
Papa Alex yang mendengar laporan jika L berusaha menghancurkan Perusahaan milik Keluarga Hartigan, dia langsung saja tersenyum bangga sambil menikmati wine kesukaannya.
Papa Alex tidak menyangka, jika L akan sama persis seperti dirinya, jika ingin menghancurkan musuh atau lawan yang membangkang kepadanya.
" Lalu apa ada kabar lagi tentang L, Arga?? ",, tanya Papa Alex kepada Arga.
" Saat ini Perusahaan Keluarga Hartigan benar-benar sudah bangkrut karena ulah L, Bos, dan yang bisa menyelamatkan Perusahaan tersebut, cuma L saja, sebab L sudah memblokir akses semua kolega untuk membantu Keluarga Hartigan ",, jawab Arga kepada Alex.
" Wao, bagus sekali si L, aku bangga kepadanya ",, kata Papa Alex yang didengar jelas oleh Arga.
" Awasi L terus Arga, aku ingin tahu bagaimana kelanjutan dia dalam mendapatkan Alva ",, kata Papa Alex lagi kepada Arga.
" Siap Bos ," jawab Arga dengan mantap.
Beralih ke Chan lagi.
Chan benar-benar merasa sangat frustasi sekali dengan permasalahan pelik yang dihadapinya sekarang.
Chan bingung, dan dia mencoba menghubungi semua kolega atau kenalannya untuk meminjamkan uang atau menanamkan saham di Perusahaannya.
Namun, mereka semua tidak ada yang bisa membantu Chan sama sekali, karena mereka semua sudah mendapatkan ancaman besar dari L Damara.
" Aaaarrggghh, 63r3n953k!! ",, marah Chan sampai mukanya memerah.
Chan yang murah senyum sekarang tidak terlihat di wajahnya, sebab saat ini dia sedang diterpa masalah berat sekali.
Ketika sedang meluapkan emosinya, tiba-tiba ponselnya berbunyi, dan di saat Chan melihat, ternyata yang menelponnya adalah Alva.
" Alva,!! sekarang aku sedang malas mengangkat telepon darimu, maafkan aku ",, kata Chan berbicara sendiri.
Mario yang masih ada di situ, dia mendengar semua apa yang dikatakan oleh Chan tadi, namun yang bisa dia lakukan cuma diam saja, dan tidak mau mengganggu Chan sama sekali.
Chan lalu membiarkan sambungan telepon dari Alva berhenti dengan sendirinya, dan Alva di seberang sana dia merasa bingung, karena tumben sekali Chan tidak mengangkat sambungan telepon darinya.
Akan tetapi, Alva mencoba berpikir positif tentang Chan dan tidak mau berpikir buruk terlebih dahulu.
Lagi dan lagi ponsel milik Chan berbunyi, kali ini dari L, sebab Chan melihat nomor yang sama seperti tadi, dan dia langsung mengangkatnya.
" Halo ",, kata Chan.
" Bagaimana, apakah kali ini kamu belum menyerah juga Tuan Chan Hartigan?? ",, jawab L dengan sangat santai sekali.
" Apa mau anda sebenarnya Tuan?? ",, tanya Chan kepada L.
" Simple saja, anda harus memutuskan Alva dan menyuruhnya untuk menikah dengan saya, karena saya sangat mencintainya, sebab jika tidak, akan saya pastikan anda akan lebih menderita dari pada ini ",, jawab L kepada Chan.
" Saya tidak pernah main-main dengan semua yang saya ucapkan ",, kata L lagi.
" Apakah saya akan mendapatkan kembali apa yang saya punya Tuan?? ",, tanya Chan.
" Bahkan saya bisa memberikan lebih kepada anda, jika anda mau menuruti semua perkataan saya ",, jawab L dengan sangat santai sekali.
" Ok, baiklah, nanti malam jam tujuh kita bertemu di salah satu restoran yang ada di kota ini, alamatnya nanti akan saya kirimkan ke ponsel anda ",, jawab Chan kepada L.
" Baik, akan saya tunggu kedatangan anda, jika anda sampai berbohong kepada saya, lihat saja apa yang akan saya lakukan kepada anda ",, jawab L, dan L langsung saja mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
Wajah Chan benar-benar sangat kacau sekali, dan Mario yang melihatnya, dia mencoba menawarkan diri membantu permasalahan sang bos.
" Tuan Chan, apa ada yang bisa saya bantu?? ",, tanya Mario.
" Kamu pesankan ruang VVIP di salah satu restoran mewah, dan nanti malam kamu temani saya untuk menemui Tuan L Damara ",, jawab Chan.
" Baik Tuan, permisi ",, jawab Mario.
Chan hanya mengangguk saja, dan Mario langsung berlalu ke luar dari dalam ruang kerja si Chan, untuk melaksanakan apa yang diinginkan oleh Chan tadi.
Baru saja Mario pergi, tiba-tiba ada sambungan telepon masuk lagi ke dalam ponselnya, dan kali ini dari telepon rumahnya.
" Halo ",, kata Chan.
" Chan cepatlah ke rumah sakit segera, Papa kamu terkena serangan jantung, karena mendengar jika Perusahaan sedang bangkrut ",, jawab segera dari Mama Linn.
" Astaga Papa, baik Mama, Chan akan segera menyusul ke sana sekarang juga ",, jawab Chan, dan sambungan telepon mereka lalu terputus.
Chan pun segera bergegas ke luar dari dalam ruang kerjanya, menuju ke rumah sakit tempat sang Papa sedang di rawat.
Papa Agler tadi yang sedang mencoba meminta bantuan kepada semua kenalannya, tidak ada satupun yang bisa membantunya.
Dan ketika Papa Agler ingin menghubungi yang lainnya lagi, tiba-tiba dia mendapatkan telepon dari sekretarisnya, yang mengatakan jika Perusahaan sedang mengalami kerugian yang sangat besar sekali.
__ADS_1
Di situlah Papa Agler terkejut dan merasa syok, lalu dia terkena serangan jantung secara mendadak.
Chan yang sudah masuk ke dalam mobil mewahnya, dia langsung saja bergegas menuju ke rumah sakit, dan sesampainya di rumah sakit dia langsung menuju ke ruang perawatan sang Papa yang sudah diberitahukan oleh Mama Linn tadi lewat pesan singkat.
" Papa ",, kata Chan sambil membuka pintu ruang perawatan.
Mama Linn, Ayah Janu dan Mama Hanna, langsung saja mengalihkan pandangan mereka ke arah Chan yang baru saja datang.
" Chan ",, kata semua orang ketika melihat Chan.
" Mama, kenapa Papa menjadi begini, bagaimana keadaan Papa, Ma?? ",, tanya Chan kepada Mama Linn.
" Papa sangat syok Chan, karena mendengar jika Perusahaan kita sedang bangkrut, kenapa ini bisa terjadi Chan, bukankah Perusahaan kita sedang baik-baik saja dan tidak ada masalah selama ini?? ",, kata Mama Linn.
Chan langsung diam seketika, dia bingung ingin mengatakannya kepada semua Keluarganya.
" Emm, ada yang ingin Chan sampaikan kepada kalian semua ",, kata Chan dengan sangat hati-hati sekali.
" Katakanlah Nak, apa itu?? ",, jawab sang Kakek, yaitu Ayah Janu.
" Hanya satu orang yang bisa membantu Perusahaan kita Ma, Kek, Nek ",, kata Chan.
" Katakan siapa itu orangnya Nan, dan cepatlah meminta tolong kepadanya Chan, kasihan para karyawan yang menggantungkan nasibnya kepada Perusahaan kita ",, kata Mama Hanna juga kepada Chan.
" Tapi Nek, ada syarat yang harus Chan bayar dengan mahal ",, jawab Chan kepada Mama Hanna.
" Apa itu syaratnya Chan, apakah itu sangat merugikan Keluarga kita atau justru sebaliknya?? ",, tanya Mama Linn.
" Dua-duanya Ma ",, jawab Chan kepada Mama Linn.
" Cepat katakanlah Chan, apa itu syaratnya ",, kata Ayah Janu sudah sangat penasaran sekali.
Sebelum Chan menjawab, dia menatap seluruh Keluarganya sambil menarik nafasnya yang cukup panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan.
Semua orang sedang menunggu jawaban dari Chan, apa yang ingin dia katakan kepada mereka.
" Chan harus meninggalkan Alva, Ma, Nek, Kek, dan tidak boleh melanjutkan lagi pernikahan ini ",, jawab Chan akhirnya jujur juga.
" Apa,!! kenapa harus begitu!! ",, kata Mama Linn sangat terkejut sekali.
" Karena laki-laki itu sangat mencintai Alva, Ma ",, jawab Chan, dan wajahnya terlihat bersedih.
" Entahlah Nek, Chan bingung ",, jawab Chan.
" Di sisi lain Chan sangat mencintai Alva dan tidak mau kehilangan dia, namun di sisi lain Chan tidak bisa membuat Keluarga kita berada di bawah garis kemiskinan seperti saat ini Nenek ",, kata Chan lagi.
" Apapun keputusan yang akan kamu ambil, kami akan mendukungnya Nak, walau kita harus bermusuhan dengan Keluarga Roderick atau menjadi miskin sekalipun ",, jawab Mama Hanna kepada Chan.
" Benar Chan, putuskan lah yang terbaik untuk masalah ini, karena kami akan selalu mendukungmu ",, kata semangat juga dari Mama Linn.
Ayah Janu yang mendengarnya juga, dia langsung mengangguk setuju dengan semua perkataan dari sang istri maupun menantunya, sedangkan Papa Agler sendiri, masih belum sadarkan diri setelah mendapatkan perawatan dari para Dokter tadi.
Sekarang Chan menjadi tahu, apa yang harus dia lakukan, dan sekarang tekad Chan sudah bulat.
Chan lalu ijin kepada semua Keluarganya, untuk menyelesaikan masalah yang sedang terjadi di Keluarganya, dan sebelum menemui Keluarga Roderick, Chan ingin menemui L terlebih dahulu.
Chan yang sudah pulang ke rumah Ayah Janu, dia langsung masuk ke dalam kamar pribadinya, di dalam kamar, Chan merenung seperti menyiapkan semua perkataan atas semua yang akan dia katakan kepada semua orang.
Ketika jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Chan pun akhirnya sampai juga di restoran yang sudah dipesannya.
Dengan di temani Mario, Chan langsung menuju ke ruang VVIP yang ada di restoran tersebut, yang ternyata sudah ada L bersama Saddam yang sudah menunggunya.
" Saya kira anda penakut Tuan Chan, ternyata nyali anda besar juga ",, kata sambutan dari L kepada Chan.
Tanpa di persilahkan duduk terlebih dahulu, Chan langsung saja duduk di kursi seberang L.
" Anda dulu atau saya dulu yang berbicara Tuan Chan?? ",, tanya L.
" Saya dulu ",, jawab Chan.
" Baiklah, kalau begitu saya akan memasang telinga dengan baik ",, jawab L.
" Saya akan mundur Tuan L, sesuai yang anda inginkan, dan anda bisa memiliki Alva dengan seutuhnya tanpa ada halangan lagi dari saya ",, kata Chan dengan sangat mantap sekali.
Pada akhirnya, Chan lebih memilih Keluarganya daripada Alva.
L yang mendengar perkataan dari Chan, langsung tersenyum miring di wajahnya yang tampan.
" Pilihan yang bagus ",, jawab L sambil menyeringai.
__ADS_1
" Apakah ada jaminan jika anda tidak akan berbohong kepada saya Tuan Chan Hartigan?? ",, tanya L kepada Chan.
" Lusa adalah pernikahan saya dengan Alva, saya berjanji yang akan berdiri di atas altar itu adalah anda Tuan, bukanlah saya, akan saya buktikan itu ",, jawab mantap dari Chan.
" Karena saya lebih memilih Keluarga saya, dan tidak akan membiarkan Keluarga saya hidup dalam kemiskinan ",, kata Chan lagi.
L langsung saja bertepuk tangan untuk mengapresiasi keputusan Chan yang sangat bagus sekali sesuai dengan harapannya.
" Baik, saya akan membuktikannya sendiri semua ucapan anda untuk lusa depan ",, jawab L.
" Jika sampai anda mengingkarinya, tamatlah riwayat anda ",, kata L lagi.
" Namun, jika anda menepati semua janji anda kepada saya, saya juga berjanji akan mengembalikan Perusahaan anda seperti semula, bahkan saya akan menambahkannya dua kali lipat, anda bisa memegang perkataan saya ",, kata L kepada Chan.
" Baiklah Tuan, saya setuju, kalau begitu saya permisi, karena saya harus menyelesaikan urusan yang lainnya lagi ",, jawab Chan kepada L.
L hanya mengangguk saja kepada Chan, dan Chan langsung saja berlalu ke luar dari dalam ruang VVIP tersebut.
Sepeninggal dari Chan, L langsung menikmati wine pesanannya tadi, sambil tersenyum miring.
" Sepertinya anda berhasil Kak L ",, kata Saddam langsung duduk di sebelah L, karena tadi Saddam terus berdiri selama ada Chan.
L terus menyeringai senang, menanggapi perkataan dari Saddam.
" Kita lihat saja nanti Saddam, apakah dia akan menepati semua ucapannya, kalau tidak, kamu sudah tahu sendiri apa yang harus kamu lakukan kepadanya dan juga Keluarganya ",, jawab L kepada Saddam.
" Ok Kak L, siap, sesuai permintaan Kakak ",, kata Saddam.
" Ayo pergi ",, kata L langsung berdiri dari duduknya.
Saddam hanya mengangguk saja kepada L, dan mereka lalu pergi ke luar dari dalam restoran menuju ke hotel tempat mereka menginap.
Sedangkan beralih ke si Chan.
Chan yang tadi sudah ke luar dari dalam restoran bersama Mario, dia langsung saja mencoba mengubungi Alva dan mengajaknya bertemu di apartemennya.
" Kamu boleh pulang Mario, nanti akan saya hubungi kembali jika saya membutuhkan bantuan kamu lagi ",, kata Chan kepada Mario.
" Baik Tuan, permisi ",, jawab Mario dengan sopan kepada Chan dan Mario langsung saja berlalu pergi dari gedung apartemen si Chan.
Chan yang sudah sampai di gedung apartemennya, dia langsung masuk ke dalam kamar apartemennya untuk menunggu Alva, dan tidak lama sekitar empat puluh menit kemudian, akhirnya Alva sampai juga di dalam apartemennya.
" Ada apa Chan menyuruhku untuk datang ke sini,?? apa ada hal penting yang ingin kamu sampaikan kepadaku?? ",, tanya Alva kepada Chan.
Alva melihat wajah Chan tidak seperti biasanya, dan hal itu membuat perasaan Alva menjadi sangat penasaran plus sedikit takut.
" Aku ingin membatalkan pernikahan kita Alva ",, kata Chan langsung to the poin.
Tentu saja Alva sangat terkejut sekali mendengar pengakuan dari Chan, padahal pernikahan mereka berdua tingga menghitung jam saja.
" Apa maksud dari perkataan kamu Chan,?? kamu bercanda kepadaku kan?? ",, tanya Alva kepada Chan.
" Tidak, aku tidak bercanda kepadamu Alva, maafkan aku ",, jawab Chan sambil berbalik badan membelakangi Alva untuk menyembunyikan kesedihannya.
Alva yang tidak terima dia langsung membalikkan badan Chan untuk menghadap ke arahnya lagi.
" Jelaskan kepadaku, apa yang membuatmu mau membatalkan pernikahan ini, sedangkan kamu sendiri mengatakan kepadaku ingin menjadikanku sebagai istrimu, apa kamu selama ini berbohong kepadaku Chan!! ",, kata Alva sambil meneteskan air matanya.
" Maafkan aku Alva, aku terpaksa melakukan ini, karena demi menyelamatkan Keluargaku dari kehancuran dan kemiskinan, jika tidak begini, hidupku pasti akan lebih menderita lagi ",, jawab Chan kepada Alva.
" Apa maksud kamu,?? jika kamu takut soal uang, aku bisa membantumu, kita bisa merintis usaha kita bersama-sama Chan ",, kata Alva.
" Kita tidak akan mampu melawan Tuan L Damara, Alva ",, kata Chan.
" L Damara?? ",, kata Alva dengan ekspresi sangat terkejut sekali.
" Iya, hanya dia yang bisa menyelamatkan kebangkrutan Perusahaan ku sekarang, bahkan Papa sampai terkena serangan jantung dan di rawat di rumah sakit Alva ",, jawab Chan.
Semakin terkejut lah si Alva mendengar perkataan dari Chan, jika Papa Agler terkena serangan jantung dan sedang di rawat di rumah sakit.
" Paman Agler terkena serangan jantung?? ",, kata Alva.
" Iya, dan jalan satu-satunya yang diinginkan oleh Tuan L Damara adalah kamu mau menikah dengannya Alva, maukah kamu membantuku untuk menikah dengannya?? ",, jawab Chan kepada Alva.
Alva benar-benar sangat syok sekali, dan tidak banyak berbicara, dengan tangannya sendiri dia langsung menampar pipi Chan dengan sangat keras sekali.
...⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️...
...***TBC***...
__ADS_1