
"Loe lagi liburan sama siapa?" Tanya Alex pada Arman.
"Gue liburan bareng keluarga ... Kebetulan aja keluarga gue milih liburan ke sini jadi gue bisa mergokin loe yang udah jadi manusia setengah drakula." Arman terkekeh.
"Apaan sih Loe." Alex langsung melirik Raina yang kembali bermain sendiri di pantai.
Ya Tuhan ... kenapa bisa ketemu Arman di sini? haduehhh alamat bakalan dikerjain habis-habisan.
"Kirain gue loe bakalan ngepending nya sampai Raina lulus. Ternyata loe udah start dari sekarang." Arman terus menggoda Alex.
"Biarin udah sah ini." Jawab Alex santai.
"Gimana rasanya? kasih tahu gue dong." Arman memelas.
"Kalau pengen tahu rasanya makanya cepetan nikah biar loe tahu nikmatnya." Alex malah memanas-manasi Arman.
"Gue gak punya calon jadi gimana caranya gue bisa tahu rasanya yang menurut loe nikmat itu." Arman menarik napas.
"Makanya cari cewek yang benar-benar loe suka. Jangan main buang gitu aja." Alex fokus memperhatikan Raina yang tengah main di pantai.
Obrolan mereka berakhir karena hari sudah mulai gelap. Alex dan Raina kembali ke hotel tempatnya menginap.
"Kak mandinya aku dulu ya ... Badan akunya sudah lengket sama air pantai." Raina langsung masuk kamar mandi tanpa menunggu jawaban dari suaminya.
Tak lama Raina keluar sambil mengeringkan rambutnya dan langsung duduk di kursi depan cermin.
Rambut Raina digulung ke atas dengan handuk sehingga ketika dia bercermin dia bisa melihat leher jenjangnya yang penuh dengan kissmark dengan sangat jelas.
"Kakkkkk ..." Raina berteriak.
"Apa?" Alex ikut berteriak di dalam kamar mandi. Namun Raina tidak lagi bersuara.
Alex menyelesaikan mandinya dengan buru-buru karena merasa khawatir dengan Raina.
"Ada apa Rai ...." Tanya Alex yang melihat Raina sedang kebingungan.
"Tadi pak Arman lihat ini gak?" Raina menunjuk lehernya.
"Iya." Jawab Alex singkat sambil mengeringkan rambutnya.
"Ish ... Kakak gak tanggung jawab." Raina merajuk.
"Gak tanggung jawab gimana?" Alex langsung duduk di samping Raina.
"Aku udah dibikin malu sama Kakak dan Kakak cuma cukup bilang iya!" Raina mendelik.
__ADS_1
"Biarin ... Toh dia juga paham kalau kita sedang honeymoon." Alex merangkul pinggang istrinya.
"Tapi tetap aja ... Aku malau." Raina menyenderkan kepalanya di bahu Alex.
"Gak usah malu ... Nanti juga dia akan melakukan hal yang sama jika sudah nikah kaya kita." Alex mencubit hidung mancung Raina.
"Malam ini jangan minta jatah lagi ya." Raina menarik kepalanya dari bahu Alex.
"Kenapa?" Alex menahan Raina.
"Aku capek Kak ... Tenaga aku hampir habis karena main di pantai." Raina memasang wajah imutnya yang justru malah membuat Alex semakin gemas dan ingin memangsanya kembali.
"Jangan salahkan Kakak ya ..." Alex langsung mencium dan menindih tubuh Raina.
Raina hanya bisa pasrah mendapat serangan yang bertubi-tubi dari suaminya. Malam ini pun terus berlanjut hingga beberapa kali pertunjukan atraksi dari singa hingga sang singa lelah dan tidak mampu mengaung lagi dan akhirnya mereka tertidur pulas karena terlalu capek.
Waktu berjalan dengan begitu cepat kini mereka harus kembali lagi ke kota asal mereka untuk melakukan kegiatan rutinitasnya.
Alex dan Raina sudah sampai di rumah dengan selamat. Raina langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dia merasa begitu lelah karena empat malam berada di hotel dia tidak bisa beristirahat dengan cukup karena Alex yang terus menerus menyerang dan memangsanya.
Alex benar-benar menggunakan kesempatan honeymoon untuk terus memangsa Raina, dia berharap dalam rahim Raina akan segera tumbuh benih dari buah cinta mereka berdua.
Di tempat lain Lia sudah membuat rencana dengan begitu matang. Dia akan mulai beraksi untuk menarik perhatian Alex lagi.
"Aku akan menunggu kedatangan mu sekarang." Ucap Lia dengan seringai liciknya.
"Sekarang waktunya Lex." Gumam Lia.
Lia berjalan menyebrang dan tiba-tiba ....
Brukkkk .... Tubuh Lia jatuh karena tertabrak oleh mobil Alex.
Orang-orang langsung berhambur menghampiri Lia yang tengah terbaring di jalan raya.
"Bu Lia ..." Ucap Raina yang langsung matanya melotot karena melihat Lia yang pingsan.
"Bu ... Bu Lia ... " Arman menepuk-nepuk pipi Lia.
"Pak kita bawa ke rumah sakit saja." Ucap Raina pada Arman.
"Iya ... tolong buka pintu mobilnya ya Rai ..." Ucap Arman.
Raina membuka pintu dan Arman langsung membopong tubuh Lia dan membaringkannya di jok kursi belakang.
"Kenapa saya bisa sampai nabrak sih ... untung saja saya gak ngebut ya Rai ... mudah-mudahan Bu Lia gak kenapa-kenapa." Arman panik
__ADS_1
"Iya Pak ... apa Kak Alex perlu di kasih tahu gak?" Ucap Raina.
Apa ... kenapa Alex tidak tahu ... tunggu ... kok bukan Alex ... Kenapa Arman yang nabrak gue? Lia menyipitkan matanya untuk melihat laki-laki yang sedang menyetir mobil Alex
Sial ... Rencana gue berantakan gara-gara si Arman sialan. Lia masih pura-pura pingsan.
Sebenarnya hari ini pihak sekolah meminta Alex untuk mengikuti seminar di sekolah lain. Karena Alex yang susah dihubungi akhirnya pihak sekolah nitip pesan pada Arman untuk menyampaikan perihal tersebut.
Arman datang sangat pagi-pagi sekali dengan menggunakan sepeda motor. Karena Alex tidak ingin Raina dibonceng oleh laki-laki lain meskipun teman sendiri, akhirnya Alex menyuruh Arman untuk berangkat ke sekolah bareng Raina dengan memakai mobilnya.
Ini suatu keberuntungan bagi Alex karena secara tidak langsung Alex sudah terhindar dari rencana Lia yang akan menabrakkan dirinya secara sengaja ke mobil Alex.
"Alex gak usah di kasih tahu Rai ... dia kan lagi ikut seminar ... Kasihan kalau harus kembali lagi cuma gara-gara kesalahan saya." Tegas Arman.
Arman sialan ... Kenapa loe bisa-bisanya pake mobil Alex. Gagal deh rencana gue. Lia terus menggerutu dalam hatinya karena kecewa rencana yang sudah di susun dengan rapi semuanya harus berantakan gara-gara Arman yang pakai mobil Alex.
Arman memarkirkan mobil di parkiran rumah sakit. Dia langsung berlari minta bantuan petugas UGD untuk membawa Lia ke ruang UGD.
Alex dan Raina menunggu dokter memeriksa keadaan Lia dengan sangat cemas. Hingga ketika dokter keluar dari ruang pemerikasaan Arman langsung memberondong banyak pertanyaan pada sang dokter.
"Dok bagaimana keadaan teman saya? apa dia baik-baik saja? apa ada masalah serius atau cedera pada tubuhnya?" Cerocos Arman.
"Pasien tidak apa-apa, dia hanya syok saja. Kalau mau menemuinya silakan. Pasien sudah sadar." Ucap dokter sambil meninggalkan ruangan pemerikasaan Lia.
"Syukurlah ..." Raina dan Arman bernapas lega.
"Bu Lia ... Maafkan saya ... Saya benar-benar tidak sengaja." Ucap Arman dengan wajah bersalahnya.
"Ibu gak apa-apa kan?" Tanya Raina yang heran karena Lia yang tak kunjung merespon Arman.
"Saya tidak apa-apa." Setelah sekian lama Lia akhirnya menjawab.
-------
Hallo Reader semuanya ...
Author minta dukungan di karya yang ke dua ya ...
"JODOH MENTARI"
Jangan lupa untuk like n kasih komentarnya juga ya ...
semoga berkenan, ditunggu ya jejaknya...
semoga sehat dan jangan lupa bahagia.
__ADS_1
Terima kasih....