
Setelah puas bermain air, bahkan baju yang mereka pakai saat ini sudah basah semua, akhirnya L memutuskan untuk kembali pulang saja ke rumah sang Paman yang ada di tengah pulau.
L ingin beristirahat sebentar sampai tubuhnya tidak terasa letih lagi, setelahnya mereka nanti akan kembali pulang ke mansion.
Senyum di wajah Alva tidak pudar sama sekali, sebab rasanya dia bisa merilaxkan otaknya sejenak tadi, sambil menikmati suasa air terjun dan hutan yang sunyi yang sudah cukup lama tidak dia nikmati.
" Apakah kamu mau pisah kamar atau satu kamar denganku Alva?? ",, tanya L.
" Apa itu artinya kamu tidak mau berada di dalam satu kamar denganku L?? ",, tanya balik dari Alva.
Ada rasa sedih mendengar pertanyaan L seperti itu kepadanya, padahal jelas-jelas mereka saat ini sudah tidak pisah kamar lagi seperti sebelumnya.
" Siapa tahu kamu ingin menghindar lagi dariku dan mencoba melatih diri untuk menjauhiku sebelum kita benar-benar berpisah ",, jawab L kepada Alva.
" Jika kamu mau satu kamar denganku, ayo masuk ke dalam sini, jika tidak mau, kamu bisa masuk ke dalam kamar sebelah ",, kata L lagi.
Alva yang tersinggung dengan ucapannya si L, dia memilih langsung masuk ke dalam kamar sebelah dan langsung membanting pintunya dengan sangat kasar sekali.
L tahu jika Alva marah dengannya, dan semua itu L lakukan, supaya jika nanti Alva pergi lagi darinya, dirinya sudah siap dengan yang namanya perpisahan.
L yang ditinggal sendirian oleh Alva, dia lalu masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Di dalam kamar itu L langsung mengusap wajahnya dengan sangat kasar sekali sambil menghembuskan nafasnya dengan berat.
" Maafkan aku Alva ," kata L berbicara sendiri.
" Aku ingin melihatmu berjuang juga untukku ",, kata L lagi.
" Kenapa sejauh ini, aku tidak bisa menilai dirimu, apakah kamu sudah bisa menerimaku atau tidak?? ",, kata L lagi.
" Apa yang harus aku lakukan supaya kamu mau menerima kehadiranku di sisimu ",, kata L masih merasa bersedih.
L yang sudah menenangkan diri, dia langsung saja masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi dan bersih-bersih badannya.
Selesai mandi, L langsung berganti baju, dan memilih untuk beristirahat sejenak sebelum malam nanti kembali pulang ke mansion.
L ingin sekali memejamkan matanya, tapi sekuat apapun L berusaha, tetap saja matanya tidak mau tertutup sama sekali.
L yang gelisah karena kepikiran dengan Alva, dia lalu ke luar dari dalam kamar dan ingin menemui Alva.
L yang sudah berada di depan kamar Alva, dia langsung mengetuk pintunya, namun sudah cukup lama mengetuk pintu kamar, tetap tidak dibukakan sama sekali oleh Alva.
" Alva, apakah kamu sedang tidur?? ",, kata L masih sambil mengetuk pintunya.
L mencoba membuka pintu kamar Alva, dan alangkah terkejutnya L ketika dia tidak melihat Alva sama sekali di dalam kamarnya.
" Alva, kamu ada di mana?? ",, kata L sambil berteriak.
L langsung bergegas ke luar dari dalam rumah mewah itu untuk mencari keberadaannya Alva.
L menyuruh kepada bodyguardnya untuk menyebar mencari keberadaannya Alva, dan L tidak pakai lama langsung mencari Alva di air terjun yang mereka datangi tadi.
Tapi sayang sekali, L tidak menemukan Alva sama sekali di dekat air terjun tersebut.
" Alva kamu ada di mana?? ",, tanya L kepada dirinya sendiri.
L begitu sangat khawatir sekali jika Alva kenapa-kenapa, karena mau bagaimanapun juga, L tidak akan pernah bisa marah kepada Alva.
Para anak buah yang saling terhubung dengan walkie talkie mereka untuk mencari keberadaannya Alva, akhirnya, setelah semua anak buah yang ada di situ saling berkomunikasi, L bisa mengetahui keberadaannya Alva yang saat ini sedang berada di pantai yang ada di pulau itu.
L langsung bergegas menuju ke pantai tersebut, dan jarak antara air terjun dengan pantainya cukup lumayan menyita waktu.
L sampai di pantai tempat Alva merenung sendirian, ketika matahari akan terbenam ke dalam singgasananya, sangat indah sekali, dan L akhirnya bisa menikmati sunset berdua dengan Alva walau dalam keadaan sedang marahan.
" Alva ",, panggil L.
Dengan berjarak sekitar lima meter, Alva pun menolehkan kepalanya ke belakang ketika dipanggil oleh L.
L langsung berjalan mendekati Alva yang masih memakai pakaian yang sama seperti sebelumnya.
Karena memang Alva tadi yang merasa marah dengan sikap L, dia memilih ke luar lagi dari dalam kamarnya menuju ke segala arah.
Alva sebenarnya sudah dicegah oleh para anak buah yang ada di situ, namun Alva kekeh ingin pergi sendirian tanpa memberitahukan L sama sekali.
" Jika kalian takut di marahi oleh majikan kalian, ikutlah dengan saya, tapi jangan terlalu dekat-dekat!! ",, begitulah kata Alva kepada para anak buah yang menjaganya.
Akhirnya, para anak buah itu hanya bisa menjaga Alva dari jarak yang cukup lumayan, karena mereka tidak mau sampai merusak privasi dari istri majikannya.
Kaki Alva terus melangkah dan melangkah, hingga lama kelamaan dia mendengar suara deburan ombak yang membuatnya bisa menemukan sebuah pantai pribadi yang masih bersih dan sangat indah sekali pemandangannya.
Alva merenung sendirian di dekat air pantai itu dengan mata terus memandang ke hamparan air laut yang tenang di depannya.
Hingga tiba-tiba atensinya teralihkan, ketika dia mendengar ada yang memanggil namanya, yang ternyata adalah si L.
L saat ini sudah berada tepat di depan Alva, dan dia sedang menatap lekat wajah Alva yang sedang mendongak menatap wajahnya.
" Kenapa kamu suka sekali pergi tanpa ijin dariku Alva?? ",, tanya L.
" Apakah sebegitu tidak pentingnya aku di hidupmu, hingga kamu tidak pernah mempedulikanku?? ",, tanya L lagi.
" Apakah semua yang aku lakukan selama ini demi kamu, tidak pernah kamu hargai Alva?? ",, tanya L lagi dan lagi.
" Jawab aku Alva,?? jawab aku?? ",, kata L.
" Jika kamu ingin pergi lebih cepat dariku, akan aku kabulkan jika memang itu yang kamu inginkan ",, kata L.
__ADS_1
" Apapun akan aku lakukan asal kamu bahagia, walau hati ku sendiri akan teriris sakit demi kebahagiaanmu ",, kata L lagi.
Tes, air mata Alva menetes dengan sendirinya mendengar pengakuan panjang lebar dari si L tadi.
Tanpa banyak berbicara, Alva langsung memeluk tubuh si L dengan sangat erat sekali.
L masih diam saja tidak mau membalas pelukannya Alva ke tubuhnya, dan tiba-tiba L malah melepaskan pelukannya Alva hingga membuat Alva menjadi bingung dan juga bersedih.
" Janganlah terus memberikanku harapan yang nantinya akan kamu hancurkan di tengah jalan ",, kata L.
" Jujurlah kepadaku apa yang sebenarnya kamu inginkan dari pernikahan ini ",, kata L lagi.
" Aku akan siap menunggu sampai kamu memberikan jawaban yang pasti untukku ",, kata L dengan ekspresi yang benar-benar sangat datar sekali.
Alva sampai tidak diberikan kesempatan oleh L untuk berbicara, sebab L daritadi terus mengungkapkan perasaannya kepada Alva.
" Ini sudah malam, udara di sini akan semakin dingin, ayo kita kembali saja ke rumah ",, kata L kepada Alva.
Setelah berkata seperti itu, L langsung berlalu pergi dari hadapan Alva dan meninggalkan Alva sendirian di situ.
Ketika L baru beberapa langkah berjalan, dia dikejutkan oleh Alva yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
" Jangan pergi L, jangan bersikap begini kepadaku ",, kata Alva sambil memeluk L dari belakang.
" Maafkan aku yang tidak jujur kepadamu, bahwa sebenarnya aku sudah mulai menerima pernikahan ini ",, kata Alva lagi.
Alva lalu berpindah posisi menjadi di depan L dan dia menatap lekat wajah L di bawah teriknya sinar rembulan yang indah malam ini.
" Aku berjanji akan selalu meminta ijin kepadamu jika aku ingin pergi, aku berjanji akan selalu menatapmu sebagai suamiku, dan aku juga berjanji akan memulai hubungan ini dengan baik bersamamu, karena aku perlahan sudah mulai mencintaimu L ",, kata Alva lagi.
" Sekarang aku sadar L, kamu begitu berarti bagiku, bahkan rasanya sakit sekali ketika kamu mendiamkanku daritadi ",, kata Alva.
" Dua minggu lebih bersamamu, sudah berhasil membuka mataku, jika kamu adalah laki-laki yang baik yang selama ini aku cari ",, kata Alva lagi.
L masih diam saja dan terus memandang Alva dengan sangat lekat sekali, sambil mendengarkan setiap kata yang Alva ucapkan kepadanya.
" Ayo kita melangkah bersama mengarungi bahtera rumah tangga ini, maukan kamu memulai hidup yang baru dan memulai kisah kita berdua mulai malam ini bersamaku ",, kata Alva kepada L.
Tanpa banyak bicara, L langsung membawa Alva ke dalam pelukannya.
Dia memeluk Alva dengan sangat erat sekali, seakan-akan seperti ini meremukkan tulang di dalam tubuhnya Alva.
Puas memeluk Alva, L langsung melepaskan pelukannya dan lalu menangkup wajah Alva menggunakan ke dua telapak tangannya.
" Apakah kamu serius dengan ucapanmu Alva?? ",, tanya L.
" Iya aku serius ",, jawab Alva sambil mengangguk.
" Apakah aku tidak salah mendengar malam ini tentang semua pernyataanmu tadi?? ",, tanya L masih tidak percaya.
Lagi dan lagi L langsung membawa Alva ke dalam pelukannya, L tidak mempedulikan jika di sana banyak anak buahnya yang melihat, yang dia pedulikan saat ini, jika malam ini hatinya benar-benar merasa sangat bahagia sekali.
" Ayo kita kembali ke rumah, nanti kamu bisa sakit jika terlalu lama di sini ",, kata L kepada Alva.
Alva hanya mengangguk saja, dan mereka berdua lalu berjalan beriringan saling memeluk pinggang dan pundak untuk kembali ke rumah sang Paman Tara.
Sesampainya di rumah, tiba-tiba hujan turun sangat lebat sekali, padahal tadi ketika berada di pantai, sinar rembulan bersinar sangat terang sekali.
Alva dan L saat ini juga tidak pisah kamar lagi seperti tadi, mereka berdua berada di dalam kamar yang sama.
" Sepertinya sedang turun hujan?? ",, kata Alva.
" Iya, di luar memang sedang turun hujan ",, jawab L.
" Apakah kamu sudah selesai, jika sudah, ayo kita makan malam dulu sebelum tidur ",, kata L.
" Iya ayo ",, jawab Alva.
Alva dan L malam ini makan malam berdua di pulau pribadi milik sang Paman Tara.
" L, jika Mamam sama Papa menunggu kita pulang bagaimana?? ",, tanya Alva.
" Tenang saja, aku sudah menghubungi Papa, jika kita akan menginap di sini ",, jawab L.
" Oh, baiklah ",, jawab Alva.
Di mansion Papa Alex, Mama Ana yang sedang menonton televisi bersama Papa Alex pun mencoba bertanya sesuatu.
" Pa, memangnya L sama Alva pergi ke mana sih?? ",, tanya Mama Ana.
" Ke pulau pribadinya Tara ",, jawab Papa Alex.
" Waaah di sana kan tempatnya sangat indah dan juga romantis sekali Pa ",, kata Mama Ana.
" Memangnya Mama apa mau pergi lagi ke sana, apa tidak bosan Ma?? ",, tanya Papa Alex.
" Lebih bosan lagi jika berdua terus dengan Papa ",, jawab Mama Ana sambil tertawa.
Papa Alex hanya menggelengkan kepalanya mendengar candaan dari Mama Ana.
" Kalau begitu, Papa ijin mau menikah lagi ya, kan katanya Mama bosan sama Papa ",, kata Papa Alex.
" Huwaaaaaaaaaaa ",, Mama Ana langsung menangis mendengar perkataan dari Papa Alex.
Padahal Papa Alex cuma menanggapi saja candaan dari Mama Ana tadi.
__ADS_1
Papa Alex langsung kebingungan sendiri ketika melihat Mama Ana menangis seperti itu, padahal umurnya sudah tidak muda lagi.
" Mama kenapa menangis,? diamlah Ma, jangan seperti ini, malu dilihat sama yang lainnya ",, kata Papa Alex.
" Huh,!! biar saja,!! malam ini Papa tidur di kamar tamu!! ",, jawab Mama Ana.
Mama Ana langsung beranjak berdiri dari duduknya untuk masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.
Yang bisa Papa Alex lakukan sekarang cuma pasrah saja, karena yah pintunya sudah di kunci dari dalam oleh sang istri.
Meninggalkan Mama Ana yang sedang merajuk, kita kembali kepada L dan Alva lagi.
L dan Alva saat ini sudah selesai makan malam dan sedang berada di dalam kamar mereka.
L sedang sibuk sendiri dengan ponselnya, sebab dia sedang membalas pesan dari Saddam dan beberapa kolega bisnisnya.
Sedangkan Alva yang duduk di ranjang sebelah L, dia tiba-tiba merasa kedinginan, karena hujannya turun benar-benar sangat lebat sekali.
" Kenapa udaranya tiba-tiba terasa dingin begini ",, kata Alva.
" Apakah kamu tidak kedinginan L?? ",, tanya Alva kepada L.
" Tidak, jika kamu kedinginan sini aku peluk ",, jawab L.
L lalu membawa Alva ke dalam pelukannya dengan berada di dalam satu selimut yang sama.
" Alva, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu ",, kata L.
" Tanyakanlah saja, bukankah kita sudah sepakat untuk saling terbuka satu sama lainnya?? ",, jawab Alva.
" Apakah kamu mau mengandung anakku?? ",, tanya L langsung to the point.
" Apakah kamu sudah siap untuk mempunyai anak dariku Alva?? ",, tanya L lagi.
" Apakah kamu sudah teringin sekali mempunyai anak dari rahimku L?? ",, tanya balik dari Alva.
" Sejujurnya aku sudah sangat ingin sekali mempunyai anak Alva, itulah kenapa dari kemarin aku sengaja mengeluarkannya di dalam, walau kamu melarangku sekalipun ",, jawab L.
" Iya aku mau, jika itu awal perubahan hubungan kita ",, kata Alva.
" Sungguh?? ",, tanya L.
" Iya, aku bersungguh-sungguh ",, jawab Alva sambil tersenyum.
" Maukah kamu melakukannya lagi denganku malam ini Alva?? ",, tanya L meminta ijin.
" Lakukanlah, karena tubuhku ini sudah sepenuhnya menjadi milikmu ",, jawab Alva sambil tersenyum.
Mendapat lampu hijau dari Alva, membuat L mulai berani berpindah posisi ke atas tubuhnya Alva, untuk memulai aksinya.
L mencium Alva tepat di bibirnya, dan dia m3lum4t m35ra bibir tipisnya Alva dengan penuh perasaan.
Malam itu, L dan Alva seperti berbulan madu di pulau pribadi milik sang Paman.
Dengan suara derasnya air hujan yang turun, menambah kesan 1nt1m kegiatan indah mereka malam itu.
L dan Alva melakukan itu berulang kali sampai mereka merasa puas dan capek sendiri, karena untuk pertama kalinya juga, Alva melakukan itu dengan L benar-benar sudah membuka hatinya untuk sang suami.
L yang kecapekan membuatnya langsung tertidur lelap, ketika sudah merasa puas dengan Alva.
Alva yang belum bisa tidur, dan tiba-tiba merasa ingin buang air kecil, dia pun langsung beranjak menuju ke dalam kamar mandi.
Selesai buang air kecil, Alva yang sudah memakai kembali baju tidurnya, tidak sengaja di dalam benaknya terlintas nama Chan, laki-laki yang pernah berarti di dalam hidupnya.
Alva sejenak terdiam, sambil memandang L yang sudah terlelap di atas ranjang, setelahnya Alva memilih berjalan ke arah jendela kamarnya untuk merenungi sesuatu.
" Tidak aku sangka, jika akan secepat ini jatuh ke dalam pelukannya si L ",, kata Alva di dalam hatinya.
" Cepat sekali L bisa menggantikan nama Chan di dalam hatiku, padahal aku dulu benar-benar begitu mencintai Chan ",, kata batin Alva lagi.
" Apakah aku terlalu egois bisa dengan mudah mencintai dua laki-laki secara bersamaan?? ",, kata batin Alva bertanda tanya.
" Chan, maafkan aku ",, kata batin Alva.
" Maafkan aku yang sekarang harus memilih L menjadi pendampingku, karena rasanya hatiku sudah terpikat oleh ketulusan cintanya yang selalu sabar menghadapi semua sikapku ",, kata Alva masih di dalam hatinya.
" Semoga kamu bisa segera mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku Chan ",, doa tulus dari Alva.
" Malam ini ku serahkan semuanya hanya untuk L, jikalaupun di dalam perut ini tumbuh seorang baby seperti keinginan si L, aku berjanji akan merawatnya dengan baik ",, kata batin Alva sambil mengusap perutnya.
Setelah puas merenung sendiri, Alva lalu berjalan ke arah ranjang lagi, dan ikut beristirahat bersama L yang sudah lelap sejak tadi.
Alva sadar, semenjak dia masuk ke dalam kehidupannya si L, sejak saat itu pula hidupnya akan ketergantungan dengan laki-laki yang bernama Luis Damara.
Sejauh apapun dia menghindar, selama apapun dia pergi, dan semarah apapun dia dengan keadaan, ujung-ujungnya, dia akan kembali lagi kepada pelukannya si L.
Alva lelah jika harus memberontak terus, karena melihat L marah saja, hatinya terasa sakit.
Alva takut jika dia menuruti egonya yang sangat besar, bukan kebahagiaan yang dia dapatkan, melainkan penyesalan yang terlambat.
Jadi, sebelum semuanya terlambat, Alva berusaha jujur dengan hatinya, jika dia juga tidak mau kehilangan cintanya L.
Alva ingin terus di cintai oleh L, sampai dia lupa, bagaimana caranya berpaling dari cinta tersebut.
...⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️...
__ADS_1
...***TBC***...