan dan Alva.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


Saya Up 1 bab saja, karena dua bab aku sengaja jadikan satu ya guys, untuk menyingkat waktu🤘🤭.


...⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️...

__ADS_1


...***TBC***...


__ADS_2