Oh, MY WIFE

Oh, MY WIFE
PADA AKHIRNYA


__ADS_3

Suara tamparan langsung menggema di dalam apartemen milik Chan.


Chan hanya bisa menatap Alva dengan sangat lekat sekali, ketika di tampar seperti itu oleh Alva.


Sedangkan Alva sendiri, dia menatap Chan dengan mata yang melotot yang memerah, karena air matanya mengalir dengan sangat deras sekali.


" Memangnya kamu pikir apa aku sebuah barang Chan!! ",, kata Alva.


" Aku ini seorang wanita, yang mempunyai perasaan ",, kata Alva lagi.


" Tidak aku sangka, kamu bahkan lebih buruk dari L Damara itu Chan!! ",, marah Alva kepada Chan.


Chan yang melihat Alva menangis dengan sangat pilu sekali dihadapannya, dia langsung membawa Alva ke dalam dekapannya.


Alva di dalam pelukannya Chan, dia menangis sejadi-jadinya, sambil memukuli dada Chan dengan tangannya.


" Kamu jahat Chan, kamu jahat!! ",, kata Alva.


" Kamu sudah menyakitiku, hatiku sakit Chan ",, kata Alva lagi.


" Maafkan aku Alva, maafkan aku ",, jawab Chan.


" Aku tidak bermaksud menyakitimu, hanya saja aku sedang tidak tentu arah dan tidak tahu bagaimana cara menghadapi masalah ini ",, jawab Chan.


Alva lalu mencoba melepaskan dekapannya Chan, dan dia menatap Chan lagi dengan sangat lekat.


" Kamu bisa berbicara baik-baik denganku tanpa memutuskannya dengan tiba-tiba seperti ini Chan ",, kata Alva.


" Ada Ayah, ada Paman Pietro, mereka pasti bisa membantumu, dan aku sendiri juga mempunyai uang, siapa tahu cukup bisa membantumu membangkitkan Perusahaan milik Keluargamu lagi Chan ",, kata Alva lagi.


" Ayo sekarang kita temui mereka ",, kata Alva.


" Baiklah ",, jawab Chan pasrah.


Alva langsung saja menggandeng tanga Chan untuk dia ajak ke luar dari dalam apartemen miliknya.


Kali ini yang mengendarai mobilnya adalah Alva, karena itu mobil milik Alva.


Sambil mengendarai mobilnya, Alva menyuruh sang Ayah dan Mama, dan juga Papi Gilbert serta Mami Elina untuk menunggunya di rumah Ayah Ito.


Tidak lama, mobil yang Alva kendarai sampai juga di depan pintu gerbang sebuah rumah yang sangat mewah sekali.


Bisa secara kebetulan, Alva dan Chan bisa bersamaan datangnya dengan sang Ayah yaitu Ayah Ivar.


Mereka berdua langsung saja memasukkan mobil mereka ke dalam pekarangan rumah yang sangat luas itu, ketika pintu gerbangnya sudah dibukakan oleh para anak buah yang berjaga.


Sedangkan Papi Gilbert dan Mami Elina, mereka berdua sudah berada di rumah Ayah Ito sejak tadi, karena rumah mereka bersebelahan.


" Alva, Chan, kenapa kalian menyuruh kami untuk datang ke sini?? ",, tanya Ayah Ivar ketika baru saja ke luar dari dalam mobil.


" Kita bicara di dalam saja Ayah ",, jawab Alva.


" Baiklah ",, jawab Ayah Ivar.


Mereka semua lalu masuk ke dalam rumah Ayah Ito, dan di dalam ruang Keluarga sudah ada banyak orang yang berkumpul.


" Akhirnya, kalian semua datang juga, ada apa Alva menyuruh kami berkumpul di sini?? ",, tanya Papi Gilbert.


" Anak-anak, kalian semua masuk dulu ya ke dalam, Chasel, Aluisa, jaga adik-adik kalian terlebih dahulu ",, kata Mama Molly kepada anak-anaknya.


" Baik Ma ",, jawab Chasel dan Aluisa secara bersamaan.


Setelah kepergian dari semua anak-anak, Ayah Ivar langsung mengutarakan pertanyaannya kembali.


" Sekarang katakan kepada kami semua, apa yang ingin kalian katakan?? ",, kata Ayah Ivar kepada Alva dan Chan.


" Paman Ivar, Paman Gilbert dan Paman Pietro, saya sangat membutuhkan bantuan kalian sekarang juga, untuk mau menanamkan saham di Perusahaan saya, karena Perusahaan saya saat ini sudah diambang kebangkrutan ",, kata Chan langsung to the poin.


" Bahkan Papa saat ini sedang masuk rumah sakit, karena serangan jantung, sebab mengetahui saham di Perusahaan sedang merosot sangat tajam sekali ",, kata Chan lagi.


" Astaga, Papa kamu terkena serangan jantung Nak ",, kata Mama Agnes merasa terkejut, dan yang terkejut bukan Mama Agnes saja, melainkan semua orang.


" Iya Bibi ",, jawab Chan.


" Berapa kerugian yang kamu alami sekarang?? ",, tanya Ayah Ito.


" Delapan puluh persen Paman ",, jawab Chan kepada Ayah Ito.

__ADS_1


Semua orang langsung merasa sangat super terkejut sekali, sebab itu bukan kerugian lagi namanya, tapi pailit.


" Bagaimana itu bisa terjadi Chan,? apakah Perusahaan kamu sedang terlilit hutang?? ",, tanya Papi Gilbert.


" Ini semua karena Tuan L Damara, Paman Gilbert ",, jawab Chan.


" L Damara?? ",, kata semua orang secara bersamaan.


" Iya, dia ingin mengambil Alva dari Chan, karena Chan tidak mau, jadinya dia mulai menghancurkan bisnis Chan ",, jawab Chan kepada semua orang.


Ayah Ivar, Mama Agnes, Ayah Ito dan semuanya, langsung saling pandang ketika mendengar jawaban dari Chan tadi.


" Saya bisa membantu, tapi tidak sebanyak itu, paling cuma sekitar lima belas persen saja Chan ",, kata Ayah Ito dengan tiba-tiba.


" Itu masih kurang banyak Paman, yang kita butuhkan sekitar delapan puluh persen, atau tidak, sekitar delapan puluh lima sampai sembilan puluh persen, supaya Perusahaan itu bisa bangkit kembali ",, kata Alva kepada Ayah Ito.


" Aku bisa membantumu Chan, tapi sama seperti Paman Pietro, cuma lima belas persen saja ",, kata Alva lagi kepada Chan.


" Dan Paman cuma bisa membantu kamu sebanyak dua puluh persen saja Chan, sebab Perusahaan Paman sudah banyak menjalani kerjasama dengan Perusahaan lain ",, kata Ayah Ivar juga kepada Chan.


Belum sempat Chan menjawab, tiba-tiba ada panggilan masuk ke dalam ponselnya dan ketika sudah Chan lihat, ternyata itu dari sekretarisnya, yaitu Mario.


" Ada apa Mario?? ",, tanya Chan.


" Tuan gawat ",, kata Mario terdengar sangat kebingungan di seberang sana.


" Gawat kenapa?? ",, tanya Chan menjadi khawatir sendiri.


" Semua rekening atas nama Perusahaan kita sudah dibekukan oleh Tuan L Damara, Tuan ",, jawab Mario kepada Chan.


" Saya baru saja mendapatkan notifikasinya di email, jika semua akun bank yang berhubungan dengan Perusahaan sudah diblokir oleh Tuan L ",, kata Mario lagi.


" Apaaa!!! ",, kata Chan sambil berteriak.


Sungguh Chan benar-benar merasa sangat terkejut sekali mendengar laporan dari sekretarisnya.


Semua orang yang mendengar Chan berteriak seperti itu, mereka sedikit terkejut dan sangat penasaran dengan apa yang sudah terjadi.


" Tuan Chan, Tuan L sungguh tidak bermain-main dalam menghancurkan anda Tuan ",, kata Mario kepada Chan.


" Astaga ",, kata Chan sambil memijat pelipisnya.


" Baik Tuan Chan ",, jawab Mario, dan sambungan telepon mereka lalu terputus.


Melihat Chan sudah selesai menelpon, semua orang langsung saja bertanya kepada Chan.


" Ada apa Chan?? ",, tanya Alva, Ayah Ivar, Papi Gilbert secara bersamaan.


" Semua akun bank Perusahaan Chan sudah di blokir oleh Tuan L Damara, Paman ",, jawab Chan terlihat lesu.


Tentu saja mereka semua semakin terkejut dong mendengar hal itu, karena sungguh sangat berkuasa sekali Keluarga Damara itu.


Chan lalu mengalihkan pandangannya ke arah Alva dan mengatakan sesuatu.


" Alva, bantulah aku, hanya kamu yang bisa membantuku sekarang, menikahlah dengan Tuan L, walau aku harus merelakan hatiku ",, kata Chan kepada Alva.


" Tidak Chan, aku tidak mau, sampai kapanpun aku tidak mau menikah dengannya!! ",, marah Alva kepada Chan.


" Apakah cuma jalan itu satu-satunya yang bisa kita ambil Chan?? ",, tanya Ayah Ito kepada Chan.


" Iya Paman, semua sudah saya coba, akan tetapi semua kolega saya tidak ada yang bisa membantu saya, dan jika saya menolak permintaan dari Tuan L, Keluarga saya juga akan dihancurkan olehnya ",, jawab Chan kepada Ayah Ito.


" Iya, seperti perkataan dari Tuan muda L, jalan satu-satunya Alva harus menikah dengan Tuan L Damara, jika kita tidak mau melihat Keluarga Hartigan hancur sampai ke akar-akarnya ",, kata Ayah Ito dengan sangat santai sekali.


" Alva tidak mau Paman!! ",, kata Alva dengan sangat tegas sekali.


" Terserah kamu saja Alva, semua kembali kepadamu, Paman juga tidak memaksa ",, jawab tenang dari Ayah Ito.


" Paman sudah berteman sangat lama dengan Keluarganya, semakin kita melawan mereka, semakin hancurlah diri kita sendiri ",, kata Ayah Ito kepada Alva dan masih di dengar oleh semua orang.


" Kenapa Paman tidak membunuh saja Tuan L 6471n94n itu!! ",, kata Alva sangat kasar sekali.


Dan baru kali ini Alva berbicara sekasar itu, hingga langsung mendapat teguran dari semua orang, kecuali Ayah Ito.


" Tidak semudah itu membunuh Tuan muda L, walaupun Paman bisa Alva ",, jawab tenang dari Ayah Ito.


" Paman bisa membunuh dia saat ini juga, tapi imbasnya dan balasannya akan terjadi perang antara dua Keluarga, serta Paman yakin semua Keluarga kita akan mereka habisi termasuk yang masih bayi sekalipun ",, kata Ayah Ito lagi.

__ADS_1


Semua orang terutama para Mama, langsung tercengang mendengar perkataan dari Ayah Ito.


" Sekarang pikirkanlah baik-baik semua perkataan Paman, jika kamu mencintai Chan, karena yang namanya mencintai tidak harus memiliki ",, nasihat dari Ayah Ito untuk Alva.


Alva dan Chan langsung saling pandang dengan tatapan yang sangat serius sekali.


Chan lalu menundukkan kepalanya, karena dia tidak kuat terlalu lama memandang Alva yang sangat sulit dia gapai, walau kenyataannya Alva ada di depannya.


" Apakah memang harus begitu Pietro, apakah tidak ada jalan lain selain menikahkan Alva dengan Tuan L Damara itu?? ",, tanya Ayah Ivar kepada Ayah Ito.


" Aku tidak memaksa Alva menikah Kakak, semua itu terserah Alva, Keluarga mereka sangat berkuasa sekali, dan belum ada yang bisa mengalahkan mereka sejauh ini ",, jawab Ayah Ito kepada Ayah Ivar.


Ayah Ivar yang mendengar jawaban dari Ayah Ito, dia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Alva.


" Alva, semuanya Ayah serahkan kepadamu Nak ",, kata Ayah Ivar.


Karena Ayah Ivar menjadi bingung sendiri, termasuk yang lainnya, mereka semua tidak berpikir untuk sekarang, karena orang yang mereka hadapi saat ini bukanlah orang sembarangan.


Alva yang tidak mau melihat semua Keluarganya menderita karena keegoisannya, akhirnya dia lebih memilih mengorbankan hatinya untuk mau menikah dengan L Damara.


Mendengar jawaban mantap dari Alva, Chan reflek berdiri dan langsung memeluk Alva dengan sangat erat sekali sebagai salam perpisahan darinya, sebab sebentar lagi mereka tidak akan mungkin bisa berpelukan seperti itu lagi.


" Semua ini Alva lakukan untuk kalian semua, dan terutama untuk kamu Chan ",, kata Alva kepada Chan.


" Terimakasih Alva, terimakasih kamu sudah mau mengorbankan diri kamu untuk ku dan kami semua ",, jawab Chan sambil menggenggam erat ke dua tangan Alva.


Alva hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan dari Chan tadi.


Tibalah saatnya hari yang sudah di tunggu-tunggu oleh L, namun tidak untuk Alva, sebab dia tidak menginginkan pernikahan itu terjadi.


Tiga jam sebelu acara pemberkatan di mulai, semua Keluarga Besar William dan Damara, sudah pada sampai di sebuah gereja besar yang ada di Negara Moldova.


Senyum L mengembang dengan sangat sempurna, tapi tidak dengan Chan yang tersenyum pahit dibarisan para Keluarga besarnya.


Papa Agler setelah sadar kemarin, mau tidak mau semua Keluarganya harus memberitahukan kabar tersebut kepada Papa Agler.


Walau terjadi keterkejutan yang cukup lumayan untuk Papa Agler, namun Papa Agler tidak sampai anfal lagi.


Semua Keluarga Roderick pun juga sudah pada berdatangan bersamaan dengan para tamu undangan yang hadir.


Pandangan mereka semua sejenak teralihkan ke arah pintu masuk, ketika Alva sudah mulai berjalan memasuki Gereja bersama dengan Ayah Ivar.


Ada rasa kebahagiaan yang tersirat di wajah semua Keluarga Roderick, dan Hartigan, namun, mereka semua tidak ada yang bisa melawan kekuasaan yang dimiliki oleh Keluarga Damara.


Hingga tiba saatnya Alva sampai juga di depan Altar, dan Ayah Ivar langsung menyerahkan sang putri kepada L Damara.


" Saya titip Alva, Nak ",, kata Ayah Ivar kepada L.


" Dengan senang hati Ayah mertua ",, jawab L sambil tersenyum senang.


Mama Ana yang tidak tahu bagaimana cara L mendapatkan Alva, dia merasa sangat bangga dan juga senang, karena pada akhirnya gadis yang dia harapkan menjadi menantunya, bisa terkabul juga.


Begitu juga dengan Papa Alex, merasa sangat bangga sekali dengan cara kinerja L yang tidak perlu diragukannya lagi.


Janji suci pernikahan antara L dan Alva pun mulai dikumandangkan oleh sang Pendeta.


Semua orang sangat khidmat mendengarkan setiap bacaan yang dikatakan oleh Pak Pendeta di atas Altar pernikahan.


Semua nampak terhanyut, sampai Alva tidak sadar meneteskan air matanya.


Setelah melakukan serangkaian tata cara pemberkatan pernikahan, akhirnya L dan Alva dinyatakan resmi menjadi sepasang suami istri oleh Pak Pendeta.


Tepuk tangan paling meriah diberikan oleh semua Keluarga Damara dan William untuk L dan Alva.


Ketika L di suruh untuk berciuman dengan Alva sebagai awal tanda mereka menjadi sepasang suami istri, disitulah L tersenyum penuh arti kepada gadis yang sudah membuat hari-harinya berantakan.


" Jangan menangis lagi sayang, wajah secantik ini tidak pantas untuk mengeluarkan air mata ",, kata L sambil mengusap air matanya Alva.


" Sekarang kamu sudah resmi menjadi istriku Alva, dan tidak akan aku biarkan kamu pergi lagi dari genggamanku ",, kata L sambil menangkup pipinya Alva menggunakan ke dua telapak tangannya.


" Oh, My Wife, aku sungguh tergila-gila kepadamu ",, kata L lagi, dan kali ini L langsung mencium Alva tepat di bibirnya.


Alva hanya diam saja tidak membalas ciuman yang L lakukan kepadanya, sedangkan L begitu sangat lembut sekali dalam mencum6u bibir sang istri.


Sesuai janjinya kepada Chan, semua aset Perusahaan, saham dan kolega, sudah kembali seperti semula.


Serta L yang sudah berjanji ingin menambahkannya dua kali lipat, L bersedia menanamkan saham di Perusahaan Chan sebanyak lima puluh persen, yang artinya Perusahaan Chan mengalami kenaikan yang sangat besar sekali.

__ADS_1


...⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️...


...***TBC***...


__ADS_2