
L yang tadi sudah mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaannya Alva, dia saat ini memilih untuk mengistirahatkan badannya dengan menginap di hotel yang sedang didatanginya.
L di dalam kamar hotel uring-uringan sendiri, dan sambil berpikir dengan keras, sebenarnya masalah apa yang sampai membuat Alva bisa marah kepadanya.
" Apa ini gara-gara Nona Erica?? ",, kata L berbicara sendiri.
L lalu mengingat-ingat, ketika masih berada di dalam kamar yang ada di rumah pribadi, di pulau pribadi milik sang Paman.
L yang sudah teringat jika tadi dia mencueki Alva, karena sedang serius dengan Nona Erica, sekarang dia sadar, jika semua kesalahan ada pada dirinya.
" 514l!! ",, kata L.
L lalu mencoba menghubungi Saddam untuk mencari tahu bagaimana Perusahaan Nona Erica berkembang, sebab L ingin menghancurkan, kalau bisa di ambil alih sekalian.
L sebenarnya tidak sengaja mencueki Alva tadi, sebab dia sedang sibuk mengancam Nona Erica, yang sudah sejak dulu berusaha mendekatinya.
Sekarang kesabaran L habis, dan dia tidak mau bermain kalem lagi, walau Nona Erica perempuan sekalipun.
L tidak mau, karena kedatangan Nona Erica, hubungannya dengan Alva akan berjalan tidak baik-baik saja.
Bahkan Nona Erica sampai berani mengancam L, jika dia akan melukai Alva yang sudah berani menjadi istri seorang L Damara, jika L sampai berani menjauh darinya.
Tentu saja L sangat takut, jika Nona Erica benar-benar akan melakukan ancamannya kepada Alva, dan L juga tidak menyukai sikap Nona Erica, yang mempunyai sifat yang sangat buruk dan juga berani.
" Halo Tuan L Damara ",, kata Saddam kepada L.
" Saddam, kamu cari celah bagaimana cara menghancurkan Perusahaan Nona Erica ",, kata L.
" Sudah habis kesabaran saya ",, kata L lagi.
" Baik Tuan, tunggu setengah jam lagi, saya akan melaporkan kepada anda ",, jawab Saddam.
" Iya ",, jawab L dan L langsung mematikan sambungan teleponnya.
Selesai menelpon Saddam, L mencoba menghubungi anak buahnya untuk melacak ponsel milik Alva.
" Aaarrgghhh 514l,!! ponselnya kan sudah aku banting tadi!! ",, nah akhirnya L teringat, jika Alva tidak mempunyai ponsel saat ini karena ulahnya sendiri.
" Jika Papa sampai mengetahui aku bersikap kasar sama Alva, aku pasti bisa digantung hidup-hidup sama dia ",, kata L berbicara sendiri.
" Kamu berada di mana Alva, maafkan aku ",, kata L sambil m3r3m45 rambutnya.
Sedangkan di sisi lain, bagi Ayah Ito tidaklah sulit menemukan keberadaannya Alva, yang bersembunyi di tempat yang sangat dia jaga sekali.
" Kak ada yang ingin aku katakan kepada Kakak ",, kata Ayah Ito.
" Baiklah, ayo kita masuk ke dalam ruang kerja Kakak ",, jawab Ayah Ivar.
Ayah Ivar dan Ayah Ito langsung beranjak berdiri dari duduknya, meninggalkan semua orang untuk masuk ke dalam ruang kerja Ayah Ivar.
" Apa yang ingin kamu katakan kepada Kakak, Pietro?? ",, tanya Ayah Ivar.
" Pietro sudah tahu di mana Alva sedang bersembunyi Kak ",, jawab Ayah Ito.
" Di mana,? cepat katakan kepada Kakak, karena semua anak buah Kakak belum ada yang bisa menemukan keberadaannya Alva ",, kata Ayah Ivar.
" Dia ada di rumah Pietro yang ada di tengah hutan ",, jawab Ayah Ito.
" Hah,!! kenapa Alva ada di sana, di sana kan seram tempatnya, terlebih lagi di sana cuma ada laki-laki semua, apa dia tidak takut jika di apa-apakan sama hantu dan para anak buah kamu?? ",, kata Ayah Ivar merasa khawatir.
__ADS_1
" Lebih baik kita sekarang menyusul ke sana saja Kak, tapi cuma kita berdua saja, jangan sama yang lainnya ",, kata Ayah Ito.
" Baiklah, ayo ",, jawab Ayah Ivar.
Ayah Ivar dan Ayah Ito lalu ke luar dari dalam ruang kerja tersebut dan berpamitan kepada semua Keluarganya untuk pergi sebentar dengan alasan ada urusan penting di luar.
Semua orang tentu saja tidak ada yang berani banyak bertanya, kepada Ayah Ivar maupun Ayah Ito, mau pergi ke mana mereka.
Alva sendiri yang sudah berada di dalam kamar pribadi Ayah Ito, dia hanya bisa termenung sendiri dengan air mata, yang tanpa dia minta ke luar sendiri dari kelopak matanya.
Alva benar-benar merasa sangat kecewa sekali dengan sikap si L, karena seumur-umur dia tidak pernah dikasari oleh semua Keluarganya, tiba-tiba mempunyai seorang suami yang suka bersikap kasar jika sedang marah.
Karena tidak ada yang bisa dia lakukan di dalam kamar tersebut, lama kelamaan mata Alva mengantuk juga, dan dia akhirnya tertidur dengan sisa-sisa air mata yang masih membekas di wajahnya.
Mobil yang di kendarai Ayah Ito, akhirnya sampai juga di rumahnya yang ada di tengah hutan.
Kedatangan Ayah Ito langsung di sambut sopan serta ramah dari para anak buah yang berjaga di situ, dan mereka semua merasa ketakutan jika akan di bunuh oleh Ayah Ito, sebab sudah mengijinkan Alva menginap di situ.
" Di mana Alva!! ",, kata Ayah Ito.
" No-nona Alva ada di dalam kamar anda Tuan Pietro ",, jawab salah satu anak buah dengan sangat ketakutan sekali.
Ayah Ito langsung berjalan ke arah kamarnya dan diikuti oleh Ayah Ivar di belakangnya.
Tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu, Ayah Ito langsung membuka pintu kamar pribadinya, yang sekarang sedang dibuat Alva untuk beristirahat.
Ayah Ito yang tiba-tiba membuka pintu kamar, membuat Alva yang tertidur sampai terkejut dan juga terbangun.
Lebih terkejut lagi ketika melihat siapakah orang yang sudah berani membuka pintu kamar, tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu.
" A-ayah, Pa-paman ",, kata Alva sambil tergugup.
" Kenapa kamu kabur dari suami kamu Nak?? ",, tanya Ayah Ivar.
" Alva tidak suka dengan sikapnya yang kasar itu Ayah ",, jawab Alva sambil menunduk.
" Tapi kan masih bisa dibicarakan dengan baik-baik, jangan sering-sering kabur jika sedang ada masalah begini Alva ",, nasihat dari Ayah Ivar kepada Alva, sedangkan Ayah Ito masih diam saja dan mendengarkan dengan seksama semua jawaban dari Alva.
" Ijinkan Alva untuk kali ini menghindar sebentar dari L, Ayah ",, jawab Alva.
" Sudah cukup Alva berkorban hati untuk mau menikah dengannya ",, kata Alva lagi.
" Di saat Alva ingin menerima dia sebagai suami Alva, tapi dia malah bersikap yang membuat Alva kecewa, tolong Ayah, Paman mengerti perasaan Alva ",, kata Alva lagi sambil menangis.
" Lalu apa yang ingin kamu lakukan Alva?? ",, tanya Ayah Ito.
" Alva sementara tidak mau bertemu dengan L, Paman ",, jawab Alva.
" Alva ingin melihat keseriusan L dalam membina rumah tangga dengan Alva ",, kata Alva.
" Rasanya sakit, jika terus-terusan melihat L bersikap seperti tadi ketika di dalam pesawat ",, kata Alva lagi.
" Baiklah jika itu yang kamu inginkan ",, jawab Ayah Ito.
" Terimakasih Paman, Ayah ",, kata Alva.
" Dan Alva mohon, jangan beritahukan keberadaannya Alva kepada siapapun, termasuk kepada Mama atau para aunty ",, kata Alva.
" Kenapa memangnya Alva?? ",, tanya Ayah Ivar.
__ADS_1
" Alva benar-benar ingin sendirian di sini, tanpa ada orang yang banyak mengetahuinya Ayah ",, jawab Alva.
" Terserah kamu saja Alva, Ayah tidak tahu bagaimana jalan pikiran kamu itu ",, kata Ayah Ivar.
" Paman, Paman jangan memarahi anak buah yang ada di sini, mereka tidak bersalah, Alvalah yang sudah menyuruh mereka mengijinkan Alva untuk tinggal di sini ",, kata Ava.
" Iya ",, jawab singkat dari Ayah Ito.
" Ayah, bolehkah Alva meminta tolong?? ",, tanya Alva kali ini kepada Ayah Ivar.
" Minta tolong apa Alva?? ",, tanya Ayah Ivar.
" Tolong belikan Alva ponsel baru Ayah, sekaligus nomor ponselnya ",, jawab Alva.
" Memangnya ponsel kamu ada di mana,?? apa di sita oleh suami kamu?? ",, tanya Ayah Ivar.
" Tidak ",, jawab Alva.
" Lalu ada di mana?? ",, tanya Ayah Ivar ingin mendengar lebih jelas jawabannya Alva.
" Emm, sudah dibanting sama L, Ayah ",, jawab Alva sambil menunduk.
Terkesan mengadu, tapi ya mau bagaimana lagi, Alva ditanya oleh dua orang yang sangat dia takuti.
" Kurang 474r!! ",, kata Ayah Ito.
" Paman, sudah stop,!! anggap saja Paman dan Ayah tidak mengetahui masalah ini, biar Alva menyelesaikan rumah tangga Alva sendiri Paman ",, kata Alva.
" Alva ingin belajar dewasa dalam menyikap masalah bersama L, tapi mohon kalian berpura-pura lah tidak mengetahui semuanya ",, kata Alva lagi.
" Baiklah, akan Paman turuti permintaan kamu ",, jawab Ayah Ito.
" Iya, nanti Ayah juga akan membelikanmu ponsel keluaran terbaru, sebagai teman kamu di sini ",, kata Ayah Ivar sambil tersenyum.
" Terimakasih Ayah, Paman ",, jawab Alva sambil tersenyum juga.
" Kalau begitu Ayah sama Paman pamit pulang dulu, kamu baik-baik di sini, dan jika ada apa-apa segera hubungi kami Alva ",, kata Ayah Ivar.
" Baik Ayah ",, jawab Alva sambil tersenyum.
" Beristirahatlah, dan akan Paman pastikan L tidak akan mengetahui tempat persembunyianmu di sini, sampai kamu yang ingin menemuinya sendiri ",, kata Ayah Ito.
" Iya Paman ",, jawab Alva.
Ayah Ito dan Ayah Ivar pun lalu beranjak pergi dari rumah tengah hutan itu, untuk kembali ke rumah Ayah Ivar lagi.
Ayah Ito berpesan kepada para anak buahnya, untuk jangan membiarkan seorang pun yang tidak mereka kenal untuk masuk ke dalam rumahnya.
Dan para anak buah tersebut juga ditugaskan untuk menjaga Alva dengan baik, jangan sampai ada yang terluka sedikitpun.
Perintah dari Ayah Ito tentu saja langsung didengar dengan sangat baik dari semua anak buah, sebab mereka semua tentu saja tidak ada yang berani macam-macam dengan seorang Pietro Roderick.
Untuk kali ini sepertinya Alva akan lebih sulit ditemukan oleh L dari yang sebelumnya.
Jika kemarin Alva pergi ke luar Negeri, dan sangat mudah kedeteksi oleh para anak buah Papa Alex, tapi sepertinya kali ini tidak.
Karena rumah Ayah Ito yang ada di dalam hutan, benar-benar sangat terpencil dan jauh dari keramaian kota, serta tidak sembarang orang bisa masuk ke sana tanpa seijin Ayah Ito.
...⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️...
__ADS_1
...***TBC***...