
Alex meminta salinan dari rekaman itu, dia akan memberikannya pada guru yang telah kehilangan buku Raina.
Setelah mendapatkan kebenarannya Alex merasa senang karena sebenarnya memang Raina tidak salah.
Saat Alex akan masuk ke kelas, Alex melihat Raina yang sedang berjalan dengan gontai, ingin rasanya dia meminta maaf namun Alex melihat wajah Raina yang masih marah padanya.
Alex langsung menyerahkan rekaman CCTV kepada kepala sekolah, dia berharap bahwa atasannya itu bisa memberikan sanksi pada orang yang telah dengan sengaja membuat Raina dirugikan dengan cara mengambil bukunya.
Setelah Alex keluar, tak lama Alex dipanggil kembali oleh kepala sekolah bukan hanya Alex, tapi pak Agus, bu Lia, Rika dan juga Arman ikut dipanggil oleh kepala sekolah.
Saat Lia mendapat pesan dipanggil oleh kepala sekolah, dia merasa senang karena menurutnya ini adalah kesempatan bagus untuk menyarankan agar Raina dikeluarkan dari sekolah karena dia telah lalai di beberapa mata pelajaran.
Anak ingusan ... tunggulah hari-hari mu di sini akan segera berakhir, hahahaha .... Batin Lia.
Semua yang dipanggil oleh kepala sekolah semuanya sudah hadir, namun sebelum kepala sekolah memulainya, Rika menyarankan agar Raina pun ikut hadir, supaya mereka bisa mendengar alasan yang diutarakan oleh muridnya, Arman dan Agus menyetujuinya, akhirnya Raina pun dipanggil untuk menghadap kepala sekolah.
Raina merasa gugup sekali, karena dia takut kalau dia akan dikeluarkan dari sekolah karena tidak mengerjakan tugas.
Semangat Raina ... kamu tidak salah, kamu sudah mengerjakan semua tugas dengan baik, tapi ... mana tugas kuuuuu ... Raina menjerit dalam hatinya.
Saat tiba di ruang kepala sekolah, dia langsung dipersilakan masuk dan deg... deg ... deg ... dia melihat ada beberapa guru di dalamnya.
Karena melihat Raina yang bingung, Rika mengajaknya untuk duduk di sebelahnya.
Semua mata melihat ke arah Raina, Raina yang gugup dia hanya menundukkan kepalanya hingga dia merasa napasnya tiba-tiba sesak hingga ingin menangis.
Kepala sekolah mulai bertanya pada Raina
"Raina bapak selaku kepala sekolah di sini hanya ingin mendengar kejujuran mu, sebenarnya kenapa kamu tidak mengerjakan tugas dari bapak ibu guru mu?" Kepala sekolah memulai pembicaraannya.
"Maaf ... Tapi saya tidak pernah melalaikan tugas yang sudah diberikan oleh Bapak Ibu guru sama saya, semua tugas sudah saya kerjakan bahkan saya kumpulkan bersama buku teman-teman yang lain." Raina tidak berani menatap.
__ADS_1
"Kalau kamu benar-benar sudah mengerjakan tugas, lalu mana mungkin bukumu tidak ada?" kepala sekolah menambahkan.
"Saya tidak tahu pak, tapi saya berani bersumpah kalau saya benar-benar sudah mengerjakan semuanya." Raina dengan spontan mengacungkan dua jarinya sebagai tanda dia tidak berbohong.
Alex yang melihat tingkah Raina seperti itu dia mulai tersenyum lagi membayangkan diri Raina yang jujur dan juga hangat.
"Jangan pake sumpah segala, kalau kamu tidak mengerjakan tugas ya bilang saja, tidak usah berbohong dan bersumpah segala." Lia ikut nimbrung.
"Iya Rai ... lebih baik kamu jujur, kalau kamu jujur mungkin kami akan mempertimbangkan kembali semuanya." Sahut Pak Agus.
"Tapi saya tidak bohong pak." lirih Raina.
"Bagaimana menurut Ibu Bapak semuanya, hukuman apa yang layak diterima oleh siswi kita?" Kepala sekolah berusaha meminta solusi.
Saat semua sedang berpikir kepala sekolah pun menambahkan ucapannya lagi.
"Tapi sebelum kita memberikan sanksi pada Raina, mari kita lihat dulu rekaman CCTV yang ada di sekolah, apakah Ucapan Raina benar atau tidak, kalau ternyata Raina berbohong maka maaf kami harus mengeluarkan mu dari sekolah." pungkas Kepala sekolah yang sebenarnya sudah tahu siapa pelakunya.
saat menatap Alex Raina merasa kecewa karena Alex tidak membantu sama sekali hingga akhirnya dia memalingkan wajahnya.
Lia yang mendengar kepala sekolah mengatakan CCTV, dia tidak menyangka kalau di ruang guru ada CCTV.
Sial kenapa aku tidak tahu kalau di ruang guru ada CCTV, kenapa aku tidak mengeceknya dulu. Batin Lia
Lia meremas bajunya karena merasa gugup.
Kepala sekolah sengaja memutar rekaman CCTV di proyektor supaya gambarnya terlihat jelas.
Semuanya sangat antusias melihat rekaman CCTV tersebut kecuali Alex dan Arman yang sudah mengetahui isinya mereka hanya memperhatikan ekspresi Raina dan Lia.
Raina menyaksikan rekaman tersebut dengan fokus, hingga pada akhirnya dia melihat seseorang yang mengambil buku di meja Pak Agus, bu Rika, Alex dan juga pak Arman, semuanya langsung menatap Lia dengan tajam, tanpa aba-aba Raina langsung membalikkan badannya dan menatap Lia.
__ADS_1
"Kenapa ibu melakukan ini sama saya? apa salah saya bu? ibu tega memfitnah saya seperti itu, saya tidak terima dengan semua ini, saya akan melaporkan ini sama ayah saya supaya ibu di penjara karena telah memfitnah saya, hiks ... hiks ... hiks ... " Raina menangis karena sejak dia masuk ke ruang kepala sekolah sebenarnya Raina sudah sangat ingin menangis tapi itu semua dia tahan.
"Saya tidak mengambil buku kamu, kamu jangan fitnah saya." Bentak Lia.
"Lalu itu... apa bukti itu tidak cukup bu?" Raina menunjuk ke arah proyektor.
"Rai udah tenang dulu ya, semuanya kita bicarakan baik-baik." sahut Alex dan Raina hanya mendelikkan matanya pada Alex.
"Iya Rai.. Bapak minta maaf karena Bapak telah memarahimu, Bapak tidak tahu kalau kejadiannya seperti ini, maafkan Bapak juga karena Bapak tidak mempercayai ucapanmu waktu itu. tambah Agus.
Raina tidak merespon ucapan orang lain, hatinya begitu sakit mengingat kejadian ini, semua orang tidak percaya pada penjelasannya termasuk kekasihnya pun tidak mempercayai ucapannya.
"Rekaman CCTV ini mungkin sengaja dibuat untuk menjatuhkan saya pak." Lia membela diri.
Namum belum sempat Lia berkata lagi Alex sudah geram dan langsung bicara pedas pada Lia.
"Kamu bukan seorang guru, harga dirimu tidak lebih berharga dibandingkan dengan sampah, kalau kamu berani mengganggu kami sekali lagi, aku tidak segan-segan untuk membuatmu menyesal karena telah mengusik kehidupanku." Alex menatap tajam pada Lia, dan itu adalah tatapan dingin Alex yang Lia kenal akan melakukan apapun untuk membalas orang lain yang mengusiknya.
"Harusnya bu Lia minta maaf pada Raina, bukan malah mengelaknya," Rika berkomentar.
"Rekaman ini palsu!" Lia berdiri.
"Bagaimana ibu tahu kalau rekaman ini palsu, secara tidak langsung ibu meragukan kerja saya?" Sahut kepala sekolah.
"Bukan seperti itu Pak." Lia mencoba beralasan.
"Mulai besok ibu tidak perlu lagi datang ke sekolah ini, saya harap ibu bisa meminta maaf kepada orang yang telah ibu fitnah, namun itu semua tidak mengubah keputusan saya untuk memberhentikan ibu dari sekolah ini, karena saya tidak mau kalau murid-murid disini tahu kelakuan ibu saya khawatir mereka akan mendapat contoh dari seseorang yang berperilaku tidak benar.
"Hahahaha ... memangnya anda sudah benar? baik saya akui memang saya telah mengambil buku anak ingusan ini, saya sudah membakarnya, puas... kalian puas?" Lia berteriak.
"Semua ini aku lakukan karena dia telah berani mengambil kekasih saya, sampai kapan pun saya tidak rela kalau dia terus bersama kekasih saya." ucap Lia kembali.
__ADS_1