Oh, MY WIFE

Oh, MY WIFE
MARAHAN


__ADS_3

Maaf atas ketidaknyamanannya, karena berhubung dari kemarin di tolak terus bab kelanjutannya, karena isinya tentang 4nu๐Ÿ˜‚.


Jadi author sengaja gabung di bab KISAH CINTA episode 75 ya readers ๐Ÿ˜‰.


Kalian bisa baca ulang babnya, karena sudah aku revisi yang bagian bawahnya ๐Ÿ‘๐Ÿป๐Ÿค—.


Terimakasih ๐Ÿฅฐ๐Ÿ˜˜.


...*_______________*...


Pagi harinya, keadaan menjadi lebih baik lagi, senyum manis terpancar di wajah L dan Alva yang baru saja bangun dari tidur mereka yang lelap.


" Selamat pagi istriku ",, sapa L kepada Alva.


" Pagi juga suamiku ",, jawab Alva dengan suara serak khas orang masih mengantuk.


" Apakah kamu masih mengantuk?? ",, tanya L.


" Iya, rasanya mataku ini sangat susah sekali untuk ku buka ",, jawab Alva.


" Memangnya semalam kamu tidur jam berapa sayang?? ",, tanya L.


" Jam tiga kalau tidak salah, aku lupa ",, jawab Alva dengan wajah bantalnya.


" Apakah kamu mau lanjut tidur lagi?? ",, tanya L.


" Jika mau lanjut tidur lagi, itu artinya kita pulang nanti saja ",, kata L lagi.


" Nanti saja tidurnya, sekarang ayo kita bersiap-siap untuk pulang ",, jawab Alva.


" Emm, sebelum kembali ke London, maukah kamu mengantarkanku pergi ke rumah Ayah dulu, aku sangat rindu dengan mereka semua ",, kata Alva.


" Apapun yang kamu mau sayang ",, jawab L sambil tersenyum.


" Terimakasih ",, jawab Alva membalas senyumannya L.


" Kalau begitu aku mau mandi dulu ",, kata L, dan Alva hanya mengangguk saja.


L langsung beranjak bangun dari tidurnya untuk masuk ke dalam kamar mandi, dengan keadaan masih belum memakai pakaiannya sama sekali.


Alva yang melihat L seperti itu sudah tidak terlalu risih lagi, dan dia hanya menggelengkan kepalanya saja, karena melihat L tidak merasa malu sama sekali berjalan dalam keadaan begitu masuk ke dalam kamar mandi.


Sambil menunggu L mandi, Alva yang masih mengantuk memilih memainkan ponselnya saja, supaya dia tidak ketiduran.


Ketika sedang asik memainkan ponselnya, tiba-tiba ponsel milik L berdering.


Alva mencoba mengabaikannya, karena itu privasinya sang suami, namun ketika dering ponselnya tidak berhenti juga, membuatnya merasa terganggu, dan pada akhirnya Alva mencoba mengangkatnya.


" Halo ",, kata Alva.


" Halo, kamu siapa,? bukankah ini nomor teleponnya Tuan L Damara?? ",, kata sang penelpon.


" Iya, dia sedang berada di dalam kamar mandi ",, jawab Alva.


" Oh, katakan kepadanya besok jam sembilan saya tunggu di restoran biasa ",, kata si penelpon.


" Iya baiklah, nanti akan saya sampaikan kepadanya ",, jawab Alva.

__ADS_1


" Terimakasih ",, jawab si penelpon, dan dia langsung saja mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.


Alva lalu membaca nama yang baru saja menelpon si L, dan L memberinya nama dengan Nona Erica.


" Nona Erica, siapa dia?? ",, Alva bertanda tanya sendiri.


Tidak mau berburuk sangka atau berpikir yang tidak-tidak, Alva pun mencoba bersikap biasa saja, namun tetap saja tidak bisa dia bohongi, kalau hatinya ada rasa tidak suka, jika ada seorang perempuan yang menghubungi si L.


L yang sudah selesai mandi, sedikit terkejut ketika melihat Alva sedang memegangi ponselnya.


" Alva,? kenapa kamu membawa ponselku?? ",, tanya L.


" Eh L, maafkan aku, daritadi ponselmu berdering terus, jadi aku berinisiatif untuk mengangkatnya ",, jawab Alva.


Tanpa banyak berbicara, L langsung mengambil ponselnya dari tangan si Alva.


Ada rasa cemburu ketika L seperti tidak mempedulikannya, sebab L langsung memilih membuka ponselnya dan membaca setiap pesan yang ada di dalamnya.


Hati Alva merasa tidak tenang, bahkan ketika dia sedang mandi sekalipun, pikirannya melayang ke mana-mana jika L begini atau begitu dengan wanita yang bernama Erica itu.


Selesai mandi, Alva masih melihat L sedang asik dan sibuk sendiri dengan ponselnya, bahkan L seperti tidak menyadari jika dirinya sudah selesai mandi.


" L ",, panggil Alva.


Namun L tidak mendengar, sebab dia sedang sangat serius sekali.


" L!! ",, panggil Alva lagi sedikit berteriak.


" Eh, iya Alva ada apa,? kenapa kamu berteriak-teriak?? ",, kata L.


" Maafkan aku, aku sedang membalas pesan dari Nona Erica ",, jawab L.


Wajah Alva langsung cemberut mendengar L menyebutkan nama Nona Erica, dan bahkan sampai melupakan keberadaannya.


Alva yang sebal, memilih langsung saja berlalu ke luar dari dalam kamar dan membanting pintunya dari luar dengan sangat kencang sekali.


Alva langsung berjalan ke arah ruang makan, dan ketika Alva sudah menunggu L selama sepuluh menit lamanya, L tidak kunjung datang juga.


Semakin marahlah Alva dengan sikap L yang sepertinya lebih mementingkan Nona Erica dibandingkan dirinya.


Akhirnya, karena L tidak kunjung ke ruang makan, Alva memilih pergi dari ruang makan menuju ke air terjun yang kemarin dia datangi.


" Katanya mau saling terbuka, tapi kenapa dia malah asik sibuk sendiri dengan wanita itu!! ",, kata Alva berbicara sendiri.


" Bahkan dia daritadi tidak mempedulikanku!! ",, kata Alva lagi sambil melempar batu ke dalam air yang ada di depannya.


" Huft!! ," kata Alva sambil cemberut.


Alva terus melemparkan batu ke arah air yang ada di depannya, sambil menenangkan hatinya yang tidak suka dengan sikap L pagi ini.


Ketika sedang asik melempar batu, mata Alva tidak sengaja melihat buah yang sangat ranum sekali di atas pohon.


" Wah, buahnya sangat segar sekali itu, sepertinya enak ",, kata Alva.


Alva lalu berjalan mendekati pohon buah itu untuk mengambil buahnya.


Alva tahu jika buah itu bisa di makan, sebab dia sudah pernah memakannya ketika diajak ke dalam hutan oleh sang Paman, yaitu Ayah Ito.

__ADS_1


Setelah menggapai dengan susah payah, akhirnya Alva bisa juga memetik setidaknya tiga buah tersebut, dia langsung menikmati buah itu dengan perasaan senang, setidaknya dengan memakan buah tersebut bisa mengganjal perutnya yang sudah lapar.


Sedang asik-asiknya menikmati buah yang baru saja dipetiknya, tiba-tiba telinga Alva mendengar suara seseorang yang sangat di kenalnya, yaitu si L.


" Ternyata kamu ada di sini Alva, aku sudah mencarimu di semua tempat ",, kata L.


Alva hanya diam saja, dia tidak mempedulikan L, dan masih memilih menikmati buah yang masih tersisa satu di tangannya.


" Apakah kamu tidak mau membaginya untukku?? ",, tanya L.


Alva masih tidak peduli, dan dengan sengaja dia langsung menghabiskan buah tersebut sekali makan.


Setelah puas, Alva langsung berjalan terlebih dahulu meninggalkan L untuk kembali ke rumah.


Alva terus diam, dia seperti sedang malas berbicara dengan L, karena sikap L yang menurutnya sangat menyebalkan sekali.


" Alva tunggu!! ",, panggil L, namun Alva terus melangkah tanpa mau menghentikan langkah kakinya.


L akhirnya bisa menghentikan langkah kaki Alva, dengan memegang pergelangan tangannya.


" Kenapa kamu marah kepadaku?? ",, tanya L.


Alva hanya menatap marah sambil melepaskan cekalan tangan si L tadi di pergelangan tangannya.


Alva lalu melanjutkan lagi langkah kakinya, tanpa mau menjawab pertanyaan dari L sama sekali.


Sesampainya di rumah, Alva langsung mengambil kopernya untuk dia bawa masuk ke dalam pesawat jet yang sudah siap untuk menerbangkannya pulang ke rumah ke dua orang tuanya.


L yang kebingungan dengan sikap Alva, hanya bisa mengikut saja dan langsung duduk di kursi pesawat bersebalahan dengan Alva.


" Alva,? kamu kenapa?? ",, tanya L lagi dengan baik-baik.


Namun Alva malah memilih menutupi wajahnya menggunakan sweater yang dibawanya.


" Alva,!! aku sedang berbicara denganmu,!! kenapa kamu daritadi bersikap seperti ini kepadaku!! ",, marah si L sambil melempar sweater yang tadi untuk menutupi wajah si Alva.


" Tanyakan saja kepada dirimu sendiri!! ",, jawab Alva.


" Aku salah apa Alva, coba jelaskan kepadaku?? ",, tanya L kepada Alva.


Alva bukannya mau menjelaskan, dia malah menampilkan wajah semakin sebal, sebab L seperti tidak menyadari kesalahannya tadi.


Alva lalu mengambil ponselnya serta juga memakai headset miliknya dan dia semakin tidak mempedulikan L sama sekali.


L yang terpancing emosi, sebab Alva seperti bersikap semena-mena kepadanya, dia reflek langsung menarik headset yang dipakai oleh Alva dan langsung juga membanting ponsel milik Alva hingga pecah berserakan.


Di dalam pesawat, Alva dan L malah bertengkar sendiri, para pramugari yang melihat tidak ada yang berani mendekat, bahkan mereka memilih bersembunyi dan melihat secara diam-diam.


Alva sangat terkejut dengan sikap L yang menurutnya sangat kasar sekali, dan L pun langsung menyesal sebab dia tidak bisa mengontrol emosinya.


Alva tentu saja semakin marah kepada si L, dan dia memilih langsung masuk ke dalam kamar pribadi yang ada di situ dan langsung juga mengunci pintunya dari dalam.


Melihat Alva pergi menghindarinya, L langsung mengusap wajahnya dengan sangat kasar.


...โšœ๏ธโšœ๏ธโšœ๏ธโšœ๏ธโšœ๏ธโšœ๏ธโšœ๏ธโšœ๏ธโšœ๏ธโšœ๏ธโšœ๏ธโšœ๏ธโšœ๏ธ...


...***TBC***...

__ADS_1


__ADS_2