
Sedangkan kembali ke Alva lagi.
Alva yang sudah sampai di depan restoran, dia bingung, harus pulang naik apa, sedangkan sang Paman sudah melarangnya untuk naik taksi ketika pulang.
" Apa yang harus aku lakukan?? ",, kata batin Alva.
" Jika aku pulang naik taksi, aku harus pulang ke mana, selain ke rumah Paman Ito?? ",, kata Alva lagi di dalam hatinya.
" Kalau menelpon Paman Gilbert atau Chasel dan Pama Ito, mereka pasti curiga dengan penampilanku yang seperti ini, terlebih lagi bibirku sedikit bengkak dan membiru ",, kata Alva lagi di dalam hati, sambil mengusap bibirnya yang terluka.
" Paman Ito tidak suka dengan orang yang berbohong dan menutup-nutupi masalah, daripada masalah semakin runyam, lebih baik aku hadapi saja ",, kata Alva berbicara sendiri.
Alva pun lalu memutuskan untuk menelpon Chasel saja untuk menjemputnya di restoran milik si L.
" Halo Kak Alva ",, kata Chasel kepada Alva.
" Chasel, tolong jemput Kakak di restoran ...... ",, jawab Alva menyebutkan nama jalan kepada Chasel.
" Baik Kak, Chasel akan ijin dulu sama Ayah atau Mama, biar mereka tidak mencari Chasel ",, kata Chasel kepada Alva.
" Iya baik, Kakak tunggu ya ",, kata Alva lagi kepada Chasel.
" Ok Kak ",, jawab Chasel kepada Alva.
Setelah itu sambungan telepon mereka terputus.
Alva memilih menunggu Chasel di depan parkiran restoran, di bawah pohon rindang tepatnya.
Sedangkan di dalam restoran, L yang sudah selesai memakai pakaian kerjanya kembali, dia pun langsung saja bersiap-siap untuk kembali ke Perusahaan bersama Saddam.
L - Saddam, sepertinya lebih enak memanggil mereka berdua dengan panggilan seperti itu, jika mereka sedang bersama.
L - Saddam hanya mengangguk formal saja ketika terus di sapa oleh para karyawan restoran.
Hingga pada akhirnya, L - Saddam sampai juga di parkiran restoran.
Ketika Saddam sedang menyalakan mobil milik L, Saddam tidak sengaja melihat Alva sedang berdiri di bawah pohon, dengan ekspresi wajah menahan terik sinar matahari.
L tidak tahu, karena dia sedang sibuk dengan ponselnya, jika Alva masih di parkiran mobil.
" Tuan L, bukankah itu Alva?? ",, tanya Saddam kepada L.
Mendengar nama Alva, L tentu saja langsung menghentikan kegiatannya yang sedang membaca semua pesan masuk di ponselnya.
" Mana?? ",, tanya L kepada Saddam.
" Itu lho Tuan, di bawah pohon rindang itu ",, jawab Saddam sambil menunjuk tempat Alva berdiri.
L langsung saja menajamkan pandangannya, untuk melihat ke arah yang di tunjuk oleh Saddam.
" Iya, itu Alva, cepat nyalakan mobilnya, dan berhenti di depan dia ",, kata L kepada Saddam.
__ADS_1
" Baik Tuan ",, jawab Saddam kepada L.
Saddam langsung menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya dengan sangat perlahan.
Sesampainya di depan Alva, Saddam langsung saja menghentikan mobilnya.
Alva tidak mengenali mobil yang berhenti di depannya, dan dia terus mengamati mobil milik siapakah yang sedang berhenti di depannya
Ketika jendela kaca mobil sudah di buka, dan memperlihatkan L berada di dalamnya, Alva langsung saja mengalihkan pandangannya lagi.
Sebab Alva tidak sudi menatap ke arah L yang sudah memp3rk054nya tadi.
" Ayo Alva akan saya antar pulang ",, kata L kepada Alva.
Alva tidak menjawab, dia memilih diam dan acuh terhadap L.
Namun tiba-tiba ponselnya berdering, dan Alva segera mengangkatnya.
" Halo Ka, Chasel sudah sampai di depan, Kakak ke luarlah ",, ternyata Chasel yang menelpon Alva.
" Iya baik ",, jawab Alva yang di dengar oleh L.
Alva dengan jalan masih tertatih, dia langsung saja berjalan menuju di mana mobil milik Chasel berada.
Dan L yang di acuhkan oleh Alva, dia merasa marah, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.
L terus menatap kepergiannya Alva yang sedang berjalan dengan tertatih.
" Tunggu dulu ",, kata L kepada Saddam.
Saddam hanya mengangguk saja kepada L.
Dan mata L - Saddam akhirnya melihat sendiri, jika Alva masuk ke sebuah mobil super mewah yang sudah terparkir di situ baru saja tadi.
" Tuan L, Alva masuk ke dalam mobil itu, apa itu kekasihnya Alva?? ",, tanya Saddam kepada L.
L tidak menjawab, sebab dia sedang menetralkan hatinya yang sedang terbakar api cemburu.
Mata L masih fokus melihat ke arah mobil milik Chasel yang sudah mulai meninggalkan halaman parkiran restoran.
" Ikuti mereka ",, kata L kepada Saddam.
" Baik Kak L ",, jawab Saddam kepada L.
" Jangan sampai ketahuan mereka '',, kata L lagi kepada Saddam.
" Ok, tenang saja ",, jawab Saddam lagi kepada L.
Saddam lalu mengikuti mobil milik Chasel dari belakang, dengan jarak yang cukup lumayan jauh.
Sedangkan Alva yang sudah masuk ke dalam mobil milik Chasel tadi, membuat Chasel sedikit terkejut sebab bibir sang Kakak sepupunya terluka seperti itu, karena ulah L tadi yang menciumnya sangat kasar.
__ADS_1
" Kak, bibir Kakak kenapa?? ",, tanya Chasel kepada Alva.
" Tidak apa-apa, jalan saja, jangan banyak bertanya ",, jawab Alva dengan wajah datar.
Dan itu bukan Alva sama sekali, membuat Chasel menjadi curiga dengan sikap sang Kakak.
" Baiklah jika Kakak tidak mau jujur kepadaku, jadi nanti hadapi saja Ayah sama Paman Ivar, jika mereka tahu keadaan Kakak seperti sekarang ",, kata Chasel kepada Alva.
Alva tidak menjawab, dia terlihat tenang saja ketika mendengar perkataan dari Chasel.
Padahal sebenarnya, hatinya sedang merasa tidak tenang, karena takut dengan kemarahan dari sang Paman kepadanya.
" Jika ada apotek, berhentilah sebentar, belikan Kakak obat pereda nyeri dan juga air mineral ",, kata Alva kepada Chasel.
" Iya baiklah ",, jawab Chasel kepada Alva.
Chasel sengaja tidak banyak bertanya lagi kepada Alva, karena Chasel beserta ke tiga adiknya bukan tipe orang yang suka banyak bertanya, sama seperti sang Ayah.
Chasel bukannya berhenti di apotek, dia malah berhenti di toko obat herbal milik sang Ayah, untuk meminta obat pereda nyeri di sana.
" Kenapa kita berhenti di sini?? ",, tanya Alva kepada Chasel.
" Mau minta obat herbal pereda nyeri untuk Kakak ",, jawab Chasel kepada Alva.
" Kamu masuklah sendiri, jangan lama-lama, Kakak tunggu di sini ",, kata Alva kepada Chasel.
Chasel pun hanya mengangguk saja, dan dia langsung berlalu ke luar dari dalam mobil, untuk masuk ke dalam toko obat herbal milik sang Ayah.
Semua karyawan toko obat herbal milik Ayah Ito sudah pada tahu, siapa itu Chasel, jadi ketika Chasel datang, dia langsung saja di sambut sangat ramah sekali oleh para karyawan toko obatnya.
Sedangkan dari jauh, L - Saddam melihat sendiri Chasel ke luar dari dalam mobil yang Alva tumpangi.
" Wuiiihh tampan Tuan L laki-laki muda itu, sepertinya Tuan L kalah saing dengan dia ",, kata Saddam ketika melihat Chasel.
" Siapa laki-laki itu, dia terlihat lebih muda dari Alva, tidak mungkin dia kekasihnya?? ",, kata batin L sambil terus melihat ke arah depan.
Jika L belum mengetahui kebenaran soal Ayah Ito, L pasti mengira jika Alva suka dengan berondong.
Hadeuuhh, rumit pikiran L untuk Alva.
" Ayo jalan, setelah sampai di kantor, segera cari tahu semua tentang Alva, sampai kecil apapun ",, kata L kepada Saddam.
" Baik Tuan L, siap laksanakan ",, kata Saddam kepada L.
Saddam langsung saja meninggalkan tempat persembunyian mereka, untuk segera kembali ke kantor.
Sedangkan si Chasel yang sudah mendapatkan yang Alva inginkan, dia langsung saja kembali ke dalam mobil, dan memberikannya kepada Alva.
Setelahnya, Chasel pun langsung mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumah.
...⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️...
__ADS_1
...***TBC***...