
Malam harinya, L dan Alva sedang menonton televisi bersama-sama di ruang Keluarga seperti malam-malam sebelumnya.
Ketika sedang asik menonton televisi, tiba-tiba ponsel L berdering dengan sangat kencang sekali.
Hal itu tentu saja membuat pandangan L teralihkan ke arah ponselnya, sedangkan Alva hanya melirik saja, tanpa mau banyak bertanya dari siapa.
" Halo ",, kata L.
L juga sengaja menerima telepon dihadapan Alva, karena L tidak mau ada hal yang disembunyikan dari Alva.
Cukup lama berbincang, sekitar delapan menitan, akhirnya sambungan telepon L terputus juga.
" Alva, ayo ikut denganku sekarang?? ",, kata L dengan tiba-tiba.
" Kemana?? ",, tanya Alva.
" Menemui kolega bisnisku, katanya ada yang ingin dibahas penting malam ini bersamaku, dan aku ingin kamu ikut denganku ",, jawab L.
" Tidak ah L, kamu datang sendiri saja ",, kata Alva.
" Ayolah Alva temani aku, iya ",, kata L memohon.
" Mungkin lain kali saja, kamu sekarang pergilah sendiri, siapa tahu kalian ingin membahas hal penting, dan kalau ada aku, takutnya kolega kamu menjadi risih serta sungkan kepadaku ",, jawab Alva.
" Baiklah, kalau begitu aku mau bersiap-siap dulu ",, kata L.
Alva hanya mengangguk saja kepada L, dan L langsung berlalu ke dalam kamar untuk berganti baju yang lebih sopan.
Selesai berganti baju, L pun langsung segera ke luar dari dalam kamar, dan Alva yang melihatnya langsung bangun dari duduknya.
" Sudah mau berangkat L?? ",, tanya Alva, dan wajah serta nada bicara Alva tidak seperti sebelumnya, sebelum Mama Ana dan Papa Alex datang berkunjung.
Kali ini Alva terlihat bersahabat, karena Alva berpikir jika L tidak seburuk yang dia pikirkan.
" Aku berangkat dulu Alva, hati-hati di rumah ",, pamit L.
" Iya, kamu juga hati-hati di jalan ",, jawab Alva sambil tersenyum.
Singkat cerita, akhirnya L sudah sampai di restoran yang dia tuju.
Sesampainya di restoran itu, L langsung masuk ke dalam ruang VVIP yang sudah dipesan oleh koleganya.
Di ruang VVIP itu, L cuma melihat sekretaris wanita dari koleganya, dan L tidak merasa curiga sama sekali kepada sekretaris tersebut.
" Tuan L Damara, silahkan duduk ",, sapa ramah dari sekretaris tersebut.
" Di mana Tuan Hendrik, Nona?? ",, tanya L.
" Tuan sedang berada diperjalanan Tuan, katanya sedang terjebak macet ",, jawab sekretaris tersebut.
L hanya mengangguk saja kepada sekretaris itu.
" Sambil menunggu Tuan Hendrik, bisakah anda melihat berkas-berkas ini sebentar Tuan, karena berkas ini memang harus anda baca terlebih dahulu ",, kata sekretaris wanita itu.
" Baiklah, berikan kepada saya ",, jawab L.
Sekretaris itu langsung saja memberikan berkas yang dibawanya tadi kepada L, dan L sedikit merasa risih dengan penampilan dari sekretaris tersebut, sebab dia berpakaian sangat minim, dan juga belahan dadanya sangat terbuka sekali.
" Anda duduklah, saya akan membacanya sendiri ",, kata L mengusir, sebab sekretaris itu seperti ingin menempel dengan tubuhnya.
" Baiklah Tuan ",, jawab sekretaris itu kepada L.
Sekretaris itu langsung kembali duduk di kursinya lagi, dan sambil menatap L dengan tatapan yang entahlah, ketika L sedang sangat serius membaca berkas kerja sama mereka.
Ketika L sedang serius membaca, tiba-tiba dia merasakan ingin buang air kecil, dan hal itu membuat L berpamitan sejenak kepada sekretaris tadi untuk ke kamar mandi sebentar.
" Iya Tuan, silahkan ",, jawab sekretaris tadi dengan sopan.
Tidak lama setelah selesai buang air kecil, L lalu kembali duduk lagi di kursinya untuk melanjutkan membaca berkas yang tadi.
Merasa haus, tanpa curiga sama sekali, L langsung meminum air putih yang memang sudah disediakan di atas meja, dan senyum licik pun terlihat jelas di wajah sekretaris tadi ketika melihat L meminum air putihnya.
" Maaf Nona, Tuan Hendrik kapan sampainya, karena ini sudah cukup lama saya menunggu?? ",, tanya L.
" Sebentar Tuan, akan saya teleponkan lagi Tuan Hendrik ",, jawab sekretaris tersebut.
Sekretaris itu lalu mencoba menelpon Tuan Hendrik, dan ketika sekretaris itu sedang sibuk menelpon, tiba-tiba L merasakan tubuhnya terasa panas.
Dan panas yang dirasakan oleh L, seperti panas yang ingin melakukan hubungan lebih dengan seorang wanita.
" Apa yang terjadi dengan tubuhku?? ",, kata L.
__ADS_1
Sekretaris tadi yang mendengar dan melihat L seperti itu, dia langsung mematikan sambungan teleponnya dan langsung mendekati L.
Sekretaris wanita tadi langsung merayu, mem63l41, dan sudah berani duduk di pangkuannya L.
" Aaaah, panas, ada apa ini?? ",, kata L lagi.
" Biar saya bantu Tuan L, saya akan m3mu45kan anda malam ini dan menghilangkan rasa panas di dalam tubuh anda ",, kata sang sekretaris.
Ternyata sekretaris itu dan Tuan Hendrik sudah bekerja sama untuk menjatuhkan L, supaya bisnis L bisa merosot jatuh ke bawah, kalau bisa sampai bangkrut.
Dan air putih tadi sengaja sudah dicampur dengan obat per4n954n9 oleh sekretaris itu, ketika L sedang berada di dalam kamar mandi.
" Apa yang kamu lakukan!! ",, kata L kepada sekretaris tadi yang sudah berani membuka dua kancing kemejanya.
" Saya akan membuat anda mel4y4n9 Tuan ",, jawab sekretaris tadi sambil berani mencium leher si L.
" Berani-beraninya anda Nona!! ",, kata L sambil mendorong tubuh sekretaris tadi dari atas pangkuannya.
Tentu saja *4**4* dari sekretaris tadi langsung mencium lantai nan dingin dengan sangat keras sekali.
" Aaaahh, panas sekali tubuhku!! ",, kata L sambil berdiri.
Sekretaris tadi masih gencar untuk mendekati si L, supaya L luluh ke dalam pelukannya.
Namun L yang masih mempunyai kesadaran, langsung mencekik leher sang sekretaris, hingga kakinya sampai terangkat ke atas lantai.
Tentu saja sekretaris tadi merasa kesakitan sekali, ketika dicekik seperti itu oleh si L
" Jauhkan tangan kotormu dari tubuhku, dan saya yakin, kamu sudah mencampurkan sesuatu ke dalam air minumku tadi!! ",, kata si L.
" 63r3n953k!! ",, kata L sambil melepaskan kasar cekikan di leher sekretaris tadi.
Setelah melepaskan cekikannya, L langsung berlalu ke luar dari dalam ruang VVIP itu untuk kembali ke rumahnya.
L mengendarai mobilnya dengan sangat kencang sekali, sebab dia benar-benar sudah tidak tahan dengan rasa di tubuh nya yang terasa sangat menyiksa sekali.
Sesampainya di rumah milik Ayah Ito, L berjalan masuk ke dalam rumah seperti cacing kepanasan.
Hingga ketika membuka pintu kamar pun dengan sangat kasar sekali, dan hal membuat Alva yang sedang rebahan menjadi terkejut.
" Aaaaahh panas ",, kata L.
" Alva kamu harus membantuku, aku sudah tidak tahan ",, kata L.
Karena si L yang sudah tidak tahan menahan gejolak h45rat di dalam tubuhnya.
" Alva bantulah aku, kolega ku sengaja memberikan obat p3r4n954ng ke dalam minumanku untuk menjatuhkanku ",, jawab L sambil mer464 leher dan juga kepalanya.
" Aku segera pulang, ketika mereka memanggilkan seorang 74l4n9 untuk memu45kanku ",, kata L lagi.
Yang dimaksud seorang 74l4n9 oleh si L adalah sekretaris tadi.
" Alva bantulah aku, aku mohon, ini sangat menyiksa sekali ",, kata L.
" Tidak L, kita sudah sepakat untuk tidak melakukan itu!! ",, jawab Alva menolak.
L sudah tahu jika Alva pasti akan menolaknya, tapi walau begitu L lebih memilih menahannya di rumah daripada di dalam restoran tadi.
Kejadian seperti ini tidak sekali saja pernah dialami oleh L, namun sebelumnya Saddam lah yang merasa kerepotan, tapi sekarang tidak, sebab tadi L tidak pergi bersama Saddam, sebab pikir L pertemuannya cuma sebentar saja, namun tidak tahunya seperti ini kejadiannya.
L tidak menjawab penolakan dari Alva, dia memilih langsung merebahkan badannya di atas ranjang sambil melepaskan kemeja yang dipakainya.
L berguling-guling sambil meringkuk tidak jelas di atas ranjang dengan wajah yang semakin memerah sekali.
" Aaaaah, panas sekali ",, kata L sambil menjambak rambutnya sendiri.
Alva yang masih berdiam diri ditempatnya berdiri, dia hanya bisa memandang L yang sedang seperti itu di atas ranjang.
Lama kelamaan hati nuraninya Alva tergerak, karena dia merasa sangat kasihan sekali dengan si L yang terlihat menyedihkan sekali keadaannya.
Alva perlahan mencoba melangkahkan kakinya menuju ke arah ranjang, dan sesampainya di ranjang dia langsung duduk di pinggir ranjang.
" L, lakukanlah, jika itu bisa membantumu menuntaskan rasa sakit di tubuhmu ",, kata Alva kepada L.
L yang sedang memejamkan matanya sambil meringkuk, langsung segera membuka matanya ketika mendengar perkataan dari Alva.
" Apakah kamu serius Alva?? ",, tanya L.
" Iya, aku serius, lakukanlah ",, jawab Alva.
H45r4t yang sudah diujung tanduk karena obat p3r4n954n9 yang diberikan oleh sekretaris tadi, membuat L langsung tidak sabaran ketika segera membuka yang melekat ditubuhnya maupun di tubuh Alva.
__ADS_1
Hingga pada akhirnya, saat ini mereka berdua untuk ke dua kalinya sudah dalam keadaan tidak berpakaian sama sekali.
Alva merasa sangat malu sekali, dan L yang matanya sudah tertutup kabut 941r4h langsung segera m3n3r74n9 tubuhnya Alva.
L mencium, m3ncum6u, dan mem63l41 setiap inci tubuhnya Alva, hingga membuat Alva melayang dibuatnya.
Walau L melakukan itu karena pengaruh obat, namun L masih bisa mengontrol h45r4tnya supaya tidak melakukannya dengan kasar kepada Alva.
Alva sendiri tanpa sadar menikmati setiap sentuhan yang diberikan si L di tubuhnya.
" Aku sudah tidak tahan Alva ",, kata L ketika tiba saatnya penyatuan.
" Masukkanlah ",, jawab Alva.
Ketika sudah mendapatkan lampu hijau dari Alva, akhirnya ..........?? masuk juga tiang listrik milik si L yang menancap dengan sempurna di dalam goa terdalam milik si Alva.
L menggerakkan maju mundur dengan teratur, dan suara d354h4n demi d354h4n dari Alva dan L saling bersahut-sahutan di dalam kamar tersebut.
Karena stamina si L yang kuat efek obat p3r4n954n9 tadi, mereka melakukan itu tidak cuma sekali maupun dua kali, hingga ketika waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, L baru bisa merasa puas dengan kegiatannya bersama Alva.
L langsung tertidur dengan sangat nyenyak sekali, dan dia tidak merasakan kesakitan lagi seperti tadi.
Alva merasa tubuhnya seperti remuk semua, namun entah kenapa, Alva seperti menemukan sensasi berbeda kali ini bisa 63rc1nt4 dengan si L untuk ke dua kalinya.
Melihat L sudah tertidur dengan lelap, tangan Alva seperti bergerak sendiri ingin mengusap lembut rambut kepala si L.
Masih dalam keadaan belum berpakaian sama sekali dan berada di dalam selimut yang sama, Alva tanpa sadar tersenyum sendiri mengingat kegiatan 63rc1nt4nya tadi bersama si L.
" Ternyata dia sangat tampan sekali ketika tidur ",, kata batin Alva.
Setelah puas memandangi L, Alva mencoba memejamkan matanya untuk ikut tidur juga disamping si L.
Pagi harinya ketika waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, L dan Alva terbangun karena ponsel milik si L berdering dengan sangat kencang sekali.
L dan Alva belum sepenuhnya sadar dengan apa yang semalam mereka lakukan, dan ketika L melihat tubuhnya sedang tidak memakai baju, barulah dia teringat dengan kegiatan mereka semalam.
" Alva, kita semalam?? ",, tanya L.
L benar-benar merasa takut sekali jika Alva akan marah lagi dengannya dan pergi lagi darinya.
Bagi si L, lebih baik dia dibenci oleh Alva, tapi Alva masih berada di dalam satu rumah dengannya.
" Iya, semalam kita memang melakukannya, tidak sekali tapi berkali-kali sampai kamu lelah sendiri ",, jawab Alva.
" Alva, maafkan aku ",, kata L.
" Aku tidak bermaksud untuk melakukan itu kepadamu ",, kata L lagi.
" Jangan pergi Alva, jangan membenciku lagi ",, kata L benar-benar ketakutan.
" Diamlah ",, kata Alva sambil memegang pipi si L.
" Aku tidak marah, karena aku sendiri yang ingin membantumu, janganlah kamu ketakutan seperti ini L ",, kata Alva lagi.
Pembicaraan mereka teralihkan lagi ketika ponsel milik si L berdering kembali, dan hal itu membuat L langsung beranjak bangun dari rebahannya untuk mengambil ponsel miliknya yang berada di dalam saku celananya.
L yang masih t3l4n74n9 bul4t dengan percaya dirinya, membuat Alva yang melihat langsung menutupi matanya menggunakan selimut yang dipakainya.
" Halo ",, kata L menerima telepon dalam keadaan masih belum berpakaian dan berdiri di tengah kamar.
Ternyata telepon itu dari si Saddam yang menyuruhnya untuk segera datang ke kantor.
Selesai menerima telepon, L lalu mengalihkan pandangannya ke arah Alva yang bersembunyi di dalam selimut.
" Alva, kamu kenapa?? ",, tanya L.
" Malu, kamu masih seperti itu ",, jawab Alva.
" Kenapa mesti malu, kamu sudah melihat semua tubuhku, dan aku sendiri sudah tahu bagaimana lekuk tubuhmu ",, kata L.
" Tetap saja aku malu ",, jawab Alva.
" Baiklah, kalau begitu aku mau mandi dulu ",, kata L.
Dan jahilnya si L, dia malah dengan sengaja menarik selimut yang dipakai oleh Alva dengan sangat kencang sekali, hingga membuat tubuh p0l05 si Alva terpampang jelas sekarang dihadapannya
L langsung tertawa bahagia bisa mengerjai si Alva, sedangkan Alva sendiri merasa sangat malu sekali dengan si L, dan langsung menutupi kembali tubuhnya dengan selimut yang jatuh tadi di lantai.
Sebelum diamuk oleh Alva, L langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi, meninggalkan Alva yang tersenyum malu sendirian dengan pipi yang terlihat memerah.
...⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️...
__ADS_1
...***TBC***...