
Alva dan L masih saling tatap menatap, dan tatapan mereka berdua terlihat sangat intens sekali.
Setelah puas menatap sang istri, L pun langsung mengatakan sesuatu kepada Alva.
" Alva,? apakah yang tertulis di surat ini benar?? ",, tanya L.
" Iya ",, jawab Alva sambil mengangguk.
" Jika kamu tidak percaya, ambillah amplop satunya yang ada di dalamnya ",, kata Alva lagi.
L langsung saja mengambil amplop yang lebih kecil yang ada di dalam amplop tersebut.
Tangan L langsung membuka amplopnya, dan ketika sudah melihat isinya, tangannya langsung saja bergetar hebat sekali.
" I-ini, ka-kamu?? ",, kata L sampai kehabisan kata-kata.
" Iya, di sini ada anak kita ",, jawab Alva sambil mengusap perutnya.
Tanpa banyak berbicara lagi, L langsung saja membawa Alva ke dalam pelukannya, dan dia memeluk Alva dengan sangat erat sekali.
Yaps, Alva sedang hamil guys, dia terlihat pucat, karena sedang mengalami morning sickness yang cukup parah selama beberapa hari ini, dan obat-obatan yang L lihat di atas meja, itu vitamin serta obat herbal yang khusus dikonsumsi oleh ibu hamil.
Waktu itu, ketika Alva sedang sibuk dengan kegiatannya bersama para anak buah, tiba-tiba dia merasakan kepalanya sangat pusing sekali, dan tiba-tiba juga langsung pingsan seketika.
Tentu saja para anak buah yang melihat merasa sangat khawatir sekali, dan mereka tidak berpikir lama lagi, langsung saja membawa Alva ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan.
Tidak lupa juga, salah satu anak buah langsung saja ada yang menelpon para majikan mereka, dari Ayah Ito dan juga Ayah Ivar.
Ayah Ivar yang sedang berada di kantornya, langsung saja meninggalkan pekerjaannya, demi melihat keadaan dari sang putri tercinta.
Begitupula dengan Ayah Ito yang sedang mengecek toko obat herbalnya, dia langsung mengesampingkan sejenak tokonya itu untuk segera bergegas menuju ke rumah sakit tempat Alva di rawat.
Karena sudah tidak tahan dengan keadaan Alva yang cukup memprihatinkan, akhirnya Ayah Ivar dan Ayah Ito sepakat untuk memberitahukan persembunyiannya Alva kepada semua Keluarganya, dari Mama Molly, Papi Gilbert dan Mami Elina.
Para Mama merasakan perasaan seperti wanita pada umumnya, mereka sangat khawatir sekali menunggu Alva yang sedang diperiksa oleh Dokter, dan ketika ruang perawatan Alva dibuka dari dalam, membuat semua Keluarga Roderick, langsung bergegas mendekati Dokter tersebut.
" Apakah anda semua Keluarganya?? ",, tanya sang Dokter.
" Benar Dokter, saya Ayahnya dan ini Mamanya ",, jawab Ayah Ivar.
" Lalu di manakah suami dari Nona Alva, Tuan?? ",, tanya sang Dokter.
" Suaminya sedang pergi ke luar Negeri Dokter, karena ada urusan bisnis ",, jawab Papi Gilbert dengan asal.
" Oh, perlu Tuan dan Nyonya ketahui, jika Nona Alva sedang hamil saat ini, dan saya mohon kalian segeralah beritahukan kabar bahagia ini kepada suaminya ",, kata sang Dokter.
" Hamil Dokter,? anak saya sedang hamil?? ",, kata Ayah Ivar dengan ekspresi terkejut.
" Iya Tuan, selamat, anda akan segera mendapatkan seorang cucu ",, jawab sang Dokter dengan ramah.
" Ayah, kita akan mempunyai seorang cucu sebentar lagi ",, kata Mama Agnes dengan wajah yang terlihat bahagia.
" Iya Ma ",, jawab Ayah Ivar.
" Lalu kondisi dari keponakan saya bagaimana Dokter?? ",, tanya Ayah Ito.
" Dia terlalu kurang darah, jadinya badannya menjadi sangat lemas sekali Tuan, itulah yang menyebabkan dia pingsan dan berkunang-kunang ",, jawab sang Dokter kepada Ayah Ito.
" Saya ingin membawa keponakan saya pulang ke rumah Dokter, karena saya ingin merawatnya sendiri di rumah ",, kata Ayah Ito.
__ADS_1
" Tapi Tuan, Nona Alva harus mendapatkan perawatan intensif dari rumah sakit ini ",, jawab sang Dokter.
Dengan maju satu langkah, Ayah Ito pun langsung saja mencengkeram kerah kemeja yang dipakai oleh sang Dokter.
" Jika cuma merawatnya, saya pun bisa!! ",, kata Ayah Ito.
" Cepat urus kepulangan dari keponakan saya, karena saya tidak mau berada di rumah sakit terlalu lama!! ",, kata Ayah Ito lagi sambil melepaskan cengkeraman tadi dengan sangat kasar sekali.
" Tapi nanti jika Nona Alva mengalami hal yang kenapa-kenapa, pihak rumah sakit tidak akan mau bertanggung jawab Tuan ",, bantah sang Dokter.
" Anda membantah saya, hah!! ",, kata Ayah Ito, kali ini dengan langsung mencekik leher sang Dokter.
" Apakah jika keponakan saya meninggal, kalian semua bisa menghidupkannya kembali!! ",, kata Ayah Ito lagi.
Dokter tadi sampai kehabisan nafas, dan banyak orang yang berlalu lalang, melihat apa yang sedang Ayah Ito lakukan kepada sang Dokter.
Ada salah satu Dokter yang kebetulan lewat dan melihat teman seprofesinya sedang dicekik oleh Ayah Ito.
" Tuan, tolong anda jangan main kekerasan sendiri, karena kami bisa melaporkan anda ke kantor polisi ",, tegur dari Dokter tersebut.
Ayah Ivar, Mama Agnes, Mama Molly, Papi Gilbert dan Mami Elina, hanya bisa diam saja, sebab mereka sudah tahu, jika mereka mencoba menyela atau ikut campur, pasti akan terjadi hal yang semakin rumit dan tidak mereka inginkan.
Tanpa banyak berbicara, Ayah Ito pun langsung mencekik juga leher Dokter yang menegurnya tadi.
" Laporkanlah saja saya ke kantor polisi, saya tidak takut, kemungkinan besar bukan saya yang dipenjara, tapi kalian berdua!! ",, kata Ayah Ito.
Benar kan, langsung ikut-ikutan di cekik juga leher dari Dokter tadi.
" Cepat keluarkan keponakan saya dari rumah sakit ini!! ",, kata Ayah Ito lagi sambil melepaskan kasar cekikannya tadi.
" Uhuk-uhuk!! ",, ke dua Dokter tadi langsung saja terbatuk-batuk ketika sudah dilepaskan cekikannya.
" Dokter, sudah, cepatlah lakukan apa yang dia minta, sebelum rumah sakit ini, dihancurkan rata dengan tanah ",, kata Papi Gilbert.
" Jangan anda mempersulit hidup anda sendiri Tuan, percayalah ",, kata Papi Gilbert lagi.
Tanpa banyak berbicara, ke dua Dokter tadi langsung saja mengeluarkan Alva dari dalam ruang perawatan tersebut, dan terlihat sekali jika wajah ke dua Dokter tadi tidak ada kata ramah sama sekali seperti sebelumnya.
Bahkan terlihat jelas, jika ke dua Dokter tadi mendorong brankar pasien Alva dengan sedikit kasar, hal itu membuat semua Keluarga Roderick, menjadi marah dibuatnya.
Kalian semua tentu saja sudah tahu bukan, siapa yang paling marah diantara mereka semua, yaps, Ayah Ito akan menjadi garda terdepan di dalam Keluarganya.
Ayah Ito yang tidak suka melihat pelayanan dan sikap dari ke dua Dokter tersebut, tanpa di duga oleh ke dua Dokter itu, Ayah Ito langsung mencengkeram pergelangan tangan mereka berdua, hingga terdengar suara tulang saling bergesekan.
" Aaaaaaaa ",, teriakan dari ke dua Dokter tersebut, hingga mengundang pandangan dari semua orang yang melihat.
Ketika Ayah Ito membuat kegaduhan seperti biasanya, tiba-tiba atensi mereka semua teralihkan ke arah seseorang yang menegur mereka, dan orang tersebut adalah pemilik rumah sakit itu sendiri.
" Ada apa ini?? ",, tanya sang pemilik rumah sakit.
Tadi salah satu staf yang melihat kejadian tersebut, langsung melaporkan kepada sang pemilik rumah sakit, sebab mereka semua tidak ada yang berani menegur Keluarga Roderick, terutama Ayah Ito.
" Tanyakan saja kepada ke dua Dokter bodoh anda ini Tuan Pram!! ",, jawab Ayah Ito, yang ternyata mengenal sang pemilik rumah sakit.
" Tuan Pietro?? ",, kata Tuan Pram sangat terkejut.
" Apa yang sudah kalian lakukan kepada Tuan Petro,? cepat minta maaf!! ",, kata Tuan Pram kepada dua Dokter tadi.
" Tapi Dokter, Tuan ini yang ......... ",, bantah dari salah satu Dokter.
__ADS_1
" Saya tidak mau tahu, cepat minta maaf!! ",, jawab Tuan Pram.
" Ba-baik Dokter Pram ",, jawab ke dua Dokter tersebut.
Ke dua Dokter tadi langsung saja meminta maaf, sambil terus menahan pergelangan tangannya yang masih dicengkeram oleh Ayah Ito.
" Saya mau memaafkan mereka, asal anda mau memecat ke dua Dokter ini, Tuan Pram!! ",, kata Ayah Ito kepada Tuan Pram.
" Jika tidak, saya tidak mau menyetok obat herbal lagi di rumah sakit anda, dan anda juga tahu, apa akibatnya bermain-main dengan saya!! ",, ancam dari Ayah Ito.
Ternyata Ayah Ito bisa mengenal Tuan Pram, karena rumah sakit miliknya, mengambil obat herbal dari Ayah Ito.
Serta Tuan Pram juga sangat tahu sekali, siapa itu Pietro Roderick, jadi Tuan Pram tentu saja tidak mau berurusan dengan sang King Psychopath, jika dia masih sayang nyawanya.
" Baik Tuan Pietro, seperti keinginan anda, saya akan memanggil mereka berdua ke ruangan saya segera ",, jawab Tuan Pram.
" Dan sebagai permintaan maaf saya, anda tidak perlu membayar semua perawatan dari Nona ini ",, kata Tuan Pram lagi.
Ayah Ito pun akhirnya, langsung saja melepaskan cengkeraman tangannya tadi, dan langsung juga mengajak pulang semua Keluarganya dari rumah sakit tersebut.
Hidup tanpa keributan, sepertinya kurang afdol bagi Ayah Ito, jadi dimanapun ada Ayah Ito pasti akan ada kerusuhan dan keributan.
Ayah Ivar pun sampai sudah jenuh menasihati Ayah Ito, jadi sekarang yang Ayah Ivar lakukan, ya terserah sajalah apa yang ingin dilakukan oleh Ayah Ito.
Semenjak pulang dari rumah sakit, kesehatan Alva semakin menurun, sebab dia muntah-muntah terus dengan sangat hebat, tidak naf5u makan sama sekali, dan juga bisanya cuma rebahan saja di atas ranjang.
Ayah Ivar, Ayah Ito dan semua Keluarga besar, akhirnya sepakat untuk memberitahukan L tentang keadaannya Alva.
Dan di sinilah L sekarang, sedang memeluk Alva dengan sangat erat sekali.
" Maafkan aku L, maafkan aku ",, kata Alva.
" Selama menjauh darimu, ternyata baru aku sadari, jika aku begitu sangat mencintaimu, hanya saja egoku terlalu besar untuk mengakuinya ",, kata Alva sambil menangis.
" Sussstt ",, kata L sambil mengusap air mata si Alva.
" Kamu tidak salah Alva, yang salah aku, maafkan aku juga ",, kata L sambil memegangi pipi Alva.
" Aku terlalu kasar kepadamu, dan aku kemarin terlalu sibuk sendiri hingga melupakanmu ",, kata L lagi.
" Tapi semua ini sudah berakhir, jadi aku harap, janganlah pergi lagi dariku jika ada masalah lagi seperti ini ",, kata L.
" Bicaralah kepadaku apa yang tidak kamu sukai dariku Alva, karena aku seperti mati rasa jika kamu pergi dari kehidupanku ",, kata L begitu romantis sekali.
Alva sambil menangis terharu, dia langsung mengangguk menuruti permintaan si L.
" Aku berjanji tidak akan pergi lagi darimu L, dan tolong ajari aku, bagaimana menjadi istri yang baik demi rumah tangga kita ",, kata Alva.
Lagi dan lagi, L langsung membawa Alva ke dalam pelukannya lagi. Mereka berpelukan dengan sangat erat sekali, seperti menyalurkan kerinduan yang mendalam yang selama ini mereka tahan.
" Marilah memulai hidup yang baru denganku Alva, demi calon buah hati kita berdua ",, kata L masih sambil memeluk Alva.
Setelah puas berpelukan, L lalu mengusap perut Alva yang sudah terlihat sedikit membuncit, sebab kehamilan Alva sudah berjalan sekitar hampir tiga bulan.
Tangan L dan tangan Alva saling bertumpu sambil mengusap perut Alva, dengan bibir yang saling melempar senyuman.
...⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️...
...***TBC***...
__ADS_1