
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih hampir tiga jam lamanya, atau lebih tepatnya dua jam tiga puluh menit menggunakan pesawat jet pribadi milik keluarganya, akhirnya pesawat jet yang L - Saddam naiki, sampai juga di salah satu Bandara yang ada di Madrid.
L langsung saja ke luar dari dalam pesawat diikuti oleh Saddam di belakangnya.
Kedatangan L langsung di sambut baik oleh pihak Bandara, karena mereka sudah tahu, pesawat milik siapakah yang sedang mendarat di Bandara tempat mereka bekerja.
" Mari Tuan L, kami sengaja sudah menyediakan fasilitas mobil untuk mengantarkan anda ke hotel ",, kata petugas Bandara yang di tugaskan untuk menyapa L.
L hanya mengangguk tipis saja kepada petugas Bandara tersebut, bahkan petugas Bandara itu mengantarkan L sampai masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan sebelumnya.
" Saddam, apakah kamu tahu Alva dan Keluarganya tinggal di mana?? ",, tanya L kepada Saddam.
" Belum Tuan, tapi semua anak buah kita sedang berusaha mencari keberadaannya Nona Alva ",, jawab Saddam kepada L.
" Cepat temukan mereka, karena saya tidak punya banyak waktu di sini ",, kata L kepada Saddam.
" Baik Tuan L ",, jawab Saddam kepada L.
Dan mobil mereka pun lalu menembus jalanan kota yang padat, menuju ke salah satu hotel berbintang yang ada di Negara Madrid.
Sedangkan di rumah super mewah milik Ayah Ito, sepeninggal dari Chan yang ingin menghibur Alva, para orang tua sedang membicarakan hal yang cukup serius.
" Pietro, Kakak sepertinya malam ini akan kembali pulang ke Moldova, karena Kakak tidak bisa berlama-lama meninggalkan Perusahaan, Kakak titip Alva ya sama kamu di sini, sampai keadaan mulai membaik ",, kata Ayah Ivar kepada Ayah Ito.
" Aku juga akan berkata seperti itu Kak, karena tugasku mengecek toko di sini sudah selesai, aku ingin mengecek di Negara lain ",, jawab Ayah Ito kepada Ayah Ivar.
" Biar Alva di sini saja sama Gilbert dan Elina Kak, mumpung lagi liburan gratis ",, kata Gilbert ikut berbicara.
" Tidak!! ",, jawab dari Ayah Ito dan Ayah Ivar secara bersamaan, dan hal itu membuat Gilbert langsung memajukan bibirnya karena cemberut.
Sedangkan Elina, langsung tertawa melihat sang suami di marahi oleh ke dua Kakaknya.
" Kamu harus ikut pulang sama Kakak Gilbert, sudah cukup lama kamu liburan dan meninggalkan pekerjaan kamu di sana ",, kata Ayah Ivar kepada Gilbert.
" Tambah lagi dong Kak, Gilbert belum jalan-jalan di sini ",, kata Gilbert menawar.
" Tidak Gilbert, sana pulang, jangan memberi contoh yang buruk kepada semua kecebong kamu ",, kata Ayah Ito kepada Gilbert.
" Jika Paman Ito, Paman Ivar dan Paman Gilbert pulang, itu artinya Aluisa akan ikut pulang dong, kan Ansel baru saja sampai sini Paman ",, kata Ansel kepada semua.
Gilbert yang melupakan kehadiran Ansel, mendengar Ansel berkata seperti itu, dia langsung saja tertawa dengan sangat keras sekali.
Begitupun dengan Mama Molly, dan Mama Agnes dan Mami Elina, juga ikut tersenyum melihat wajah cemberutnya Ansel.
Di saat semua orang sedang mentertawakan Ansel, tiba-tiba pandangan mereka semua teralihkan ke arah Chasel dan Aluisa yang baru saja datang.
Wajah Ansel langsung terlihat senang, dan dia langsung berdiri dari duduknya untuk memeluk Aluisa.
" Aluisaaaaa, aku sangat merindukanmu ",, kata Ansel sambil memeluk Aluisa.
" Kamu ko ada di sini Ansel ",, kata Aluisa kepada Ansel.
" Sepertinya kamu tidak senang aku ada di sini ",, jawab Ansel sambil duduk kembali.
" Iyaaaaah, ini anak kecebong ngambek ",, kata Gilbert menggoda Ansel.
" Eh, bukan begitu, maksudnya kapan kamu datang, tadi kan sebelum aku pergi, aku tidak melihat kamu ada di sini?? ",, kata Aluisa kepada Ansel.
" Dia baru saja datang Nak bersama Chan juga, dan kamu darimana?? ",, tanya Ayah Ivar kepada Aluisa.
" Dari mana saja Paman, katanya si Chasel sedang gabut, makanya dia mengajak Aluisa jalan-jalan tidak jelas ",, jawab Aluisa kepada Ayah Ivar.
Chasel yang melihat kembarannya sedang merajuk karena ulahnya, dia langsung saja tertawa.
" Jika mau yang jelas, ayo menikah denganku A ",, kata Ansel kepada Aluisa.
Pletak.
Telinga Ansel langsung di sentil oleh Ayah Ito dengan sangat keras sekali.
" Ayah mertua, kenapa jahat sekali sama menantunya sendiri sih, awas saja lho nanti Ansel laporkan ke Mama Molly ",, kata Ansel sambil mengusap telinganya.
" Kamu itu masih kecil, seenaknya saja mau mengajak menikah Aluisa, mau kamu kasih makan apa nanti setelah menikah, hah!! ",, kata Ayah Ito kepada Ansel.
" Kan uang Ayah mertua banyak, bahkan tidak akan habis tujuh turunan, jadi untuk apa Ansel bekerja ",, jawab Ansel kepada Ayah Ito.
" Enak saja ",, kata Chasel sambil menjitak kepala Ansel.
" Uang Ayah ya untuk aku, kamu ya bekerja dong, atau minta sana sama Paman Agler ",, kata Chasel kepada Ansel.
__ADS_1
Selain mempunyai sifat yang hampir mirip dengan Keluarga Roderick, Ansel juga cukup berani mengajak bercanda Ayah Ito.
Pandangan mereka semua lalu teralihkan ke arah Chan yang tiba-tiba ke luar dari dalam kamar.
" Kamu ko sudah ganti baju Chan, mau ke mana?? ",, tanya Ayah Ivar kepada Chan.
" Mau pergi sebentar bersama Alva Paman, mau mengajak dia makan di luar ",, jawab Chan kepada Ayah Ivar.
" Alva sudah mau berbicara Nak?? ",, tanya Mama Agnes kepada Chan.
" Mau Aunty, kalau tidak mau berbicara akan Chan cubit hidungnya biar jadi merah dan tambah panjang seperti pinokio ",, jawab bercanda dari Chan.
" Kamu ini ada-ada saja ",, kata Mama Agnes kepada Chan sambil tertawa, dan Chan yang melihatnya jadi ikut tertawa juga.
Tidak lama, Alva pun ke luar juga dari dalam kamarnya dan sudah berpakaian rapi, simple tapi terlihat sangat cantik sekali.
" Nah itu dia sudah selesai, kami pamit pergi dulu ya Paman, Aunty ",, kata Chan kepada semua orang.
" Alva pergi dulu Ayah, Mama ",, pamit Alva juga kepada ke dua orang tuanya.
" Iya, kalian berhati-hatilah di jalan ",, jawab Ayah Ivar kepada Alva dan Chan.
" Ayo sini pegang tanganku, takut nanti tersesat, karena wanita secantik kamu, pasti banyak laki-laki di luar sana yang menginginkanmu menjadi kekasihnya ",, kata Chan dengan sangat berani di hadapan semua orang.
Dan seperti biasa, Alva pun menggandeng tangan Chan dengan sangat mesra sekali.
Apa yang sedang dilakukan Chan dan Alva, dilihat dan diperhatikan jelas oleh semua orang yang ada di situ.
" Sepertinya mereka cocok Kak ",, kata Ayah Ito kepada Ayah Ivar.
" Iya, dan dari dulu Kakak juga lebih percaya jika Alva pergi bersama Chan ",, jawab Ayah Ivar kepada Ayah Ito dan masih didengar yang lainnya.
" Jodohkan saja mereka Paman, lagi pula Kak Chan dan Kak Alva sangat serasi sekali, bahkan sejak mereka kecil, Kak Alva cuma mau manja dengan Kak Chan saja ",, kata Chasel ikut berbicara.
" Nanti kita lihat saja kedepannya Chasel ",, jawab Ayah Ivar kepada Chan.
Iya, tidak bisa dipungkiri, kedekatan Alva dan Chan sejak mereka masih kecil, menimbulkan rasa nyaman tersendiri di dalam hati mereka masing-masing.
Bisa jadi, Alva dan Chan saling menyukai, akan tetapi mereka tidak menyadarinya selama ini, karena baik Chan dan Alva, akan menunjukkan keromantisan mereka jika mereka sedang bersama tanpa mereka sadari.
" Kamu mau makan di mana Alva,?? di tempat terbuka, romantis, atau di restoran atau Cafe biasa?? ",, tanya Chan sambil mengendarai mobilnya.
" Aku rasanya ingin makan di restoran terbuka, tapi tempatnya terlihat romantis dan menenangkan pikiran, apa di sini ada?? ",, tanya Alva kepada Chan.
" Emm, sepertinya ada, sebentar aku browsing dulu di internet ",, jawab Chan kepada Alva.
" Coba kamu cari Alva, karena aku sedang menyetir ",, kata Chan sambil menyerahkan ponselnya.
" Ok ",, jawab Alva sambil menerima ponsel milik Chan.
Tidak lama, Alva pun menemukan satu restoran romantis dan juga mewah di dalam internet, dan Alva menyuruh Chan untuk datang ke restoran tersebut.
" Siap Tuan putri, kita menuju ke sana, sesuai petunjuk google lagi ",, jawab Chan sambil bercanda.
Dan setelah mengikuti petunjuk jalan, akhirnya mobil yang Chan kendarai sampai juga di restoran yang mereka tuju.
Chan dan Alva terlihat sangat serasi sekali, dengan Chan yang memakai pakaian santai yang berwarna putih, sedangkan Alva memakai dress hitam berjaket sweater berwarna biru langit, sangat serasi sekali mereka berdua.
" Wao, restorannya ternyata lebih bagus dari gambarnya ",, kata Alva kepada Chan.
" Iya, ayo kita duduk di sana ",, jawab Chan kepada Alva.
Alva hanya mengangguk saja dan lalu duduk di kursi yang ditunjuk oleh Chan tadi.
Ketika mereka sudah duduk, meja mereka langsung didekati waiters untuk menanyakan makanan apa yang ingin mereka pesan.
Tanpa Alva sadari, ada seseorang yang baru saja masuk ke dalam restoran tersebut, dan tentu saja kalian semua sudah pada tahu, siapa orang itu, yaps, si L yang ingin makan bersama Saddam.
L sendiri juga belum menyadari, jika ada Alva di sudut restoran tersebut bersama Chan.
" Eh, ada live musicnya, dan mereka juga sedang berdansa, mau berdansa denganku Alva?? ",, tanya Chan kepada Alva.
" Tidak mau, aku malu ",, jawab Alva sambil menggelengkan kepalanya.
" Ayolah, sebentar saja, sebelum menikmati makanan kita ",, kata Chan kepada Alva.
" Iya baiklah ",, jawab Alva akhirnya menurut.
Sebelum ikut berdansa, Chan berpesan kepada waiters untuk menjaga mejanya sebentar.
__ADS_1
Chan dan Alva lalu ikut berdansa bersama yang lainnya dengan sangat mesra sekali.
Music jazz yang sangat merdu, menambah kesan romantis malam itu untuk pasangan muda mudi yang sedang menikmati dinner mereka malam ini.
L sendiri juga cukup terhibur, dengan live music yang disuguhkan saat ini, sambil menatap pasangan kekasih yang sedang berdansa mesra di bawah panggung.
Jeng-jeng-jeng .......
Akhirnya mata L melihat sendiri ada Alva sedang berdansa dengan Chan dengan sangat mesra sekali, bahkan tubuh mereka berdua menempel dengan sangat dekat.
Mata L langsung melotot dengan sangat lebar selebar daun kelor, hehehe bercanda ya readers.
" Saddam, bukankah itu Alva?? ",, kata L kepada Saddam.
" Mana Kak L?? ",, tanya Saddam kepada L.
L langsung menunjuk Alva dan juga Chan, dan Saddam langsung membenarkan apa yang di lihat oleh L.
" Akan aku dekati mereka, siapa laki-laki itu,?? beraninya memeluk Alva seperti itu!! ",, kata L dengan sangat marah sekali.
" Jangan Kak ",, cegah Saddam kepada L.
" Kenapa kamu mencegahku!! ",, kata L kepada Saddam.
" Jika Kakak tiba-tiba datang mendekati Alva, pasti suasana menjadi kacau, dan pasti Alva akan semakin sangat marah sekali dengan Kakak, apa Kakak tidak mau dilihat oleh semua orang yang ada di sini ",, nasihat Saddam kepada L.
" Ok, kamu benar, akan aku perhatikan saja mereka dari sini ",, jawab L kepada Saddam.
Chan dan Alva saat ini sedang menyatukan dahi mereka dengan sangat dekat sekali, mata saling memandang satu sama lainnya, dengan bibir yang sedang tersenyum manis.
" Kamu sangat cantik Alva malam ini ",, kata Chan yang terbuai suasana.
Alva hanya tersenyum saja mendengar Chan memujinya, karena itu bukan pujian yang pertama dari Chan untuknya.
" Mungkinkah aku menyukaimu selama ini, tapi aku tidak menyadarinya Alva?? ",, tanya Chan kepada Alva.
Alva hanya mengangkat ke dua bahunya saja, pertanda dia juga tidak tahu.
Kemesraan Chan dan Alva sampai membuat semua pasangan yang tadi ikut berdansa, memilih mengakhiri dansa mereka dan ikut menonton kemesraan Alva bersama Chan.
Chan dan Alva tidak menyadari, jika mereka berdua sedang menjadi bahan tontonan oleh para pengunjung restoran tersebut.
" Jika iya, maukah kamu menjadi kekasihku Alva?? ",, tanya Chan tanpa sadar mengungkapkan perasaannya.
" Apa kamu yakin ingin menjadikanku kekasihmu Chan?? ",, tanya Alva kepada Chan.
" Iya, aku yakin ",, jawab Chan kepada Alva.
" Baiklah, kita bisa mencobanya ",, jawab Alva kepada Chan.
" Apakah itu artinya kamu menerima cintaku Alva?? ",, tanya Chan.
" Hu'umb ",, jawab Alva sambil tersenyum.
Dahi yang masih menyatu dengan sempurna, pelukan mesra masih mereka lakukan, ketika mendengar Alva menerima ungkapan cintanya, Chan reflek langsung mencium bibir Alva dengan sangat mesra sekali di hadapan semua orang.
Semua orang yang melihat keromantisan Chan dan Alva, mereka semua tanpa sadar jadi ikut baper, dan langsung bertepuk tangan dengan sangat meriah sekali, ketika melihat Chan dan Alva berciuman seperti itu.
Ada yang terbakar api cemburu, mungkin panasnya api itu melebihi lava gunung berapi, dan orang itu tentu saja si L.
Dada dia seperti genderang perang yang siap meledak kapan saja, melihat keromantisan Alva bersama Chan.
Walau L tidak bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Chan bersama Alva, akan tetapi sesama laki-laki dia sangat tahu sekali, jika Chan sedang merayu Alva.
Chan dan Alva sendiri sangat terkejut sekali, ketika tiba-tiba ada tepuk tangan meriah yang ditujukan kepada mereka berdua.
Alva merasa sangat malu sekali, sampai menyembunyikan wajahnya di dada Chan, dan Chan sendiri langsung memeluk Alva sambil tersenyum kepada semua orang.
Sedangkan si L, dia langsung angkat kaki dari situ untuk menuju ke dalam mobilnya, dan Saddam yang melihat sang Kakak pergi, dia pun jadi ikut pergi juga.
...πππππππππππππ...
Aaaaah, jadi ikut baper membayangkan kemesraan Chan dan Alva, dan tidak salah mereka juga, jika pada akhirnya Chan berani menjadikan Alva sebagai kekasihnya.
Karena di sini orang ke tiga diantara mereka berdua adalah si L.
...βοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈ...
...***TBC***...
__ADS_1