
Selama mata kuliah berlangsung, Aluisa sangat tidak fokus sekali. Pikirannya melayang ke mana-mana, terutama kepada Ansel, hingga ketika dipanggil oleh sang Dosen pun, Aluisa tidak menyadarinya, jika teman sebelahnya tidak menyenggol tangannya.
" Iya Mr. Burhan ",, kata Aluisa.
" Ada apa denganmu, kenapa daritadi saya perhatikan kamu tidak fokus ke pelajaran saya?? ",, tanya Tuan Burhan kepada Aluisa.
" Maafkan saya Mr. Burhan, saya sedang tidak enak badan ",, jawab berbohong dari Aluisa.
" Jika kamu sudah tidak kuat, kamu bisa ijin di mata kuliah saya ",, kata Tuan Burhan.
" Tidak Mr. terimakasih ",, jawab Aluisa.
" Kalau begitu, fokuslah ",, kata Tuan Burhan lagi.
" Baik Mr. ",, jawab Aluisa lagi.
Aluisa mencoba fokus lagi, tapi tetap saja, walau matanya melihat ke arah Mr. Burhan dan ke papan tulis di depan, pikiran Aluisa tidak bisa fokus sama sekali.
Ketika jam mata kuliah itu selesai, Aluisa masih ada satu lagi mata kuliah yang harus dia datangi, namun, tiba-tiba Aluisa mendapatkan telepon dari orang yang sudah ditunggunya sejak kemarin, siapa lagi jika bukan Ansel.
" Ansel ",, ucap Aluisa.
Dengan segera Aluisa mengangkat sambungan telepon tersebut.
" Ha .... ",, ucapan Aluisa terpotong karena suara Ansel.
" Aluisa, tolong aku, tolong hentikan Ayah kamu, dia mengamuk di kampusku saat ini ",, kata Ansel yang terdengar ketakutan.
Perasaan Aluisa semakin gelisah tidak menentu, mendengar suara Ansel yang ketakutan begitu.
" Halo, Aluisa, apa kamu masih mendengarkanku?? ",, tanya Ansel.
" Iya aku masih mendengar mu ",, jawab Aluisa.
" Tolong aku Aluisa, Ayah kamu teriak-teriak mencari ku saat ini ",, ucap Ansel lagi.
" Jika diantara kalian ada yang bisa menemukan Ansel, akan saya kasih imbalan satu buah mobil keluaran terbaru!! ",, suara Ayah Ito yang terdengar jelas dari sambungan teleponnya Ansel.
" Apakah kamu mendengarnya Aluisa?? ",, tanya Ansel.
" Iya, aku mendengarnya ",, jawab Aluisa juga ikut-ikutan ketakutan seperti Ansel.
Sebab Aluisa sangat tahu sekali, bagaimana kejam dan mengerikannya sang Ayah jika sedang marah.
" Tolong Aluisa, tolong, aku benar-benar takut sekali ",, kata Ansel lagi.
" Ba .... ",, baru saja ingin berbicara, langsung tersela lagi oleh suara Ansel yang berteriak.
" Aaaaaa, ampun Paman Pietro ",, kata Ansel dengan diiringi suara bergemuruh, dan setelahnya, sambungan teleponnya terputus.
" Ansel,!! halo Ansel!! ",, panggil-panggil Aluisa.
Aluisa mencoba menghubungi Ansel lagi, tapi sayang, nomor ponsel Ansel mati dan tidak bisa dia hubungi.
__ADS_1
" Apa yang harus aku lakukan?? ",, tanya Aluisa.
" Mama!! ",, ucap Aluisa.
" Iya, Mama pasti bisa membantuku, karena Ayah cuma takut kepada Mama ",, kata Aluisa lagi.
Akhirnya, Aluisa pergi dari kampus tempatnya menimba ilmu, untuk kembali pulang ke rumahnya, dan tidak jadi mengikuti mata kuliah yang terakhir nanti.
Aluisa mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup kencang sekali.
Chasel sang Kakak kembarnya saja, yang tidak sengaja melihat Aluisa terburu-buru pergi dari kampus, langsung mengikuti Aluisa dari belakang.
Hingga akhirnya, mobil yang Aluisa dan Chasel kendarai sampai juga di rumah super mewah milik sang Ayah.
Aluisa yang sudah memarkirkan mobilnya, langsung ke luar dari dalam mobil, untuk segera menemui sang Mama.
" Mama ",, teriak Aluisa sambil masuk ke dalam rumah.
" Mama!! ",, teriak Aluisa lagi.
" Bi, Mama mana?? ",, tanya Aluisa kepada asisten rumah tangganya.
" Nyonya Molly ada di kandang King dan Queen, Nona ",, jawab sang asisten.
Tanpa pikir panjang, Aluisa langsung berjalan ke arah kandang belakang untuk menemui sang Mama.
" Mama!! ",, panggil Aluisa.
Aluisa yang terkejut ketika sang Mama menyebut nama Chasel, dia pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah Chasel yang sedang menetralkan nafasnya.
" Kamu kenapa?? ",, tanya Aluisa kepada Chasel.
" Aku capek mengikuti mu daritadi ",, jawab Chasel.
" Ada apa Aluisa?? ",, tanya Mama Molly.
" Mama ko cantik sekali, cuma bermain bersama King dan Queen?? ",, tanya balik dari Aluisa.
" Mama kan mau pergi sayang ",, jawab Mama Molly.
" Sudah tidak perlu dibahas, sekarang katakan kepada Mama, kenapa kalian ko jam segini sudah pada pulang ke rumah, apa kalian tidak ada mata kuliah hari ini?? ",, tanya Mama Molly.
" Ma, tolong Ansel, Ma ",, jawab Aluisa.
" Ada apa dengan Ansel,? dan kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan Mama, Aluisa?? ",, tanya Mama Molly lagi.
" Ayah sudah menangkap Ansel, Ma, bahkan tadi Ansel menelpon Aluisa dengan suara yang sangat ketakutan sekali, please tolong Ansel dengan berbicara kepada Ayah, Ma ",, jawab Aluisa dan masih tidak mempedulikan pertanyaan dari sang Mama.
" Kalau untuk masalah itu, Mama tidak bisa ikut campur Nak, nanti Ayah bisa marah sama Mama ",, jawab Mama Molly.
" Tolong Ma, Aluisa sangat mencintai Ansel, Aluisa tidak mau jika Ansel kenapa-kenapa di tangan Ayah ",, kata Aluisa sambil menangis.
" Yang bisa berbicara dengan Ayah kamu, cuma Paman kamu Gilbert, ayo sekarang antarkan Mama ke rumah Paman dulu ",, jawab Mama Molly.
__ADS_1
" Ayo Ma ",, jawab Aluisa.
Mama Molly, Aluisa dan tidak lupa Chasel yang masih setia mengikuti Aluisa, langsung berjalan ke luar rumah, untuk menuju ke rumah Papi Gilbert yang ada di sebelah rumah.
Sesampainya di rumah Papi Gilbert, mereka bertiga langsung masuk ke dalam rumah, namun baru saja masuk, baik Mama Molly, Aluisa, dan juga Chasel langsung melihat pertunjukkan yang sangat menyayat hatinya Aluisa.
Bagaimana tidak menyayat hati, jika di dalam rumah itu, mata Aluisa melihat sendiri, ada Ansel dengan perut tertusuk pisau, dan ada sang Ayah yang sedang mencekik leher Ansel, dengan sangat brutal sekali, serta jangan lupakan wajah Ansel yang sudah babak belur penuh dengan luka dan darah.
Aluisa masih belum sadar sama sekali, jika banyak kejanggalan yang sedang dialaminya saat ini.
Tidak mungkin sang Ayah, bisa ada di dua tempat yang sama sekaligus, di dalam waktu yang bersamaan pula.
Begitu juga dengan Ansel, yang tadi katanya ada di kampus, kenapa tiba-tiba ada di rumah Papi Gilbert.
Semua itu, karena pikiran Aluisa cuma fokus kepada Ansel saja, jadi dia belum menyadari semuanya.
" Ayah!! ",, teriak Aluisa.
" Ansel, ya Tuhan ",, ucap Aluisa sambil menangis.
" Ayah, Aluisa mohon, jangan Ayah bunuh Ansel, Aluisa sangat mencintainya, Ayah ",, kata Aluisa memohon di kaki sang Ayah.
" Jangan memohon untuk laki-laki bodoh seperti dia, Aluisa!! ",, jawab Ayah Ito.
" Tolong lepaskan Ansel, Ayah, Aluisa mohon ",, kata Aluisa lagi.
Suara tangisan Aluisa begitu sangat menyayat hati sekali, hingga membuat Mama Molly menjadi tidak tega.
" Aluisa, bangunlah Nak ",, ucap Mama Molly mencoba membangunkan Aluisa.
" Tidak Ma!! ",, jawab Aluisa.
" Aluisa tidak akan bangun, jika Ayah tidak mau melepaskan Ansel terlebih dahulu ",, kata Aluisa lagi.
Mama Molly langsung mundur dan tidak mau ikut campur lagi.
Namun tiba-tiba, ada sebuah tangan yang menyentuh pundak Aluisa dan suaranya sangat Aluisa kenal.
" Ansel ",, ucap Aluisa.
Yaps yang membangunkan Aluisa dari sujud di kaki sang Ayah, adalah Ansel.
Ansel tersenyum sangat manis sekali kepada Aluisa, dan setelahnya, Ansel jatuh tergeletak di atas lantai dengan tubuh yang bersimbah darah.
Aluisa yang melihat Ansel tidak sadarkan diri dengan keadaan seperti itu, dia langsung berteriak sangat kencang sekali.
Suara teriakan Aluisa, langsung menggema di dalam ruang tamu rumah sang Paman, yaitu Papi Gilbert.
Aluisa masih belum sadar sama sekali, sebab tidak ada sang Paman, maupun sang Aunty, padahal rumahnya sedang ada kejadian Ayah Ito yang ingin membunuh Ansel.
Semua itu bisa terjawab, di part selanjutnya.🤣
...***TBC EXHCAP***...
__ADS_1