
"Rai ... bisa kamu ulangi!" Alex mulai resah dengan ucapan Raina.
"Maaf Kak, aku masih belum siap untuk mempunyai anak ... Aku masih ingin sekolah. Kalau aku hamil bagaimana tanggapan orang-orang di sekolah? Aku gak mau Kak ... Aku gak mau." Tangis Raina pecah.
"Rai ... Dengerin Kakak ya ... meskipun kamu hamil kamu masih bisa melanjutkan sekolah seperti biasa. Kamu tidak perlu memperdulikan tanggapan orang lain karena kamu tidak hamil di luar nikah. Kamu punya suami jadi tidak akan masalah kalau kamu hamil." Alex mencoba menjelaskan baik-baik.
"Tapi tetap aja Kak, mereka tidak tahu kalau kita sudah nikah, orang lain pasti akan menganggap aku hamil di luar nikah." Tangisnya makin menjadi.
"Lagian aku belum mau punya anak, aku masih ingin menghabiskan masa remaja aku Kak, aku masih ingin main bersama teman-teman, kalau aku punya anak sekarang aku gak bakalan bisa fokus sama sekolah aku, aku akan repot Kak." Sambungnya.
"Rai ... Meskipun kamu punya anak bukan berarti kamu tidak bisa main kan? kamu masih bisa menghabiskan waktu bersama teman-temanmu tanpa harus terganggu oleh kehadiran anak kita. Kakak akan menjaganya, kita bisa berbagi tugas Rai ..." Alex mengelus rambut Raina.
"Pokoknya aku gak mau!" Raina langsung berdiri.
"Iya, Kakak ngerti ... Udah jangan dulu dibahas lebih baik kamu istirahat dulu ya." Alex menarik tangan Raina lembut dan membaringkan Raina sambil dipeluk dengan erat.
Maafkan Kakak yang egois telah membuatmu hamil Rai ... Kakak hanya ingin kebahagiaan yang utuh buat keluarga kecil kita. Kakak tidak tahu kalau kamu ternyata belum siap mempunyai anak. Gumam Alex sambil mengelus perut Raina yang masih rata.
Aku gak mau hamil ... aku gak siap ... Gerutu Raina dalam hati.
Raina tidak bisa istirahat karena kepalanya yang pusing ditambah dengan rasa mual yang terus menerus membuatnya bolak-balik ke kamar mandi.
"Sabar ya Rai ... " Alex memijat tengkuk Raina yang tengah mengeluarkan isi perutnya.
"Aku gak mau tersiksa seperti ini Kak ... " Wajah Raina kembali pucat.
"Yang sabar ya ... semua ini pasti terlewati." Alex mengendong Raina yang terlihat lemas karena sudah mengeluarkan semua isi perutnya.
"Mau teh hangat gak?" Alex membaringkan Raina dengan posisi nyaman.
Raina tidak menjawab pertanyaan suaminya, dia lebih memilih diam sambil kembali meneteskan air mata.
Aku tidak mau tersiksa seperti ini ... aku tidak ingin hamil. Lirih Raina.
"Rai ... harusnya kamu bersyukur ... Tuhan begitu baik telah memberikan anugerah yang begitu besar untuk kita. Kamu jangan seperti ini ya ..." Alex menyelimuti Raina.
__ADS_1
"Tapi aku gak siap ... aku tidak mau punya anak sekarang ... aku ingin sekolah ...Hiks ... hiks ... hiks ...." Teriak Raina.
"Kalau kamu tidak mau punya anak sekarang lalu mau kamu apakan janin yang ada di rahimmu sekarang?" Alex mulai terpancing emosinya.
"Aku mau gugurin kandungan aku." Hardik Raina.
"Raina ..." Bentak Alex dengan wajah merah padamnya.
Raina yang mendapat bentakan dari Alex dia langsung menatap tajam mata Alex. Pikiran Raina kacau hingga akhirnya dia memberanikan diri bicara lagi.
"Aku mau pulang." Ucap Raina sambil berdiri dan merapikan rambutnya.
"Mau pulang kemana? ini kan rumah kamu." Sahut Alex sambil menghalangi langkah Raina.
"Ini bukan rumah aku." Raina menghempaskan tangan Alex yang tengah menggenggam tangannya.
"Maafkan Kakak ... Kakak tidak bermaksud untuk membentakmu. Kakak hanya ingin kamu paham tentang situasi kamu sekarang." Alex kembali meraih tangan Raina.
"Aku baru tahu kalau kamu suami yang pemarah." Raina kembali menangis.
"Iya ... maafin Kakak ya ...." Alex memeluk tubuh istrinya.
Setelah Alex membentak Raina, Raina tidak bicara ataupun merespon apa pun yang dilakukan oleh Alex.
Raina terus diam dan tidak menghiraukan Alex yang terus menerus menawarinya makan.
"Rai ... makan dulu ya ..." Alex membawakan makanan untuk Raina namun Raina tetap di mode marahnya.
"Kalau kamu gak makan nanti badan kamu lemas. Makan sedikit aja biar ada tenaga Rai." Sambung Alex.
Alex terus menerus membujuk Raina untuk makan hingga akhirnya Alex menyerah dan berhenti memaksa Raina makan.
Malam hari Raina tidur langsung memunggungi Alex. Setelah kejadian tadi Raina benar-benar tidak mengeluarkan sepatah kata pun pada Alex. Sikapnya sangat dingin hingga membuat Alex merasa bersalah.
Karena sikap Raina yang seperti itu Alex tidak berani lagi memaksa Raina untuk makan hingga akhirnya matahari pagi telah menampakkan sinarnya yang begitu indah.
__ADS_1
Raina sudah siap dan rapi untuk berangkat sekolah. Alex yang tengah menyiapkan sarapan tiba-tiba langsung berhenti karena melihat Raina yang sudah keluar dari rumah untuk berangkat ke sekolah.
"Rai ... Sarapan dulu." Alex meraih tangan Raina dan menghentikan langkah Raina.
Raina hanya menatap dingin ke arah Alex dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Ayo ... sarapan dulu ... Dari kemarin siang kamu belum makan." Bujuk Alex.
"Rai ... jangan diemin kakak seperti ini ... Kakak minta maaf ya udah marah sama kamu." Alex belum menyerah membujuk Raina.
"Aku tidak lapar dan nanti aku akan pulang ke rumah aku." Raina menghempaskan tangan Alex.
"Oke ... oke ... kalau kamu mau nginap di rumah orang tuamu nanti Kakak antar, kita bisa tinggal di sana untuk beberapa hari, gimana?" Bujuk Alex lagi.
"Aku mau sendiri." Raina pergi meninggalkan Alex karena taksi online nya sudah tiba.
Alex hanya menatap punggung istrinya dengan rasa bersalah. Alex begitu terpancing emosinya ketika Raina berniat untuk menggugurkan kandungannya.
Di sekolah Raina terlihat murung. Untung hari ini Ayu tidak masuk sehingga tidak ada orang yang terus menerus mengajaknya ngobrol.
Setelah bel pulang berbunyi Raina langsung pulang tanpa menunggu suaminya dulu. Pikiran Raina benar-benar kacau hingga dia membutuhkan waktu untuk bisa berpikir jernih.
Saat tiba di rumah orang tuanya, Raina hanya tersenyum kecil ketika bu Asih membukakan pintu untuknya.
"Non ... Mau makan apa? biar bibi siapin sekarang." Ucap Bi Asih.
"Terserah ... Aku mah istirahat dulu, jangan ada yang menganggu ya bi." Tegas Raina sambil berlalu meninggalkan bi Asih dan masuk ke kamarnya.
Raina hanya duduk melamun di atas tempat tidurnya. Pikirannya melayang kemana-mana hingga tak terasa dia tertidur dengan masih menggunakan seragam.
Alex tidak berani datang ke rumah orang tuanya Raina karena Raina butuh waktu untuk menyendiri, dia lebih memilih masak untuk menyiapkan makan malamnya dengan Raina.
Alex menunggu Raina sambil nongkrong di teras rumahnya. Setelah lama menunggu Alex tidak mendapati tanda-tanda Raina akan pulang hingga akhirnya waktu magrib pun telah tiba.
Alex mencoba menghubungi ponsel Raina namun, ponselnya tidak aktif.
__ADS_1
Kamu kenapa belum pulang Rai ... Kakak khawatir ... Gumam Alex sambil terus memainkan ponselnya.
Raina yang sedang ada di rumah orang tuanya dari tadi siang dia tidak keluar sama sekali dari kamarnya.