Oh, MY WIFE

Oh, MY WIFE
AMPLOP MISTERIUS


__ADS_3

Alva memang benar-benar mempunyai sifat keras kepala sekali, walau dia merasa sudah sangat rindu sekali dengan si L, namun dia masih tetap kekeh bersembunyi dari L, dan tanpa dia sadari persembunyiannya kali ini sudah berjalan tiga bulan lamanya.


Tidak menyangka sudah cukup lama dia bersembunyi dari L. Dan selama tiga bulan itu pula, hubungan L dengan Keluarganya sendiri masih belum berjalan dengan mulus.


Mama Ana sampai tidak berani membantah sang suami lagi, karena Papa Alex sudah merasa sangat kecewa sekali dengan sikap L.


L sudah mati-matian mencari keberadaannya Alva, dan dia juga sudah hampir putus asa, karena semua usaha yang dia lakukan tidak membuahkan hasil sama sekali.


Di saat L sedang merenung sendiri di dalam kantornya, sambil menatap ke luar jendela, tiba-tiba saja dia mendengar ponselnya berbunyi.


L berbalik badan dan lalu berjalan ke arah meja kerjanya, untuk mengambil ponselnya.


Melihat nama sang Ayah mertua, antara malas dan tidak, karena dia merasa malu dan marah secara bersamaan, sebab belum bisa menemukan keberadaannya Alva.


Walau begitu, L tetap mau mengangkat sambungan telepon dari Ayah Ivar sebagai tanda kesopanan.


" Halo Ayah ",, kata L.


" Nak, cepatlah datang ke Moldova saat ini juga, karena ada hal yang ingin Ayah katakan kepadamu, dan ini tidak bisa disampaikan lewat telepon ",, jawab Ayah Ivar.


Jantung L langsung berdebar-debar sangat kencang sekali, ketika mendengar perkataan dari Ayah Ivar.


" Me-memangnya ada apa Ayah?? ",, tanya L.


" Apakah harus sekarang juga?? ",, tanya L lagi.


" Iya, jika kamu masih mau mempertahankan pernikahanmu dengan anak saya ",, jawab Ayah Ivar.


" Baik, sekarang juga saya akan segera datang ke sana Ayah ",, jawab L, dan Ayah Ivar langsung saja mematikan sambungan teleponnya, ketika sudah mendengar jawaban dari si L.


L setelahnya langsung berlalu ke luar untuk menemui Saddam.


" Saddam, cepat hubungi pilot saya, karena saya sekarang juga ingin pergi ke Moldova ",, perintah L.


" Tapi Tuan L, kenapa mendadak sekali, ap..... Brakkkkk!! ",,


Perkataan Saddam terhenti, karena mendengar suara gebrakan meja dari si L.


" Saya tidak mau tahu, pokoknya saat ini juga saya ingin pergi ke Moldova sekarang!! ",, kata L.


" Ba-baik Tuan L, akan saya teleponkan pilotnya ",, jawab Saddam.


" Cepat!! ",, kata L dan dia langsung berlalu lagi ke dalam ruang kerjanya.


Sepeninggal dari L, Saddam langsung saja mencoba menghubungi sang pilot, dan pilot itu bisa atau tidak bisa tetap harus bisa mengantarkan si L terbang ke Moldova saat ini juga, jika tidak, nyawa mereka berdua akan melayang dengan percuma.


Sedangkan L yang sudah masuk ke dalam ruang kerjanya, dia langsung mengambil mantelnya dan juga tas kerjanya, untuk dia bawa pulang terlebih dahulu ke apartemennya.


L ingin bersiap-siap terlebih dahulu dan berganti pakaian, dengan baju yang lebih santai lagi.


L yang sudah ke luar lagi dari dalam ruang kerjanya, langsung saja berhenti tepat di depan meja kerja Saddam.


" Saya mau pulang dulu, kamu handle kantor, dan saya ingin terbang ke Moldova satu jam dari sekarang!! ",, kata L kepada Saddam.


" Iya Tuan, dan pilot anda juga siap mengantarkan anda sekarang juga ",, jawab Saddam.


" Bagus ",, jawab L, dan L langsung berlalu pergi dari dalam gedung Perusahaannya.


Setelah L berlalu dari hadapannya, Saddam langsung saja menghela nafasnya, karena merasa lega sekali.


" Huuuhh, Kak L semakin ke sini seperti ditaktor saja, sangat menyeramkan sekali ",, gerutu Saddam.


" Wajahnya semakin menyeramkan ",, kata Saddam lagi.


Sedangkan L sendiri langsung menyuruh anak buahnya untuk segera mengantarkannya ke apartemennya.


Seperti perkataan dari Papa Alex kemarin, jika dia kali ini benar-benar sudah lepas tangan, dan tidak mau membantu L sama sekali.


Jadi selama tiga bulan ini, L mencari Alva tanpa ada bantuan dari sang Papa sama sekali, itulah kenapa, L sedikit kesusahan dalam mencari Alva.

__ADS_1


Singkat cerita, L akhirnya saat ini sudah berada di dalam pesawat, dan dia hanya diam saja tanpa melakukan apapun, karena dia sedang berpikir serta merasa penasaran, sebenarnya apa yang ingin sang Ayah mertua katakan kepadanya.


Jantung L merasa sangat tidak tenang sekali selama di dalam pesawat. Dan L merasa pesawat yang dia naiki serasa sangat lama sekali sampainya, padahal perjalanannya cuma sekitar kurang lebih empat jam saja.


Akhirnya, tepat di jam setengah tiga sore, L benar-benar sudah sampai di rumah sang Ayah mertua.


Di dalam rumah itu cuma ada Ayah Ivar dan Ayah Ito saja, yang memang sudah menunggu L daritadi.


" Silahkan duduk dulu L ," kata Ayah Ivar.


" Ayah, sebenarnya apa yang ingin Ayah sampaikan kepada L?? ," tanya L dengan tidak sabaran.


Ayah Ivar sebelum menjawab pertanyaan dari L, dia reflek menatap ke arah Ayah Ito, dan Ayah Ito langsung mengangguk kepada Ayah Ivar.


" Ayo ikut dengan Ayah ",, jawab Ayah Ivar sambil berdiri dari duduknya.


Ayah Ito pun ikut berdiri juga dari duduknya, walau masih merasa bingung, L pun iku-ikutan berdiri juga dan mengikuti langkah kaki sang Ayah mertua yang sudah masuk ke dalam mobil.


" Kamu ikut satu mobil bersama kami L, jangan naik mobil sendiri ",, kata Ayah Ivar.


" Iya baiklah ",, jawab L.


L pun akhirnya ikut masuk ke dalam mobil milik Ayah Ivar dan duduk di kursi belakang.


L masih tanda tanya besar sekali, apa yang sebenarnya sang Ayah mertua dan Paman dari istrinya ingin lakukan kepadanya.


Di dalam mobil pun tidak ada perbincangan sama sekali antara Ayah Ivar dan Ayah Ito, dan hal itu membuat L menjadi sungkan, jika ingin bertanya kepada mereka berdua.


Akhirnya, yang bisa dilakukan oleh L adalah mengamati jalanan sekitar yang sedang dilewatinya, hingga lama-kelamaan mobil yang dia naiki menuju ke dalam hutan yang sudah sangat jauh sekali dari perkotaan.


L sudah merasa curiga jika dirinya akan dibuang dan di singkirkan oleh Ayah mertuanya itu, dan L mencoba memasang sikap waspada, sebelum Ayah Ivar atau Ayah Ito menyerangnya terlebih dahulu.


" Jangan katakan, jika Ayah sama Paman Pietro mau membunuh saya!! ",, kata L.


Ayah Ivar dan Ayah Ito hanya menoleh kebelakang dan menatap L sekilas saja, tanpa mau menjawab perkataan L sama sekali.


Semakin jauh mobil yang Ayah Ivar kendarai, semakin dalam juga hutan yang mereka masuki, hingga sejauh mata memandang, hanya ada pepohonan saja yang rindang dan juga rimbun.


" Huh!! ",, kata Ayah Ito tersenyum miring.


Sedangkan Ayah Ivar hanya menggelengkan kepalanya saja.


Mata L tidak sengaja dari jauh melihat ada sebuah pintu gerbang besar yang terlihat sangat megah sekali dari luar, dan mata L langsung melotot dibuatnya, sebab dia tidak menyangka jika ada rumah mewah di tengah hutan yang didatanginya.


" Itu, rumah?? ",, kata L.


" Rumah siapa, mewah sekali?? ",, kata L berbicara sendiri.


Walau Ayah Ito dan Ayah Ivar mendengar perkataan L, namun mereka memilih diam saja dan tidak mau menanggapinya.


Melihat ada mobil majikannya datang, para anak buah yang berjaga di pintu gerbang, langsung saja membukakan pintu gerbangnya.


" Waaah, rumahnya benar-benar mewah, walau cuma satu lantai saja, rumah siapa ini Ayah?? ",, tanya L kepada Ayah Ito.


" Rumah Paman ",, jawab Ayah Ito.


" Hah,!! rumah Paman Pietro?? ",, kata L sangat terkejut sekali.


" Iya, ayo ke luar ",, kata Ayah Ito.


L lalu mengikuti Ayah Ito dan Ayah Ivar yang sudah ke luar dari dalam mobil, dan saat ini sedang berjalan masuk ke dalam rumah.


Ternyata di dalam rumah itu, sudah ada Mama Agnes, Mama Molly, Mami Elina dan juga Papi Gilbert.


" Lho, kalian semua ko ada di sini?? ",, tanya L semakin merasa kebingungan.


" Apakah Paman beneran sudah pindah ke sini, lalu rumah Paman yang ada di kota bagaimana?? ",, tanya L lagi.


" Duduklah dulu L ",, jawab Ayah Ito.

__ADS_1


L pun langsung saja duduk di sofa ruang tamu dan bergabung dengan yang lainnya.


" Ini rumah Paman dulu, sebelum Paman menikah, dan rumah ini sudah berdiri puluhan tahun yang lalu ",, cerita Ayah Ito.


" Dan rumah ini sekarang menjadi markas untuk para anak buah Paman ",, kata Ayah Ito lagi.


" Lalu, apa hubungannya rumah ini dengan L, Paman?? ",, tanya L.


" Di dalam kamar utama di rumah ini, ada seseorang yang sudah kamu cari selama tiga bulan lamanya ",, jawab Ayah Ito.


" Alva?? ",, kata L, dan Ayah Ito serta semua orang langsung mengangguk.


" Dia sedang sakit sejak satu minggu yang lalu, itulah kenapa sengaja kami memeberitahukannya kepadamu, sebab dia sangat membutuhkanmu sekarang ",, kata Ayah Ivar.


" Jadi, selama ini kalian sudah mengetahui di mana Alva sedang bersembunyi dari L?? ",, tanya L dengan wajah yang terlihat kecewa.


" Atau jangan-jangan, kalian semua yang sudah sengaja menyembunyikan Alva dari saya,!! teganya kalian ",, kata L lagi.


" Tidak,!! kami tidak menyembunyikan Alva dari kamu L, tapi Alva sendiri yang meminta kami untuk tidak memberitahukannya kepadamu ",, jawab Ayah Ivar.


" Dan sekarang temuilah dia, setelah sudah menemui dia, barulah kamu putuskan, apakah kamu masih mau meneruskan pernikahanmu dengan anak Ayah yang kekanak-kanakan itu, atau tidak ",, kata Ayah Ivar lagi.


" Semua keputusan ada di tangan kamu Nak ",, kata Mama Agnes juga.


" Itu kamarnya ",, kata Ayah Ito sambil menunjuk kamar pribadinya.


Tanpa banyak berbicara, L pun langsung berjalan menuju ke dalam kamar tersebut, dan dia langsung saja memutar gagang pintunya tanpa mau mengetuknya terlebih dahulu.


Setelah pintunya terbuka, L langsung melihat Alva sedang memejamkan matanya dengan wajah yang terlihat pucat sekali.


" Alva?? ",, panggil L dengan berdiri di samping ranjang.


L juga melihat ada banyak obat-obatan di meja samping ranjang, dan obat itu tentu saja obat herbal milik sang Paman yang khusus dikonsumsi oleh Alva.


Alva yang mendengar namanya dipanggil oleh seseorang, dia pun langsung perlahan membuka matanya.


Mata L juga melihat, jika Alva terlihat semakin kurus dari terakhir mereka bertemu.


" L, apakah itu kamu,? atau aku yang sedang bermimpi?? ",, kata Alva.


" Iya ini aku?? ",, jawab L.


Ingin rasanya L memeluk Alva, karena dia merasa sangat rindu sekali, sebab sudah tiga bulan lamanya mereka tidak bertemu.


Akan tetapi entah kenapa, setelah berhadapan dengan Alva begini, rasanya L marah sekali dengan Alva yang mempunyai sifat egois, yang suka pergi darinya jika sedang ada masalah.


Alva lalu mencoba duduk dari rebahannya, dan walau L melihat, dia hanya membiarkannya saja tanpa mau membantunya.


" Duduklah dulu ",, kata Alva sambil menepuk ranjang sampingnya.


L pun menurut, dia pun lalu duduk di ranjang sebelah Alva.


" Apa kabar,? maafkan aku L, yang sudah egois selama ini ",, kata Alva dengan lirih, namun L hanya diam saja dan memilih menatap lekat ke wajah Alva.


" Aku ada sesuatu untuk kamu ",, kata Alva lagi sambil mengambil sesuatu dari balik bantalnya.


" Ini, terimalah dan bacalah ",, kata Alva sambil menyerahkan sebuah amplop kepada L.


Tanpa banyak berbicara, L pun lalu mengambil amplop tersebut dari tangan Alva dan langsung membukanya saat itu juga.


Setelah membaca isi dari amplop tersebut, L langsung saja menatap Alva semakin lekat sekali, dan tatapan L tidak bisa diartikan dengan kata-kata.


...πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ...


Penasaran,? apakah isi amplop yang Alva berikan kepada L.? πŸ€”.


Kita lanjut part selanjutnyaπŸ€­πŸ€—.


...⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️...

__ADS_1


...***TBC***...


__ADS_2