Oh, MY WIFE

Oh, MY WIFE
PAGI PERTAMA


__ADS_3

Jika Keluarga Hartigan sedang bersedih harus melepaskan kepergian dari putra sulung mereka, berbeda lagi dengan orang satu ini yang mempunyai sifat rada-rada, siapa lagi kalau bukan Mama Molly.


Mama Molly yang melihat Ayah Ito sedang berdiam diri, setelah menerima telepon dari anak buahnya, yang dia tugaskan untuk rumahnya yang ada di London, saat ini Mama Molly mencoba menggoda sang suami yang mempunyai wajah super datar seperti triplek dan super kaku seperti kanebo kering.


Mama Molly tiba-tiba berdiri di depan Ayah Ito, dan Ayah Ito yang melihat sang istri berdiri di depannya, dia hanya menatapnya saja, sambil memperhatikan apa yang ingin dilakukan oleh Mama Molly kepadanya.


Mata Ayah Ito dibuat melotot, ketika tangan Mama Molly tidak bisa dikondisikan dengan m3r3m45 manja roket jumbonya.


Mama Molly yang dipelototi oleh Ayah Ito hanya tertawa saja, seperti tanpa merasa bersalah sama sekali.


Tangan Mama Molly semakin berani saja dan semakin kuat mer3m45 roket milik Ayah Ito, bahkan Mama Molly mencoba membuka ziper dan ikat pinggangnya Ayah Ito.


Ayah Ito masih diam saja, sambil terus menatap ke arah Mama Molly dan menahan sesuatu dari dalam tubuhnya yang akan meledak.


Celana Ayah Ito sudah berhasil Mama Molly turunkan sampai ke mata kaki, dan sekarang tinggallah cuma c3l4n4 dal4mnya saja.


Mama Molly mencoba mencium Ayah Ito di lehernya, sambil memasukkan tangannya ke dalam c3l4n4 d4l4m milik Ayah Ito.


" Mama, jangan memancing Ayah!! ",, kata Ayah Ito.


" Mama tidak memancing Ayah, tapi sedang m3r3m45-r3m45 milik Ayah ",, jawab Mama Molly.


Ayah Ito lalu mencengkeram pergelangan tangan Mama Molly dengan cukup erat.


" Mama sudah membangunkan yang seharusnya sedang tidur, sekarang tanggung jawab!! ",, kata Ayah Ito.


" Memangnya Mama membangunkan apa Ayah,?? Mama kan daritadi tidak berbuat apa-apa, selain m3r3m45 burung peliharaannya Ayah ",, jawab Mama Molly.


Tanpa banyak berbicara, Ayah Ito langsung menggendong Mama Molly untuk dia bawa ke atas ranjang.


Mama Molly langsung tertawa sambil melingkarkan ke dua tangannya di pundak sang suami.


" Ayah mau apa?? ",, tanya Mama Molly kepada Ayah Ito.


" Mau melakukan yang seharusnya kita lakukan ",, jawab Ayah Ito.


Mama Molly langsung tertawa terbahak-bahak ketika sudah diturunkan ke atas ranjang.


" Maaf Ayah, anda kurang beruntung malam ini ",, kata Mama Molly.


Ayah Ito yang sudah mulai merangkak naik ke atas tubuh Mama Molly, tiba-tiba langsung menghentikan aksinya.


" Apa maksud dari perkataan Mama?? ",, tanya Ayah Ito.


" Hari ini Mama kedatangan tamu bulanan ",, jawab Mama Molly sambil tersenyum.


Wajah Ayah Ito semakin dingin saja ketika mendengar jawaban dari Mama Molly.


Tanpa banyak berbicara, Ayah Ito langsung memakai celananya kembali, dan lalu ke luar dari dalam kamar meninggalkan Mama Molly yang merasa kebingungan.


" Apakah Ayah marah kepadaku?? ",, tanya Mama Molly kepada dirinya sendiri.


Mama Molly lalu memutuskan untuk menyusul Ayah Ito yang sudah ke luar dari dalam kamar.


Mama Molly mencari keberbagai sudut rumahnya, namun dia tidak menemukan keberadaannya Ayah Ito sama sekali.


Akhirnya, karena Mama Molly merasa putus asa, dia memilih duduk meringkuk di bawah tangga rumahnya sambil menangis.


Walau sudah tua, tapi terkadang sifat dan sikap Mama Molly masih terlihat seperti anak kecil.


Ayah Ito yang daritadi dicari oleh Mama Molly, akhirnya dia ke luar juga dari dalam ruang penyimpanan obatnya.

__ADS_1


Ternyata Ayah Ito tadi ke luar dari dalam kamar langsung menuju ke ruang penyimpanan obat herbalnya, karena dia ingin meminum racikan obat herbal miliknya untuk meredakan h45rat bercintanya.


Ayah Ito takut jika dia tidak meminum obat tersebut, dia akan menuntaskannya dengan seorang 74l4n9, karena saat ini Ayah Ito sedang tidak ingin bermain solo.


Ayah Ito saat ini sedang berjalan menuju ke dalam kamarnya, akan tetapi ketika sudah membuka pintu kamar, Ayah Ito tidak menemukan keberadaannya Mama Molly.


" Mama ",, panggil Ayah Ito.


Ayah Ito mencoba mencari ke dalam kamar mandi, ruang walk in closet, di bawah kolong meja, ranjang, ataupun di dalam lemari pakaian juga, namun Mama Molly tetap tidak ada.


Ayah Ito lalu ke luar lagi dari dalam kamar untuk mencari keberadaannya sang istri.


Berjalan dengan kakinya yang besar dan langkahnya yang lebar, Ayah Ito terus menyusuri setiap rumahnya, sama seperti yang dilakukan oleh Mama Molly tadi.


Namun, ketika Ayah Ito ingin menuju ke lantai atas, dia tidak sengaja samar-samar mendengar ada suara orang yang sedang menangis di bawah tangga.


Ayah Ito yang tidak mempunyai rasa takut sama sekali, dia langsung mendekati sumber suara, dan langsung menemukan keberadaan Mama Molly sedang terisak.


" Mama kenapa?? ",, tanya Ayah Ito sambil membangunkan sang istri.


" Ayah marah sama Mama, huwaaaaa ",, jawab Mama Molly semakin kencang pula menangisnya.


" Ayah tidak marah, tadi Ayah sedang menghitung stok obat di dalam ruang obat, biar bisa teralihkan dari h45r4tnya Ayah ",, jawab Ayah Ito berbohong.


" Oh, Mama kira Ayah pergi meninggalkan Mama dan mencari wanita lain ",, kata Mama Molly sambil mengusap ingusnya menggunakan bajunya.


" Tidak mungkin Ayah mencari wanita lain lagi, sedangkan Mama saja kecantikannya tiada duanya ",, jawab Ayah Ito merayu.


" Aaah si Ayah, bisa saja deh ",, kata Mama Molly tersenyum senang.


" Kita tidur yuk, sudah cukup larut sekali ini ",, kata Ayah Ito.


" Gendong ",, jawab manja dari Mama Molly.


Malam itu Ayah Ito dan Mama Molly tidur dalam keadaan saling berpelukan mesra seperti malam-malam biasanya.


Jika Chan pergi, Ayah Ito dan Mama Molly sedang tidur seperti itu, berbeda lagi dengan si L.


L yang sedang menatap Alva dari sofa yang di dudukinya, lama-kelamaan mata dia merasa mengantuk juga, sebab memang waktu sudah mulai larut malam, dan dia seharian itu belum beristirahat sama sekali.


L pun memutuskan beranjak berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati ranjang.


Sesampainya di samping ranjang, dengan perlahan L mencoba duduk di pinggir ranjang untuk melepaskan sepatu beserta kaos kakinya.


Setelah melepaskan itu semua, serta jas yang di pakainya, L lalu melipat lengan bajunya sampai ke siku, dan dia memutuskan untuk ikut merebahkan badannya di samping Alva.


Dengan sangat hati-hati sekali L mencoba ingin memeluk Alva serta ingin memberikan kenyamanan untuknya, dan berhasil, Alva tidak terbangun sama sekali dari tidurnya, bahkan saat ini Alva malah memeluk balik tubuh L yang dia kira sebuah guling.


L tersenyum tipis dengan detak jantung yang bertalu-talu sangat keras sekali.


Mata yang awalnya mengantuk, menjadi terbuka lebar lagi, ketika Alva mau memeluknya seperti itu dalam keadaan yang tidak sadar.


Dengan perasaan bahagia, L memulai menutup matanya untuk mengistirahatkan badannya.


Mereka tertidur masih saling memeluk satu sama lainnya, dan ketika L sudah tertidur cukup lama sekitar dua jam lamanya, dia samar-samar mendengar seseorang berbicara.


" Chan, Chan jangan pergi ",, kata yang didengar oleh L, dan perkataan itu dari Alva yang sedang mengigau.


" Chan .....!! ",, kata Alva lagi.


Kali ini L langsung terbangun dan perasaannya menjadi tidak karuan saja, sebab Alva malah memimpikan laki-laki lain, sedangkan dia sudah memiliki seorang suami.

__ADS_1


" Chan, jangan pergi ",, kata Alva lagi yang masih didengar jelas oleh L.


Masih memeluk Alva, L mencoba membiarkan saja apa yang tadi sedang diigaukan oleh Alva, karena L tidak mau kehilangan momen bisa memeluk Alva seperti sekarang.


Akhirnya, setelah beberapa saat mengigau nama Chan, Alva pun kembali tidur lagi dengan lelap.


Sepertinya jiwa Alva sedang terguncang dengan pernikahan yang tidak dia harapkan.


Dengan mengorbankan perasaan yang sangat besar, membuat Alva seperti kehilangan separuh hatinya.


Semoga saja L bisa mengisi separuh hati Alva yang kosong itu, supaya Alva bisa bangkit lagi seperti sedia kala.


Melihat Alva sudah tidak mengigau lagi, L merasa sangat lega, akan tetapi tidak dengan hatinya, yang merasa sakit namun tidak bisa dia salurkan.


Jam saat ini sudah menunjukkan pukul tiga dinihari, mata L sudah tidak mengantuk lagi, karena baru saja mendengar Alva mengigau nama si Chan.


L memilih memejamkan matanya untuk meredakan rasa sesak di dalam dadanya, dan akhirnya berhasil.


Satu jam kemudian, L tertidur juga ketika waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi.


Sekitar jam enam pagi, sinar matahari yang menebus jendela kaca, akhirnya membuat Alva mulai membuka matanya.


Alva belum sepenuhnya sadar jika dirinya sedang memeluk L di atas ranjang yang sama, dan ketika Alva merasa aneh, dia langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat seseorang yang sedang tidur dengannya.


Melihat wajah L yang sedang tertidur lelap, Alva langsung melepaskan pelukannya dengan kasar dan langsung beranjak turun dari atas ranjang, dalam keadaan mata yang memerah karena marah.


Pergerakan Alva yang kasar dan tiba-tiba, membuat L jadi ikut terbangun juga.


" Alva? ",, panggil L.


" Kenapa anda berani tidur bersama saya hah!! ",, kata Alva.


" Siapa yang sudah mengijinkan anda tidur satu ranjang dengan saya!! ",, kata Alva lagi.


" Kenapa aku tidak boleh tidur bersama istri saya sendiri ",, jawab L.


" Apa yang sudah anda lakukan dengan saya semalam Tuan L yang terhormat!! ",, kata Alva kepada L.


" Aku tidak berbuat macam-macam denganmu, cuma tidur saja ",, jawab L.


" Bahkan semalam kamu memelukku dengan erat ",, kata L lagi.


" Bohong!! ",, bantah Alva.


" Pasti anda sendiri yang mencoba memeluk saya!! ",, kata Alva.


Alva baru tersadar jika saat ini dia tidak berada di mansion Damara, namun berada di dalam kamar pribadinya yang ada di rumah sang Paman.


" Tunggu dulu ",, kata Alva.


" Bagaimana anda bisa mengetahui saya berada di sini!! ",, kata Alva.


" Stop!! ",, kata Alva lagi, mencegah L yang akan menjawab.


" Saya tidak peduli anda bisa mengetahuinya dari mana, tapi sekarang, saya harap anda pergi dari sini sekarang juga, karena saya tidak sudi berdekatan dengan anda!! ",, kata Alva kepada L.


" Aku tidak akan pergi meninggalkan istriku sendirian di sini ",, kata L sambil beranjak berdiri dari rebahannya.


" Walau aku sudah memaksa kamu untuk menikah denganku, tapi aku sebagai suami juga tidak terima, ketika istriku sendiri lebih memilih menyebut nama laki-laki lain dalam tidurnya dibandingkan namaku ",, kata L dengan tenang.


Setelah itu, L berlalu pergi dari hadapan Alva menuju ke dalam kamar mandi, dan meninggalkan Alva sendirian yang merasa kebingungan mendengar perkataan dari L tadi.

__ADS_1


...⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️...


...***TBC***...


__ADS_2