
Rumah Raina sudah mulai banyak orang, saudara ayah dan ibunya sudah mulai berdatangan, tampak beberapa orang yang sedang menghias rumah untuk acara lamaran besok, ibu dan ayahnya sedang asyik berbincang dengan sanak saudaranya karena mereka jarang ketemu.
Kenapa aku jadi gugup ya ... huuuhhhh ... lebih baik aku istirahat saja lebih fresh. Gumam Raina.
---------------------
Mentari pagi sudah mulai menampakkan sinarnya, Raina sudah bangun dan hanya diam di atas kasur sambil menatap langit-langit kamarnya.
Semalaman aku hampir tidak tidur dan sekarang perasaanku menjadi tak karuan, kenapa bisa seperti ini? padahal ini cuma lamaran bukan acara akad, aaarrrggghhh... Raina menghentak-hentakkan kakinya di kasur sambil menutup wajahnya dengan selimut.
Tok ... tok .... tok .... Maria mengetuk pintu kamar Raina dan langsung membukanya.
"Kamu kenapa Rai ... kenapa kasurmu berantakan sekali?" Maria mengambil bantal yang terjatuh di lantai akibat ulah Raina.
"Ibu kenapa gak ketuk pintu dulu." Raina kaget mendengar suara ibunya ada di kamar.
"Ibu udah ketuk-ketuk dari tadi kamu nya aja yang gak dengar, kamu kenapa?" Maria ikut naik ke atas kasur dan duduk berhadapan dengan Raina.
"Semalam aku gak bisa tidur, sekarang kepala aku malah jadi pusing." Keluh Raina.
"Ya udah biar gak pusing kamu tidur aja dulu, mumpung masih ada waktu nanti jam 10 ibu bangunin lagi." Maria membaringkan Raina untuk tidur.
"Aku gak bisa tidur Bu." Raina memijat-mijat pelipisnya karena pusing.
"Di coba aja dulu, kamu nya jangan banyak pikiran, rileks saja, semuanya pasti akan terlewati." Sambung Maria sambil meninggalkan Raina untuk istirahat.
Dan benar ucapan ibunya bagaikan obat tidur bagi Raina, dengan terus mencoba menutup mata akhirnya Raina tidur juga.
Waktu sudah menunjukkan jam 10 lebih, Maria langsung lari terbirit-birit karena lupa membangunkan Raina.
"Rai ... bangun Nak, ini sudah jam 10 lebih." Maria menepuk-nepuk pipi Raina dengan pelan.
"Hoaaaammmm ..." Raina bangun sambil menggeliat.
"Cepat mandi dan sarapan dulu, nanti penata riasnya keburu datang." Suruh Maria.
"Aku sarapan dulu ya Bu, perut aku udah lapar, mandinya nanti aja." Raina beranjak dari tempat tidurnya untuk turun ke bawah.
"Ihhh kamu jorok Rai ... Tapi ya udah lah dari pada nanti kamu pingsan di kamar mandi karena kelaparan." Maria merangkul Raina dan mereka sama-sama keluar dari kamar Raina.
__ADS_1
Raina turun ke bawah dan tersenyum ramah pada semua keluarga ayah dan ibunya, mereka tengah sibuk membantu merapikan semua yang berhubungan dengan acara hari ini.
Setelah sarapan kemudian Raina mandi dan tak berselang lama penata rias pun datang dan langsung di bawa masuk ke kamar Raina.
Di tempat lain rombongan keluarga Alex semuanya sudah berkumpul di kediaman Alex, sekarang mereka tengah bersiap untuk berangkat ke rumah Raina.
Waktu yang diperlukan tidak terlalu lama dan sekarang mereka sudah tiba di kediaman Raina.
"Selamat datang di rumah kami, mari masuk." Hasan dan Maria menyambut kedatangan keluarga besar Alex.
"Pak Andi ... Terima kasih sudah menyempatkan hadir." Hasan memberi salam dan memeluk atasannya.
"Saya pasti datang, karena acara ini adalah acara yang paling saya tunggu, tak disangka saya bisa menyaksikan momen berharga keponakan saya dengan Raina." Jawab Andi.
Setelah semuanya berkumpul acara pun dimulai dengan memperkenalkan keluarga masing-masing.
"Saya ucapkan terima kasih kepada bapak dan ibu yang sudah hadir di kediaman kami, perkenalkan saya Hasan dan ini istri saya Maria, kami adalah orang tua dari Raina, mohon maaf jika penerimaan keluarga kami kurang memuaskan dan bla ... bla ... bla... Ucap Hasan dengan panjang lebar.
"Kami ucapkan terima kasih juga Pak, karena kami telah disambut dengan begitu hangat oleh keluarga di sini, saya pun ingin mengenalkan keluarga kami, ini adalah anak kami Alex Pratama, saya adalah Sardi Sukmawa ayah dari Alex, ini adalah Nina ibu kandug Alex dan ini istri saya Nisa yang tidak lain adalah ibu sambung Alex, maksud kedatangan kami kesini tidak lain hanya ingin meminta ijin pada anda sekeluarga untuk memberikan restu pada anak kami yang akan mempersunting putri dari keluarga anda." Jelas Sardi.
"Kami hanya bisa mendoakan dan keputusan seluruhnya ada di tangan putri kami." Hasan meminta Raina untuk keluar dari kamarnya.
Raina turun dengan menggunakan gaun yang telah dipilih oleh Alex, dia terlihat cantik dan natural dengan polesan make-up yang tipis sesuai dengan usianya.
"Nak apakah ada yang mau di sampaikan pada Raina?" Tanya Sardi pada Alex dan dijawab dengan anggukan oleh Alex.
"Aku di sini bukan untuk diriku sendiri. Aku di sini karena ketakutanku pada Tuhan. Seraya menjalankan titah Tuhan.
Aku di sini bukan tentang diriku sendiri. Hanya berharap tergolong dalam naungan sang Baginda Rasul dengan menjalankan sunnah-Nya.
Aku di sini bukanlah untuk diriku sendiri. Melainkan untuk dirimu, yang suatu saat nanti yang akan menjadi prioritas dalam hidupku setelah Tuhan dan Nabi.
Aku ingin Kau menjadi perhiasan terindahku, yang kelak akan bersama mengarungi titian menuju surga, menggapai ridho-Nya.
Izinkan aku dengan segala perasaan yang dititipkan Tuhan ini membuat pengakuan, Sudah sejak lama dari ini menyimpan rasa suka bukan aku tidak ingin memilikimu.
Aku hanya ingin menjagamu hingga halal bagiku menyentuhmu dan hari ini aku ingin mengatakan dengan segenap kerinduanku. Dengan nama Alloh Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Raina Salsabila Jadilah pendamping hidupku." Ucap Alex seraya menatap Raina dengan begitu berbeda.
Semua orang yang mendengar penuturan Alex begitu terhipnotis akan keindahan kata yang diucapkannya, hingga mereka terharu melihat Nina yang terus menggenggam tangan Alex.
__ADS_1
"Bagaimana jawabanmu Nak?" Tanya Sardi pada Raina.
"Gimana sayang?" Hasan merangkul Raina.
Raina hanya menunduk karena dia syok dengan kalimat yang Alex ucapkan barusan.
Kenapa kalimatnya seindah itu, aku jadi makin gugup. Batin Raina
"Rai ... gimana? mereka sudah menunggu jawabanmu? Ucap Hasan lagi.
"Iya aku terima." Raina menunduk sambil meremas pakaiannya karena gugup.
"Alhamdulilah ...." Serentak semua orang mengucap syukur atas jawaban Raina.
Kemudian Alex dan Raina berdiri untuk memasangkan cincin pertunangannya, setelah itu tanggal pernikahan pun langsung ditentukan yaitu hari sabtu depan, artinya ada waktu 6 hari lagi dari sekarang.
Setelah acara selesai mereka menikmati jamuan yang telah disediakan oleh keluarga Raina.
"Raina ... selamat ya sayang." Andi memeluk Raina.
"Makasih Om, Om kapan kesini?" Tanya Raina.
"Kemarin sore, Om gak nyangka kamu akan menikah dengan keponakan Om." Andi mengelus Rambut Raina.
"Keponakan?" Raina bingung.
"Iya ... Alex keponakan Om, kita memang sudah lama gak ketemu, pas ketemu eh langsung diajak melamar." Andi terkekeh..
"Ayo makan dulu, biarkan mereka menghilangkan gugupnya." Nina menarik tangan Andi untuk mengikutinya makan.
"Kamu sangat cantik Rai." Bisik Alex di dekat telinga Raina.
"Euhhhh ... Kebiasaan deh udah bikin aku geli." Raina tersenyum dan menunduk malu.
"Kamu senang gak Rai ...?" Tanya Alex.
"Perasaan aku campur aduk, antara senang dan gugup semuanya bercampur, hehe ...." Raina menarik napas.
"Sama dong, tadi Kakak hampir saja salah mengucapkan kalimat, untung saja ada Bunda yang memberi kekuatan pada Kakak." Alex pun menyenderkan punggungnya di kursi.
__ADS_1
"Aku terharu sama kalimat yang diucapkan Kakak, aku bahagia Kak." Raina tersenyum pada Alex dan Alex hanya mengelus kepala Raina.
Ingin Rasanya memelukmu, tapi di sini banyak mata yang melihat. Gerutu Alex.