Pacarku Guru Bahasa Inggris

Pacarku Guru Bahasa Inggris
Jalan-jalan


__ADS_3

Saat di dalam mobil Raina baru sadar kalau baju yang dipakai oleh Alex sekarang bukan yang dipakai dan dia lihat tadi pagi saat ke sekolah.


"Kakak kenapa bajunya jadi ini, tadi kan Kakak pakai kemeja, Kakak ganti baju?" Tanya Raina.


"Iya, sekarang kamu juga ganti ya." Jawab Alex.


"Maksud Kakak?" Raina bingung.


"Kita pulang dulu ke rumah, kamu ganti baju dan langsung kita berangkat lagi." Alex menjelaskan.


"Ok." Raina menjentikkan jempolnya.


Tak lama mereka sampai dan Raina dengan cepat mengganti pakaiannya kemudian masuk lagi ke mobil.


"Hebat Rai, kamu cuma butuh waktu 10 menit untuk melakukan semua ini." Alex geleng-geleng kepala.


"Aku mengerjakannya dengan ekstra cepat, karena takut ada yang marah lagi gara-gara nunggu aku lama." Raina menyindir Alex.


Alex hanya terkekeh mendengar jawaban Raina.


Alex melajukan kendaraannya dengan cukup cepat, karena jarak yang mereka tempuh lumayan jauh sehingga harus menambah kecepatan supaya cepat sampai di tempat tujuan.


"Kita mau kemana Kak?" Raina melihat ke Alex.


"Kakak mau ajak kamu ke gunung XX." Alex fokus menyetir.


"Wah, kayaknya seru." Raina tersenyum senang.


"Pastinya, apalagi jalannya bareng kamu." Alex menggoda Raina.


"Ha...ha...ha... Kakak bisa aja." Raina menunduk.


"Beneran Rai, Kakak senang bisa jalan lagi sama kamu." Alex serius.


"Aku juga, tapi kenapa harus ganti baju segala?" Raina mengubah posisi duduknya.


"Ini kan masih jam sekolah, kalau kamu pake seragam bukannya jalan-jalan malah ditangkap oleh penjaganya, karena mereka pikir kamu bolos." Alex menunjuk jamnya.


"Oh.. cerdas juga ya pacar aku." Raina menutup mulutnya dengan tangan.


"He ... he ... he ...." Alex tersenyum.


Sekitar satu jam setengah menempuh perjalanan, mereka singgah dulu di tempat makan, karena memang sudah memasuki waktunya jam makan siang.


Mereka memesan makanan sesuai selera mereka masing-masing, setelah makanan di sajikan, Alex langsung mengambil semua makanan.


"Kenapa Kakak ambil semuanya?" Raina bingung.


"Hari ini kamu harus nurutin semua keinginan Kakak." Alex memohon.

__ADS_1


"Iya aku nurut, cepat sini aku lapar." Raina meminta jatah makannya.


"Kakak yang akan nyuapin kamu makan Rai." Alex mulai menyuapi.


"Kakak jangan suka aneh-aneh deh, malu dilihat orang." Raina mencoba menolak.


"Kalau gak mau berarti kamu gak makan." Alex menjauhkan piring dari Raina.


"Aku malu Kak." Raina berbisik.


"Gak usah lihat dan peduli dengan orang lain, yang penting lihat Kakak saja." Alex memasang wajah tegasnya.


"Baiklah, Kakak bisanya maksa terus." Raina merajuk.


"Kakak hanya ingin melihat kamu bahagia Rai." Alex menatap Raina intens.


"Iya aku ngerti, ayo makan sekarang aku udah lapar." Raina membuka mulutnya.


Alex pun menyuapi Raina makan, dengan telaten dia menyuapi Raina sampai makanannya habis, setelah mereka selesai makan, mereka kembali melakukan perjalanan ke tempat tujuan mereka.


Pemandangan yang begitu indah dengan udara yang begitu sejuk membuat hati Alex dan Raina begitu tenang, mereka berjalan menyusuri indahnya pemandangan gunung dengan saling berpegangan tangan.


Alex tidak melepaskan tangan kekasih hatinya, karena dia begitu rindu dengan situasi seperti ini, Raina pun demikian.


Mereka melepas rindu dengan saling bersenda gurau dan sesekali Alex mengacak-acak rambut Raina karena gemas melihat Raina yang begitu polos.


Mereka mengabadikan momen mereka dengan berfoto bersama, kalau saat study tour untuk bisa berfoto berdua harus cari alasan, sekarang mereka dengan sepuas hati mereka bisa berfoto dengan berbagai macam gaya tanpa ada kendala apapun.


"Rai ... apa pun yang terjadi, kamu jangan pernah tinggalkan Kakak ya." Alex menggenggam tangan Raina.


"Memangnya kenapa?" Raina bingung.


"Kakak berniat untuk menjalin hubungan yang serius denganmu, jadi tunggulah Kakak sampai kapan pun juga." Alex membelai rambut Raina.


"Kalau Kakak serius artinya... " Raina menggantungkan kalimatnya.


"Iya, Kakak berniat untuk menikahimu Rai, Kakak ingin menjadikan kamu istri Kakak." Alex serius.


"Tapi aku masih sekolah Kak." Raina menatap kekasihnya.


"Andaikan tidak ada aturan di sekolah, mungkin hari ini juga Kakak akan menikahimu, namun semua itu tidak bisa Kakak lakukan karena aturan sekolah tidak bisa diganggu gugat." Alex memeluk Raina.


"Apa bisa Kakak menunggu aku?" Raina balas memeluk.


"Kakak janji akan selalu menunggu kamu, makanya tadi Kakak bilang apapun yang terjadi kita harus tetap bersama menghadapi semuanya." Alex mengeratkan pelukannya.


"Kenapa aku berpikir seolah-olah kita gak bisa bersama ya?" Raina mendongakkan kepalanya


"Namanya orang yang punya niat baik, pasti akan ada rintangannya, maka dari itu kita harus saling percaya satu sama lain, jangan pernah dengerin kata orang, karena mungkin orang lain hanya akan menghancurkan hubungan kita saja." Alex membawa Kepala Raina ke dadanya

__ADS_1


"Iya Kak aku akan berusaha." Raina


"Makasih ya Rai." Alex mencium pucuk kepala Raina.


Mereka tersenyum satu sama lain, karena hari sudah mulai sore dan kabut sudah mulai turun, akhirnya Alex dan Raina menyudahi petualangannya hari ini.


Mereka berjalan menuju tempat dimana mobil Alex terparkir, setelah sampai mereka masuk dan Alex mulai melajukan mobilnya dan perlahan meninggalkan tempat tersebut.


"Kenapa macet ya, tadi pas kita berangkat lancar-lancar aja." Alex mencoba melihat ke depan karena banyak mobil yang berhenti.


"Kayaknya ada sesuatu Kak." Raina pun mulai celingukan ke depan.


Mobil pun berhenti, setelah cukup lama mereka baru bisa maju lagi sebentar kemudian berhenti lagi.


Alex meminta Raina untuk menunggunya di mobil karena dia akan mencari tahu apa yang sedang terjadi.


"Kamu tunggu ya." Alex keluar dari mobil dan berjalan ke depan, sekitar 15 menit Alex baru kembali.


"Ada apa kak?" Raina antusias.


"Jalannya terkena longsor tebing, mobil beratnya belum bisa dihubungi karena disini tidak ada signal.


"Terus kita gimana?" Raina panik.


"Ya kita harus nunggu mobil beratnya datang dan membersihkan jalannya." Alex mencoba menenangkan.


"Kapan mobil beratnya akan sampai?" Raina menyenderkan kepalanya ke jok kursi mobil.


"Kakak gak tahu." Alex menatap Raina


mereka pun menunggu sambil membuka kaca mobilnya.


Malam pun tiba, mobil berat tak kunjung datang, saat mereka prustasi ada setitik cahaya yang menerangi pikiran mereka, ada seseorang yang menyarankan agar putar balik menggunakan jalan yang lain, meskipun waktu yang dibutuhkan cukup lama dan jalan yang tidak bagus namun bisa sampai ke kota sekitar 4 jam.


Mereka pun mengambil jalan lain untuk pulang namun saat di tengah perjalanan, hujan turun dengan derasnya, sehingga tidak memungkinkan bagi Alex untuk mengendarai kendaraan di cuaca seperti ini ditambah ini sudah malam, Raina menyarankan agar mereka menepi dulu dan menunggu hujan reda.


Waktu sudah menunjukkan jam 10 malam, namun tidak ada tanda-tanda hujan akan berhenti, Alex melanjutkan perjalanannya, namun tiba-tiba mobil mereka di suruh berhenti oleh polisi.


"Selamat malam pak, mohon maaf mengganggu perjalanannya, kami harap bapak tidak melanjutkan perjalanan pada malam hari ini karena cuaca yang buruk membuat medan jalan tidak bisa dilalui karena pencahayaan yang kurang dan jalan yang lincin sehingga dikhawatirkan akan mengakibatkan kecelakaan." Polisi memberhentikan mobil Alex.


"Jadi kami harus bagaimana?" Tanya Alex.


"Silahkan cari penginapan di sekitar sini, dan silahkan lanjutkan perjalanan pada pagi hari." Polisi memberi petunjuk.


Polisi pun menghentikan mobil yang lainnya, Alex dan Raina bingung harus melakukan apa.


"Kayaknya kita tidak ada pilihan lain Kak." Raina berpikir.


"Ya udah kita cari tempat penginapan saja." Alex mencoba mencari solusi.

__ADS_1


"Tanyakan saja pada polisi itu tadi, biar kita gak harus muter-muter lagi nyarinya." Raina menunjuk ke salah satu polisi.


Alex bertanya pada polisi, dan polisi menunjukkan tempat penginapan yang dekat untuk mereka beristirahat malam ini.


__ADS_2