
Nina memperhatikan Putra semata wayangnya dengan seksama, dimulai dari perjalanan mereka pulang sampai mereka tiba, Nina melihat Alex terus menerus tersenyum bahagia.
"Nak, apakah kamu bahagia dengan semua ini?" Nina meraih tangan anaknya.
"Aku sangat bahagia Bun, terima kasih ... berkat Bunda semuanya jadi lancar." Alex memeluk ibunya.
"Semua ini bukan karena Bunda, ini semua karena kesungguhan kamu sehingga orang tua Raina yakin memberikan putri kesayangan mereka sama kamu." Nina membelai rambut Alex.
"Aku tidak pernah menyangka bahwa semua ini akan begitu cepat bahkan sesuai dengan harapan Alex selama ini." Sambung Alex.
"Kamu harus ingat satu hal, Raina adalah gadis manja yang selalu mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya meskipun mereka berjauhan, jika nanti ada hal-hal yang tidak kamu sukai maka jangan menegur dia secara keras, berilah dia contoh yang baik supaya nanti dia akan terbiasa melakukannya, jangan pernah menyakitinya karena Bunda tahu rasanya di sakiti itu seperti apa. Saat kamu marah atau sebaliknya, maka redamlah emosi kalian secepatnya, jangan malah menambahkan situasi yang makin sulit, perlakukanlah dia sebaik mungkin dan kamu harus selalu sabar dalam menghadapi sikap Raina yang usianya jauh dibandingkan kamu Nak." Nina memberikan petuahnya pada Alex.
"Alex janji Bun, Alex akan menerima semua kekurangan Raina, Alex tidak akan pernah menyakitinya." Alex melepaskan pelukannya.
"Bunda percaya sama kamu Nak, jangan pernah kecewakan Bunda ya sayang!" Perintah Nina.
Setelah berbincang mereka pun masuk ke kamar masing-masing dan langsung istirahat.
Di tempat lain, Raina sedang berguling di atas kasurnya ke kiri dan ke kanan, dia masih belum percaya semua ini berjalan begitu cepat, dia tidak bisa tidur karena hatinya begitu bahagia sehingga dia terus menerus memikirkan ucapan Alex tadi saat melamarnya, dan entah jam berapa Raina sudah terlelap dalam mimpi indahnya.
Mentari telah menampakkan sinarnya, Raina masih terlelap dalam mimpinya karena semalam entah jam berapa dia baru bisa tidur sehingga sekarang dia masih belum bangun.
Maria sudah bangun dari pagi, dia membantu bi Asih untuk menyiapkan sarapannya, dan tak lama Hasan sudah duduk di meja makan siap untuk menikmati sarapannya.
"Bi ... tolong panggilkan Raina ya." Perintah Maria pada bi Asih yang di jawab anggukan oleh Bi Asih.
tok... tok .... tok ....
Karena tidak sahutan dari dalam bi Asih langsung membuka pintu kamar Raina, dan ternyata Raina masih tidur. Bi Asih tidak berani membangunkannya karena dia melihat Raina begitu terlelap dalam tidurnya.
"Nyonya ... Nona masih tidur, Bibi gak berani membangunkannya, kasihan Nona terlihat begitu lelap tidurnya." Lapor bi Asih pada majikannya.
"Oh ... Ya udah tunggu dia bangun sendiri aja Bi." Maria langsung duduk di dekat suaminya dan mulai sarapan.
Setelah sarapan Maria dan Hasan duduk di teras rumahnya sambil menikmati udara segar di pagi hari.
"Yah ... Biar semuanya lancar bagaimana kalau kita minta bantuan WO aja, meskipun sederhana dan hanya keluarga saja tapi tidak ada salahnya kan kita pakai jasa WO?" Maria memulai perbincangannya dengan Hasan.
__ADS_1
"Terserah Ibu saja, yang jelas nanti pas hari H tidak akan ada kekurangan apapun, ayah gak mau pernikahan anak ayah serba kekurangan." Tegas Hasan.
"Ibu mau ajak Nina untuk mencari WO, ibu tinggal dulu ya, mau menelpon Nina." Maria beranjak dari kursi dan meninggalkan suaminya.
Maria langsung menghubungi Nina dan menyampaikan maksudnya menelpon Nina, mendapat kabar dari Maria, Nina langsung menyetujui ajakan sahabat sekaligus calon besannya itu dan tidak menunggu waktu lama, Nina langsung bersiap-siap untuk menemui Maria di rumahnya.
"Nak, Bunda hari ini mau mencari WO sama ibunya Raina. Apa kamu mau sekalian beli cincin pernikahan?" Usul Nina.
"Alex tanya Raina dulu Bun, takutnya Raina hari ini ada acara dengan teman-temannya." Jawab Alex.
"Ya udah, telepon dulu biar beres satu persatu, soalnya masih banyak hal yang harus kita persiapkan, dan jangan lupa segera kabari ayah mu!" Nina mengingatkan.
Alex langsung meraih ponselnya dan menelpon Raina.
Setelah beberapa kali menelpon Alex tidak mendapat kan jawaban dari Raina hingga entah telpon yang ke berapa kalinya Raina baru menjawab telpon dari Alex.
Raina : Hallo ... (dengan suara khas orang bangun tidur).
Alex : Rai ... kamu baru bangun tidur?
Raina : Iyaaa... (sambil menguap)
Raina : Emangnya ada apa?
Alex : Udah kamu mandi dulu aja
Raina : Bilang aja sekarang, aku masih belum mau mandi.
Alex : Hari ini ada acara gak?
Raina : Gak ada, kenapa?
Alex : Kita beli cincin yuk? mumpung Libur
Raina : Besok aja ya, sekarang aku masih ngantuk, lagian kalau hari libur biasanya toko perhiasan banyak yang tutup.
Alex : Kalau gak beli cincin, kita beli yang lainnya aja, waktu kita mepet Rai, besok kamu harus ikut bimbel sampai sore pastinya gak akan ada waktu banyak.
__ADS_1
Raina : Ya udah, aku mandi dulu.
Sambungan telepon pun terputus dan Raina langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Raina merias dirinya sesuai dengan usianya, setelah selesai dia turun ke bawah dan langsung menuju meja makan.
"Ternyata kamu sudah bangun Rai." Maria menghampiri Raina dan duduk saling berhadapan.
"Ibu mau kemana, pagi-pagi udah rapi." Sahut Raina di sela-sela sarapannya.
"Ibu mau jalan sama Nina, mau nyari WO." Ucap Maria.
"Aku juga mau jalan sama kak Alex bu." Sambung Raina
"Iya lah itu semua ibu dan Nina yang nyuruh, soalnya kita gak punya banyak waktu, makanya harus di persiapkan dari sekarang." Tambah Maria lagi.
"Kalau gitu kita bareng aja bu?" Raina memberi usul.
"Kalau kita bareng, kita gak bisa mengefektifkan waktu Rai, nanti malah gak kelar-kelar karena saling menunggu." Pungkas Maria.
Tak lama Alex dan Nina sudah sampai di kediaman Raina. Setelah itu mereka pergi secara terpisah supaya mereka bisa menyelesaikan urusan mereka masing-masing.
Alex berjalan beriringan dengan Raina, sesekali dia menggenggam tangan Raina, dia langsung menuju ke tempat tujuannya, untung saja ada beberapa toko perhiasan yang buka, Alex melihat-lihat beberapa cincin yang terpajang, hingga dia melihat salah satu cincin yang menurutnya sesuai dengan Raina, simpel namun elegan.
"Mbak ... bisa lihat yang model ini?" Alex menunjuk pada satu cincin, dan karyawan toko perhiasan pun mengambilkan cincin yang Alex maksud.
"Gimana Rai, kamu suka gak?" Alex menunjukkan cincin pada Raina.
"Aku suka Kak, ini simpel bisa dipakai sehari-hari." Raina menyukai cincin pilihan Alex.
"Baiklah mbak, saya ambil cincin dengan model ini ya." Alex menyerahkan kembali cincin pada karyawan toko perhiasan.
"Silahkan lakukan pembayaran di sebelah sana pak, barangnya akan kami kemas dulu.
Setelah melakukan pembayaran mereka keluar dari toko perhiasan tersebut.
"Sekarang kita beli pakaian buat nanti lamaran." Ajak Alex pada Raina.
__ADS_1
"Lamaran? bukannya semalam udah, kenapa harus lamaran lagi?" Raina bingung.
"Raina ... Semalam itu bukan acara lamaran resmi, sebelum acara akad, Kakak akan melamar mu dulu secara resmi bersama keluarga kakak, Pokoknya kamu ikutin aja semua prosesinya, Bunda sudah mengatur semuanya. Jawab Alex.